
Darwin serta Mila mereka memilih untuk mengikuti Andre yang di bawa ke ke kantor polisi. Bagaimanapun juga caranya, Mila ingin putra tunggalnya itu bisa di bebaskan secepatnya. Hatinya sakit kala membayangkan putranya akan terkurung dalam jeruji besi.
Sedangkan Farel setelah melakukan tugasnya, ia menemui Fandi dan juga bawahannya yang lain, Farel telah memaafkan kesalahan atas kelalaian menjaga Aisyah.
Tak lama Farel telah sampai di rumah, ia memilih menemui langsung bawahan serta sahabatnya itu di villa mereka.
Tok... tok... tok...
Pintu terbuka, Fandi yang melihat Bosnya berkunjung merasa sangat bahagia.
"Silahkan masuk, Bos."
"Kumpulkan saja yang lain kita bicara di sini!!"
"Baiklah...," fandi bergerak cepat dalam hitungan detik, Fandi dan yang lain sudah berkumpul untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh bosnya itu.
"Jujur saya sempat kecewa dengan kalian, bagaimana bisa kalian kecolongan sampai musuh dengan mudah menculik Aisyah, tapi yang berlalu biarlah berlalu. Mau di ubah pun tak akan bisa." Farel mengambil nafas sejenak sebelum memberikan tugas pada mereka. Sedangkan para Bodyguard terlihat sangat antusias mendengarkan setiap perkataan dari bosnya itu.
"Saya akan memberikan kalian tugas, saya harap kali ini kalian tak lagi mengecewakanku. Apa kalian bisa melakukannya?" tanya Farel mulai bicara serius.
"Baik bos, apapun itu akan kami lakukan, meskipun menyerahkan nyawa kami sekalipun kami rela." ucap mereka mantap.
Farel terlihat menganggukkan kepala dan mulai membagi misi pada setiap grup yang akan melakukan satu tugas penting.
"Kita akan membagi gugup kita menjadi dua bagian, satu di antara kita akan pergi terlebih dahulu ke tempat itu. Kalian harus waspada, disana bukanlah markas kita, usahakan jangan sampai ada yang terluka. Kalian mengerti."
"Mengerti..."
"Grup ke dua akan datang setelah aku pergi jarak kita hanya beberapa menit, ingat beberapa menit." Farel mengulangi ucapannya.
__ADS_1
"Setelah tim satu masuk dan melakukan perlawanan di saat itu pula kalian mulai menyerang bagian belakang, kenapa saya katakan bagian belakang, karena tempat yang akan kita kepung adalah sebuah gudang bekas yang letaknya di dalam hutan, Aisyah telah di sekap di situ." jelas Farel.
"Bagaimana bis tahu jika bu Aisyah fi tahan di tempat ini?" Fandi yang binggung memilih bertanya.
"Soal itu kalian tak perlu tahu, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Aisyah dan membawanya kembali kesini secepatnya. Dan satu lagi kita akan lakukan ini nanti malam persiapkan diri kalian.
"Baik..." para bodyguard menjawab serentak.
***
Bram yang mendapat kabar buruk dari Andre merasa cukup khawatir, Farel saja bisa mengetahui jika Andre dan dirinya terlihat dalam penculikan, apalagi mengetahui tempat penyekapan itu sepertinya tak sulit bagi Farel.
"Bagaimana ini bos?, apa sebaiknya kita pindahkan saja wanita ini dari sini." tanya salah satu preman yang ikut ketakutan, takut jika akan masuk ke dalam penjara.
"Biarkan saja wanita itu di sini, dan kita tunggu saja kedatangan Farel serta anak buahnya, aku yakin nanti malam mereka akan menyerang kita, kalian lakukan saja apa yang aku perintahkan.
Sesuai deng rencana Farel dan yang lain telah menuju tempat penyekapan, kali ini Farel tak melibatkan polisi, biar saja jika harus ada yang terbunuh, itu lebih baik.
