
Aisyah dan Vika kini sudah sampai di tempat meeting berlangsung, di dalam restoran sudah ada Alex yang memang datang lebih awal, bukan sengaja menunggu, melainkan memang Alex sebelumnya sudah memiliki janji dengan teman lama di restoran tersebut,
"Sorry, lama nunggu ya?" ucap Vika saat menyadari Alex sudah duduk manis menunggu kedatangan mereka.
"Tak apa, hanya lima menit, lagipula tadi aku juga baru bertemu teman lama disini jadi sekalian saja." jelas Alex.
"Oh...kirain udah lama nunggu."
Ketiganya kini terlibat obrolan serius mengenai pengembangan produk desain baju dalam negeri maupun luar negeri.
"Rencana kamu untuk memperluas pasaran memang sangat bagus, Aisyah. Bahkan jika kalian berdua mampu bekerja sama maka hasil yang di dapat pun akan semakin besar."
"Aku pun berpendapat sama denganmu Alex, tapi entahlah, begini pun sudah bagus untuk kami para pemula." Vika banyak bicara dibandingkan Aisyah.
"Aisyah, apa kamu sakit aku lihat dari tadi kamu hanya diam saja tanpa ikut bicara."
"Tidak, aku baik-baik saja, lanjutkan meetingnya!" pinta Aisyah menatap Alex dan Vika.
Tak terasa satu jam berlalu, Meeting berjalan lancar, kerja sama antara Alex dan Aisyah tak menemukan kendala apapun, bahkan produk desain baju milik Aisyah kini sudah mulai menjadi produk unggulan di pasaran. Setelah meeting selesai, Alex yang biasanya ingin berlama-lama di dekat Aisyah kini perlahan mulai memberi jarak, saat mengetahui kebenaran jika Aisyah sudah bersuami, maka tertutup sudah jalan baginya untuk mendapatkan sangat pujaan hati, kini Alex hanya bisa mengikhlaskan hatinya untuk melepas rasa cinta yang tumbuh di hatinya.
"Aku tidak menyangka bisnis yang ku jalani begitu cepat naik daun, tentunya dengan bantuan kalian semua, sahabat dan teman baikku." Aisyah tersenyum menatap layar laptopnya, disana tertera berbagai pesanan pelanggan Aisyah.
"Kamu memang hebat, Aisyah, aku saja bisa kalah dengan kepintaranmu. Tapi aku ikut senang bisa melihatmu sukses." Vika memeluk Aisyah, meski jauh dan terkadang sibuk baik Vika, Aisyah dan Vita masih menyempatkan waktu untuk bertemu, ya mungkin hanya sekedar bertukar cerita atau membahas pekerjaan namun hubungan persahabatan mereka tak pernah putus.
"Sayang sekali personil kita masih kurang satu, yaitu Vita!" ucap Aisyah.
"Ya kamu benar, mungkin kesibukan dia lebih padat dari pada kita, kita maklumi sajalah, yang terpenting kan Vita tetap jadi sahabat kita."
"Kamu benar, kita harus saling mengerti kesibukan masing-masing."
"Farel apa belum pulang dari Bandung?" Vika kini beralih membahas mengenai suami Aisyah.
"Katanya nanti malam!"
"Oh ya, aku punya kabar baik untukmu, Aku hamil! setelah kejadian beberapa bulan lalu aku berharap bisa melihat anakku lahir ke dunia ini."
__ADS_1
"Really? selamat, itu artinya aku bakalan punya ponakan dong, anak kamu pasti lucu banget Aisyah."
"Iya, kamu kan sudah aku anggap sebagai saudara sendiri."
"Kamu sudah kasih kabar baik ini ke Vita, biar dia cepat nikah gitu susulin kita, jadi kalau kita pergi dineer bisa dable date."
"Tadinya mau kasih tau waktu kita kumpul gini, tapi ternyata Vita nggak jadi datang, nanti saja lewat WA aku kabarinnya."
"Terus itu Fandi kenapa bisa selalu ngikut kamu kemana-mana?"
Sungguh Vika selalu mempunyai segudang pertanyaan untuk sahabatnya, Aisyah. Namun itu biasa bagi sahabat yang jarang sekali berkumpul, sekali berkumpul keluarlah segala unek-unek yang tertahan selama tidak bertemu.
