Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Rencana Balasan dari Aisyah


__ADS_3

"Saya minta kamu sedikit merusak barang yang akan kamu bungkus ini." Ririn menyerahkan kotak yang berisi kejutan untuk Aisyah. "Tapi jangan sampai terlihat terlalu mencolok, usahakan memang ini kesalahan dari pabrik. Kamu bisa kan, ini tip untuk mu." Ririn meletakkan uang itu di depan meja kasir tanpa diketahui oleh siapapun. Karena memang suasana di tempat oleh-oleh tersebut sedang sepi,


karyawan toko mengambil uang yang di tawarkan kepadanya. "Baiklah, itu sangat mudah dilakukan." Kemudian karyawan itu membungkusnya dengan sangat rapi dan indah. Setelah selesai membayar belanjaannya, Ririn menghampiri Farel di parkiran.


"Sorry ya kamu nunggu lama, tadi aku harus balik kedalam lagi buat cari satu barang kesukaan mamaku. Ini barang yang kamu beli, aku sudah meminta karyawan itu untuk membungkusnya sedemikian cantiknya, hanya untuk istrimu tercinta." Ririn terlihat sangat bahagia. Ia merasa sudah melakukan semuanya dengan benar, tanpa ada kesalahan sedikitpun.


"Kamu memang teman terbaikku, Rin. makasih ya, sekarang kita kembali ke kantor masih ada beberapa yang harus di urus sebelum kita kembali ke jakarta, dan aku ingin segera menyelesaikannya." Farel sangat semangat.


"Dan ya nanti pulangnya kita mampir dulu ke konter untuk mengambil handphoneku, jika kali ini nggak bisa di gunakan ya aku beli yang baru saja."


"Oke kita mampir, aku sudah tidak sabar untuk kembali ke jakarta. Walau hanya tiga hari tapi aku sangat merindukan tempat kelahiranku." senyuman tak pernah pudar dari Ririn hingga sampai di kantor Ririn pun tak berhenti tersenyum.


****


Aisyah yang menerima semua bukti yang dikirimkan oleh Ririn, sangat bahagia. Ya memang awalnya Aisyah sempat berpikir bahwa suaminya itu memang memiliki hubungan dengan sekretarisnya, Ririn. Tapi saat mengingat kbali kata-kata dari suaminya Aisyah menepis prasangkan buruknya. Jika di katakan Aisyah cemburu, Ya Aisyah memang cemburu istri man ayang tak cemburu ketika melihat suaminya sedang berada di kota lain bersama wanita lain meskipun hanya sebatas kerja saja. Aisyah menyadari jika Ririn sangat dekat dengan Farel. Bahkan Ririn juga sudah terang-terangan mengakui perasaannya kepada Farel. Itu membuat Aisyah harus berpikir dia kali lipat daripada Ririn. Untuk bisa mengungkapkannya di depan Farel, Aisyah sengaja memasang wajah sedih dan marah saat mendapat panggilan dari Ririn ataupun Farel.


"Kau pikir aku bodoh bisa dengan mudahnya percaya dengan semua yang kau katakan, jika kau menggunakan cara licik untuk bisa mendapatkan suami tercinta ku, aku bahkan lebih licik darimu. Hanya bermodalkan tangisan dan luapan amarah kau sudah merasa menang. Kau salah, Ririn. Aisyah kusuma tidak selemah itu." ucap Aisyah di iringi tawa misterius nya.


Sebuah panggilan tertera di layar handphone milik Aisyah. Panggilan itu dari siapa lagi jika bukan dari Ririn. Ririn sengaja menelpon Aisyah, ia ingin menunjukkan setiap kedekatannya dengan Farel, bahkan sudah banyak Foto yang ia kirimkan kepada Aisyah , untuk membuat Aisyah marah jika melihatnya. Namun dugaan Ririn salah besar, Aisyah memang sempat beberapa kali marah, tapi Aisyah yakin marah tidak akan menyelesaikan masalah justru akan membuat Ririn bertambah gila. Maka dari itu ia memutar otak, Aisyah meminta Fandi untuk mengumpulkan semua informasi mengenai Ririn, baik itu keluarga atapun kerjaan.


"Aku tunggu kedatanganmu dan suamiku di jakarta, untuk Farel aku akan menyadarkannya jika Ririn bukan sahabat baik seperti yang Farel pikirkan dan untuk Ririn bersiaplah mengahadapi kemarahan dan kebencian Farel yang ingin kau rebut dari ku." Aisyah bermonolog.

__ADS_1


Tak lama kedua sahabat Aisyah datang untuk menemaninya di Rumah, tinggal hari ini mereka bisa menghabiskan waktu bersama-sama selama mungkin seperti saat Aisyah masih belum memiliki suami. Seperti sudah terbiasa Vika dan Vita langsung saja menuju kamar Aisyah.


