Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
seperti lem dan kertas selalu menyatu


__ADS_3

"Apa sekarang selera istriku adalah berteman dengan ibu-ibu?" goda Farel.


Aisyah yang mendengarnya justru tertawa, "Ya apa salahnya, sebenarnya dari mereka aku bisa merasakan kasih sayangmu dari seorang ibu meskipun tidak langsung, tapi ya cukup lah untuk mengobati sedikit rasa keingintahuan ku terhadap kasih sayang seorang ibu."


"Baiklah, bertemanlah dengan siapa saja, sama nenek-nenek juga boleh, asal kamu bahagia apa yang nggak aku bolehkan untuk kamu."


"Ish.... mulai lagi ngegombal nya."


***


Keluarga besar Dirgantara kini telah berkumpul di meja makan bersama keluarga tercintanya.


"Pah, tadi mama ketemu sama seorang pemuda yang wajahnya mirip sama mama, tadi pas ada preman yang mau celakai mama di taman, Pemuda itu yang bantuin mama sampai dia juga celaka. Dan papa tahu nggak Waktu Dokter ngobatin mama, Dokternya bilang kalau pemuda itu sangat mirip sama mama, dia ngira pemuda itu anak mama, pah." Maya menceritakan kejadian yang menimpanya pada suaminya dengan antusias.


"Benarkah mama sudah menemukan kakak?" tanya Alex antusias.


"Apa benar Ma, mama nggak bohong kan?" tanya Dirga yang kini menghentikan makannya sejenak dan memilih Fokus pada cerita istrinya.


"Bener pah, memeng di muka mama ada tampang bohong?"


"Kayaknya nggak ma, bolehlah kapan-kapan kasih tunjuk ke alex siapa pemuda itu, apa benar dia kakak alex?" kini Alex juga ikut berharap jika apa yang di ceritakan oleh mamanya itu semua benar.


"Kalau memang benar seperti itu kapan-kapan undang saja pemuda itu untuk datang ke rumah kita, papa juga mau lihat apa benar mukanya mirip sama kita, tapi papa minta jangan mama berasumsi berlebihan terlebih dahulu takut hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita, yang ada kita kecewa!" jelas Dirga mencoba memberi pengertian pada maya.


"Iya pah, mama siap berharap maka mama juga siap untuk kecewa," ucap Maya lirih.


"Yasudah ayo kembali makan."


Hanya oma bella yang tidak ikut bergabung dalam makan malam itu, Oma bella memilih untuk beristirahat akhir-akhir ini kesehatan oma sepertinya menurun, mungkin juga karena faktor usia.


"Alex harus kasih tahu oma kalau begitu." Alex hendak beranjak dari meja makannya namun tangan nya di cekal oleh mamanya.

__ADS_1


"Jangan dulu Alex, mama masih belum yakin kita beri tahu kalau kota sudah menemukan petunjuk dia benar kakak kamu atau bukan!"


Mendengar apa yang di katakan Mamanya, Alex kini dengan berat hati kembali duduk menemani orang tuanya makan malam.


"Baiklah, tapi benar apa kata papa, undang saja pemuda itu kerumah kita untuk makan malam, kota bisa pastikan dia benar orang yang kita cari atau bukan?" Alex sependapat dengan papanya.


"Mama sidah mencobanya tadi, seharusnya malam ini Farel nisa datang tapi ada pekerjaan penting yang membuatnya tidak bisa datang." ungkap maya.


"Em... siapa tadi namanya, Ma?" Alex seperti pernah mendengar nama yang di sebutkan oleh mamanya.


"Farel, Alex... Apa kamu pernah bertemu dengan dia?"


"Sepertinya nama itu mirip dengan nama teman Farel, tapi ya sudahlah kita hanya bisa buktikan dengan kehadirannya di rumah kita kapan-kapan." Alex memilih membuang jauh-jauh asumsinya sendiri.


