
Aisyah masih berkutat di dapur, memasak memang salah satu hobinya, Itu membuat Aisyah tak merasa kewalahan dengan pekerjaan itu.
"Sepertinya masakan kamu hari ini sangat lezat, pasti membuatnya penuh dengan cinta." Farel yang sudah berasa di belakang Aisyah mencoba menggodanya. Entah sejak kapan Farel berasa di belakang Aisyah, suara Farel membuat Aisyah yang sedang fokus memasak terjingkat karena kaget.
"Kamu ini, mengagetkan saja untung saja aku nggak punya penyakit jantung kalau tidak, bagaimana jadinya." ucap Aisyah kesal.
"Iya...iya...nyonya Farel Prayoga. Aku mau bantuin kamu masak hari ini, lagi pula aku nggak ada kesibukan. Ke kantor juga nanti jam delapan, sekarang kan masih jam setengah tujuh, masih ada waktu untuk itu." Farel yang tiba-tiba memeluk Aisyah, ia memberi alasan membantu untuk bisa lebih dekat dengannya.
Aisyah hanya diam saja saat dipeluk, justru Aisyah merasakan kenyamanan dalam pelukan Farel.
"Baiklah, kamu bantuin aku ngupas wortel dan kubisnya saja, bagaimana." Aisyah memberikan pekerjaan pada Farel yang katanya ingin membantu.
Saat mengupas Farel lebih fokus kepada Isterinya daripada pekerjaannya mengupas wortel.
"Auuuw ...." Farel meringis karena tangannya terkena pisau saat memotong.
Aisyah yang melihat kejadian itu berlari menghampiri Farel dan merebut jari yang terluka untuk Ia sesap agar darahnya berhenti mengalir.
"Apa masih sakit, bagaimana kamu bisa sampai terluka, fokusmu kemana, Farel." Aisyah yang kesal karena Farel tidak berhati-hati.
"Ya maaf, tadi aku lihat bidadari cantik lagi masak jadi nggak fokus sampai jariku yang kena pisau." Farel tak lagi memeperdulikan jarinya yang terluka, ia justru menggoda Aisyah.
"Kamu sedang terluka masih saja bisa menggoda." Aisyah sebel tapi juga senang karena di goda Farel.
"Aku tunggu di ruang kerja saja, nanti jika masakannya sudah siap panggil aku, aku harus menyiapkan beberapa File untuk meeting hari ini." Farel pergi meninggalkan Aisyah memasak sendiri. Saat memasak pikiran Aisyah selalu di penuhi dengan bayang-bayang Farel yang mengatakan Ia adalah bidadari cantik. Hari ini bik Sumi datang terlambat, karena harus mengurus SPP anaknya di sekolahan. Ia meminta izin pada Aisyah pagi tadi, memang sedikit mendadak, tapi tetap Aisyah berikan izin karena bik Sumi sudah lama bekerja di rumah Aisyah.
"Hari ini aku nggak ada Kelas kuliah, apa aku sebaiknya ikut Farel ke kantor siapa tahu aku bisa dapat suasana bagus di sana daripada di rumah nggak ngapa-ngapain.
Aisyah sudah selesai dengan aktivitas memasaknya tinggal memangil Farel di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Farel ayo kita sarapan pagi masakannya sudah siap. Mumpung masih hangat ayo kita Makan." Aisyah menghampiri Farel, mengajaknya untuk sarapan.
"Sudah siap ya, ayo makan." Farel sangat bersemangat semangat mencicipi masakan Aisyah, karena hari ini Aisyah memasak dengan penuh kasih sayang dan cinta rasanya jadi berlipat-lipat enaknya.
"Apa aku boleh membawa masakan mu ini ke kantor sebagai bekal makan siangku hari ini?" Farel bertanya. Sekali-kali bawa bekal sendiri, karena bagi Farel masakan rumah jauh lebih enak di bandingkan masakan luar.
Aisyah menghentikan makannya, ia ingin mengungkapkan keinginannya pada Farel.
"Boleh saja, apa hari ini aku boleh ikut ke kantor. Aku bosan di rumah terus." Aisyah menatap Farel dengan tatapan memohon.
"Tentu, ini juga kantormu Aisyah kamu bebas keluar masuk, itu hak mu. Aku hanya mengantikan Papamu untuk sementara sampai kamu sendiri siap untuk memimpin perusahaan Kusuma Grup." Farel meyakinkan Aisyah bahwa ia tak perlu bertanya jika hendak keluar masuk kantor milik papanya.
"Sungguh, aku bisa ikut." ucap Aisyah bersemangat.
Aisyah segera menghabiskan sarapan paginya. Ia terlalu bersemangat untuk pergi kekantor.
"Santai Aisyah, masih ada waktu sebelum pergi ke kantor. Aku akan menunggumu, jadi tenanglah, sekarang makan dengan santai."
