
"Gue juga nggak tahu, kita kan nggak punya musuh." Vita ikut merasa takut.
"Apa jangan-jangan yang mereka incar adalah gue? duh, gimana ini mana tempat ibu sepi lagi." Aisyah lebih merasa takut.
"Lo jangan khawatir Aisyah, ada kita, ya meskipun kita nggak jago bela diri, tapi kita bakalan lindungi lo kalau benar yang mereka incar adalah lo, Aisyah."
Mereka bertiga semakin takut kala beberapa orang turun dari mobil tersebut dengan menggunakan penutup kepala serba hitam.
Orang -orang uty terlihat sangat menakutkan dengan tubuh kekar dan membawa senjata.
Braakk...
Braakk...
Braakk...
"Buka pintunya." para preman itu mengedor kaca mobil yang Mereka bertiga tumpangi.
"Bagaimana ini apa yang harus kita lakukan."
"Gue telfon Fandi aja biar dia cepat tolong kita." Aisyah menelfon Bodyguardnya untuk meminta bantuan.
"Cepat Aisyah, mereka nggak akan berhenti sebelum kita keluar." Vika bertambah takut, keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya.
Kring...
Kring...
Fandi yang sedang bersantai dengan para bodyguard yang lain tak mendengar panggilan yang masuk. Sebab telfonnya Fandi tinggal di kamar.
Hingga panggilan ke lima puluh Tak ada panggilan balasan dari Fandi.
"Bagaimana Aisyah, dimana bodyguard lo itu, kenapa nggak datang-datang?" Vika semakin takut.
"Iya ini juga masih di telfon, tapi nggak di jawab-jawab ini." Aisyah mencoba menghubungi kembali nomor Fandi.
"Gue ke kamar dulu ya mau istirahat udah ngantuk gue, kalian lanjut aja permainannya." Fandi meninggalkan teman-temannya yang sedang bersantai sambil bermain catur.
"nggak serua ah, baru mulai lo udah nyerah aja,"
Fandi tak mengubris omelan teman-tamannya itu.
tiba di kamar Fandi mendapati handphoneiliknya berdering, Fandi pun sedikit berlari untuk menjawab pnaggilan tersebut, takut jika itu hal penting.
Tanpa melihat siapa yang memanggil Fandi mengeser tombul hijau dan mendekatkan ke telinga.
"Fandi tolong kami, kami sedang dalam masalah ada beberapa orang yang tak kami kenal, mereka memakai topeng, mereka mengedor kaca mobil kami cepat kesini Fandi, selamatkan kami!!" Aisyah berucap sambil sedikit berteriak, terkejut akibat pukulan yang diarahkan ke kaca mobil untuk membuka paksa dari luar.
setelah mengatakan maksudnya Aisyah langsung menutup panggilan tersebut
Mereka berpelukan di dalam mobil berharap bantuan segera datang.
Fandi yang mendapat perintah tersebut langsung menyambar jaket dan kunci mobil kemudian segera pergi.
Tak lupa mengajak beberapa orang untuk berjaga-jaga jikalau jumlah mereka lebih banyak.
"Kalian ikut aku, kita harus menolong Bu Aisyah yang sedang dalam bahaya!" dalam sekejap mereka telah siap.
Pyare...
Kaca mobil berhasil di pecahkan, preman tersebut berhasil membuka pintu mobil.
"Turun kalian!!, ayo turun!!!" Preman itu berteriak.
Mereka bertiga tak ada yang mau mendegarkan perkataan preman itu, hingga Preman itu menarik paksa merek suntuk turun.
"Lepaskan, kalian mau apa dari kami."
"Kami tak punya masalah dengan kalian lalu kenapa kalian menyakiti kami."
"Hahaha... " kalian tidak perlu banyak bicara, kamis tak punya banyak waktu untuk kalian.
Salah satu preman membekap mulut Aisyah dengan biaya, hingga detik berikutnya Aisyah sudah pingsan. "" Lepaskan Teman kami, kalian mau apakan teman kami."
"Kalian berdua banyak bicara," preman tersebut juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pada Aisyah.
"Kita bawa orag yang di minta Bos, untuk mereka berdua kita tinggalkan saja mereka disini," preman tersebut segera melarikan diri.
Fandi sudah berusaha untuk mengemudi secepat mungkin, "Chiitt..." mobil berhenti tepat di belakang mobil sahabatnya Aisyah.
"Itu mobil mereka," Fandi dan yang lain turun untuk memeriksa. Fandi sungguh terkejut mendapat keadaan mobil yang sangat berantakan, dengan kaca mobil sudah hancur juga kedua sahabat majikannya yang sedang terkapar tak sadarkan diri di samping mobil.
