
"Makasih sayang, Mas memang pengertian, aku tambah sayang sama Mas, sosok sepertimu yang memang aku inginkan menjadi suamiku, pengertian dan penyayang." Aisyah sangat bersyukur atas nikmat yang di dapatkannya.
"Sekarang kita makan, ini sudah masuk jam istirahat makan siang?" Farel menarik tangan Aisyah dan mendudukkan nya di sofa, ia mulai membuka rantang makanan yang di bawa.
Mereka menikmati makan siang bersama. Meski suasananya ada di kantor dan dengan makanan yang sama seperti tadi pagi namun rasanya tak kalah enak dengan makan di restoran. Setelah makan Aisyah izin minta pulang, ia ingin mengerjakan skripsinya untuk segera di kumpulkan, mengingat tinggal dua bulan lagi ia telah lulus.
"Aku mau pulang saja, lagian aku juga nggak ngapa-ngapain di sini, bosen kalau hanya lihatin kamu kerja yang ada aku hanya menguap dan menguap karena sangking bosennya." Aisyah sudah merasa lelah.
"Kenapa enggak sekalian nanti sore bareng aku pulangnya, kalau sekarang kamu sama siapa di rumah, bik sumi kan nggak masuk kerja." Farel yang menghawatirkan Aisyah jika di rumah.
"Kamu lupa jika di depan rumah kita ada Villa yang dihuni oleh bodyguard Papa, aku pasti aman, tak akan ada yang berani mencelakai ku, jika ada pengawal sebanyak itu yang berjaga. Jadi jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja." Aisyah berusaha meyakinkan jika ia akan baik-baik saja di rumah. Lagipula selama ini tak ada yang mencurigakan atau lebih tepatnya tak ada pergerakan dari musuh yang membahayakan.
"Yasudah kalau begitu, Mas izinkan kamu pulang, tapi harus benar-benar pulang ke rumah loh!" Farel menekankan setiap perkataanya.
Seketika Aisyah tersenyum, ia bisa pulang dan beristirahat di rumah.
"Baiklah, aku pergi dulu," sebelum pergi Aisyah memeluk Farel dan memberinya ciuman singkat sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang di balik pintu.
"Aisyah, kenapa kamu semakin mengairahkan, sikapmu yang manja aku menyukainya, sangat-sangat suka."
__ADS_1
setelah Aisyah pulang Farel kembali mengerjakan beberapa File yang harus ia baca dan bubuhi tanda tangan.
Mengerjakan semuanya sendiri, tanpa adanya seorang sekertaris yang membantu membuat Farel sedikit merasa kewalahan, akibatnya ia sedikit pulang terlambat. Farel bisa meng-handle pekerjaan tersebut, namun ia sepertinya juga harus segera menemukan pengganti Ririn yang cocok dan bisa bekerja sangat profesional.
***
Aisyah sampai di rumah, hari ini meskipun tak melakukan aktivitas apapun, namun ia merasa seakan telah bekerja sangat berat hingga merasa lelah, Rasanya untuk meneiki tangga menuju kamar pun kaki tak sanggup untuk melangkah.
"Ada apa dengan diriku, aku merasa lelah, seakan tubuh ini tak ada dayanya, ah...mungkin aku hanya kurang tidur dan kurang vitamin saja, sekarang lebih baik aku ke kamar untuk istirahat." Meski kaki berat untuk melangkah, namun Aisyah tetap berusaha sampai ke kamar, sesampainya di kamar Aisyah memilih untuk membaringkan tubuhnya di ranjang, ingin rasanya menghubungi Farel, tapi mengingat pekerjaan yang harus di tanggani Farel seorang diri membuat Aisyah mengurunkan niatnya.
Aisyah hanya mememainkan handphone miliknya, hingga tak terasa sudah tertidur.
***
"Apa Aisyah sudah sampai di rumah, aku harap begitu, biar aku telfon saja untuk memastikan." Farel menyalakan handphone miliknya.
Panggilan dan pesan dari Tante Siska memenuhi handphone Farel, bukan hanya satu, dua, melainkan puluhan panggilan dan chat dari tante Siska, hal itu membuat kerutan di dahi Farel.
𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘚𝘪𝘴𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘭-𝘢𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘵𝘪𝘱𝘶 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪. Farel terus saja berpikir. Hingga satu panggilan lagi dari Tante siska membuyarkan pikiran Farel.