"Soal Fandi, biasalah suamiku memintanya untuk menjagaku selama dia pergi."
"Em, itu memang manh penting, keselamatanmu memang penting terlebih kamu sedang mengandung."
"Hm...." Aisyah menatap layar laptopnya, Aisyah kini kembali fokus untuk mengerjakan pesanan yang di minta pelanggannya. Desain baju terbaru yang di garap Aisyah kini memang memiliki nilai jual tinggi.
"Vika, sorry ya aku nggk bisa lama, akhir-akhir ini aku memang merasa mudah lelah saja, mungkin karena aku hamil muda kali ya."
"Harus jaga kesehatan itu Aisyah, jangan sampai kecapaian, kapan-kapan aku dan Vita bakalan main ke rumah kamu, kalau kita lagi pada nggak sibuk ya, sekalian menghabiskan waktu bersama gitu."
"Yasudah, aku pulang ya, Bye!"
"Bye." kini tinggal Vika yang masih tersisa di restoran tempat mereka melakukan meeting.
𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢, 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩.
Hari telah berganti malam, suasana malam ini begitu terang dengan bintang-bintang menampakkan sinarnya, bulan pun seakan tak mau kalah, sinarnya mampu membuat malam ini terlihat sangat indah.
"Aku merindukanmu Mas, meski hanya berpisah hitungan hari, rasanya sudah terpisah sangat lama, cepatlah pulang, aku menantimu." Aisyah yang masih berada di jendela kamar serasa engan untuk beranjak menutupnya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah seakan menenangkan hatinya saat ini.
Jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam, "Huaammm..., sepertinya aku benar-benar tidak bisa menunggu suamiku pulang, nyatanya baru jam delapan anak dalam kandungan ku sudah mengajak untuk menuju alam mimpi, yasudahlah, apa boleh buat, lagipula kata mas Farel aku tidak boleh menunggunya." Aisyah kemudian beranjak menutup jendela dan membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya itu.
Dari arah luar terdengar suara mobil memastikan pelataran rumah, siapa lagi kalau bukan Farel yang baru saja tiba dari bandung, tanpa pikir panjang Farel melangkahkan kaki masuk untuk menemui istri tercinta.
__ADS_1
"Kamu pasti senang aku datang lebih awal, Aisyah." ucap Farel bersemangat.
Ceklek
"Ais_"
Ucapan Farel terhenti ketika melihat Aisyah sudah berada di pembaringan dengan menutup mata, bisa di pastikan jika Aisyah sudah terlelap dalam alam mimpi, terbukti dari dengkuran halus yang terdengar lirih dari arah Aisyah berada.
"Ternyata sudah tertidur, sepertinya lelah sekali sampai terdengar dengkuran halus, baiklah labih baik aku tidak menganggunya." Farel kemudian memilih pergi membersihkan diri agar badannya sedikit lebih segar, pekerjaan di Bandung cukup membuatnya lelah.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Fandi..., Ada apa Fandi, kenapa kamu mengangguku, aku ingin istirahat."
"Maaf bos, apa bisa kita berbicara sebentar, aku janji hanya sebentar."
"Kita bicara di luar saja, takut membangunkan Aisyah."
"Katakan, apa ada yang penting sampai kamu tak bisa menunggu hari esok."
"Sorry rel, aku harus jujur, aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi janji jangan marah setelah ini, kamu harus bisa menagapinya dengan kepala dingin, berjanjilah terlebih dahulu, Farel." jika hanya berdua dan Fandi terlihat membicarakan hal pribadi maka Fandi hanya akan memanggil nama, menandakan kedekatannya sebagai sahabat Farel sejak dia masih menjadi bodyguard.
Fat terlihat mengkerut kan keningnya tanda binggung, "iya, aku berjanji sekarang katakanlah apa yang membuatmu terlihat khawatir seperti ini!"
"Apa kamu punya masalah?"
"Ini bukan tentangku, tapi tentang Aisyah, rekan kerjanya sekaligus teman dekatmu selama ini menyukai istrimu, dan tadi aku menyaksikan sendiri bahwa dia menyatakan perasaannya di depan Aisyah."
Deg
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan, Fandi, siapa dia?"
𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢?