Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Berhasil kabur


__ADS_3

Aisyah dengan sandiwara menahan rasa sakit dapat meyakinkan preman yang bertugas menjaganya.


Tanpa di minta Aisyah langsung saja masuk, berharap di toilet terdapat celah untuknya melarikan diri.


"Yes..." sebuah ide muncul di kepala Aisyah ketika melihat jendela yang tidak terlalu tinggi dengan ukuran persegi. Jendela itu bisa ia gunakan untuk meloloskan diri.


Dengan susah payah Aisyah akhirnya bisa memanjat keluar melalui jendela tersebut.


"Woi...lo tidur ya di kamar mandi... cepetan keluar, kalau enggak, gue dobrak ni pintu!!" preman yang berjaga sudah mulai bidan menunggu di luar.


Aisyah sendiri yang masih berada di jendela dengan separuh badan sudah keluar merasa panik, ketika preman itu mengatakan akan mendobrak pintu.


"Sebentar aku sakit perut!!" Aisyah sedikit berteriak agar preman itu mendengarnya dan tak lagi curiga apa yang Aisyah lakukan di dalam.


Dengan menghela nafas berat preman itu memilih duduk bersandar pada kursi dan menunggu Aisyah keluar.


"Kalau bukan perintah bos untuk tetap membiarkannya hidup, sudah dari kemarin aku habisi wanita ini." ucap preman kesal.


"Tapi apalah dayaku, menjaganya adalah perintah yang tak bisa di hindari, jika aku melakukan kesalahan, maka bos bisa kapan saja memenggal kepalaku."


Akhirnya Aisyah bisa keluar dari ruangan terkutuk itu.


"Huhfff... akhirnya aku bebas juga, sekarang aku harus bisa melewati para penjaga di depan dan setelah itu aku bisa pulang..." Aisyah sedikit merasa lega tapi kecemasannya masih tetap ia rasakan, bagaimana tidak, Aisyah masih harus melewati penjagaan ketat di depan dan dia harus bisa lolos baru Aisyah bisa bernafas lega.


Kamar mandi yang Aisyah gunakan untuk melarikan diri memang terletak di samping gudang bekas tersebut, seandainya bisa, Aisyah lebih memilih untuk melewati jalan belakang namun sayang setiap sisi dari gudang bekas tersebut terdapat tembok sebagai pembatas gudang. Aisyah mau tak mau harus melewati jalan depan untuk bisa keluar dari sana.

__ADS_1


Di depan kamar mandi preman yang berjaga sudah merasa bosan.


"Kenapa wanita ini tak keluar-keluar, apa yang dia lakukan di dalam selama ini, apa jangan-jangan dia kabur?"


Detik berikutnya preman itu berjalan ke arah pintu.


Brakkk...


Dengan satu tendangan pintu kamar mandi yang memang sudah sedikit rapuh itu lepas dari tempatnya. "Dimana Wanita itu," preman itu masih berpikir ia melihat seisi kamar mandi. Bahkan lantainya pun masih kering tak ada bekas aktivitas yang baru saja di lakukan yang artinya wanita itu telah berbohong.


"Akhhh... sial wanita itu berhasil kabur, aku harus menangkapnya kembali jika tidak bos akan sangat marah." preman itu dengan tergesa-gesa berlari menuju teras depan.


Aisyah sendiri masih bersembunyi di balik semak-semak, rasa sakit akibat guguran semut di bagian kaki tak dihiraukan nya, yang terpenting baginya hanya menemukan waktu yang tepat untuk keluar dari tempat itu sebelum mereka bisa menangkapnya kembali.


Preman tersebut menghampiri teman-temannya yang sedang asik berlian, "Lo kenap katak habis di kejar setan aja... sampai ngos-ngosan gitu."


"Ceritanya panjang, sekarang lebih baik kita cari wanita itu, sepertinya dia sebelum jauh, jangan sampai bos tahu mengenai kejadian ini, jika tidak maka bos akan menghukum kita habis-habisan. Para preman itu mulai mencarinya keluar gudang, namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui jika Aisyah masih berasa di dalam area gudang bekas tersebut. Semuanya meninggalkan gudang karena berpikir tawanannya sudah keluar dari gudang.


Aisyah yang sudah kesal dengan semut-semut yang terus menggigitnya, sebab Aisyah telah menginjak sarang semut kini merasa lega. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Aisyah berusaha untuk berlari secepat mungkin. Keadaan yang sepi, membuat Aisyah sedikit kesusahan dalam meminta pertolongan. Bagaimana tak sepi gudang tersebut terletak di tengah-tengah hutan. Sehingga yang akan di temui oleh Aisyah bukanlah orang yang akan membantunya justru mungkin hewan buas yang akan menerkamnya.


Aisyah tetap berlari, dan berlari. Tujuannya adalah pulang dan men kui Farel yang mungkin sekarang sudah di rumah dan sedang kebingunggan mencarinya.


"Aku akan pulang Farel, tunggu aku di rumah." Aisyah sedikit memperlambat laju larinya karena merasakan rasa kram di bagian perut bawah, hingga tanpa sadar Aisyah telah limbung ke tanah dan kehilangan kesadarannya.


Waktu sudah hampir siang, tapi para preman tersebut tak juga bisa menemukan keberadaan Wanita itu. Hingga pilihan terakhir adalah memberitahukan kabar buruk itu kepada bos besar, agar mendapat bantuan untuk menemukan tawanan.

__ADS_1


"Bagaimana sudah kamu beri tahu bos mengenai kaburnya wanita itu?" Tanya kepala preman.


"Sudah, sekarang kita hanya perlu menunggu bos besar mengirimkan bantuan tambahan, agar wanita itu cepat kita temukan. Pasti tak jauh dari area gudang ataupun hutan yang lebat ini." preman itu memilih kembali ke dalam markas dan menunggu kedatangan bos besarnya dengan wajah takut. Mereka tahu apa konsekuensi yang akan di dapat karena kejadian ini.


Selang tiga puluh menit, Bram yang disebut bos besar telah datang dengan wajah kesal serta tatapan membunuh, ia siap untuk membunuh siapapun yang menyebabkan kekacauan ini terjadi. Derap langkah kaki yang semakin jelas membuat para preman itu berkeringat dingin.


Krekk...


Bram muncul dari balik pintu, melangkah maju mendekati preman tersebut.


Plakk...


Plakk....


Plakk...


Masing-masing preman mendapat tamparan yang cukup keras, yang menyebabkan darah mengalir keluar dari bibir karena sobek.


"Ma-maafkan ka-mi Bos, kami tak tahu jika wanita itu mengelabuhi kami. kami sudah berusaha mencarinya tapi belum berhasil kami temukan, sepertinya wanita itu masih berada di daerah sekitar sini tak mungkin dia bisa berlari jauh dengan kondisinya yang melemah." preman tersebut melakukan pembelaan agar bosnya tak lagi menghajarnya.


Bram menatap bawahannya itu dengan rasa kesal. Sejenak Bram memikirkan setiap perkataan dari bawahannya tersebut.


𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶. Bram berucap dalam hati.


"Aku berikan kalian kesempatan untuk mencarinya lagi, kali ini aku tak ingin menerima kegagalan. atau kalian tau sendiri apa akibat yang akan kalian Terima jika itu terjadi." Bram berucap dingin, dengan tatapan membunuh. Seakan yang di ucapkannya itu bukan hanya kata belaka.

__ADS_1


"Baik bos..." mereka bertiga meninggalkan gudang dan memulai mencarinya kembali sebelum hari semakin gelap.


__ADS_2