
Ririn hanya bisa menerima dengan pasrah keputusan Farel, apa yang dia katakan tidak ada artinya, Farel lebih memilih perkataan Aisyah.
Pak Gunawan sendiri ternyata sudah menunggu di dalam meski waktu menunjukkan jam dua kurang sepuluh menit. Beliau sengaja datang lebih awal untuk menyelesaikan penawaran ini. kini mobil Farel telah tiba di restoran tempat mereka mengadakan pertemuan.
"Ayo kita masuk, pak Gunawan sudah menunggu kita di dalam. Aku baru saja mendapatkan chat darinya." Farel cukup terkejut mendapat chat dari Pak gunawan.
Mereka memilih untuk masuk saja daripada terus berdebat mengenai keberadaan Aisyah. berjalan dengan Farel memimpin didepan dengan di ikuti oleh dua wanita cantik.
"Selamat siang Pak Gunawan, ternyata anda sudah menunggu disini." ucap Farel membuka percakapan.
"Siang, saya memang sengaja menunggu, tadi memang kebetulan saya juga sedang meeting disini jadi sekalian saja dari pada harus bolak-balik ke sini. Silahkan duduk." Pak Gunawan mempersilhkan duduk mereka bertiga. Tanpa membuang waktu Farel membuka meeting yang berakhir dengan penawaran Lahan yang akan di gunakan untuk pembangunan pabrik baru bara miliknya.
"Bagaimana apa Pak Farel setuju dengan harga yang saya tawarkan, tempat yang saya tawarkan ini sangat cocok untuk anda gunakan sebagai pabrik. letaknya yang tidak terlalu dekat dengan perkampungan itu tidak akan berdampak buruk untuk lingkungan sekitar. Sehingga operasi pabrik bisa berjalan dengan lancar." Pak Gunawan menjelaskan tata letak lahan serta keuntungan yang didapat dari lahan tersebut.
Farel yang menyimak dengan saksama mengerti, ia juga setuju lahan yang di tawarkan akan mempunyai dampak positif lebih banyak.
"Baiklah saya setuju dengan penawaran anda, letaknya yang berada di perkampungan namun jauh dari rumah-rumah warga tersebut menurut saya itu tempat yang cocok untuk pembangunan pabrik saya." Farel menyetujui untuk mengambil lahan tersebut.
Aisyah hanya menyimak apa yang mereka bahas, Ia sedikit mengerti arah pembicaraan mereka.
Pak Gunawan melihat Aisyah. "Sepertinya saya pernah melihat anda, bukankah anda putrinya pak Wijaya Kusuma." tanya Pak Gunawan, masih menimang-nimang ucapannya takut jika dugaannya salah.
Aisyah sendiri yang mendapat pertanyaan tersebut mengangukkan kepala.
"Iya betul, Bapak mengenal Papa saya?" tanya Aisyah balik.
"Tentu, saya mengenal beliau, beliau orang yang baik semoga diterima segala amal kebaikannya. Pantas saya perhatikan kamu seperti putrinya pak Wijaya ternyata memang benar. Jadi Pak Farel ini suamimu yang sekarang mengantikan papamu." Pak Gunawan mulai mengerti jika dia sekarang berbicara dengan menentu dari Pak Wijaya Kusuma.
"Iya, Farel adalah suami saya, Papa yang menjodohkan kami, dan sekarang saya bersyukur untuk itu." Aisyah sambil menggenggam tangan Farel di bawah meja. Meski diluar mereka tetap terlihat seperti pasangan yang romantis. Baik Pak Gunawan maupun Ririn tak ada yang mengetahui jika farel dari awal pertemuan sudah mengenggam tangan Aisyah.
Aisyah sendiri tidak keberatan, justru Ia senang di tengah meeting nya Farel masih tetap memperhatikan dirinya.
"Jadi kita sepakat dengan harga yang saya tawarkan, Deal." Farel dan Pak Gunawan berjabat tangan untuk keberhasilan kesepakatan mereka. setelah itu pak Gunawan memilih untuk undur diri karena ada urusan lain.wreka bertiga kemudian memilih untuk kembali ke kantor. lain dengan Ririn dan Farel, Aisyah berniat mengajak Farel untuk pergi berbelanja kebutuhan rumah.
"Ayo kita balik ke kantor." ucap Farel.
__ADS_1
Ririn sudah masuk ke dalam mobil, tentunya di belakang, karena di depan pastilah Aisyah dan Farel.
Aisyah tidak mau masuk kedalam mobil, Ia ingin pergi dengan Farel, hanya berdua.
"Kita pergi belanja yuk, keperluan dapur kita sudah menipis. Sekalian kita jalan-jalan." Aisyah sedikit memaksa Farel.
Ririn yang mendengar pembicaraan mereka melalui kaca jendela yang terbuka, menyela ucapan Aisyah.
"Pak Farel masih harus kembali ke kantor Bu Aisyah, masih banyak pekerjaan." Ririn mencoba menghentikan mereka pergi belanja.
Farel yang melihat Aisyah dengan tatapan memelas, akhirnya menyetujui apa yang diminta Aisyah.
"Tak apa, untuk acara hari ini kamu skejul ulang saja, aku mau menemani Istriku ini belanja?" Lagi-lagi Farel membela Aisyah di hadapan Ririn.
Akhirnya Ririn menyerah, percuma dia membujuk Aisyah untuk tidak membawa Farel jika Farel sendiri yang mengajaknya.
