
Farel merasakan lega sebab istri dan calon anaknya baik-baik saja, "Aku akan segera pulang tunggu aku Aisyah dan calon jagoan daddy." Akhir-akhir ini Farel merasa hidupnya lebih berwarna, semenjak mendapat kabar jika Aisyah berbadan dua Farel kini lebih waspada pada keselamatan Aisyah.
"Andai kamu ada di sini, Aisyah. Aku akan sangat bahagia bisa menjagamu secara langsung, tapi tak apa ini hanya dua hari lusa aku akan pulang dan menghabiskan waktu bersamamu dan calon anak kita."
Tak lama handphone milik Farel berdering, "Hallo, Alex, tumben telfon ada apa?"
"Aku lagi butuh teman curhat, apa boleh aku berbagi cerita padamu rel? kamu tahu sendirilah kalau kamu sudah ku anggap sebagai kakak."
"Jika sudah menganggap ku sebagai kakak kenapa harus bertanya lagi, cerita saja siapa tahu aku bisa membantumu."
"Kamu cukup mendengarkan aku bercerita, sungguh tak ada yang bisa mengerti perasaanku selain sesama laki-laki."
"Sepertinya ceritamu ini mengandung bawang." goda Farel.
"Ish, kau ini, aku bingung apa yang harus aku lakukan pasalnya aku baru saja di tolak oleh wanita pujaan hatiku dan parahnya lagi dia sudah bersuami, ya, semua alasan mengapa dia tidak mengatakan bahwa dia sudah bersuami memang masuk akal, aku saja yang berharap terlalu tunggi dan pada akhirnya harus jatuh dari ketinggian, apa mencintai tak terbalaskan rasanya sesakit ini?"
Farel yang masih menjadi pendengar setia cukup terenyuh, Farel sendiri juga pernah berada di posisi tesebut, mencintai seorang diri, bedanya Farel tak mengatakan hanya mampu memendam dan mengagumi dari jauh sedangkan Alex berterus terang mengatakan jika dia mencintai seorang wanita.
"Katakan apa yang harus aku lakukan?" Alex membuyarkan lamunan Farel, "Jika kamu mencintainya seharusnya kamu juga ikut bahagia jika dia bahagia, itu adalah cinta sejati, percayalah di sisi lain pasti ada seseorang yang di ciptakan hanya untuk dirimu seorang."
"Apa aku harus melupakannya?"
"Jika perasaanmu masih belum melangkah terlalu jauh maka akan cukup mudah bagimu menghilangkan rasa cinta itu, tapi jika kamu sudah mencintai dia sangat dalam aku pun tak yakin kamu bisa melupakannya, kecuali kamu memiliki pengganti yang bisa mengeser posisi wanita itu di hatimu!" jelas Farel, meski tak memiliki pengalaman dalam urusan cinta, Farel pun cukup tahu dari apa yang pernah di pelajari nya melalui novel yang pernah dia baca.
"Mungkin perkataanmu ada benarnya, aku harus membuang jauh-jauh perasaan ini, agar tak ada banyak pihak yang tersakiti. Thank Farel, aku beruntung memilikimu dalam hidupku ini."
__ADS_1
"Jangan berlebihan, sesama teman memang harus saling mendukung, ya sudah aku kerja dulu."
Alex merasa lebih baik setelah membagi bebannya pada Farel, entah mengapa bercerita pada Farel seakan Alex tengah bercerita pada kakaknya sendiri.
𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶 𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘮𝘶.
Alex memilih pulang, dia harus menghibur mommy Maya yang pastinya bersedih, meski tidak tampak di depan Aisyah saat makan siang, tapi hati seorang ibu pasti akan ikut terluka saat anaknya juga terluka, terlebih masalah hati tak ada yang lebih tahu dari pada ibu kita sendiri.
"Mom..., Alex pulang!" teriak Alex memasuki kediaman Dirgantara.
"Mommy dimana, mom..."