__ADS_1
Sekarang Farel bingung, ia harus menerima panggilan itu atau menolaknya, namun detik berikutnya, Farel menggeser tombol hijau ke atas dan mendekatkan telfon ke telinga.
📞"Hallo tante ada apa, kenapa tante menghubungiku, aku mohon tante biarkan aku dan Aisyah hidup bahagia, jika ini memang permintaan Ririn, tolong katakan kepadanya untuk melupakanku, aku sudah beristri dan aku sangat mencintai istriku." Farel tak memberi kesempatan untuk tante Siska bicara. Saat Farel selesai berbicara dan hendak mematikan telfon, tante Siska menyela berharap Farel mau sedikit membantunya.
📞"Tante telfon hanya untuk minta tolong kepadamu, Nak Farel, tante tahu meski anak tante telah melakukan kesalahan kamu tetap memilki hati yang bersih untuk memaafkannya, bagaimanapun Ririn pernah menjadi sahabat sewaktu kamu belum mengenal Aisyah, dan belum menikah dengannya. Tante hanya ingin meminta satu batuan kepadamu... " tante Siska menahan bicaranya air mata tak lagi tertahan luruh sudah melihat anak kesayangannya sekarang sedang mengunci diri di kamar, sehabis mengamuk dengan melempar barang ke sembarang arah.
Mendengar setiap perkataan Tante Siska yang memang ada benarnya, meskipun membenci namun tak bisa membenci untuk sepenuhnya, bagaimanapun sahabat tetaplah sahabat.
📞"Katakanlah tante! apa yang terjadi dengan Ririn, aku tahu jika tante sudah meminta bantuan ku, itu artinya ada yang tidak beres dengan Ririn." Farel mendua jika Ririn sedang mengalami masalah.
📞"Kamu benar, dari kemarin Riri hanya diam saja di kamar, tante pikir ia baik -baik saja hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan itu. Tapi tadi pagi tiba-tiba Ririn mengamuk, ia membanting segala benda yang ia temukan ke segala arah. tante sudah berusaha menenagkannya namun sayang tante justru mendapat amukan, ia tak terkendali Farel, bantu tante menenagkannya. Bahkan sampai saat ini Ririn masih saja mengamuk." ungkap tante siska tanpa jeda, ia sangat khawatir dengan Ririn.
Mendengar pengakuan dari tante siakan mengenai keadaan Ririn, Farel merasa iba dari apa yang di sampaikan oleh mamanya, keadaannya sekarang sepertinya sangat memprihatinkan.
📞"Baiklah aku akan segera ke sana, tunggu aku, jika tante kewalahan menghadapinya, tante lebih baik menghindar dari Ririn. Takutnya ia melukai tante. Telpon pun dimatikan oleh Farel." Ia kemudian meninggalkan beberapa dokumen yang masih harus ia periksa dan tanda tangani. Farel hanya merapikannya kembali dan meletakkan di atas meja miliknya. Setelah itu Farel menyebar kunci mobil dan pergi meninggalkan ruangan kebesarannya.
***
Di rumah Ririn, kegaduhan telah terjadi. Ririn pun tak keluar kamar selama tiga hari terakhir. Ia selalau mengunci kamarnya, dan hanya membuka jika mamanya hendak membawakan makanan untuknya.
__ADS_1
"Farel... kenapa kamu jahat sama aku, kenapa kamu tinggalin aku hanya untuk wanita itu. Jangan pergi Farel, jangan jauh-jauh dariku." Teriak Ririn di dalam kamar. Tante Siska dan adiknya yang masih kecil pun dibuat ketakutan oleh tingkah Kakaknya, Ririn.
"Dito masuk kekamar ya sayang, mama mau ke kamar kakak dulu, kamu nggak papakan di kamar sama mbk Ana, nanti mama nyusul ke kamar untuk temani kamu ya nak." Mbk ana adalah pengasuh Dito. Sedangkan Papanya Ririn sedang berada di luar negri untuk mengurus masalah usahanya yang memiliki sedikit masalah. Ririn mang berasal dari keluarga yang berada, hanya saja ia ingin memulainya dari 0 dan ia juga tidak belajar di perusahaannya sendiri melainkan di perusahaan milik Pak Wijaya. Alasannya hanya ingi mencari pengalaman dari luar.