Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Ciuman Pertama Aisyah


__ADS_3

"Baiklah jika kamu


tidak keberatan jika aku berteman dengan Andre, maka aku akan menerima pertemanan ini." Aisyah memastikan apa yang diminta Andre diketahui betul oleh Farel. Perkataan Aisyah tersebut di dengar oleh Andre, seketika senyuman terbit di wajah Andre. Ia merasa mempunyai kesempatan untuk bisa menghancurkan hubungan mereka melalui jalur pertemanan.


"Terimakasih Aisyah, kamu sudah menerimaku menjadi temanmu. Farel, Aisyah semoga hubungan kalian langgeng. Aku hanya ingin mengatakan itu, kalau begitu Aku pergi dulu." Andre pergi meninggalkan mereka.


"Sudah jangan di pikirkan, yakinlah dengan hubungan kita, kita pasti bisa melewati semua permasalahan bersama. Sekarang kita pulang." Farel menggandeng tangan Aisyah mengajaknya pulang. Hari ini sudah cukup melelahkan untuk mereka berdua.


Di dalam mobil mereka hanya diam, Aisyah lebih fokus melihat ke luar jendela sedangkan Farel memilih fokus mengemudi.


"Farel, apa kamu mencintaiku." ucap Aisyah. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Aisyah. Membuat Farel yang fokus kepada jalanan seketika menginjak pedal rem. Untung saja Farel menyetir dengan kecepatan sedang dan keadaan jalanan yang cukup sepi pengendara, sehingga tidak sampai menimbulkan kecelakaan karena berhenti di tengah jalan.


Menyadari jika ia berhenti mendadak Farel kemudian menepikan mobilnya. Mendekatkan wajah mereka membuat jarak yang tersisa hanya Lima cm membuat jantung Aisyah berdetak lebih kencang.


"Aku sangat mencintaimu." kata yang di ucapkan Farel. Setelah itu ia mencium bibir Aisyah tanda jika Ia sangat menginginkan Istrinya. Ciuman itu berlangsung selama sepuluh menit, namun baik Farel ataupun Aisyah sangat menikmatinya. setelah di rasa cukup, Farel menghentikan aksinya.


"Apa perbuatanku tidak cukup untuk membuktikan cintaku." Farel bertanya balik.


Muka Aisyah seketika memerah seperti kepiting rebus. Karena Farel sudah mencuri ciuman pertamanya. bagaimana tidak selama menjalin hubungan dengan Andre, sedikitpun Aisyah tak pernah berciuman ia berkomitmen menjaga semuanya hanya untuk suaminya kelak. Hal tersebut yang membuat Andre tak mau melepaskan Aisyah.


"Tidak, tidak ada yang perlu diragukan, Ayo jalankan mobilnya."


"Baiklah kita pulang." Farel merasa lega, Aisyah tak meragukannya lagi.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Farel membukakan pintu mobil untuk Istrinya, hal ini memang pertama kali Farel lakukan untuk Aisyah. Ia semakin berani mendekati Aisyah setelah merasa Aisyah juga memiliki rasa dengannya. Hal itu Ia ketahui saat mereka berciuman Aisyah sama sekali tidak menolak.


Mereka masuk ke rumah dan milih beristirahat.


"Pergilah bersihkan dirimu terlebih dahulu setelah itu baru aku." pinta Aisyah.


Farel sendiri langsung menuruti apa yang diperintahkan Istrinya, ia juga sudah merasa letih. Sedangkan Aisyah sambil menunggu Farel selesai Ia menghubungi kedua sahabatnya melalui video call.


Tiga menit video tersambung, terpampang wajah kedua sahabatnya di layar laptop.

__ADS_1


"Hai, apa kabar sudah lama lo nggak kasih kabar kita-kita." ucap Vika.


"Iya lo kayak menghilang di telan bumi, masa sahabat sendiri di lupain. Minimal kasih kabar gitu, Kita kan masih sahabat lo." Vita menyahuti dengan kesal.


"Kalian jangan ngomong begitu gue nggak suka, Sorry, gue nggak sempet kasih kabar kalian. Gue sama Farel lagi sibuk mengurus masalah pembangunan panti Asuhan yang jadi impian gue dan Papa, kan nggak afdol jika aku nggak ikut turun mengurusi pembangunannya." Aisyah berharap sahabatnya mengerti.


"Ow ... kirain sudah lupa sama kita-kita karena lo udah punya Farel, bicara soal pernikahan ceritain dong kehidupan pernikahan lo ke kita, Kita juga pengen denger curhatan lo, Aisyah." Vita sedikit memaksa.


