
"Aku berjanji Pa, aku akan membahagiakan putri papa, putri Papa aman bersamaku. Jika ada yang berniat melukai Aisyah orang itu harus melangkahi mayatku terlebih dahulu." Farel mengucapkannya dengan kemantapan hati. ia kemudian meraih tubuh Aisyah untuk mengajaknya pulang.
"Tenanglah Aisyah, Papa dan mama sudah bahagia di surga, ini sudah sore Aisyah, Ayo kita pulang." ajak Farel.
"Aisyah pulang dulu ya Pa, Ma, Aisyah sayang kalian." ucap Asiyah berpamitan.
Mereka berjalan meninggalkan makam, di dalam mobil Aisyah dan Farel saling diam mereka larut dalam pemikiran mading-masing. Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan yang berasal dari Aisyah, farel yang mendengarnya meski pelan berinisiatif untuk mengajak Aisyah makan di luar, karena jik amalan dirumah pun pasti tak ada makanan yang tersaji. Farel menjalankan mobilnya pelan sambil memilih makanan yang berjejer di sepanjang jalan dekat taman.
"Apa kamu mau makan nasi goreng?" tanya Farel sambil melihat penjual nasi goreng yang sedang sepi pembeli.
"Boleh, aku juga sudah lapar." Aisyah mengiyakan karena memang benar ia lapar.
Mereka berhenti di penjual nasi goreng.
"Pak, nasi gorengnya dua yang satu manis yang satu nggak." Farel memesan sesuai permintaan Aisyah.
Tak lama Nasi goreng pesanan mereka tiba, Baunya sangat menggoda Aisyah yang sudah lapar.
"Makanlah, pasti kamu sudah sangat lapar, itu perutmu sudah berbunyi dari tadi." Farel mulai menggoda Aisyah.
Mereka menikmati makanan itu dengan ditemani angin sepoi-sepoi, makan di pinggir jalan seperti ini dirasa sangat berbeda dengan makan di dalam restoran.
"Suasananya enak, nanti kita mampir ke taman sebentar ya, hari ini kan malam minggu aku ingin jalan-jalan sebentar." pinta Aisyah dengan semangat.
"Sesuai dengan keinginanmu tuan putri ku yang cantik." Farel sangat suka menggoda istrinya. Membuat senyuman terbit di sudut bibirnya karena melihat Aisyah tersenyum Ia sudah sangat bahagia.
Saat menikmati nasi goreng pesanannya ada dua orang pengamen yang masih berusia lima tahun dan duabelas tahun, mereka sepertinya adek dan kakak. Menyanyikan lagu dengan sangat merdu hingga lagu itu selesai.
"Bagus banget suaranya, dek. boleh nyanyi satu lagu lagi, dek." pinta Aisyah.
Mereka pun menyanyikan lagu yang romantis untuk menambah kesan romantis pada Farel dan Aisyah.
Farel memperhatikan anak yang berumur lima tahun Ia terkadang mencuri pandang pada nasi goreng yang masih tersisa separuh di atas meja Farel dan Aisyah.
Melihat itu membuat Hati Farel terenyuh mengingat saat dia juga masih berusia sepuluh tahun yang juga pernah mencari uang dengan cara mengamen. Farel kemudian memesankan dua porsi nasi goreng untuk mereka makan.
"Pak nasi gorengnya tambah dua, ya." pesan Farel.
Dua anak itu masih bernyanyi. melihat mereka asik bernyanyi membuat Farel juga ingin bernyanyi. Ia mempersembahkan lagu itu untuk Aisyah tercintanya, mengambil gitar dan mulai menyanyi.
𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳
𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶
__ADS_1
𝘏𝘢𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘢
𝘎𝘦𝘭𝘰𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘬𝘢 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢
𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯
𝘏𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶
𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢
𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢
𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢
𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶
𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳
𝘔𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘥𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪
𝘓𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳𝘮𝘶
𝘏𝘪𝘵𝘢𝘮 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵
𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯
𝘏𝘢𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶
Terlebih Aisyah Ia merasa lagu yang di nyanyikan Farel dikhususkan untuknya.
Mendengarnya Aisyah senyum - senyum sendiri.
"Suara Kakak merdu, enak sekali didengar." ucap pengamen kecil itu.
Tak berselang lama pesanan Farel datang, Ia memberikan nasi goreng itu kepada dua pengamen kecil itu. Sepertinya mereka belum makan.
"Ini ada rezeki untuk kalian, makanlah jangan malu-malu." Farel memberikan nasi goreng tersebut.
