Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Hukuman


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Aisyah mencari keberadaan suaminya itu, "Apa mas Farel kembali lagi ke kantor ya? tapi kok nggak bilang dulu ke aku." ucap Aisyah kesal.


Dreettt...


"Fandi, apa mas Farel kembali ke kantor?" tanya Aisyah langsung to the poin.


"Bukankah, Pak Farel sedang bersama Bu Aisyah?" bukan menjawab Fandi justru kembali bertanya.


"Itu dia masalahnya, aku tadi pergi ke toilet sebentar pas kembali Mas Farel nya sudah tidak ada, aku sudah coba cari hampir seluruh taman tapi tetap nggak ada, mana handphonenya nggak aktif lagi." Aisyah yang kesal, melampiaskan kemarahannya pada pohon yang menjulang tinggi di depannya.


Duhg...


Ahhh...


Seketika Aisyah meringis menahan sakit di kakinya setelah menendang pohon itu dengan keras.


"Kenapa Bu Aisyah, Sepertinya anda kesakitan?" Fandi dapat mendengar suara Aisyah karena memang panggilan tersebut belum berakhir.


"Tidak, ada, ya sudah jika mas Farel tidak pergi ke kantor!"


Tut...


"Aneh, jika Pak Farel tidak bersama dengan Bu Aisyah lalu dimana dia?" Fandi juga merasa heran dengan tingkah bosnya itu.


"Mungkin Pak Farel sedang menyiapkan kejutan untuk Bu Aisyah." Fandi berasumsi, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Awas kamu mas, kalau ketemu akan u beri pelajaran agar kamu tak lagi meninggalkan aku seperti ini." Aisyah menghentakkan kakinya dengan kesal. Setelah lelah mencari Aisyah memilih pulang dan menunggu Farel di rumah. Moodnya benar-benar hancur saat ini.


Di rumah sakit Farel dan Maya di periksa oleh Dokter, "Bagaimana keadaan dok, lukanya tidak serius kan?" tanya Maya yang cukup khawatir melihat luka Farel.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, luka anak ibu tidak serius, hanya luka kecil." ucap Dokter spontan, melihat dari kemiripan yang terlihat Pak Dokter menyimpulkan jika Farel adalah putra Maya.


Maya dan Farel yang mendengar kalimat tersebut cukup terkejut, "Dia buka putra saya Dok?" sangat Maya, ia tak mau mengakui anak orang lain sebagai putranya meskipun Maya memang memiliki putra yang telah hilang selama Tujuh belas tahun lalu.

__ADS_1


"Benar sekali itu Dok, saya bukan putranya, orang tua saya sudah meninggal saat saya berusia dua belas tahun, jadi mana mungkin ibu ini ibu saya, Dokter bisa saja bercandanya." Farel menepis perasaan yang saat ini sulit di jelaskan.


"Oh maaf, saya pikir kalian ibu dan anak, sebab wajah kalian sangat mirip."


benar juga apa ya g dikatakan dokter, apa dia ini memang putraku yang hilang? Tapi tadi dia bilang kalau dia memiliki orang tua, meskipun orang tuanya sudah meninggal.


"Kamu mau pulang, biar saya antar, ya sebagai bentuk terimakasih saya karena kamu sudah menolong saya."


Maya menawarkan tumpangan, Maya sangat bersyukur karena di pertemukan dengan pemuda yang baik hati seperti Farel.


"Tidak perlu, saya bisa naik taksi." Farel tak ingin merepotkan Maya, Farel dan Maya berpisah di depan rumah sakit, arah rumah mereka sedikit berlawanan. itu yang menjadi penyebab di tolak nya tawaran Maya oleh Farel.


"Astaga...!!"


Jam melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas siang, itu artinya sudah hampir satu jam Farel meninggalkan Aisyah di taman. Farel merogoh ponsel miliknya, mencoba menyalakan berulang kali namun hasil nya tetep nihil.


"Ternyata ponselku lobet, Aisyah pasti khawatir mencariku." Dengan langkah cepat Farel memangil taksi sebab mobil miliknya dia tinggal di taman.


"Maafkan aku sayang, aku sampai melupakanmu, akan ku terima hukuman apapun darimu setelah sampai di rumah." Farel yakin Aisyah kini sudah menunggu kedatangannya di rumah.


Farel bergegas masuk, mencari keberadaan Aisyah, ia akan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, Kamu di mana?" Farel sudah mencari ke kamar serta halaman belakang namun tak kunjung menemukan keberadaan Aisyah.


