
Kedua pasangan ibu dan anak itu kini menoleh serentak saat menyadari pintu terbuka, mata Maya melotot cukup terkejut saat bertemu dengan netra milik pemuda yang namanya akhir-akhir ini selalu ia bicarakan.
"Farel..." Maya yang masih menatap mata anaknya meminta penjelasan apakah pemuda itu merupakan rekan bisnisnya saat ini.
Mendapat tatapan intens, membuat Alex mengerti apa yang ingin di ketahui oleh mamanya, "Iya Pak Farel ini merupakan rekan bisnis kita saat ini, dan tadi sebelum aku mengantar mama, aku sempat di buat menunggu berjam-jam di depan ruangannya tanpa kepastian!" ucap Alex dengan sedikit sindiran.
Farel yang masih mematung di depan pintu di buat menelan ludah, entah mengapa akhir-akhir ini Farel merasa dekat dengan pemuda yang bernama Alex, seolah ada ikatan yang tak terlihat di antara mereka, padahal mereka baru saja bertemu. Namun sekejap kemudian, Farel memilih mendekat ke arah Alex dan Maya berada.
"Maafkan aku, bukan maksudku membuat siapapun menunggu, aku hanya sedang memiliki sedikit urusan pribadi saat itu, sekali lagi maaf aku jika membuatmu tak nyaman selagi berada di kantor ku dan aku datang ke sini untuk memperbaiki kesalahanku, sekaligus membicarakan soal kerja sama kita." jelas Farel panjang lebar, berharap Alex bisa mengerti akan posisinya.
"Sudahlah, Alex. yang lalu biarlah berlalu apalagi Farel sudah menemuimu untuk meminta maaf secara langsung, mama tak pernah mengajarkanmu untuk menyimpan dendam pada siapapun, sudah sekarang kalian jangan bertengkar, seperti anak kecil saja." imbuh Maya, Maya yang sifatnya penyayang tak mau melihat pertengkaran di depan matanya, apalagi usia mereka mengingatkan dia akan anak sulungnya yang masih belum di temukan.
"Bagaimana, kamu memaafkan aku, aku sungguh menyesalinya."
"Ya, ya aku maafkan, tapi lain kali jangan begitu, dan ya aku bukan tipe orang yang suka menunggu lama, kamu masih beruntung Pak Farel karena aku tak batalkan kerja sama kita ini." jawab Alex datar,
"Iya, aku mengerti, sekarang apa yang ingin kamu perlihatkan kepadaku tadi siang, aku akan melihatnya dan memeriksanya jika ada yang kurang akan kau tambahkan, bagaimanapun bukankah proyek kita ini milik bersama!" Farel mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tak merasa canggung. Jujur berada di antara ibu dan anak sempat membuatnya merindukan kasih sayang orang tua angkatnya itu.
Maya masih terus menatap pemuda yang bernama Farel ini, baginya ada rasa tersendiri saat melihatnya tapi Maya sendiri tak tahu perasaan apa itu.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘺𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘫𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢, 𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶 , 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘯. Maya berucap dalam hati.
Sebuah tangan melintas di depan mata maya, membuyarkan lamunan Maya.
"Eh.... iya, ada apa?" respon Maya spontan kerena kaget.
__ADS_1
"Mama kenapa melamun, apa ada yang mama pikirkan?" tanya Alex, yang sering melihat mamanya melamun akhir-akhir ini.
"Tidak ada, mama hanya teringat sesuatu, ya sudah mama balik dulu saja kalau begitu, terimakasih Alex, kamu sudah buat mama senang hari ini."
"Dan untuk kamu Farel, ibu salut sama kamu, kamu mau langsung meminta maaf dan mengakui kesalahanmu, semoga orang tua kamu bangga dengan sikapmu ini."
"Iya bu, makasih."
Setelah mengatakan itu, Maya beranjak meninggalkan ruangan Alex, tak mau menganggu putranya bekerja, Maya kini beralih pada ruangan suaminya.
Sedangkan di ruangan Alex, Farel sempat terharu melihat kedekatan antara ibu dan anak ini.