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘶, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘮𝘶. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪. Senyuman licik muncul pada wajah tampan Farel.
Fandi yang melihatnya hanya bisa menyimpan rasa penasarannya.
Hampir tiga jam Farel kini telah sampai di tempat yang di maksudkan. Sebuah gudang bekas yang di tumbuhi ilalang menjadi sasarannya.
Seperti rencana tim satu telah masuk dan menyerang beberapa preman yang berjaga di luar gudang. Perkelahian terjadi, saling serang dan menjatuhkan, hingga sekitar sepuluh menit preman itu dapat di lumpuhkan. Farel menerobos masuk dan mencari Aisyah berharap segera menemukannya dan akan membawanya pulang. Namun nihil, di dalam tak ada siapapun.
Tim dua juga sudah tiba di lokasi, sesuai dengan rencana, tapi tak menjumpai apapun sekian kekosongan.
Farel meremas rambutnya kasar, "Bram..!! kau sembunyikan dimana Istriku, jika aku menemukanmu akan ku pastikan kamu tak akan bernyawa lagi." dari mata Farel terlihat kebencian yang mendalam.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu bos, kita akan mencarinya di sekitar sini, mungkin mereka tak jauh dari sini."
Dari kejauhan terlihat seseorang tengah melihat ke arah gudang melalui teropong, ia mencari informasi yang terjadi di tempat itu. Orang itu adalah Bram.
Hahaha...
"Bukankah mereka bodoh sekali, dengan mudah aku mengelabui mereka, sekarang mereka akan lebih berhati-hati kepadaku, bagaimanapun aku selangkah jauh lebih maju di banding Si Farel itu." Brma bangga akan kelicikannya.
Baram membawa Aisyah ke sebuah tebing, hal itu ia lakukan untuk antisipasi jikalau Farel akan melenyapkan dirinya, maka ia akan membawa Aisyah serta menuju keabadian.
Keadaan Aisyah berdiri di tepi jurang dengan tangan di ikat di atas, Aisyah sendiri masih belum sadarkan diri sebab tubuhnya yang semakin melemah.
"Apakah mereka akan menemukan kita di sini, bos." tanya bawahan Bram.
"Aku sudah mengaturnya, kalian jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan dan jangan sampai gagal." Bram terlihat kesal dengan pertanyaan yang di lemparkan kepadanya.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘰𝘴 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵, 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘴 𝘣𝘶𝘢𝘵, 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘰𝘴 𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. preman itu berbicara dalam hati.
Farel sedikit menangkap sinyal yang sepertinya sengaja di berikan kepadanya, melalui sinar laser dari atas tebing yang letaknya cukup jauh dari keberadaan Farel saat ini.
𝘐𝘵𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘴𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘵𝘦𝘣𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶? batin Farel bertanya.
Farel bangkit dan berjalan menuju sinar yang di dapat, meninggalkan Fandi serta yang lain, dengan berbagai pertanyaan mereka hanya bisa mengikuti kemana arah bosnya berjalan dan terus berjalan. Hingga sedikit terlihat dari bawah, bahwa ada aktifitas yang terjadi di atas tebing.
Dengan langkah cepat Farel berusaha naik ke tempat itu.
Dan seketika tubuh Farel seakan mematung, kala melihat Aisyah yang terikat di sebuah pohon. Hati Farel kembali memanas, tatapan membunuh, Farel arahkan pada Bram yang berdiri di samping Aisyah. Bram sendiri mengarahkan senjata ke kepala Aisyah. Aisyah sendiri masih setia memejamkan mata hingga tak menyadari jika Suami tercintanya berada di hadapannya sekarang.
"Menyerahlah Farel, buang semua senjatamu, aku ingin kamu bersih tanpa senjata apapun, termasuk senjata semua bodyguard mu, jika kamu ingin istri tercintamu ini selamat lakukan sekarang!!" Bram berucap pada Farel, lebih tepatnya memberi perintah.
__ADS_1