"Apa yang terjadi, bu Aisyah, dimana beliau...." fandi mencoba mencari di sekitar tempat kejadian.
"Kalian berpencar, mungkin bu Aisyah masih ada di sekitar sini." perintah Fandi sebagai kepala bodyguard.
__ADS_1
"Baik laksanakan." Bodyguard yang lain mulai melakukan pencarian. Cukup lama tapi tak ada tanda ataupun jejak yang dapat mereka temukan.
Dugaan Fandi ada yang menculik Aisyah.
"Kita tidak punya petunjuk apapun selain menunggu mereka berdua sadarkan diri." Fandi telah membawa kedua sahabat Aisyah pulang ke rumah Aisyah.
"Tapi kita tak mungkin hanya berdiam diri, sebagian dari kalian ada yang berpencar mencari, jika ada kabar terbaru cepat hubungi aku." lagi Fandi memberikan perintah.
"Baik kami akan lakukan perintah." hampir separuh dari bodyguard berpencar untuk mencari dengan membawa Foto Aisyah.
𝘈𝘺𝘰𝘭𝘢𝘩, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. Fandi berucap dalam hati.
Asa pergerakan kecil dari tangan milik Vika, di ikuti kerakan mata, seketika Vika berteriak, " jangan bawa teman kami pergi lepaskan dia, lepaskan!"
Abadi yang mendengarnya mencoba untuk membantunya untuk bangun.
"Tenanglah, kamu aman di sini, ceritakan perlahan kejadian itu, jangan ada yang di tutupi."
"Mereka... mereka membawa Aisyah pergi, kami tak dapat melihat wajah penculik itu, karena mereka menggunakan topeng. Maafkan kami jika kami tak mengajaknya jalan-jalan hingga larut mungkin ini tak akan terjadi." Vika menagis mengingat kejadian penculikan tersebut.
"Bukan salah kalian, bu Aisyah memang mempunyai banyak musuh, dan kami juga belum tahu musuh yang mana yang menculiknya."
"Apa kalian mengenlai penculik itu selain dari wajah?" Fandi sangat berharap dapat menemukan petunjuk dari kedua sahabatnya yang berada di tempat kejadian.
"Ada tato bergambar nafa pada lengan sebelah kiri, kebetulan preman itu hanya memakai baju sebahu, selain itu tak ada lagi." Vika terus saja menagis.
Vita yang masih belum sadarkan diri pun sudah mulai menujukkan tanda kesadarannya.
Membuka mata perlahan, Vitaencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia pingsan. "Aisyah, dimana Aisyah, kemana orang-orang itu akan membawanya pergi." Vita memeluk Vika, mereka sama-sama menangis merasa bersalah atas kejadian itu.
"Tenaglah, sekarang lebih baik kalian pulang, salah satu bodyguard akan mengantar kalian sampai rumah."
"Tapi Aisyah akan selamat kan, kalian akan membawanya dengan selamat kan?"
"Kami akan berusaha menyelamatkan bu Aisyah bagaimanapun caranya."
Vika dan Vita kemudian di antar pulang ke rumahnya masing-masing.
Fandi tak bisa berdiam diri, ia pun ikut mencari dengan bekal instruksi dari Vika dan Vita.
Setiap jalanan Fandi telusuri, meski instruksi yang di berikan Vika tidak begitu jelas namun Fandi tetap melakukan pencarian.
***
Para preman tersebut membawa Aisyah ke puncak, cukup jauh dari kota. Itu mereka lakukan agar tak ada yang menemukan bukti apapun.
Setelah mengikat Aisyah, merek asem ya pergi meninggalkan Aisyah sendiri dalam sebuah gudang bekas daerah puncak.
Saat di luar ruangan Preman tersebut menghubungi bos mereka untuk memberikan kabar bahwa tugas mereka telah selesai dan menanyakan tiga selanjutnya.
"Hallo bos..., Bagaimana dengan gadis di dalam bos, apa yang harus kita lakukan pada dia bos. Apa kita harus menyakitinya?" kepala preman menunggu perintag.
"Kerja bagus, jangan pernah ada dari kalian yang menyentuhnya, aku sendiri yang akan melakukan sesuatu kepadanya." ucap pria yang disebut bos.
Dalam ruangan gelap hanya ada pelita kecil yang menerangi dekat Foto, seseorang dengan penampilan khas preman memandang sebuah foto keluarga yang terpasang indah di dinding.
