Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Tak lagi sama


__ADS_3

"Mas Farel apakah anak kita selamat?" tanya Aisyah ketika mengingat anak yang ada dalam kandungannya.


Farel terdiam, ia binggung harus berkata jujur atau tidak, melihat Aisyah baru saja melewati masa kritis.


"Emm.... anak kita _"


Tanpa bisa di bendung air mata Farel jatuh, membuat jejak pada wajah tampan itu.


"Kenapa mas Farel menagis, jangan menangis aku disini bukan, aku yakin mas Farel akan datang untuk menyelamatkan aku dari penjahat itu."


Farel semakin tertutup mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aisyah.


"Maafkan aku Sayang, aku telah gagal, gagal menyelamatkanmu juga anak kita."


Aisyah mengelengkan kepalanya kuat, tanda ia menolak pernyataan Farel. Kenapa Aisyah harus kehilangan anaknya saat Aisyah sendiri sudah mulai menerima kehadirannya.


"Itu nggak mungkin kan mas, apa yang mas Farel katakan barusan hanya bercanda kan."


Farel memeluk Aisyah untuk memberi ketenangan padanya.


"Andai semua itu salah aku pasti akan sangat bahagia, sayang."


Mereka berdua berpelukan saling menyalurkan kekuatan, berharap akan kuat menjalani ujian yang datang.


"Sekarang istirahatlah, Dokter melarangmu untuk banyak bicara serta bergerak. Aku akan tetap disini bersamamu."


Aisyah masih terlihat shock, kehilangan seorang anak lebih menyakitkan dari pada kehilangan seorang kekasih, terlebih anak itu belum sempat Aisyah melihatnya.


"Kenapa Tuhan begitu kejam pada kita mas, salah kita apa, sampai kita harus menanggung ujian seperti ini," Aisyah masih belum bisa menerima kabar buruk mengenai anaknya.


"Tenanglah, setiap ujian pasti ada hikmahnya, kita pasti kuat menjalani semua ini."

__ADS_1


Farel mengelus surau rambut Aisyah, berharap istrinya dapat tertidur dan melupakan kesedihan yang di rasakannya.


Ckleeek...


Fandi memilih untuk masuk, dan meminta Farel untuk segera kembali ke kamar rawatnya, bagaimanapun juga Farel harus mematuhi peraturan rumah sakit. Farel sendiri harus menyembuhkan luka pada dirinya sendiri sebelum berusaha menyembuhkan luka yang ada pada Aisyah nya tercinta.


"Pak Farel sekarang apa kita bisa kembali ke kamar bapak. Ingat luka bapak juga masih belum sembuh, bapak juga masih membutuhkan perawatan yang tepat."


"Aku tak akan kembali ke ruangan ku, kamu minta saja pada Dokter untuk menyatukan ruangan kami, aku ngin di sini bersama Aisyah."


Fandi tak bisa berkata-kata lagi, bagaimanapun majikannya membutuhkan dukungan satu sama lain dalam kasus seperti ini.


Fandi kini telah berada di ruangan Dokter, berharap permintaannya di setujui, lagipula keluarga Wijaya juga merupakan Donatur tetap pada rumah sakit tersebut.


"Baiklah, untuk permintaan dari Pak Farel saya akan mengabulkannya, jika bukan Pak Farel, pasti saya sudah menolaknya karena memang tak bisa seperti itu harus sesuai dengan prosedur rumah sakit."


"Baik, terimakasih Dok untuk kerja samanya." Fandi menjabat tangan Dokter kemudian pergi kembali ke ruangan ICU.


Farel masih setia menemani Aisyah di sampingnya, dengan harapan hari esok akan lebih baik dari hari ini. Aisyah kini sudah tertidur, Farel berhasil memberikan kenyamanan padanya, namun entah apa yang terjadi jika Aisyah membuka matanya lagi, ia pasti akan merasakan sakitnya kehilangan kembali.


Perkerjaan tak membutuhkan waktu lama, "Sekarang Pak Farel bisa beristirahat di samping Bu Aisyah." Fandi senang bisa melakukan apa yang di inginkan Bosnya itu.


"Kamu bisa istirahat di rumah saja Fandi, ada aku yang akan menjaga istriku disini, lagipula aku hanya ingin bersama istriku malam ini." pinta Farel dengan suara datar. Fandi hanya mengiyakan apa yang di perintahkan Farel. Fandi pun keluar meninggalkan pasangan tersebut untuk menghabiskan waktu berdua.


Dalam ruangan ICU, terdapat dua brangkar di dalamnya, namun Farel memilih untuk tidur dalam satu brangkar, yaitu brangkar milik istrinya.


