
Aisyah yang menangis pun terkejut mendapat kehadiran Farel di belakangnya.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini, Kau mengikuti ku?" tanya Aisyah dengan suara serak dan mata sembab karena habis menangis.
"Itu tidaklah penting Aisyah, keselamatan mu yang terpenting bagiku, dan jangan pernah pergi tanpa memberitahuku lagi, aku ini Suamimu. Aku berhak tau, kemana kau pergi dan semua kegiatanmu." Farel meminta supaya Aisyah sedikit memberinya ruang berkomunikasi dalam hubungannya, meskipun belum ada cinta, tapi setidaknya Farel tahu keadaan istrinya itu. Dengan begitu Farel mudah menjaga istrinya dari musuh yang berkeliaran.
"Kau memang suamiku, tapi kau tak berhak mengatur hidupku. Urus sendiri urusanmu, jangan ganggu Aku lagi." Aisyah mengatakannya dengan perasaan kesal, merasa Farel terlalu mengawasinya. Meskipun itu untuk kebaikannya sendiri, tapi Aisyah merasa tak nyaman dengan itu.
"Itu bisa kita bahas di rumah, sekarang kita pulang." Farel meminta dengan lembut, ia tahu jika Aisyah tidak bisa di paksa. Untuk membujuknya harus dengan cara yang lembut, baru dia akan menurut.
Mereka berjalan meninggalkan makam mertua. Di tengah perjalanan, ada dua buah motor dengan empat pengendara. semuanya berpenampilan seperti preman yang mengincar mobil mereka. Awalnya Farel tak menghiraukan mereka, tetapi mereka justru terus menerus mengikuti dari belakang, melihat Aisyah yang kembali terpuruk ia tak mau memberitahu Aisyah mengenai preman yang mengikutinya. Hingga tiba di jalan yang cukup sepi karena menjelang malam. Saat itu tak ada satupun mobil yang melewati jalan yang sama dengan Farel. Hanya ada Mobil Farel yang melewati jalan itu.
𝘚𝘪𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩-𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩 𝘱𝘢𝘬 𝘞𝘪𝘫𝘢𝘺𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩. Tanpa preman itu ketahui, Farel juga tengah mengawasi pergerakan mereka, sengaja Farel memilih tempat yang sepi untuk mengetahui maksud preman tersebut.
Merasa mendapat kesempatan, Para preman itu menghadang mobil Farel, Aisyah yang melihat penampilan mereka berempat merapatkan diri pada Farel. Rasa takut karena mereka menggebrak mobil dengan keras.
"Siapa mereka Farel? dan apa mau mereka?" Aisyah ketakutan, takut jika mereka akan melukai mereka berdua.
"Keluar kalian, Serahkan harta milik kalian. Cepat...!" keempat preman itu mengedor pintu mobil Farel. Tak ada pilihan lain, Farel harus menghadapinya sendiri. Masalah bela diri Farel tak dapat di ragukan profesinya sebagai bodyguard sudah membuktikan kekuatan ototnya.
__ADS_1
"Jangan takut, Tetaplah di dalam mobil, apapun yang terjadi jangan keluar! dan telfon polisi." Farel memberi isyarat pada Aisyah lewat gerakan tangan dengan tujuan tak ada yang tahu kalau polisi sedang menuju kemari. Setelah itu Farel turun, ia mencoba mengulur waktu agar Aisyah bisa menelfon polisi.
"Kalian siapa, Kami tidak akan menyerahkan apapun pada kalian." Farel bersikap tenang, menghadapi empat preman sekaligus cukup bisa di atasi oleh Farel.
"Kurang Ajar...!, Rupanya kau mau cari mati." para preman itu mulai maju satu persatu, saling menunjukkan kehebatannya.
Perkelahian tak terhindarkan.
Sedangkan di dalam mobil, Aisyah sedang menghubungi polisi, mengabarkan mereka sedang di rampok di gang mawar. Jalanan itu memang cukup sepi, hanya ada beberapa bangunan kosong yang menambah kesan sepi pada jalan karena tidak ada penerangan jalan.