"Begini saja biar lebih cepat, kamu bersiaplah di kamar sedangkan aku akan bersiap-siap di kamar tamu." Farel memberi solusi untuk masalah mereka. Di kamar Aisyah maupun Farel sibuk dengan dandanan masing-masing seakan ingin tampil menawan pagi ini.
Cukup lama berdandan, akhirnya mereka bisa pergi ke kantor. Tak lbutuhkan waktu lama bagi Farel dan Aisyah untuk bisa sampai di kantor hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit. Baik Aisyah maupun Farel mereka hari ini sangat terlihat cocok. Membuat semua karyawan perusahaan menatap kagum pada pasangan ini.
"Kenapa bukan gue yang bersanding dengan Pak Farel. Lebih cantikan gue dibanding Istrinya Aisyah." Dita yang sangat pede dengan dandanannya, bahkan Dita adalah karyawan kantor yang menyukai Farel.
"Ngawur saja kalau ngomong, Pak Farel itu suami orang, nggak baik lo naksir suami orang lebih baik cari yang masih bujang itu masih banyak di luar sana." Niko yang juga karyawan kantor memperingatkan.
Aisyah dan Farel mereka tak memperdulikan omongan para karyawan kantornya, mereka hanya fokus berjalan menuju ruangan Farel.
"Selamat datang Pak Farel dan Bu Aisyah. Hari ini Pak Farel memiliki temu janji dengan Pak Gunawan untuk membahas negoisasi lahan yang akan kita beli tepatnya jam dua siang. Nanti kita akan pergi sebelum pukul dua Pak, mengingat Pak Gunawan tidak menyukai keterlambatan waktu walau hanya semenit." Ririn memberitahukan jadwal Farel. Ririn yang tak menyukai Aisyah berusaha bersikap manis di depan Farel.
__ADS_1
Sekilas Ririn melirik Aisyah Ia ingin menunjukkan kedekatannya dengan Farel di depan Aisyah.
Aisyah yang menyadari itu tak mengambil pusing toh dia hanya sekertaris biasa. Ia belum tahu jika Ririn dan Farel juga memiliki hubungan persahabatan. Jika Farel menganggap hubungannya dengan Ririn hanya teman, lain dengan Ririn yang menganggap hubungannya itu lebih dari teman. Setelah memberitahukan jadwal Farel Ia pergi ke ruangannya sendiri yang terletak di samping depan ruangan Farel.
"Apa kamu hanya pergi berdua dengan Ririn, lalu aku bagaimana. Kamu akan meninggalkanku di sini, begitu!" Aisyah menatap Farel cemberut.
"Manamungkin aku meningalkanmu disini, kamu akan ikut denganku kemanapun, kamu senang sekarang. Tersenyumlah, kamu lebih cantik jika tersenyum. Tapi kalau lagi cemberut kamu terlihat lebih mengemaskan." sangking gemasnya Farel mencubit pipi gembul Aisyah.
"Jadi kamu lebih suka melihat aku cemberut daripada melihatku tersenyum." Aisyah memalingkan wajah tanda sedang marah. Farel berjalan mendekati Aisyah, mencoba membujuknya agar tak marah.
"Kenapa sekarang jadi marah beneran, kan aku cuma bercanda. Sudah jangan marah ayo tersenyumlah." Farel terus membujuk istrinya yang sedang marah.
"Aisyah, kamu bisa pergi melihat-lihat keadaan kantor jika kamu mau. Aku masih ada pekerjaan, kamu bisa pergi sendiri, kan." Farel bertanya, takut Aisyah tak mau pergi sendiri.
"Baiklah, aku juga sudah merasa bosan hanya menunggui mu bekerja tanpa melakukan apapun, dan satu lagi jika aku kembali aku mau sekotak pizza ada di ruangan ini, oke." Aisyah memberikan perintah, sebagai ganti Farel yang tak menemaninya berkeliling.
Farel hanya melongo mendengar penuturan Aisyah, ini pertamanya Aisyah meminta sesuatu dengan bicara biak-baik.
Aisyah keluar ruangan Farel, ruangan petama yang Ia tuju adalah ruangan Ririn sekertaris Farel.
"Tok ... tok ... , apa Aku bisa masuk." meski sudah tau maksud Ririn tapi Aisyah masih bersikap ramah.
Ririn sendiri yang terkejut didatangi oleh Aisyah mencoba bersikap profesional.
"Bu Aisyah, masuklah, silahkan duduk ada apa Bu Aisyah datang keruangan saya, apa ada hal yang penting." ucap Ririn juga bersikap sopan kepada Aisyah.
"Tidak, tidak ada yang penting, saya hanya ingin menyampaikan jika nanti saya juga akan ikut pergi bersama kalian." Aisyah bicara dengan tenang.
Ririn yang mengetahuinya terkejut, namun tetap memperlihatkan sikap tenang.
__ADS_1
𝘈𝘱𝘢, 𝘉𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘪𝘬𝘶𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘣𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭. Ucap Ririn dalam hati.