Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Rencana Pembangunan Panti Asuhan


__ADS_3

Dalam perjalanan pandangan Farel tak lepas dari Aisyah.


𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘣𝘪𝘥𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘩𝘢𝘺𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯. Farel masih tetap memandang Aisyah tanpa berkedip.


"Hello, kenapa memandangku seperti itu, aku cantik kan sampai membuatmu tak berpaling menatapku." Aisyah yang menyadari jika Farel terpesona dengan kecantikannya tak melepaskan kesempatan untuk menggoda Farel. kali ini Aisyah yang mengemudi karena tangan Farel masih menggunakan akan penyangga.


"Iya, kamu memang cantik, tambah cantik lagi kalau kamu tidak cerewet." Farel menampilkan senyuman termanisnya.


"Ih...biarin aja, yang penting kan aku cantik, memuji diri sendiri jiga nggak masalah kali, kalau bukan diri sendiri siapa lagi yang mau memuji cantik." Aisyah merasa bangga dengan kecantikannya.


Tak berselang lama mereka sampai pada tempat tujuan. Caffe Time menjadi tempat meeting kali ini. Caffe Time tersebut memang sedikit sepi saat pagi hari dan akan mulai rame saat menjelang sore hingga malam hari. Aisyah dan Farel Berjalan masuk dengan bergandengan menjadi pusat perhatiaan. langkahnya menuju meja sepuluh dimana klien penting tersebut sudah menunggu kedatangan Farel yang akan menjadi rekan bisnisnya.


"Hallo, selamat pagi Pak Sahir. Maaf sudah membuat Anda menunggu, perkenalkan ini Istri saya Aisyah, putrinya Pak Wijaya Kusuma." Aisyah mengulurkan tangan untuk perkenalan.


"Sahir."


"Aisyah."


"Saya juga baru sampai, apa anda mau minum saya sudah memesan minum." tawar Pak Sahir untuk mencairkan suasana.


Saat meeting berlangsung Aisyah lebih memilih diam, ia memang masih belum banyak belajar mengenai perusahaannya sendiri, Cita-citanya saja yang ingin menjadi wanita karir namun untuk keinginan belajar Aisyah masih dibawah rata-rata.


Farel memangil pelayan caffe untuk memesan makanan ringan dan kopi susu kesukaan Aisyah.

__ADS_1


Tidak sedikit yang Farel tahu mengenai Istrinya, bahkan hampir kesehariannya Farel bisa mengatakan dengan benar, itu karena Farel saat masih menjadi bodyguard meski tak bertegur sapa namun memperhatikan setiap detail kecil dari pergerakan Aisyah. Jadi mudah mengatakan apa saja kesukaan Aisyah jika ada yang bertanya.


Pak sahir terlihat buru-buru, itu sangat terlihat dari wajahnya yang sudah mulai menua.


"Langsung saja pada pembahasan kita ya pak Farel, Saya tidak bisa berlama-lama di sini, karena ada sedikit kendala pada perusahaan saya di Mesir, juga ada keluarga saya yang hendak bertunangan tepatnya adik saya Dinda dia bertunangan dengan Vino dia berasal dari Indonesia. Untuk itu saya harus segera berangkat ke mesir." jelas Pak Sahir meminta agar pertemuan mereka di percepat.


"Iya, saya mengerti bagaimanapun keluarga memang harus di utamakan," melirik Aisyah, Aisyah yang sedari tadi menyimak mereka bicara serta mendapat tatapan dari Farel mengerti jika Farel membahas dirinya. "Sepertinya Pak Sahir ini bukan asli orang mesir, maaf jika saya salah ucap." Farel yang merasa tak enak hati meminta maaf.


"Santai saja Pak Farel, iya, memang benar saya bukan orang mesir asli, hanya saja saya memiliki perusahaan properti di sana dan itu membuat saya juga harus menjadi warga negara mesir sendiri, terkadang saya juga ke Indonesia untuk berkunjung pada panti Asuhan yang kurang mampu untuk menyalurkan bantuan." penjelasan Pak Sahid rekan kerjanya membuat Farel kagum, kagum akan dedikasinya untuk keluarga, juga kagum atas kemampuannya yang bisa membangun perusahaan di luar negri.


