
"Maaf, lain kali nggak aku ulangi, aku akan memberitahu tuan putriku jika aku pulang terlambat." Farel masih mendekap Aisyah dalam pelukan hangatnya.
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘬𝘶. 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵.
Farel mengurai pelukannya dan mengajak Aisyah untuk beristirahat.
"Baiklah sekarang kamu bersihkan diri dulu, aku akan siapkan makanannya, aku tunggu di meja makan ya."
Farel masuk ke kamar dan memulai aktivitasnya membersihkan diri, selang sepuluh menit Farel telah keluar dengan keadaan lebih segar. Ia kemudian menemui istrinya yang sudah menunggu di meja makan, ya meskipun tadi di rumah Ririn Farel juga sudah makan, untuk menghargai jerih payah istrinya Farel tetap memakan masakan Aisyah dengan sangat lahap. Melupakan rasa kenyang ketika melihat Aisyah tersenyum bahagia.
"Kenapa kamu tidak makan, ayo makan nanti kamu sakit." Farel yang memperhatikan sedari tadi Aisyah tidak makan merasa heran, sedangkan Aisyah memandangi Farel makan dengan Lahap membuatnya tersenyum.
"Tidak, tadi aku sudah makan sebelum kamu datang, jadi makanlah dengan tenang dan lahap."
Aisyah bersyukur atas nikmat yang ia dapatkan, ia pikir setelah pernikahannya dengan Farel ia tak mungkin merasakan kebahagiaan namun justru semua prasangkanya itu salah, Aisyah mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang di bayangkannya.
Setelah selesai, Aisyah membereskan sisa makanannya, kemudian ikut bergabung dengan Farel di kamar mereka.
Farel belum bisa tidur, ia terus saja teringat kepada Ririn, memikirkan bagaimana caranya untuk membawanya keluar dari masalah yang dihadapinya. Sungguh Farel ingin sekali melihat Ririn sahabatnya yang dulu, yang tak memiliki perasaan apapun selain murni persahabatan darinya.
Ckleek...
Pintu terbuka mata Aisyah langsung tersenyum mana kala melihat suaminya sedang tertidur pulas, Aisyah menghampiri Farel, mencium keningnya untuk beberapa saat kemudian tidur di samping Farel dengan memandang wajah tampan tersebut.
Farel sendiri yang menyadari kehadiran Aisyah pura-pura tertidur, dengan tidak menggerakkan bola mata, Farel dapat meyakinkan Aisyah jika ia sudah benar-benar tidur dengan pulas.
Tak lama terdengar dengkuran Halus dari sang istri, Farel kembali membuka mata.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝚊 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘐𝘥𝘦 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘥𝘦 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢. Farel memohon petunjuk atas masalah yang dihadapinya.
__ADS_1
hingga hampir jam dua pagi Farel baru bisa tertidur menyusul istri tercintanya menuju alam mimpi.
Mentari sudah menunjukkan dirinya, menyinari dengan sinar hangatnya.
Aisyah sudah lebih dulu bangun, hal perta yang Aisyah lakukan adalah menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum ke kantor, menyiapkan keperluan yang lain yang memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri.
"Aku harus menyiapkan segalanya, hari ini aku ada jelas pagi, semuanya harus masuk tanpa terkecuali, jadi aku nggak boleh terlambat." Gumam Aisyah sambil memasak.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Farel pun sudah terbangun dari tidurnya dan sudah berpakaian rapi, hari ini ia juga memiliki meeting dadakan dengan klien penting mengenai pembangunan pabrik baru bara yang akan dibuka di pulau Kalimantan.
𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘣𝘳𝘪𝘬 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶.
Farel berbicara dalam hati sambil berjalan menuruni anak tangga untuk bergabung dengan Aisyah di meja makan.
"Mas sudah bangun, tumben rapi sekali aku pikir mas hari ini berangkatnya sedikit siang." Aisyah bertanya dengan tangan masih menata beberapa menu untuk sarapan pagi.
