
"Gila si Ririn, mungkin itu hanya akal-akallannya saja, Aisyah. Kamu jangan mudah percaya, kamu tahu sendiri kan Suamimu itu seperti apa, Lebih baik kamu tanyakan saja pada Farel kebenarannya seperti apa." vita memberikan solusi untuk permasalahan Aisyah, mendengar cerita dari Aisyah membuat Vita merasa emosi. Ingin rasanya Vita menghajar yang namanya Ririn itu.
"Kalian benar, aku nggak boleh asal menuduh Farel, semua yang dibicarakan Ririn belum tentu itu yang terjadi." Aisyah meredam emosinya, mencoba untuk berpikir positif terhadap suaminya.
"Sekarang kita tidur saja, besok pagi kamu telpon Farel, kamu pastikan kebenaranya bagaimana. Tahanlah sedikit emosimu Aisyah." Vika mengajak Aisyah kembali tidur.
Aisyah sendiri sudah mencoba untuk tidur namun perkataan Ririn seakan selalu berada di kepalanya.
***
Farel yang sedang mengambil makanan dari gofood di bawah sudah kembali membawa satu kotak Pizza ukuran jumbo.
Mereka memakannya untuk menganjal perut yang lapar.
Hari ini Farel dan Ririn berniat lembur untuk memperbaiki laptop Ririn.
"Ayo kita makan." ajak Farel.
"Ririn membuka makanan yang mereka pesan dan mengambil gambarnya. Tanpa sepengetahuan Farel Ririn mengambil gambar saat Farel sedang asik menikmati pizza tersebut sambil tertawa. Gambar itu ingin Ia kirim kepada Aisyah untuk membuktikan ucapannya di telfon tadi.
Sambil makan Ririn mengirimkan foto tersebut kepada Aisyah. Dengan harapan Aisyah akan marah besar kepada Farel. Sebisa mungkin Ririn akan memanfaatkan kesempatan yang dia miliki sekarang.
***
Handphone Aisyah sengaja ia matikan, moodnya benar-benar hilang mengingat kejadian tadi.
"Aku akan memberimu pelajaran Farel jika apa yang di katakan Ririn itu benar, tapi aku sangat berharap itu semua hanya tipuan Ririn saja." Aisyah saat ini sedang ingin memakan siapa saja yang ia temui. Melihat kedua sahabatnya tertidur lelap, Aisyah tak ingin menganggu tidur mereka.
"Lebih baik aku tidur, jika tidak, bisa kehabisan akal aku memikirkan mereka di sana."
Aisyah memilih ikut tidur bergabung dengan kedua sahabatnya yang sudah tidur lebih dulu.
***
Lama tidak mendapat jawaban dari Aisyah, Ririn memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur milik Farel. Iya sebenarnya ingin ikut bergadang dengan Farel, tapi matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi, hingga akhirnya ia benar-benar tidur.
__ADS_1
Farel sendiri masih sibuk membenarkan laptopnya Ririn, ya semua itu ia lakukan juga untuk menyelamatkan File-file yang ada di dalamnya. Mana mungkin Farel membiarkan laptop itu mati sedangkan File presentasi untuk besok berada di dalamnya.
Farel masih terjaga hingga pukul satu malam. Setelah laptopnya bisa menyala ia menyalin semua file dari laptop Ririn ke laptop miliknya untuk berjaga-jaga.
Farel sudah merasa mengantuk, tanpa sadar ia sudah tertidur di sofa hingga Pagi menjelang.
Matahari sudah menampakkan dirinya yang cerah. Hari ini Ririn bangun lebih dulu daripada Farel.
"Jam Berapa ini, rupanya masih pukul Enam pagi. Farel..." Ririn mencari Farel, dan ternyata Farel masih tidur di sofa." melihat itu Ririn menghampiri Farel.
𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘮𝘶, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶, 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭. Ririn mencoba untuk menyentuh wajah Farel, namun ia urungkan setelah melihat Farel sedikit merubah posisinya.
lebih baik aku bersiap saja setelah itu baru aku bangunkan Farel.
Saat hendak kembali ke kamarnya sendiri Ririn mengambil handphone Farel dan merusaknya, itu Ririn lakukan agar Farel tidak mencurigainya. Ririn merusak dengan menjatuhkannya di lantai, sengaja ia sedikit membanting agar benda pipih itu tak lagi bisa hidup. Ririn melakukannya di kamarnya, dengan begitu Farel tak lagi curiga.
Ririn masuk kedalam kamar Farel setelah membersihkan dirinya.
"Farel, kamu sudah siap." Ririn masuk kedalam kamar, wajahnya di buat sedih sedemikian rupa, hingga Farel merasa iba.
"Farel, maafkan aku, aku... aku... nggak sengaja jatuhin handphone kamu saat di kamar mandi, tadi aku mau pinjam handphone kamu buat telpon mamaku, tapi karena lantainya licin jadi jatuh deh." Ririn mengatakan dengan berpura-pura takut Farel marah.