𝘔𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘒𝘶𝘴𝘶𝘮𝘢 𝘎𝘳𝘶𝘱, 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢, 𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘩, 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵. 𝘈𝘭𝘦𝘹 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘭𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘗𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪.


Pagi menyapa membawa sinar kehangatan padamu bumi, menerka setiap makhluk hidup yang ada di dalamnya.


Drerttt...


Drerttt...


"Apa lo lagi nggak sibuk? gue mau minta waktu sebentar buat bahas masalah di luar pekerjaan kita, lo bisa kan Aisyah?" Vika membuat sedikit kening Aisyah berkerut, dengan mata masih terpejam Aisyah mencoba mencerna perkataan Vika.


"Apa yang ingin Vika bahas," tanya Aisyah pada diri sendiri. Aisyah yang memang baru bangun tidur cukup terkejut ketika mendapat panggilan dari sahabatnya Vika.


"Emang lo mau bahas soal apaan? lo ada masalah sama Vino?" tebak Aisyah.


"Entar lo tau sendiri, pokonya gue tunggu di caffe pelangi satu jam lagi, ingat harus datang."


"Ya, ya, gue datang."

__ADS_1


Aisyah menghembuskan nafas kasar, "Pasti juga ujung-ujungnya masalah Vino, calon suaminya."


Pandangannya kini beralih pada sang suami yang masih setia memejamkan mata, menikmati mimpi indahnya di balik selimut tebalnya, lalu beralih menatap jam handphone yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Astaga... sudah pukul enam, aku harus segera menyiapkan kebutuhan mas Farel." dengan sangat lincah Aisyah menyiapkan semuanya lalu turun untuk memasakkan sesuatu untuk Farel.


Cukup lama berkutat di dapur kini dari arah tangga Farel turun dengan pakaian santai sesudah mandi.


"Loh, mas Farel tidak bekerja, kenapa tidak memakai baju yang aku siapkan di kamar?"


"Itu bisa di pakai nanti, Mas kan hari ini berangkatnya agak siangan, jadi ya sedikit santai nggak papa." Farel kini melangkah maju mendekati Aisyah dan memeluk Aisyah dari belakang.


"Mas, jangan seperti ini, aku lagi masak ini. Mas duduk saja di meja tunggu aku selesai masak." Aisyah sedikit terburu-buru sebab sudah janji dengan Vika.


"Sebentar saja sayang, biarkan aku menikmati saat manis seperti ini." rajuk Farel tak mau melepaskan pelukannya justru tambah memper erat pelukannya, menenggelamkan kepalanya pada caruk leher Aisyah.


"Mas lepaskan dulu pelukannya, aku sedang buru-buru ini, aku ada janji sama Vika satu jam lagi." cerca Aisyah berharap Farel mengerti.


"Baiklah, aku mengalah, silahkan melanjutkan masaknya, aku akan melihat dari meja makan saja." cepat ya sayang, cacing di perutku sudah meronta minta di isi." Farel mencolek dagu Aisyah kemudian pergi ke meja makan menunggu sesuai permintaan Aisyah.


Tak lama Aisyah kintelaygqh selesai dengan tugasnya sebagai istri.


"Mas ini sarapannya, aku pergi dulu ya mas Vika pasti sudah menunggu ku, dan ini untuk bekal makan siang mu juga, aku pergi dulu ya mas.


"Dengan langkah kaki lebar Aisyah kini berjalan pergi meninggalkan rumah untuk menemui sang sahabat.


****


Di caffe pelangi kini Vika sudah duduk dengan santai sambil menunggu kedatangan Aisyah.


"Apa sudah puas, sebentar lagi Aisyah datang kemari sesuai dengan rencanamu!"

__ADS_1


"Bagus" senyum manis terlihat di wajah Pemuda itu.


"Aku harap kamu jangan berbuat yang tidak-tidak pada sahabatku atau aku sendiri yang akan maju membuat perhitungan pada dirimu, mengerti!!"


__ADS_2