Kedua anak itu tersenyum."Terimakasih Kak, kakak baik sekali, semoga kakak mendapatkan apa yang kakak inginkan." do'a pengamen kecil itu.
"Aminn ...." Farel dan Aisyah serentak.
__ADS_1
Setelah makan Aisyah minta ditemani untuk berkeliling taman sebentar, menikmati suasana malam minggu, di taman banyak anak kecil yang bermain juga orang dewasa yang sedang berjalan-jalan menikmati suasana malam ini.
"Kita ke bangku itu, yuk!" ajak Aisyah menunjuk bangku di samping taman.
Belum sempat Farel menjawab Aisyah sudah menariknya menuju bangku yang dimaksud.
Mereka berdua memandang langit yang sudah bertabur bintang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
"Indah sekali ya malam ini, cuaca cerah, langit berbintang dan lihat bulan itu Dia bersinar terang, angin yang berhembus sejuk menambah keromantisan malam ini. Aku menyukainya." Aisyah memandang langit dengan kepala bersandar pada baju Farel.
"Kamu menyukai semua ini, baiklah jika begitu setiap malam minggu kita akan menghabiskan waktu diluar seperti ini, kamu senang."
Hanya anggukan kepala yang diberikan Aisyah yang artinya Ia sangat setuju dengan usulan yang diberikan Farel.
Kepala Aisyah Ia sandarkan pada bahu Farel, mencari kenyamanan di posisi tersebut sambil menatap langit. Memperlihatkan pada Papa dan Mamanya jika Ia sangat bahagia.
Setelah cukup lama Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
"Anginnya semakin dingin Aisyah, ayo kita pulang nanti kamu demam jika terkena angin malam." Farel memperingatkan.
"Yasudah kita pulang, iki juga sudah malam."
Saat berjalan pulang Ia tak sengaja bertabrakan dengan mantan kekasihnya yaitu Andre.
"Burukl ... Auuwhh ... , Maaf-maaf aku tak sengaja." Aisyah sedikit terhuyung namun ada Farel yang dengan sigap menangkap tubuh Aisyah sehingga tak sampai jatuh.
"Aisyah, kamu disini juga..., aku bisa bicara dengan kamu sebentar." Andre memohon dengan tatapan memelas.
Aisyah meminta izin kepada Farel untuk bicara dengan Andre, itu ia lakukan agar tak ada kesalahpahaman di antara mereka.
Mereka sedikit menjauh dari Farel, karena Aisyah tak mau Farel mendengar pembicaraannya, mungkin Andre akan membahas mengenai hubungan mereka.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan, bukannya kamu sendiri yang telah memutuskan hubungan kita, lalu mau apa lagi kamu Andre, jangan ganggu hidupku lagi, Aku sudah bahagia dengan Suamiku." Aisyah berucap dengan penuh penekanan.
"Aku tidak akan menganggum, aku hanya ingin minta maaf untuk sikapku yang menyalahkan kamu atas putusnya hubungan kita. Jujur saat itu aku hancur dengan keputusanmu memilih menikahi Farel, setelah semua itu mimpiku bersamamu telah hancur Aisyah." ucap Andre dibuat selemah mungkin yang menandakan jika ia memang benar-benar menyesal dan hancur.
"Yang berlalu biarlah berlalu sekarang kita jalani hidup kita masing-masing, jangan pernah ganggu hidupku lagi, Andre, aku sudah bahagia dengan suamiku, Farel." berharap Andre tidak mengusiknya lagi.
"Jika kita tidak bisa menjadi kekasih apa kita juga tidak bisa menjadi teman. Setidaknya berikan tanda pertemanan sebagai pengganti hubungan kita yang lalu Aisyah, Aku mohon." Andre masih meyakinkan Aisyah.
"Aku bisa berteman dengan mu jika Suamiku mengijinkannya jika tidak berarti kita tidak memiliki hubungan apapun. Sebentar Aku tanyakan dulu kepadanya."
Aisyah menghampiri Farel yang sedikit menjauh dari mereka. Dan bertanya dan menyerahkan keputusan Pada Farel mengenai Andre.
__ADS_1
"Farel, apa Aku bisa berteman dengan Andre atau tidak, Jawab dengan jujur, Farel. Keputusanmu menentukan hubungan ku dengan Andre."
"Jika seseorang ingin memperbaiki kesalahannya dan Ia sendiri datang untuk meminta maaf kepada kita, kita harus memaafkannya dan memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri, Aisyah. Artinya jika Andre benar-benar hanya ingin berteman, agar silaturahmi tetap terjalin apa salahnya, itu boleh-boleh saja."