Dalam hati Ririn tertawa bahagia rencananya berhasil.
"Tapi tenanglah aku akan bertanggung jawab, akan ku bawa ke konter terdekat, Pasti bisa kok di perbaiki."
"Kamu benar, mungkin masih bisa di perbaiki, atau nanti aku beli yang baru saja." Farel tak menyalahkan Ririn, baginya merusakkan handphone miliknya tak seberapa dengan perhatiananya sebagai sahabat.
Farel dan Ririn sudah dalam perjalanan ke kantor cabang di Bandung, jarak antara kantor dan penginapan hanya Satu jam.
***
Aisyah dan kedua sahabatnya seperti biasa sebelum Aisyah menikah, akan melakukan senam yoga di teras atas. Selain sepi di sana juga tidak akan ada yang menganggu mereka, lagipula matahari pagi juga sangat bagus untuk kesehatan tubuh.
"Bagaimana, kalian siap, kita mulai!" ajak Aisyah.
__ADS_1
Aisyah memang selalu memimpin diantara mereka bertiga bukan karena Aisyah adalah anak orang kaya, namun Aisyah adalah yang paling tua diantara mereka, kedua sahabatnya itu sangat menghormati Aisyah.
"Kita mulia saja, lebih cepat lebih baik." setiap gerakan yang mereka lakukan membuat tubuh mereka merasa lebih Fresh dan sehat.
Setelah selesai dengan Aktivitas yoganya, Aisyah turun ke bawah untuk mengambil beberapa helai Roti untuk mereka sarapan pagi.
"Aku lupa, aku belum mendapatkan kabar dari Farel, lebih baik aku telfon saja langsung." Aisyah berucap sambil mempersiapkan makanan ringan untuk sahabatnya. Setelah selesai, Aisyah menaiki tangga untuk mengambil handphone miliknya yang di tinggalkan di kamar.
Saat membuka berapa terkejutnya Aisyah. Ia melihat foto Farel yang sedang makan sepotong Pizza sambil tertawa bahagia, seketika bulir bening jatuh membasahi pipi Aisyah.
"Farel, kenapa kamu melakukan ini, kenapa kamu tertawa bahagia dengan orang lain, seharusnya senyuman dan tawamu itu hanya untukku bukan yang lain." Aisyah mulai menangis.
Setelah puas menumpahkan segala perih hatinya, Aisyah kembali ke teras atas dengan membawa Roti dan selai yang sudah ia buat, dengan menyembunyikan kesedihannya.
"Sorry, kalian nunggu lama ya."
"Santai, Aisyah kayak sama siapa aja, eh tunggu lo habis nangis lagi ya, muka lo kayak sembab gitu, jangan bilang emang benar dugaan kita." Vika penasaran dengan perubahan wajah Aisyah.
"Pasti ini gara-gara si ulat keked yang kegatelan itu ya." vita mulai geram dengan Ririn. Bagi Vita Ririn sudah seperti pelakor saja.
"Eh tunggu, siapa ulat keked yang kegatelan itu." Vika bingung dengan sebutan baru yang di gunakan oleh vita.
"Siapa lagi kalau bukan Ririn sekertaris nya Farel, yang katanya sahabat baiknya Farel dan tapi mau ngehancurin rumah tangga sahabatnya sendiri, gila nggak itu." Vita nyerocos pagi-pagi.
Obrolan mereka itu membuat Aisyah sedikit bisa tersenyum.
"Udahlah Aisyah, jangan terlalu di tanggapi ucapannya Ririn kalau kamu seperti ini justru dia merasa menang karena udah bisa buat kamu ngerasa akan kehilangan Farel." Vika memberi semangat.
"Kalian memang bisa membuat aku selalu tersenyum." Aisyah menuruti apa kata sahabatnya.
"Dan lo tenang aja Aisyah, nanti kalau Farel pulang biar kita kasih dia pelajaran, bisa-bisanya dia buat sahabat kita menangis." Vika geram dengan Farel.
"Kalian mau apakan Suamiku, jangan sakiti dia, bagaimanapun dia suamiku lagian kata kalian belum tentu Farel yang salah." Aisyah tetap membela suaminya, hatinya mengatakan kalau Farel tidak salah.
Vika dan Vita hanya nyengir kuda kepada Aisyah, mereka tahu jika Aisyah telah memiliki rasa pada suaminya.
__ADS_1
"Ya kita kan lama-lama geram juga sama Farel, tapi lo emang harus bersyukur Farel itu tampan lo pantes banyak yang naksir dan pengen jadi pasangannya, ya meskipun dia hanya seorang Bodyguard." Vika mencoba memberi semangat pada Aisyah.
"Iya tubuh kekar berotot dengan perut seperti roti sobeknya itu lo menggoda iman." Vita menambahkan.