Apa Aisyah tidak pulang, dimana Farel harus mencari Aisyah sudah hampir seluruh rumah Farel datangi?


"Apa Aisyah tidak pulang ke rumah?" Farel mulai terlihat lemas, pikirannya berkelana ke mana-mana. "Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi?" Farel mengulang kembali mencari Aisyah di dalam rumah.


Sudah hampir setengah jam Farel berkeliling tak jelas di dalam rumah nun hasilnya tetap nihil. "Dimana kamu Aisyah, keluarlah aku lelah mencarimu, awas saja kalau aku sampai bisa menemukanmu akan ku beri kamu hukuman yang berat." Farel cukup kesal, ia merasa di permainkan. Seketika saat itu juga Farel teringat Aisyah yang mungkin sama kesusahan mencarinya di taman. Rasa bersalah hadir di dalam hatinya, bagaimana Farel sampai lupa jika dia datang ke taman bersama Aisyah dan kini pulangnya sendiri-sendiri.


***


Di teras atas Aisyah melihat semua kejadian barusan melalui cctv, saat Farel berlarian di dalam rumah dengan wajah cemas cukup mengobati kekesalan dalam hatinya.

__ADS_1


"Tapi kasihan juga Mas Farel, apalagi ini sudah hampir setengah jam. Tapi biar lah, Mas Farel pasti bisa menemukanku di sini, ayolah mas berpikirlah dengan fokus, susul aku di teras atas mas." ucap Aisyah menyemangati dari teras atas. Senyum jahil tak lepas dari wajah Aisyah, "Aku menunggumu di sini mas, cepatlah kemari!"


Farel menjatuhkan bobotnya di sofa, rasanya lelah berkeliling rumah, apalagi yang di cari tak kunjung di temukan.


"Ah..." sebuah tempat terlintas di kepala Farel, "Mungkin Aisyah berasa di sana." Dengan sedikit berlari Farel menaiki anak tangga yang mengarak langsung ke teras atas.


Aisyah masih setia menunggu kedatangan suaminya sambil meja makan mata menikmati hembusan angin sore, serta matahari yang sudah mulai tenggelam.


Sebuah tangan melingkar di tubuh Aisyah, Aisyah tidak terkejut tapi justru semakin mempererat pelukan itu.


"Mas butuh waktu lama untuk menemukan ku, di mana keahlian suami bodyguard ku dulu?"


"Maafkan aku Aisyah, aku mengaku salah, tanpa sengaja aku mengabaikan mu di taman tadi siang." Farel menengelamkan kepalanya di caruk leher Aisyah, menikmati kenyamanan yang hadir dalam pelukan Aisyah.


Aisyah memegang tangan Farel dengan erat, "Akshh..." Farel meringis kala lukanya di pegang oleh Aisyah.


"Mas, ini kenapa bisa sampai begini, apa yang terjadi sampai kamu mendapat luka di tangan mu itu mas?" senyum Aisyah menghilang dan berganti rasa khawatir pada Farel.


"Tenanglah, aku tak apa, ini hanya luka kecil, tadi waktu aku nungguin kamu, aku dengar suara minta tolong ya aku cari suara itu dan benar seorang ibu-ibu sedang di kejar-kejar oleh beberapa preman, bahkan ibu itu hampir saya tertabrak truk. Untung aku ada di sana dan bisa menyelamatkan beliau jika tidak bisa entah apa yang terjadi." jelas Farel panjang lebar.


"Maafkan Aisyah ya mas, seharusnya Aisyah tak membalas balik apa yang terjadi pada Aisyah, mas mau kan maafkan Aisyah?" Aisyah menatap Farel dengan sendu.


"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu, yang terpenting sekarang kamu sudah tahu apa alasanku itu sudah cukup!"


Mereka berdua tidak langsung turun, melainkan menikmati suasana sore hari di teras atas. Farel menjadikan paha Aisyah sebagai tumpun tidurnya.


"Apa masih sakit, dan bagaimana dengan ibu yang kamu selamatkan tadi, semoga tak ada luka serius pada beliau."


"Tak ada, tapi ada hal yang menganggu pikiranku."


"Apa itu mas?"


"Tadi seorang Dokter yang mengobati luka kami mengatakan jika aku adalah putranya hanya karena wajah kami mirip, bukankah itu terdengar aneh?"

__ADS_1


Setelah bercerita Aisyah dan Farel tengelam dalam pemikiran masing-masing.


__ADS_2