Hatinya pilu kala mengenang masa indah saat masih bersama keluarga tercintanya. Tak terasa bulir bening meluncur jatuh tanpa diminta.
"Aku tak akan melupakan masa lalu itu sampai aku bisa membalaskan semua dendamku." pria itu mengusap kasar air mata yang jatuh.
"Hahaha..., kini aku telah kembali Aisyah, kali ini kamu tak akan lolos dari ku... hahaha..." tawa menggema di ruangan tertutup itu.
𝙁𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙤𝙣
Bram memang saudara dari Wijaya kusuma papanya Aisyah. Mereka tak pernah akur meskipun saudara kandung. Baik Bram ataupun Wijaya sama-sama sudah bekeluarga,uliki kehidupan yang mapan dan keluarga yang harmonis.
Wijaya memiliki Sinta sebagai istri dan Aisyah sebagai putri tinggal mereka, sedangkan Bram memiliki Fatma sebagai istri dan Dika sebagai putra tunggalnya. Bram yang gila akan harta ingin sekali merebut kekuasaan yang telah di wariskan hanya kepada adik kandungnya sendiri.
Saat itu Bram ingin sekali mendatangi Wijaya hanya untuk berkunjung, meskipun niat dalam hatinya adalah mengajak keluarga kecilnya merasakan kekayaan yang tak akan pernah ada habisnya hingga tujuh turunan itu.
Tok...
Tok...
Tok...
Pak Wijaya dan juga Sinta yang sedang hamil besar sedang makan bersama, namun terganggu dengan suara ketikan pintu dari luar.
"Siapa yang bertamu Pa, biar mama saja yang membuakanya." Sinta bangkit dan membukakan pintu.
Ckleekk...
Tampaklah Bram dan juga Fatma serta Dika membawa tas besar sebanyak tiga buah.
Sinta sempat mengerutkan keningnya, cukup terkejut, Bram adik dari suaminya yang tak pernah mau berkunjung ke rumah setelah seluruh harta di wariskan kepada Wijaya suaminya sekarang datang berkunjung dengan membawa tas besar. Namun Sinta yang tak mau berprasangka buruk tetap menyapanya.
__ADS_1
"Kak ipar, ada apa, kenapa kalian datang kemari dengan keadaan seperti ini, apa yang terjadi?"
"Adik ipar, maafkan aku yang mungkin menganggu kalian di malam-malam begini, tapi tolonglah kami, kami tak memiliki tempat tinggal lagi rumah kami telah disita oleh bank, tolonglah adik ipar." ucap Bram dengan tatapan memelas sambil berjongkok di depan Sinta. Yang mana membuat Sinta sedikit mundur agar Bram tak menyentuh kakinya.
Sedangkan Fatma dan Dika juga menampakkan wajah memelas seperti tertekan untuk membantu melancarkan rencana suaminya.
Wijaya yang sedang makan, melihat Sinta yang tak kunjung kembali bergabung dengannya, memilih untuk melihat siapa tamu yang berkunjung.
"Sinta siapa yang bertamu."
Detik berikutnya Wijaya terkejut melihat Bram yang datang dengan istri serta anaknya dan Bram yang berjongkok di bawah Sinta.
"Ada apa ini kak Bram? kenapa kakak datang dengan dengan keadaan begini." banyak pertanyaan di dalam benak Wijaya.
"Wijaya tolong kakak, berikan kakak perlindungan tempat tinggal, kakak dan istri serta anak kakak tak punya tempat tinggal lagi." Bram menangis tersedu yang menabahkan keyakinan pada aktingnya.
"Sebaiknya kakak dan istri kakak masuk dulu, kita bicarakan di dalam."
Mereka semua telah berkumpul di ruang tamu.
"Sekarang coba kakak ceritakan kepada kami apa yang terjadi."
"Sebenarnya perusahaan ku bangkrut, Wijaya, semua harta telah disita oleh bank. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi, tolonglah aku wijaya." Bram menampilkan wajah yang memelas
Wijaya terlihat berpikir, bagaimanapun Bram tetap kakak kandungnya yang ia sayangi dan Wijaya sangat menghormatinya, meski terkadang perbuatannya cukup menyakiti hati.
"Baiklah, kakak sekeluarga bisa tinggal disini, lagipula Sinta tak ada temannya ketika aku sedang berada di kantor, dengan adanya mbak Fatma pasti Sinta tak akan kesepian lagi." Wijaya mencoba berpikir positif kepada kakaknya.
"Terimakasih Wijaya, aku tak akan merepotkanmu, aku akan mencari kerja agar aku bisa segera keluar dari rumahmu ini."