Memeluk erat Aisyah, namun tak berusaha mengganggunya, Farel tahu Aisyah membutuhkan perawatan yang intensif saat ini.


Pagi menjelang, matahari mulai naik menunjukkan keberadaannya.


Keadaan Aisyah bukan membaik tapi justru berubah buruk, rupanya kabar keguguran nya telah berpengaruh pada hati serta pikirannya, ia tak memiliki semangat hidup, meskipun ada Farel di sampingnya Aisyah kini seolah seperti mayat hidup.

__ADS_1


Farel yang menyadari perubahan pada diri istrinya, mencoba memberikan semangat lewat kasih sayang serta perhatian pada Aisyah, dengan harapan Aisyah bisa melupakan kesedihannya dan bisa membuka lembaran baru pada hidupnya.


Dia hari Aisyah dalam ruangan ICU, Keadaan Aisyah kini semakin buruk, Farel pun binggung harus dengan cara apalagi ia membujuk Aisyah agar lepas dari belenggu kesedihannya.


"Kembalilah, apa kamu tidak memikirkan ku sedikitpun, apa kamu se egois itu hingga melupakanku yang masih berada di sampingmu dan milih larut dalam kesedihanmu. Ingatlah Aisyah kamu boleh saja menagis dan larut dalam kesedihan tapi jika dengan semua itu tidak dapat merubah apapun maka tingalkan lah kesedihan itu, cobalah untuk menerima dan hidup kembali demi aku, aku mohon Aisyah!!" Farel menekankan setiap perkataannya, di dalam ucapan Farel tersebut terdapat keputus asaan. Farel ingin melihat Aisyah yang dulu, bukan seperti sekarang ini yang lebih banyak diam dan menangis. Semua itu karena Aisyah masih trauma dengan kejadian penculikan itu serta kehilangan Anak yang sempat menguncang jiwa.


Satu minggu telah berlalu, Aisyah kini telah berada di rumah tentunya dengan pengawasan suster, Farel meminta bantuan psikiater untuk menyembuhkan Aisyah.


Hari ini tibalah hari kelulusan Aisyah, meskipun Aisyah tidak hadir di Universitas, sahabat Aisyah tetap mewakilinya mengambil ijazahnya. Farel sendiri tidak dapat datang sebab masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di perusahaannya. Stelah kejadian itu, konsentrasi Farel terpecah, ia harus membagi Waktu untuk kantor dan juga Istrinya. Farel memilih untuk membantu kesembuhan Aisyah dengan selalu bersamanya, bercerita meski tak selalu mendapat respon baik dari Aisyah.


Ting... tong... ting... tong...


belum pintu berbunyi, bik sumi yang membukakan pintu langsung mempersilahkan masuk ketika melihat kedua sahabat majikannya.


"Masuk Non, Nyonya ada di taman belakang bersama Pak Farel," bik sumi memberitahukan keberadaan Aisyah.


"Terimakasih bik," Vika dan Vita berlalu mengikuti arahan bik sumi.


"Aisyah...."


Vika dan Vita sedikit berlari menuju sahabatnya dengan membawa ijazah kelulusan dan juga buket bunga mawar putih kesukaan Aisyah.


"Kalian baru sampai," tanya Farel.


"Maaf merepotkan kalian, seharusnya aku yang mewakili istriku di acara tersebut." Farel merasa tak enak, sebab kedua sahabat dari istrinya itu selalu membantunya.


"Kenapa harus minta maaf, lagipula ini juga untuk sahabat kita yang cantik ini, kita nggak masalah kok selam kita bisa pasti kita bantu, yang terpenting sekarang kesembuhan Aisyah." Vika duduk di hadapan Aisyah, berharap ada respon meski kecil dari raut wajah Aisyah. Dugaan Vika benar sudut bibir Aisyah sedikit terangkat.


"Yes... "


Vika berteriak kecil, ia senang melihat respon Aisyah terhadapnya, itu artinya besar kemungkinan Aisyah akan sembuh.

__ADS_1


𝙉𝙏: Aisyah di cerita ini nggak gila ya gaes, hanya pikirannya terpaku pada kejadian penculikan itu serta kabar kehilangan anak ya, pandangannya kosong, tapi dia masih bisa merespon sedikit apa yang di sampaikan kepadanya. Setiap harinya Aisyah hanya terdiam di dalam kamar dan akan keluar jika ada yang mengajaknya keluar.


thank ya, yang sudah memberikan dukungan terhadap karyaku,... love you all...😍😍😍


__ADS_2