"Iya ini juga mau curhat, kalian tahu nggak hubungan gue dan Farel sudah lebih dekat. Hari ini dia berani cium gue." wajah Aisyah bahagia kala mengingat perlakuan Farel yang mengambil ciuman pertamanya.


"Serius lo, tapi itu memang hak Farel Aisyah, yang memang harus lo penuhi." Vika ikut membenarkan apa yang dilakukan Farel.


"Tapi gue belum siap Vika, gue masih takut buat lakuin hal itu."


"Kenapa harus takut. Gue denger memang awalnya rasanya sakit tapi lama-lama enak, gue juga nggak paham, karena gue kan belum pernah begituan." Vita nyengir kuda.


"Ya lo coba aja, kan lo yang sudah menikah, halal lah buat melakukannya apa lagi sudah ada cinta di antara kalian, lalu apa masalahnya." Vika menambahi.


"Oke kita akan datang ke rumahmu besok. lagipula kita juga nggak ada kesibukan." Vika menyetujui ajakan Aisyah.


"Kita bakalan habiskan hari minggu besok dengan bersenang-senang. Gimana kalau kita besok membuat kue untuk suprise suami lo, sepertinya seru tuh." ucap Vita memberikan ide.


"Setuju." jawab mereka berdua serentak.


"Gue tutup dulu ya, Farel sepertinya sudah selesai mandi, gue mau mandi dulu. Oke ... bye."


"Bye ...." mereka mengakhiri panggilan video call tersebut.


Farel keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah rapi, namun dandanannya masih berantakan.


"Sekarang mandilah setelah itu istirahat, sudah malam nanti kamu kedinginan jika mandi terlalu malam.


Aisyah masuk ke kamar mandi dan melakukan aktivitas mandinya.

__ADS_1


Farel sendiri sudah berbaring di kasur menunggu Aisyah selesai mandi. sambil menunggu sambil membaca novel kesukaannya.


Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, muncullah Aisyah yang sudah mengunakan baju tidur, ia terlihat lebih fresh dan tentunya lebih sexy setelah mandi.


Aisyah berjalan menghampiri Farel yang sedang Asyik membaca, tapi dalam hati ia juga takut jika Farel menunggunya untuk meminta haknya.


Dengan perasaan ragu Aisyah duduk disamping Farel.


"Kenapa kamu belum tidur?" tanya Aisyah.


"Sengaja ingin menunggumu." ucapan Farel membuat Aisyah salah tingkah.


"Me-nung-guku, memang ada apa, apa ada hal yang ingin kamu bicarakan."


"Memang apa salahnya jika menunggumu, aku ingin tidur bersamamu, kemarilah, ayo tidur sudah malam." Farel menarik tangan Aisyah untuk mendekat kepadanya.


"Kamu ti-tidak meminta hakmu sekarang kan." tanya Aisyah takut.


"Apa, jadi kamu pikir aku menunggumu karena itu, kemarilah, bukankah aku sudah pernah memberitahumu , jika aku akan menunggumu sampai kamu sendiri siap memberikan hak itu." Farel terlihat menahan tawa.


"Ohh ... syukurlah, Aku pikir karena itu, tapi maaf Farel, aku belum siap !" terlihat raut wajah sedih dari Aisyah.


"Tak apa, sudah tidak perlu di bahas sekarang kita tidur, sudah malam." ajak Farel.


Aisyah naik ketempat tidur dengan perasaan lega. Farel sendiri meminta Aisyah untuk tidur di lengannya agar Ia bisa tidur sambil memeluk Istrinya. Dengan senang hati Aisyah tidur dalam dekapan Farel.


Sinar matahari telah naik, sinarnya menembus kaca tepat mengenai Aisyah dan Farel membuat Mereka terbangun karena merasakan hangatnya sinar matahari pagi.


Aisyah bangun lebih dulu, namun malas untuk bangun, sehingga Ia lebih memilih menengelamkan tubuhnya kembali dipelukan Farel. Mencari kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan itu. Hingga waktu menunjukkan pukul setengah delapan.


Farel terbangun, tersenyum melihat Aisyah masih tertidur. tak ingin membangunkan nya Ia memindahkan Aisyah pada posisi lurus dan menganti posisinya dengan guling. Kemudian Farel mandi dan turun untuk sekedar berolahraga di teras. Bik sumi art mereka sudah datang dari pagi pukul enam, tapi Bik Sumi masih menunggu di luar karena pintu utama masih belum terbuka.


"Bik Sumi, sudah menunggu dari tadi ya. Sorry ya bik kami bangun kesiangan, ini juga baru bangun." Farel tak enak hati melihat pembantu mereka yang menunggu di luar.

__ADS_1


__ADS_2