"Hallo Pak Polisi, saya mau mengabarkan jika di gang Mawar telah terjadi pembegalan, harap Pak Polisi segera kemari, suami saya sedang di kroyok Pak...." Aisyah segera mematikan Handphonenya ketika melihat salah satu preman mendekatinya.
Farel yang jago bela diri cukup kewalahan, karena mereka menyerang dari arah belakang saat ia lengah. Hingga ia pun mendapat pukulan balasan yang cukup membuat muka tampannya babak belur. kesempatan itu di gunakan para preman untuk mendekati mobil Farel, yang membuat Aisyah yang masih di dalam mobil ketakutan.
𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵, 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢. Aisyah menatap Farel berharap ia bisa bangun dan melawan meraka dengan kekuatannya.
Mereka berempat memeriksa mobil, mencoba membukanya, beberapa pukulan di layangkan pada mobil Farel, tetapi nihil Aisyah tak mau membukanya.
Farel yang tersungkur melihat preman itu mendekati Aisyah, ia takut jika preman itu menyakiti Istrinya, Aisyah yang bersembunyi di dalam mobil. Melihat itu amarah Farel bangkit, ia tidak memberi mereka ampun ataupun kesempatan untuk melawan, hingga mereka satu persatu tumbang. Kemudian menangkapnya, agar mereka tidak berulah pada siapapun lagi yang lewat jalan tersebut. Bertepatan dengan itu, polisi yang mendapat telfon dari Aisyah sudah datang ke lokasi. preman itu pun akhirnya bisa diamankan.
__ADS_1
"Terimakasih Bapak dan Ibu, telah membantu kami menangkap pelaku pembegalan yang selalu meresahkan warga sekitar. Kami permisi ...." ucap pak polisi sambil berjabat tangan setelah itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa kamu biak-baik saja, pasti rasanya sakit." Aisyah memegang luka memar pada wajah Farel.
"Tidak, tidak sakit...!" ucap Farel sambil menahan ngilu di wajahnya, Ia tidak mengakui jika rasanya cukup sakit. Rasanya gengsi untuk memberitahu rasa itu pada Aisyah.
"Bagaimana bisa, kamu yang seorang Bodyguard, yang papa banggakan bisa kalah dengan para preman nggak jelas itu. Mana kekuatanmu, yang katanya tak tertandingi itu." merasa mendapat kesempatan Aisyah mulai mengejek Farel. Tapi sebenarnya ia juga kasihan melihatnya terluka.
"Jika mereka tidak menyerang ku dari arah belakang dengan bersamaan, aku tak akan terluka Aisyah. Sudahlah, yang terpenting kamu baik-baik saja.
Sesampainya di rumah, Aisyah langsung mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Farel agar tidak infeksi.
"Aku bisa sendiri Aisyah. Kau pergi ke kamarmu bersihkan dirimu dan istirahatlah. Aku baik-baik saja." Farel tak mau Aisyah berpikir jika ia lemah.
Mendengar itu, Aisyah pergi meninggalkan Farel di ruang tamu. tanpa membantu mengobati lukanya. Setelah selesai membersihkan diri, cacing-cacing di perutnya bernyanyi meminta di isi. Sedari siang Aisyah memang belum makan, Ia terlalu merindukan papanya hingga lupa makan.
"Rupanya kalian kelaparan minta di isi. kita lihat di dapur ada apa ya." Aisyah berjalan ke dapur melihat bahan apa yang bisa di masak.
Saat pergi ke dapur Aisyah yang melewati ruang tamu melihat Farel terlelap tidur di sofa dengan memegang kotak P3K." karena penasaran akhirnya Aisyah pergi melihat suaminya.
__ADS_1
"Katanya ingin mengobati sendiri, tapi ini, masih belum di apa-apakan dia sudah tidur." ucap Aisyah.
Dengan perlahan Aisyah mengobati luka Farel berharap Farel tidak bangun karena jika dia bangun malunya Aisyah terlihat perhatian pada suaminya.