"Kamu beruntung Alex, memiliki orang tua sebaik bu Maya." celetuk Farel, ucapan itu membuat Alex menghentikan pekerjaannya, Alex mengernyitkan dahinya tanda binggung.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, bukankah setiap keluarga memang harus seharmonis itu?" Alex kini mengubah posisi duduknya menghadap Farel, menanti jawaban atas pertanyaannya itu.
Farel ingin bercerita sedikit untuk meringankan beban hatinya yang dirasa saat dia melihat kedekatan rekan kerjanya dengan ibunya.
"Jika kamu memang mau bercerita, cerita saja aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu, bukankah kita sudah berteman, atau anggap saja aku ini adikmu yang siap mendengar keluh kesahmu." Alex tahu tak semudah itu bisa menceritakan masalah pribadi pada orang asing yang baru saja di temui, meskipun mereka sudah menjadi teman tapi tetap saja masih ada kecangunggan di antara pertemanan itu. Situasi kali ini berbeda, Farel merasa dekat dengan Alex, itu sebabnya Farel ingin berbagi kesedihannya dengan teman barunya ini.
"Aku boleh menganggap mu sebagai adikku sendiri." tanya Farel memastikan apa yang di dengar barusan.
"Tentu saja, kita kan teman lagipula aku memang memiliki kakak hanya saja belum berjumpa saja, lanjutkan ceritamu aku akan mendengarkan." terang Alex.
"Aku sebenarnya terlahir dari orang tua yang tak mampu, kehidupan kami sederhana namun bahagia, semuanya berubah setelah kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan, waktu itu umurku masih dia belas tahun, kamu tahu sendiri lah apa yang bisa di lakukan oleh anak seusia ku waktu itu."
__ADS_1
"Bekerja, apa kamu bekerja setelah orang tuamu meninggal?"
"Ya, terkadang jika ada akan aku lakukan untuk menyambung hidup, rumah pun aku tak punya, sebab rumah satu-satunya harus di jual untuk menutupi hutang ayah, jadi tinggallah aku di tepi jalan." Farel menghirup nafas dan melepaskannya perlahan, ia merasa sesak kala mengingat hari itu.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Aku bertemu dengan orang kaya baik hati, dia bernama pak Wijaya Kusuma orang yang sudah aku tolong dari pencopet yang hendak mengambil File kerjanya. Dan sebagai tanda terimakasih dia memberikan pekerjaan untukku. Kamu tahu apa pekerjaanku mulai hari itu?" tanya Farel yang membuat Alex penasaran akan perjalanan hidupnya.
"Apa?"
"Jadi seorang Bodyguard untuk anaknya, dan sekarang anaknya telah menjadi istriku." jelas Farel.
"Sungguh, hebat sekali kamu bisa memikat putri majikanmu itu."
"Aku tidak melakukan itu, semua itu atas dasar permintaan pak Wijaya sendiri sebelum beliau meninggal, beliau mempercayakan putrinya kepadaku."
"Dan kamu menerimanya kan?"
"Bagaimana lagi, Tuan Wijaya sudah aku anggap ayak ku sendiri, dan aku sudah berjanji akan menyerahkan hidup dan matiku untuk beliau. Tapi aku bersyukur sekarang rumah tangga ku telah baik-baik saja, aku dan istriku sudah saling mencintai dan sebentar lagi akan berencana untuk memiliki momongan." Farel terlihat bahagia saat menceritakan kisah cintanya.
"Oh syukurlah, aku kira kehidupanmu akan berantakan seperti cerita-cerita yang aku baca, akibat dari perjodohan paksa tapi ternyata tidak, dan semoga kalian tetap harmonis ya."
"Lain kali kenalkan aku pada pujaan hatimu itu ya." imbuh Alex.
"Iya, jika ada waktu, aku juga punya janji dengan mamamu kalau aku akan datang makan malam bersama istriku."
__ADS_1
Setelah bercerita Farel merasa lega, setidaknya sekarang Farel memiliki teman baru yang bisa diajak berbagi rasa, jika di lihat dari kejauhan hubungan Farel dan Alex lebih seperti aduk dan kakak, karena memang ada sedikit kemiripan di antara mereka, namun tak ada dari mereka yang menyadari itu.