"Hai besti, gimana lo baik-baik aja kan,? lo nggak bersedih lagi kan memikirkan si ulat keked itu." Vika membuka obrolan mereka.


"Kalau dilihat dari raut wajah lo sekarang bisa dipastikan lo baik-baik aja. Benarkan dugaan gue." Vita menebak, sambil duduk di samping Aisyah yang bersandar pada dinding.


"Kalian memang sahabat terbaik gue, ya tebakan kalian benar. Setelah gue pikir-pikir nggak mestinya gue nangis hanya gara-gara ulah Ririn. Seharusnya gue lakuin ini dari dulu, tapi ya namanya nggak kepikiran, mau bagaimana lagi yang terpenting sekarang Aku sudah mempunyai bukti tinggal menunggu Farel pulang." Aisyah menjelaskan jika Ririn salah memilih lawan.


"Ini baru benar, Aisyah yang kita kenal tidak mudah untuk dikalahkan. Apalagi lawannya hanya seorang sekertaris Farel yang mengandalkan persahabatan sebagai senjata." Vika berucap.


"Ya apapun itu kita pasti dukung lo kok. Kita bertiga bakalan buat si ulat keked kegatelan sama suami orang itu kalah telak dengan permainannya sendiri." Vita bersemangat.


Setelah itu mereka berencana menghabiskan waktu disalon. Untuk menyambut Farel, Aisyah ingin terlihat sangat menawan. Sekaligus menunjukkan kepada Ririn jika dia baik-baik saja.


"Jadi dong, kita sudah merencanakannya masak nggak jadi." Vita dan Vika menjawab serentak.


"Kita pakai mobil kamu saja ya, Aisyah. Kamu tau sendiri kan kalau mobil Aku itu kadang suka mogok nggak jelas."


"Ya lo tinggal ganti mobil yang baru aja, apa susahnya. Tinggal minta sama orang tua lo, dan orang tua lo punya kontrakan yang lumayan banyak pastinya cukup buat beli mobil baru." Vita dan Aisyah menggoda Vika.


"Gue tau, tapi yang kaya kan orang tua gue bukan gue, lagipula ini mobil kesayangan gue. Udah banyak suka duka yang gue alami sama mobil ini. Gue sayang banget sama mobil ini." ucap Vika menolak usulan kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Sayang mana, mobil atau Dosen Vino?" Vita sengaja menggoda dengan menyebutkan nama Dosen Vino.


Mendengar nama Dosen Vino, Vika menahan senyuman diwajahnya. Sedangkan Aisyah terkejut mengetahui sahabatnya ternyata menyukai Dosen Vino.


"Apa aku nggak salah dengar, Vika sahabat kita ini menyukai Dosen Vino!" Aisyah memastikan pendengaranya tak keliru.


"Sudahlah kalian, jangan bahas itu, aku malu. lebih baik kita pergi sekarang. keburu sore." Mereka pergi ke salon beauty langganan mereka dan melakukan berbagai perawatan di sana.


***


Hingga sore Farel masih disibukkan dengan berbagai hal yang harus ia kerjakan, semua itu harus selesai hari ini, karena besok dia sudah kembali ke jakarta. Waktu yang singkat untuk menyelesaikan berbagai kendala pada perusahaan cabang Bandung. Tapi bukan Farel jika tidak bisa membuat semuanya menjadi terkendali. Meski Farel terbilang baru memegang Perusahaan Kusuma Grup beberapa bulan, itupun karena Farel menikah dengan, Aisyah. Putri dari Pak Wijaya pewaris dari Kusuma Grup. Tapi Farel sudah menunjukkan bahwa dirinya memang layak untuk mendapatkan posisi itu. Semua itu Farel peroleh berkat kepandaiannya. Keberuntungan memang mengubah hidup Farel dari menjadi bawahan sekarang menjadi Bos besar. Memiliki istri secantik Asiyah adalah keberuntungan terbesar baginya.


"Ririn, apa ada kabar dari Aisyah?" tanya Farel, sebelum mendengar suara Aisyah, Farel akan tetap merasa khawatir.


"Oh, tadi memang Aisyah sempat menelfon ku, dia hanya menanyakan besok kita pulang jam berapa.


...----------------...


Mampir ke karya temanku juga ya...🥰🥰🥰🥰🥰.


__ADS_1


" ucap Ririn berbohong. Ririn tidak memberitahu Farel jika Aisyah menelfon untuk memperingatkan supaya Ririn tidak mendekati Farel secara terus menerus.


__ADS_2