"Oke, terserah kalian, aku balik dulu." Ririn turun dari mobil Farel dan memilih naik taksi untuk kembali ke kantor.
"Sekertaris kamu sepertinya marah, apa dia suka sama kamu." Aisyah menggoda Farel.
Bukan rasa cinta." Farel meralat ucapan Aisyah mengenai Ririn yang menyukainya.
"Baiklah, mau dia suka ataupun tidak berjanjilah kamu tidak akan memiliki wanita lain selain diriku. Kamu bisa melakukan itu." Aisyah memberikan jari kelingking nya untuk mengikat janji.
"Siap, Bu bos." dengan tangan di kepala sedang hormat kepada atasan. kemudian melingkarkan jari kelingking untuk mengikat janji yang di minta Aisyah.
"Sekarang kita belanjan!" Aisyah dengan semangat menggandeng tangan Farel. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang mulai padat akan kendaraan.
Mereka belanja di salah satu pusat belanjaan terkenal. Aisyah hari ini ingin menikmati belanja dengan ditemani Farel. Mereka berjalan sambil bergandengan tanggan.
"Bahan pokok sudah, ayo ikut aku ke toko baju di lantai dua, disana toko langganan aku." Aisyah menarik tangan Farel untuk menaiki lift menuju toko Adinda fashion. Tak butuh waktu lama Aisyah dan Farel telah tiba di lantai dua.
"Lihat itu ada baju keluaran terbaru, ayo sebelum kehabisan." rengek Aisyah menarik Farel.
"Iya sebentar jalannya pelan pelan saja jangan tarik-tarik dilihatin orang Aisyah." Farel hanya diam meskipun banyak orang yang memperhatikan mereka.
__ADS_1
Sedangkan Aisyah merasa acuh dengan penglihatan mereka kepada dirinya dan Farel.
"Bagus kan, aku mau beli ini ... itu ... itu ...." Aisyah bersemangat jika belanja baju.
Farel sendiri sedang berkeliling, ia ingin mencarikan baju yang tertutup untuk Aisyah,
"Baju syar'i ini sepertinya cocok untuk Aisyah, warnanya juga sama dengan kesukaan Aisyah, semoga saja dia suka." berjalan menghampiri Aisyah yang sudah mengantri di kasir dengan baju hampir memenuhi troli.
"Sebanyak ini Aisyah, ini kamu semua yang pakai." Farel terkejut, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Aku hanya beberapa Farel, tadi aku lihat baju anak-anak usia delapan tahun keatas dan bagus-bagus mangkanya aku beli, ini mau aku berikan untuk anak-anak di Panti Asuhan Muara Kasih. Mereka pasti suka dengan baju-baju ini. Apa salahnya membeli selagi kita bisa." Aisyah menjelaskan maksud ia membeli dengan jumlah banyak.
"Ow ... , kirain mau dipakai sendiri." Farel sambil nyengir kuda.
"Itu apa yang kamu bawa, kamu beli baju untuk siapa, sepertinya bajunya bagus, sini aku mau lihat." Aisyah ingin melihat baju yang dipegang Farel.
"Ini untukmu, aku memilihkan ini untukmu, aku lihat saat berada di panti kamu sangat cocok memakai baju syar'i."
"Benarkah kamu memilihkannya untukku. Kemarikan, akan aku coba, ayo." mengajak Farel ke ruang ganti.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Aisyah keluar dengan pakaian yang dipilihkan Farel untuknya. Pakaian itu sangat cocok untuk Aisyah. Farel sangat terpesona dengan penampilan Aisyah yang mengunakan baju syar'i.
"Boleh aku jujur, kamu terlihat sangat cantik menggunakan pakaian syar'i ini."
"Sungguh, tapi aku tak begitu menyukai pakaian tertutup seperti ini."
"Tak apa Aisyah, lama kelamaan kamu pasti suka itu butuh kesabaran dan keikhlasan, jika diniati dari hati yakinlah kamu bisa, semangat Aisyah." Farel memberikan semangat.
"Baiklah, sesuai keinginanmu, Aisyah langsung menggunakan baju tersebut dan berjalan menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. tak lupa Aisyah meminta untuk baju Anak-anak harus di bungkus dengan rapi. Ia ingin pada hari weekend mereka pergi mengunjungi Panti Asuhan kembali.
Setelah mereka berdua selesai belanja, Aisyah masih belum ingin pulang Ia inggin pergi ke makam Papanya.
"Jangan langsung pulang ke rumah, nanti kita mampir kemakam Papa dulu Aku ingin berziarah, sudah lama kita nggak kesana." ingatannya kembali pada Papanya.
"Kamu benar Aisyah, sudah lama kita tidak kesana." Farel pun menyetujui usulan Aisyah. Tak butuh waktu lama untuk sampai di makan hanya sekitar tiga puluh menit dari pusat belanja. kini mereka berdua telah sampai di makam.
__ADS_1
"Pa, maafkan Aisyah bari bisa datang sekarang, semoga Papa dan mama bahagia di surga, Aisyah disini sudah bahagia, lihatlah sekarang Aisyah akan belajar menutup Aurat, Pa, Aisyah sudah menerima Farel sebagai suami Aisyah, sesuai dengan keinginan Papa, terimakasih karena telah memberi Aisyah suami yang Baik." Aisyah mengadukan semua isi hatinya kepada papanya dan mamanya. Berharap mereka dapat melihat kebahagiaannya dari atas sana.