Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Memilih Jujur


__ADS_3

Mendengar perkataan Farel membuat Aisyah meneteskan air mata, ia merasa sangat beruntung memiliki Farel dalam hidupnya.


"Kenapa kamu menangis, apa ada yang salah pada perkataanku barusan." Farel menatap mata Aisyah intens.


Aisyah tersenyum, "Aku tidak menangis katena sedih aku menangis karena bahagia, tahukah kamu aku merasa menjadi wanita beruntung karena kamu selalu membuatku tersenyum, mampu membuatku bangkit dari keterpurukan, aku mencintaimu mas Farel."


"Aku juga sangat mencintaimu, akan ku lakukan apapun untuk membuatmu bahagia." Farel kembali membawa Aisyah dalam pelukannya.


"Sudah sekarang kita makan, kita akan menghabiskan waktu malam ini dengan penuh kebahagiaan. Semoga kamu menyukai apa yang aku siapkan." Farel membimbing Aisyah menuju meja makan, memperlakukannya bak putri raja.


"Terimakasih mas..."


"Kenapa harus berterimakasih, ini sudah tugas mas membuatmu bahagia." keduanya sangat menikmati malam ini.


Malam ini menjadi malam romantis bagi mereka berdua, saling bertukar cerita, saling mengungkapkan perasaan, membuat mereka berdua semakin lebih dekat. Angin yang bertiup sepoi-sepoi menambah kesan Romantis pada malam ini dengan keadaan yang cerah, secerah hati Aisyah, hingga tak menyadari jika malam susah semakin larut.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu, aku harap kamu tidak salah paham kepadaku, semua itu aku lakukan hanya untuk kebaikan sesama tak lebih." Farel berharap Aisyah bisa mengerti dirinya.


"Maksud kamu apa, memang apa yang ingin kamu katakan, katakan saja jika memang aku harus tahu. Jangan buat aku penasaran mas...!" Aisyah semakin dibuat penasaran kala Farel cukup lama terdiam.


Untuk jujur kepada pasangan itu memang sulit, kita takut pasangan kita akan salah paham dengan apa yang kita lakukan, tapi kejujuran juga penting ya dalam hubungan. Jadi kita harus jujur apapun itu resikonya.


"Mas..., kenapa kamu diam, katakan saja kamu mau jujur soal apa?" Aisyah kini menatap Farel dengan intens, mencoba menebak apa yang akan Farel katakan.


Farel menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. Keyakinan jika Istrinya akan memahami apa yang dikatakan membuatnya memilih untuk jujur.


"Aku selama beberapa hari ini menemui Ririn, Aisyah. Aku datang ke rumahnya untuk meli___" ucapan Farel terpotong oleh Aisyah.

__ADS_1


"Apa, kenapa kamu menemuinya lagi setelah apa yang ia lakukan pada kita, apa mas sudah melupakan itu semua!" Aisyah yang terkejut memotong ucapan Farel ketika mendengar Farel kembali menemui Ririn.


"Bukan itu maksudku Aisyah, dengarkan dulu penjelasanku baru kamu boleh berpendapat, aku akan terima jika memang menurutmu apa yang aku lakukan itu salah." Farel meminta kesempatan bicara, ia tak mau menyakiti perasaan siapapun.


Aisyah hanya diam, ia masih berusaha mencerna setiap perkataan Farel.


"Katakan, jika mas melakukan kesalahan aku tak akan memaafkanmu mas" Aisyah masih engan untuk menatap Farel, ia lebih memilih memandang ke depan dengan harapan praduganya itu salah.


Farel memegang tangan Aisyah, mengecupnya sebentar kemudian menarik nafas untuk kembali bercerita.


"Kamu ingat saat kita sarapan pagi waktu itu, saat tante Siska menghubungiku dan aku memilih mematikannya agar handphoneku tidak menganggu kita lagi?" Farel menunggu jawaban dari Aisyah.


"Em... aku tahu." Aisyah menjawab dengan singkat.


"Saat aku nyalakan lagi ternyata banyak panggilan dari tante Siska dan juga chat darinya. Tante Siska memberitahuku jika Ririn sedang mengamuk yang membuat tante Siska dam dito ketakutan, ia memintaku datang untuk menenangkannya karena Ririn hanya memanggil namaku saja."


