
Selepas kepergian anak-anak dan bu Panti, Aisyah tak langsung mengajak pulang, ia ingin menghabiskan beberapa saat lagi di taman itu, niat hati memang ingin menahan Farel di sana, karena memang ada hal yang harus ia beritahukan kepada Farel, ini mengenai masa depannya.
Tanpa sepengetahuan Aisyah, Farel sendiri sudah mengetahui jika Ririn memiliki perasaan kepadanya, namun ia belum tahu jika Ririn juga mencoba untuk memisahkan dia dengan Aisyah.
sedikit menarik lengan Farel, mendudukannya di bangku yang ada di taman, kebetulan taman itu sedang sepi karena letaknya yang di belakang.
Farel menatap istrinya heran, seperti ada yang hendak dikatakan oleh Aisyah. "Apa yang ingin kamu katakan, Dek, katakanlah aku mendengarkan!" seperti suatu perintah, farel ingin mendengar yang di sampaikan istrinya.
"Aku...ini menyangkut Ririn, sekertaris serta sahabatmu, dia sebenarnya_" lidah Aisyah begitu kelu untuk mengatakan kebenaran itu, ia sedikit takut jika Farel tak mempercayainya meski memiliki bukti yang cukup kuat, tapi melawan persahabatan, apakah bukti itu bisa menang? rasanya tidak. kecuali jika Ririn sendiri yang mengakui kesalahannya.
Farel yang menatap Aisyah, binggung sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh istrinya mengenai Ririn, apa ia sudah mengetahui perasaan Ririn kepadanya. Farel pun ikut menebak apa yang ingin di katakan kepadanya.
"Sebenarnya apa, Aisyah, jangan buat aku binggung, katakanlah tanpa rasa ragu!" Farel sudah menyiapkan jawaban jika apa yang di sampaikan oleh istrinya memang benar mengenai perasaan Ririn kepadanya.
"Ririn mencintaimu, aku bisa melihat itu dari matanya dan perhatian yang selama ini ia berikan bukanlah semata-mata sebagai sahabat, namun lebih dari sekedar sahabat. Dan yang lebih membuat aku tak menyukainya adalah saat dia hendak merebutmu dariku secara terang-terangan. Ya diantara kami memang terjadi perselisihan bahkan aku memiliki beberapa buktinya." Perkataan itu meluncur begitu saja, saat Aisyah Ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya, maka ia harus bisa membongkar kejahatan Ririn yang berkedok sahabat.
Farel menatap tak percaya dengan apa yang di ungkapkan Aisyah.
"Dek, ini...." Farel melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh Aisyah, rasanya tak percaya jika Ririn sampai melakukan hal sejauh ini. Tapi mengingat setiap perkataan Aisyah rasanya ia juga tidak akan berbohong.
"Mas bisa lihat sendirikan, betapa terobsesinya Ririn kepada Mas Farel, dan aku nggak mau ini semakin berlanjut, aku mau Ririn harus keluar dari kantor, sepertinya itu lebih baik. Aku minta sekarang kamu pecat dia, mas." Aisyah mengatakan itu untuk kebaikan mereka berdua.
Ada amarah di dalam hati dan mata Farel, ia sangat kecewa kepada sahabatnya yang selama ini menjadi tempatnya untuk berbagi masalah, justru sahabat itulah yang menumbuhkan masalah dalam rumah tangganya.
Kecewa yang dirasakan membuatnya ingin segera menemui Ririn dan meminta penjelasan kepadanya mengenai foto-foto yang dikirim kepada Aisyah. Sebelumnya ia sudah memaafkan Ririn yang menyatakan cinta kepadanya, Farel merasa semua masalahnya sudah selesai, ternyata tidak, ia justru mengetahui jika Ririn berani mengusik Aisyah.
__ADS_1
𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪𝘬𝘶, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘵 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯.
Aisyah menggoyang lengan Farel, menyadarkannya dari lamunannya.