Aisyah menatap serius ucapan suaminya itu.
"Bukannya lahan itu ada di kalimantan, memang kapan kamu akan pergi mas," wajah Aisyah berubah sedikit sendu.
"Kemungkinan besok lusa aku akan pergi, kamu tak apa kan mas tinggal, karena nggak mungkin kamu ikut, kamu harus menyelesaikan skripsi mu itu. Jika tidak mas akan sangat senang bisa pergi ke sana denganmu sekalian kira berlibur, namun sayang waktu tak memihak kita." ada rasa bersalah dalam hati Farel, ia sebenarnya tak mau meninggalkan Aisyah sendiri, namun bagaimana lagi proyek di Kalimantan membutuhkan kehadirannya.
"Iya aku paham kok mas, mas ke sana kan juga untuk kerjaan bukan untuk berlibur." wajah Aisyah terlihat sedih.
"Jangan bersedih, mas kan berangkatnya besok lusa bukan sekarang dan mas akan segera kembali untukmu. Jadi masih ada waktu untuk kita berduaan." Farel mengenggam tangan Aisyah sambil mainkan mata, mencoba menghiburnya.
Aisyah tersenyum menunjukkan bahwa ia menyetujui Farel pergi sendiri.
Farel berangka ke kantor lebih dulu sedangkan Aisyah masih di rumah.
__ADS_1
Saat hendak pergi ke kampus Aisyah tiba-tiba merasakan kepalanya sedikit pusing, dan merasa lelah meski dia sendiri sedang tidak melakukan pekerjaan apapun yang membutuhkan tenaga.
"Kenapa aku merasa pusing dan lelah, padahal aku nggak lagi ngapa-ngapain. Tapi aku harus tetap ke kampus, pengumpulan skripsi sudah semakin dekat, aku harus menyelesaikan masalah kuliahku. Setelah itu aku baru bisa bebas melakukan apapun." Aisyah tetap memaksakan dirinya pergi ke kampus, kali ini dia diantar supir.
Sampai di gerbang kampus Aisyah menemui kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu datang.
"Hai kalian apa kabar, kita duduk di taman itu yuk, sekalian aku lagi butuh teman curhat." Aisyah menarik kedua sahabatnya untuk mengikutinya duduk di bangku taman.
Saat mereka bertiga telah menemukan tempat yang nyaman untuk berbagi cerita, Aisyah mulai menceritakan masalahnya.
"Gue lagi galau tau, Farel mau pergi lagi dari gue, dia bakalan pergi ke kalimantan untuk urusan bisnis. Menurut kalian aku harus bagaimana?" Aisyah meminta pendapat dari kedua sahabatnya.
"Menurut kita kalau perginya karena bisnis ya wajar asal perginya sendiri, pasti tak akan ada masalah bukan!" Vika mengeluarkan pendapatnya.
"Iya gue juga setuju sama Vika, lagipula sudah tidak ada penganggu di antara kalian bukan. Sudah, sekarang jangan bersedih, Jangan galau lagi, kalau lo terus berpikir buruk lo juga yang akan rugi, sekarang kita masuk kelas akan segera dimulai.
Mereka bertiga menghentikan acara berbagi ceritanya, dan masuk ke ruang kuliah. mendengarkan saksama hingga kelas kuliah selesai.
***
Di kantor, meeting yang sedang Farel pimpin telah selesai, dengan begitu Farel telah menyiapkan berkas-berkas untuk kepergiannya ke pulau sebrang menghadiri peletakan batu pertama pembangunan pabrik.
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘬𝘴𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘢. Farel berucap dalam hati.
Farel masih tenggelam dalam lamunannya, hingga suara dering telfon mengagetkan dirinya.
Derrrtttt...
Farel mengambil telfon yang tergeletak di sampingnya, mengangkatnya tanpa melihat dulu siapa yang menghubunginya.
__ADS_1