"Iya, Ririn bahkan sampai mengkonsumsi barang haram, dek. Maaf jika selama beberapa hari terakhir mas sedikit pulang larut malam, itu semua mas lakukan karena mas masih menganggap Ririn adalah sahabat mas, apa kamu marah kepada mas sekarang." Farel menatap netra Aisyah dengan tatapan sendunya.


Aisyah membuang nafas kasar, "Seharusnya mas jujur saja kepadaku, bukankah kita sudah pernah berjanji untuk tak menyembunyikan hal sekecil apapun dalam hubungan kita. Jika mas jujur lebih awal mungkin aku tak akan kecewa mas!" Aisyah menekankan setiap perkataannya.


"Mas tahu mas salah, mas mohon maafkan mas, dek." Farel merasa sangat bersalah tidak langsung jujur kepada Aisyah.


"Baiklah mas, aku beri maaf, tapi mas janji ini yang terakhir, lain kali jangan pernah berbohong kepadaku, aku sangat membenci kebohongan mas." Seketika senyum terbit di sudut bibir Farel, "Terimakasih, dek untuk kesempatan keduanya." Farel memeluk Aisyah. Ada kelegaan pada dirinya setelah menceritakan apa yang di lakukan beberapa hari terakhir di belakang Aisyah.


"Sekarang kita masuk, anginnya sudah semakin dingin, mas." Aisyah bangkit dari tempat duduknya dan menggandeng Farel untuk masuk kedalam rumah. Besok Farel akan berangkat ke kalimantan untuk mengurus pembangunan di sana, serta Farel yang sebagai CEO dari perusahaan tersebut harus menghadiri penempatan batu bata pertama untuk pembangunan pabrik.


Di kamar,

__ADS_1


Mas jadi pergi ke kelimantan besok, apa mas harus benar-benar pergi?" Aisyah hanya memastikan, sebenarnya ia tak ingin suaminya pergi jauh, tapi mengingat pabrik di sana membutuhkan Farel, Aisyah akhirnya setuju.


"Kenapa memangnya, dek. Adek mau ikut,? andai saja skripsimu sudah selesai, mas akan pergi bersamamu, pasti menyenangkan sekalian kita honeymoon." Farel menemukan kesempatan untuk menggoda Aisyah.


"Mas Farel, tinggal satu bulan mas, setelah itu kota bisa pergi kemana saja untuk honeymoon."


"Adek memang benar, sekarang tidurlah hari sudah semakin larut." Farel membawa Aisyah dalam dekapan hangatnya.


Kini mereka berdua telah sama-sama terlelap dalam alam mimpi. Hingga sinar matahari yang hangat membangunkan kedua keduanya, namun mata tetap enggan beranjak dari tempat tidur, mereka tak ingin berpisah.


Kriiing...


kriiing...


Suara alarm yang sengaja di setel Aisyah, sukses membangunkan mereka berdua.


Aisyah yang mendengarnya langsung saja turun dan menyiapkan semuanya sebelum Farel pergi.


Tiga puluh menit, Aisyah menyiapkan semuanya sendiri, sedangkan Farel sedang mandi, tak lama Farel keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap untuk segera pergi menyelesaikan pekerjaannya di Kalimantan, semua itu bukan karena Farel ingin berjauhan dengan Aisyah namun Farel hanya ingin semua tugas dan kewajibannya pada perusahaan bisa segera ia selesaikan dan berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya.


Keluarga kecil yang bahagia, yang di dalamnya tak ada penderitaan melainkan hanya ada kebahagiaan.


Aisyah m ngantar Farel ke bandara, ia ingin matikan jika suaminya memang baik-biak saja.


"Kalau boleh Aisyah tahu berapa lama mas akan berada di kalimantan?" Aisyah bertanya untuk memastikan berapa lama ia akan menunggu suaminya pulang.


"Mungkin lima sampai enam hari, karena tak mungkin mas langsung balik ke Jakarta, mas harap adek mengerti ya...."

__ADS_1


__ADS_2