
"Astaga, Aku sampai melupakan Farel gara-gara sibuk membersihkan rumah. Hari ini aku akan menjadikan malam ini sebagai hadiah terindah untukmu. Apa yang selama ini menjadi hakmu Farel, akan kamu dapatkan semoga dengan ini hubungan kita semakin kuat." do'a Aisyah.
Farel sendiri sudah menunggu di dalam kamar namun yang di tunggu belum muncul juga. Ia memutuskan untuk melihatnya kebawah.
Aisyah yang setengah berlari tanpa sadar menabrak Farel yang hendak turun mencarinya.
"Auhhh ... ."Aisyah jatuh menimpa Farel. Saat itu mata mereka bertemu, saling memandang, mengagumi satu sama lain. Farel yang berada di atas tubuh Aisyah kahirnya bersuara." Apakah kita mau tidur disini."
Mendengar itu Aisyah bangun dan membantu Farel bangun.
"Aku mencarimu, kenapa belum tidur ini sudah malam. Pekerjaan bisa dilakukan besok lagi jika memang masih belum selesai." jelas Farel yang khawatir Aisyah akan kecapekan karen bekerja berat.
"Ini juga sudah selesai, Farel. Aku baru saja mau ke kamar, lalu kenapa kamu sendiri belum tidur." tanya Aisyah balik.
Aisyah yang melihat senyum di wajah Farel merasa ada yang aneh dari suaminya malam ini.
"Aku ingin tidur bersamamu, Istriku yang cantik." Farel menggoda Aisyah.
Farel tanpa meminta izin langsung mencium bibir Aisyah yang sejak awal ia menciumnya sudah menjadi candu untuknya lalu mengendong Aisyah untuk masuk kamar.
Aisyah sendiri merasa nyaman dalam gendongan Farel hatinya berdebar masih sedikit merasa takut, tapi ia ingin melakukannya untuk Farel.
Sampai di kamar Aisyah langsung berlari ke kamar mandi menyembunyikan rasa malu sekalian ingin mandi agar lebih Fresh.
"Farel bisa tolong ambilkan handuk, aku lupa tidak membawanya." ucap Aisyah berteriak.
"Ini handuknya." mengetok pintu dan memberikan handuk.
Aisyah membuka pintu mengucapkan terimakasih lalu menutupnya kembali.
Setelah selesai Aisyah keluar hanya dengan menggunakan handuk menampakkan bentuk tubuh yang indah dan menawan membuat gairah Farel sebagai seorang laki-laki naik.
Sedangkan Aisyah sendiri tidak menyadari jika Farel sudah bergairah.
Tampa sadar Aisyah justru membungkuk untuk mengambil baju paling bawah. Hal itu justru semakin membuat Farel sulit untuk mengendalikan otaknya. Hingga tanpa minta izin Farel mendekatkan tubuhnya dan Mencium bibir Aisyah, Aisyah sempat kaget dengan perlakuan Farel kepadanya, karena dalam rencana Aisyah lah yang akan pertama kali menggoda Farel. Namun lama kelamaan rasa itu juga membuat Aisyah menginginkan lebih. Serasa Mendapat persetujuan dari Istrinya Farel justru semakin meningkatkan aksinya lalu mengendong Aisyah ketempat tidur untuk membawanya ke surga dunia yang memabukkan.
__ADS_1
Farel kembali mencium bibir Aisyah, semakin lama ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menuntut. Setelah puas mencium bibir nya, Farel memindahkan ciuman lembut itu ke leher yang buat Aisyah mengeluarkan *******, hal itu semakin membuat Farel menginginkan lebih dari hanya sebatas ciuman. Aisyah sendiro tak menyadari entah kapan ia sudah menanggalkan pakaiannya, Farel terus saja melakukan aksinya, hingga kini ia telah sampai pada bola kembar milik sang istri bermain di sana membuat Aisyah dan Farel semakin bergairah, hingga kembali suara ******* keluar dari mulut Aisyah, dirasa puas, Farel melanjutkan aksinya pada pusat milik istrinya, tak mau membuang waktu lebih lama Farel menyatukan miliknya dengan milik Aisyah. Keringat yang keluar dari tubuh mereka menandakan pekerjaan mereka sudah hampir selesai, mereka sama-sama memuntahkan cairan panas itu untuk mendapatkan kenikmatan puncak. Hingga akhirnya mereka berdua terkulai lemas di ranjang.
Malam itu menjadi malam penyatuan dua kekasih yang sedang jatuh cinta.
Suara handphone berbunyi membangunkan Farel yang masih tertidur , Ia kelelahan akibat bertempur dengan Istrinya hinga pagi menjelang.
"Hallo ... , Farel kamu tidak lupa kan kita ada meeting pagi ini." Ririn mengingatkan, sebagai sekertaris Farel, Ririn tak pernah lupa mengingatkan tugasnya.
Farel lalu melihat jam di meja sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Astaga, aku lupa sekarang ada meeting. Kamu atur saja meetingnya aku mungkin sedikit terlambat." Farel mematikan telfonnya.
Melihat Aisyah masih tertidur, Farel tidak mau membangunkannya. Ia kemudian membersihkan diri lalu berangkat ke kantor. Tak lupa Farel meninggalkan sepucuk surat untuk Aisyah beserta Roti dan susu di atas meja.