"Katakan kamu akan memecatnya bukan, aku tak mau memelihara musuh dalam hubungan kita." amarah Aisyah sendiri masih ada, tapi setidaknya ia merasa lega sudah memberitahukan kebenaran kepada Farel mengenai Ririn.
"Mengenai Ririn yang mencintai ku, aku sudah tahu Aisyah, tapi ini yang kamu berikan adalah bukti jika dia telah berani mengusik hidupmu, untuk itu aku nggak terima. Aku akan memecatnya besok, kamu tenang saja." Farel membawa Aisyah dalam pelukan untuk sama-sama mencari ketenangan. Setelah dirasa tenang, Farel mengurai pelukannya.
"Sekarang kita pulang, waktu sudah hampir senja." ajakan Farel dibalas anggukan oleh Aisyah.
***
(Temui aku nanti malam di taman) Pesan masuk dari Farel.
𝘈𝘱𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶. Ririn berpikir, akankah Farel percaya dengan apa yang dikatakan Aisyah kepadanya, bukankah Farel hanya percaya jika ada bukti!
(Aku akan datang), pesan balasan dikirim oleh Ririn menit berikutnya.
Dalam hati Ririn takut mengahadapi kemarahan Farel untuk kedua kalinya. Ia tahu konsekuensi dari menganggu Aisyah putri Pak Wijaya, tapi itu tetap Ririn lakukan hanya untuk medapatkan cintanya kembali, lebih tepatnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Aku harus datang, akan ku minta janji yang sudah Farel berikan untuk menyelamatkan diriku dari amarahnya. Ya sepertinya itu cara yang tepat untuk masalahku ini." mengingat janji itu Ririn bisa sedikit lebih tenang. Ia bermaksud mengunakan kata-kata Farel sendiri.
Berusaha terlihat biasa saja, meski hatinya sudah dilanda ketakutan, Ririn mengunakan taksi untuk menemui Farel sesuai janjinya.
Tepat jam Tujuh malam, Farel sudah menunggu kedatangan sahabatnya Ririn, rasa hati tak tenang semenjak mendengar dan melihat kebenaran mengenai sahabat yang dekat dengannya.
__ADS_1
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶. Farel menghirup nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk mengurangi emosi yang ia tahan sedari tadi.
Tiba di lokasi yang diminta Farel Ririn berjalan dengan tenang, seolah tak ada masalah yang harus di khawatirkan.
Tatapan tajam langsung Farel layangkan saat ia mendengar derap langkah sepatu mendekat.
"Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan, aku harap kamu jawab dengan jujur." sebuah pertanyaan dilayangkan kepada Ririn tanpa melihat wajahnya.
"Katakan, apa yang ingin kamu ketahui, pasti ini mengenai Aisyah bukan, mengenai apa yang aku lakukan kepadanya... aku tahu, Aisyah sudah memberitahukan semuanya kepadamu. Lalu kejujuran apa yang kamu minta dariku, dan jika aku katakan semua yang dikatakan oleh istrimu itu memang benar, apa kamu masih percaya kepadaku?"
Farel tak menduga jika Ririn akan langsung mengakui kesalahannya tanpa mengelak sedikitpun.
"Aku hanya ingin mengetahui tujuanmu melakukanya?" kali ini Fatel menatap wajah sahabatnya itu. Mencoba mencari kebenaran akan ucapan yang akan dia katakan.
"Kamu tahu, kenapa harus aku jelaskan lagi." Ririn engan menjelaskan untuk kedua kalinya ia melakukan itu.
Farel membuang nafas kasar, amarah yang ia tahan dari tadi keluar juga.
"Apa tak ada pria lain selain aku, sehingga kamu mengusik kebahagiaanku, apakah sehina itu kamu sampai mengejar cinta dari suami orang. Tak malukah kamu dengan kenyataan itu Ririn, katakan!" Farel tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati sahabatnya, tapi perasaannya jauh lebih sakit ketika melihat Aisyah yang sangat ia cintai dibuat menagis oleh sahabatnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ke karya teman aku ya... ☺☺☺
__ADS_1