"waw...mulia sekali tindakan Pak Sahir ini, membantu yatim piatu, itukah alasan Pak Sahir ingin menjadi donatur pembangunan panti asuhan yang Kami ajukan." Farel menebak alasan dari Pak Sahir, pasti Pak Sahir menjadi donatur di panti Asuhan yang akan Farel bangun untuk mengenang Pak Wijaya Kusuma.


"Memang itu salah satu tujuan saya, sekalian saya bisa pulang ke Indonesian dengan mudah. bagaimanapun saya tak bisa melupakan kota kelahiran saya." sambil terkekeh kecil, Pak Sahir mencoba menghibur diri.


Aisyah terharu dengan penuturan Kliennya, Pak Sahir. Itu mengingatkannya dengan sosok Papanya yang menginginkan membangun sebuah Panti Asuhan yang akan di dedikasikan untuk Mamanya yang telah meninggal saat melahirkannya.


flashback On,


Pak Wijaya dan Aisyah sedang berada di panti Asuhan Muara Kasih untuk menyalurkan bantuan berupa mainan, Aisyah memang beberapa kali mengunjungi Panti tersebut.


"Aisyah, lihat betapa mereka bahagia, meski mereka tidak memiliki orang tua tapi mereka tak pernah mengeluh, mereka tetap semangat menjalani hidup."


"Iya Pah, Aisyah juga bersyukur, Aisyah masih memilikimu Papa, masih bisa merasakan kasih sayang orang tua, setidaknya Aisyah tidak merasa sendiri."

__ADS_1


"Papa ingin mendirikan Panti Asuhan sendiri Aisyah, Panti itu akan didirikan untuk mengenang Mamamu, bagaimana, apa kamu setuju dengan ide Papa." pendapat Aisyah sangat berarti bagi Papanya.


"Ide Papa sangat bagus, ,Pa, Semoga Mama tenang di atas sana, Aisyah merindukan Mama." Tak terasa air mata Aisyah sudah membasahi pipi putihnya.


"Yasudah Papa mau bertemu dengan ibu panti dulu, kamu mau ikut atau disini saja."


"Aisyah disini saja Pa, suasananya Aisyah suka." tak bisa Aisyah pungkiri ia sangat merindukan mamanya.


"Papa tinggal dulu ya." berjalan menuju ruangan ibu panti. Tujuannya adalah untuk menyerahkan bantuan berupa Dana. Untuk memenuhi kebutuhan mereka di panti Asuhan.


Seorang anak Kecil menghampiri Aisyah yang berada di bawah pohon yang sedang mengenang Mamanya, meski tak dapat merasakan kehangatan kasih sayang seorang Ibu, setidaknya Ia tak kekurangan kasih sayang seorang Ayah, Aisyah juga memiliki kehidupan yang mapan. sangat jauh dari kata miskin. Berbeda jauh dengan anak-anak di panti tersebut.


"Kakak kenapa, aku lihat kakakku lebih cantik jika tersenyum dari pada menangis." ucap Vini yang masih berumur lima tahun. Meskipun usianya belum matang dari umurnya, namun pemikirannya dewasa. Itu terjadi pada semua anak panti, kebanyakan dari anak-anak panti sudah berpikir dewasa sebelum waktunya.


Bagaimana tidak, anak panti yang seharusnya masih menikmati masa-masa bermanja kepada orang tuanya, harus bisa dan di tuntut untuk menjadi kuat. Tak ada kata-kata yang bisa Aisyah pikirkan untuk menutupi kesedihannya.


"Kak Aisyah tidak menangis kok, ini hanya kelilipan saja, ini sudah kakak hapus, Sudah ya, ayo Kita bermain." ajak Aisyah menghindari pertanyaan yang diajukan oleh Vini Aisyah meminta bermain petak umpat.


"Bagaimana, Kakak mau coba, seru loh kak...." Vini menawarkan Aisyah untuk bergabung dengannya bermain.


"Ayo..., dengan sanang hati."


Aisyah sering menghabiskan waktu sengang di panti Asuhan Muara Kasih, dengan Ayah ataupun sendiri. Baginya itu bisa mengobati rasa rindu pada sosok Mamanya yang hanya bisa dipandang lewat foto.

__ADS_1


flashback off


__ADS_2