Alex mencari ratu hatinya di dalam rumah namun tak kunjung menemukannya, "Apa mommy di taman belakang ya?" tanpa pikir panjang Alex segera pergi ke taman belakang rumah, dan ternyata benar Mommy Maya duduk sendiri termenung di bangku taman ya g memang sudah tersedia.
"Mommy...." Alex berjalan mendekat dan mendaratkan pelukan manja seorang anak pada ibunya.
"Tenang mom, Alex tidak lari dari tanggung jawab, pekerjaan Alex memang sudah selesai dan Alex memilih pulang untuk bertemu mommy."
"Jangan bersedih mom, putra mommy ini kuat, ya, sepertinya Alex belum bisa membawa seorang menantu pada keluarga kita, mommy jangan bersedih, lihatlah putramu ini bukanlah aku sangat kuat, perasaan yang sempat aku katakan cinta akan menghilang dengan sendirinya, percayalah mom pada putramu ini!"
"Iya mommy percaya, kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Aisyah."
****
Sinar mentari pagi telah terbit, memperlihatkan wujudnya, menghangatkan siapapun yang menikmatinya. Aisyah yang terlelap baru saja mengerjap kala merasa hangat pada wajahnya, "Hooaaummm...." Aisyah mulai mengerjapkan mata, merasa silau sebab terkena cahaya matahari yang menembus jendela.
__ADS_1
"Sudah pagi, Astaga... aku lupa memberi kabar pada mas Farel." Aisyah bergegas meraih handphone miliknya yang terbuang asal, memeriksa dan ternyata benar jika terdapat pangilan berulang dari Farel.
"Bagaimana bisa kamu se ceroboh ini, Aisyah. Mas Farel pasti khawatir karena kamu nggak ada kabar dari kemarin." Aisyah bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri baru setelah itu di akan menghubungi suaminya.
Dreettt
"Mas, maaf ya kemarin aku ketiduran, jadi nggak sempet buat kabarin kamu."
"Iya, aku tahu... Aisyah apa nggak lebih baik kamu berhenti bekerja, atau bekerja dari rumah saja, aku takut kamu kelelahan, sayang, itu juga nggak bagus buat pertumbuhan anak kita nantinya."
"Yakinlah mas, aku kuat kok, lagipula banyak orang yang hamil juga masih bekerja bahkan ada yang sampai hamil besar, nanti deh kalau aku sudah merasa tidak nyaman bekerja aku akan bekerja lewat rumah saja. Sudah ah jangan bahas masalah pekerjaan, aku telfon kan untuk mengetahui kabar mas Farel, bukan membahas hal yang tidak terjadi."
"Baiklah, sesuai dengan keinginan tuan putri, oh ya mas ada kabar baik, mas pulang hari ini tapi mungkin akan sedikit terlambat, dan mas minta kamu jangan tunggu kepulangan mas, karena mas tak ingin kamu bergadang sampai larut malam. Ingat jangan bergadang, kalau mas tahu kamu bergadang mas beri hukuman nanti."
"Iya... iya daddy, mommy nggak akan bergadang." Aisyah tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih rata. Kehadiran calon buah hati membuat rumah tangganya kembali harmonis.
"Mas kerja dulu ya, sayang, jaga kesehatan, jangan sampai telat makan loh, mas sayang kamu Aisyah, sampaikan juga salam ku pada anak kita ya."
"Iya mas, cepat pulang kami menunggu di rumah."
Setelah di rasa cukup melepas rindu, Aisyah kini bergegas untuk pergi meeting sesuai dengan apa yang sudah di katakan oleh Alex kemarin. Namun sebelumnya Aisyah memilih berangkat bersama Vika untuk menghindari kecanggungan yang mungkin terjadi saat meeting berlangsung.
"Vika apa kamu bisa menjemputku, aku malas membawa mobil sendiri."
"Baiklah, aku akan ke tempatmu, bersiaplah." pinta Vika yang memang sudah di jalan searah dengan rumah Aisyah.
__ADS_1
𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘈𝘭𝘦𝘹 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘳𝘦 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶𝘬𝘶!