"Kakak bisa tinggal disini semau kakak. Kakak juga putra tertua keluarga ini."
Setelah perbincanangan itu Wijaya dan Sinta masuk untuk beristirahat diikuti Bram dan keluarganya.
Semakin hari hubungan antara adik dan kakak ipar itu semakin membaik. Mereka yang tak pernah sedekat itu pada akhirnya bisa dekat.
"Sinta apa kita bisa pergi berbelanja. aku ingin membeli beberapa perlengkapan baru untuk anakku sekolah, kamu tahukan setiap kenaikan kelas pasti Dika meminta perlengkapan baru." Fatma meminta di temani oleh Sinta.
"Baiklah kak, kakak tunggu di luar, aku akan segera bersiap setelah masakanku matang." Sinta mempercepat memasaknya, ia juga ingin membeli beberapa perlengkapan untuk anaknya.
Tak lama Fatma dan Dika serta Sinta telah siap untuk pergi ke pusat belanja
"Ayo kalian siap."
"Ayo tante Dika sudah nggak sabar untuk membeli perlengkapan baru." Dika tak sabar untuk segera pergi belanja.
Hari ini Mereka pergi dengan Fatma yang mengemudi, sedangkan Sinta duduk di depan dan Dika di kursi belakang.
Tanpa mereka ketahui bahwa mobil yang mereka bawa masih belum diperbaiki ada kerusakan pada remnya.
Wijaya tak pernah memberitahu Sinta mengenai masalah pada mobil tersebut sebab Sinta tak pernah pergi keluar tanpa suaminya.
Tanpa sadar mobil itu telah melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sedikit sepi, Fatma mulai menyadari ada yang aneh dengan mobilnya ketika ia hendak menginjak remaja namun tak menimbulkan reaksi apapun pada laju mobil tersebut.
𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘳𝘦𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪. ucap Fatma dalam hati.
Kegugupan itu tak disadari oleh Sinta dan Dika karena mereka asik bercanda sepanjang jalan.
Hingga tiba-tiba ada nenek tua yang melintas, refleks Farma membanting setir ke kiri dan menabrak pohon besar di pinggir jalan menyebabkan kepulan asap keluar dari mobil tersebut. Kecelakaan itu tak dapat di hindarkan.
Warga yang melihat berbondong-bondong menolong korban kecelakaan tersebut.
Korban di larikan ke Rumah Sakit Pelita, disana Sinta yang sedang hamil mendapat pertolongan pertama, sedangkan Fatma dan Dika tak ada yang tergolong mereka berdua meninggal di tempat.
Wijaya dan Bram yang sedang berada di kantor terkejut ketika mendapat kabar buruk tersebut, dunia mereka berdua seakan runtuh tak tersisa. Mereka berdua langsung meninggalkan pekerjaan menuju Rumah Sakit Pelita.
Tak lama mereka berdua telah sampai di rumah sakit, Bram dan Wijaya menuju resepsionis untuk menanyakan kamar korban kecelakaan.
"Dimana korban kecelakaan, yang terjadi sekitar tiga puluh menit yang lalu?"
"Ibu yang sedang hamil masih di ruang ICU pak melakukan tindakan operasi, sedangkan yang dua berada, di ruang jenasah."
Wijaya tanpa memperdulikan kakaknya berjalan menghampiri ruang ICU, dan Bram ia berlari ke ruang jenazah dimana terdapat orang yang dikasihi sedang terbujur kamu di dalamnya.
Dokter keluar dari dalam ruangan operasi dengan raut wajah sedih.
"Dengan keluarga pasien," wijaya menghampiri ketika dokter menanyakan keluarganya.
"Saya suaminya, bagaimana istri dan anak saya Dok?"
"Dengan berat hati saya katakan istri anda tidak dapat saya selamatkan, hanya putri bapak yang bisa kami selamatkan. Bapak bisa melihatnya di dalam."
Wijaya seakan tak memiliki kekuatan lagi, mendengar orang terkasih pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya tapi disisi lain Wijaya juga bahagia ia telah menjadi ayah.
Bram yang berada di ruang jenazah, berulang kali mengumpat adiknya, ia yang tak pernah menyukai adik kandungnya sendiri sekarang justru memiliki dendam yang mendalam sebab karena pergi bersama adik iparnya Bram harus kehilangan keluarga tercintanya.
__ADS_1
Setelah kejadian itu Bram pergi menghilang tanpa jejak, tapi ia berjanji akan datang kembali untuk membalaskan dendam.
𝙁𝙡𝙖𝙨𝙝𝙗𝙖𝙘𝙠 𝙤𝙛𝙛