Aisyah mulai membuka mata, melihat di sampingnya ternyata Farel sudah tidak ada.
"Jam berapa ini. Apa Farel sudah ke kantor ya, kenapa tidak membangunkanku." pandangannya tertuju pada makanan di atas meja dengan surat bertuliskan :
𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘤𝘢𝘬 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮𝘱𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘩𝘢𝘺𝘢𝘵𝘬𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘬𝘶.
Membaca surat itu, membuat Aisyah tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki suami seperti Farel yang telah sabar menghadapinya, yang tak pernah berbicara dengan nada tinggi di hadapannya, dan Farel yang selalu ada di saat ia membutuhkannya.
Aisyah ingin pergi ke kamar mandi namun kesulitan berjalan terlebih masih merasakan perih di daerah pribadinya.
Sejalan dengan pelan-pelan hingga masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai Ia memakan Sarapan yang disiapkan Farel untuknya, Aisyah merasa bahagia karena dia sudah menyerahkan segala yang dia punya kepada suaminya tercinta. Dan hanya berharap kebahagiaan lah yang akan memenuhi hidupnya.
Hari ini Aisyah memiliki kelas kuliah siang, Ia harus segera menyelesaikan skripsinya yang harus segera di kumpulkan.
***
Farel telah tiba di kantor, di ruang meeting sudah ada Ririn yang meng-handle jalannya meeting sampai Farel datang.
"Selamat pagi semua, maaf saya telat." ucap Farel ikut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Tak masalah Pak Farel , sekertaris anda ini sudah menjelaskan semua yang kami tanyakan. Anda beruntung memiliki sekertaris seperti Mbak Ririn ini." Pak Aryo kolegan bisnis Farel ikut mengagumi kecerdasan Ririn sebagai sekertaris.
"Iya, saya memang beruntung memilikinya sebagai sekertaris saya." Farel menampilkan senyum bangganya kepada sahabat yang selama ini menemaninya dalam setiap masalah.
"Semua yang di jelaskan saya sudah setuju, berhubung saya sedang ada kepentingan yang lain, saya permisi dulu." Pak Aryo berpamitan.
"Iya, terimakasih atas waktunya." Farel mengantar mereka keluar.
"Terimakasih Ririn kamu sudah membantu saya meng-handle meeting pagi ini. Hari ini saya telat bangun karena tidur kemalaman." Farel beralasan, ia tersenyum mengingat pertempuran tadi malam dengan Aisyah.
"Tak apa Farel, itu juga tugas aku sebagai sekertarismu, kan. Jangan ragu untuk meminta bantuan ku, aku akan selalu membantumu." Ririn sambil memegang pundak Farel mencari simpati Farel, berharap Farel bisa sedikit peka pada perasaannya.Namun sayang sampai saat ini Farel tak kunjung menyadari perasaan sahabatnya Ririn bukanlah murni sahabat namun ada cinta di dalamnya.
"Iya, aku balik keruangan ku dulu." berlalu meninggalkan Ririn.
Sampai ruangan Ia terlihat sangat bahagia. Tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi malam yang ia lewati bersama Aisyah, Farel tidak menyangka jika Aisyah sudah memberikan hak atas dirinya kepada Farel. Sebagai seorang laki-laki Farel memang menginginkan haknya dan sekarang sudah ia dapatkan dari istrinya.
Mengingatnya membuat Farel sudah rindu akan istrinya yang ternyata sangat mengairahkan saat di ranjang.
Farel menelpon Aisyah, untuk mengurangi rasa rindunya.
"Hallo Aisyah, kamu sudah bangun, apa makanannya sudah dimakan?" tanya Farel basa-basi. Ia hanya ingin mendengar suara Aisyah.
"Sudah, terimakasih untuk makananya, kamu berangkat jam berapa, kenapa tidak membangunkanku." tanya Aisyah.
"Tadi Ririn telpon, Ia mengingatkan aku kalau pagi ini aku ada meeting, dan karena semalam kita habis melakukan penyatuan, aku sampai melupakannya. Saat bangun aku langsung pergi ke kantor. Tapi suamimu ini masih bisa menyiapkan makanan kecil untukmu sarapan. Kamu menyukainya?" jelas Farel.
"Sangat, sangat suka, I love you, aku sekalian minta izin mau ke rumah Vita sore ini, boleh kan." tanya Aisyah.
"I love you too, Pergilah hati-hati di jalan, nanti kalau pulang kasih kabar aku jemput, oke." perintah Farel ia tak mau Aisyah kenapa-napa jika pulang sendiri.
Aisyah sudah sampai di kampus, kebetulan Ia berpapasan dengan Dosen yang kemarin tolongi Vita dan Vika.
"Hallo, Pak dosen yang kemarin tolongin temen saya waktu bannya kempes, kan. Kenalkan aku Aisyah teman mereka waktu di sana kita nggak sempat kenalan." Aisyah mengulurkan tangan untuk berkenalan, karena kata Vika Dosen di depan Aisyah ini baik, Aisyah berani untuk berkenalan dengannya.
Uluran tangan Aisyah di sambut baik oleh Dosen Vino." Kebetulan aku mengenalnya sehingga bisa membantunya untuk membenarkan mobilnya. Kamu teman mereka juga?" tanya Dosen Vino.
__ADS_1
Kemudian dijawab anggukan oleh Aisyah.