Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
enak di bos tak enak di bawahan


__ADS_3

Aisyah kini berjalan memasuki ruangan Farel, tepat di depan ruangan sudah terdapat Fandi yang kini tengah berdiri tegak bak patung penunggu pintu masuk.


"Loh Fandi, kamu ngapain berdiri di depan ruangannya mas Farel, bukankah sekarang masih jam kerja?" tanya Aisyah binggung.


"Em.... tidak ada bu Aisyah, saya hanya menjalankan perintah saja." jawab Fandi seadanya, toh istri bosnya juga akan tahu untuk apa dia berdiri di depan pintu setelah Aisyah memasuki ruangan Farel.


"Mas Farel nya ada kan di dalam?"


"Ada, silahkan masuk," Fandi membukakan pintu ruangan Farel. Tanpa ragu Aisyah masuk, betapa terkejutnya dia, saat melihat ruangan suaminya sudah bukan seperti ruangan kerja pada umumnya. Banyak bunga-bunga yang di padang di berbagai tempat, bahkan beberapa dokumen telah di ungsikan pada lemari yang ada di dalam ruangan itu.


"Kejutan... kemarilah, duduklah di disini, semua ini aku siapkan khusus untukmu." Farel meminta Aisyah mendekat kepadanya, Farel kini tengah duduk di antara sofa yang sudah di sulap jadi tempat makan romantis ala kantor


"Apa ini mas, kenapa ruanganmu sudah seperti taman saja, banyak bunganya?" tanya Aisyah heran, dahi Aisyah kini berkerut tanda keheranan.


"Ini kejutan untukmu sayang, apa kamu menyukainya?"


"Iya.... aku suka, tapi kenapa harus di ruangan, kan kita bisa saja makan di luar kantor." ucap Aisyah yang protes pada Farel.


"Kalau di luar kantor, aku nggak punya waktu banyak, jadi ya untuk mempersingkat waktu aku buat aja makan siang kita romantis di ruangan ku ini, bagaimana pendapatmu?"


Aisyah masih mematung di belakang pintu masuk, dia belum bisa beranjak duduk, sebab masih terkejut.


Farel kini bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Aisyah menarik tangannya lembut menuju sofa yang sebelumnya sudah di hias menjadi meja makan romantis.


"Mas Farel romantis sekali, tapi ini pasti tak luput dari bantuan Fandi ya kan!" cerca Aisyah.


"Hehehe... siapa lagi yang bisa aku andalkan kalau bukan Fandi, sayang. Sayang sekali bukan jika ide-ide jenius yang ada dalam otaknya tidak di gunakan dengan baik." bela Farel pada dirinya sendiri.


"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan itu, sekarang kita makan bagaimana, aku sudah lapar, dan ini pasti isinya makanan kesukaanku." Farel merebut rantang yang di bawa Aisyah dan mulai menata makanan di atas meja kecil yang telah Farel sediakan.


Aisyah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd dari suaminya.

__ADS_1


"Pelan lah mas, makanannya tak akan lari!"


"Baiklah, sekarang lihatlah aku apakah kamu menyukai semua ini?"


"Tentu mas, siapa yang tak suka di beri kejutan, semua wanita pasti suka lah apalagi kejutannya secara mendadak." jawab Aisyah jujur.


"Mas apa boleh aku melihat-lihat keadaan sekitar kantor, sepertinya sudah lama aku tak menginjakkan kaki di kantor papa ini." pinta Aisyah dengan tatapan sendu, Aisyah teringat akan kenangan dengan papanya tercinta.


"Kenapa harus bertanya, kamu bebas melakukan apapun di sini, Aisyah, tak akan ada yang melarangmu, atau kamu mau bekerja di kantor ini juga?"


"Tidak, aku sudah punya butik, lagipula aku juga sudah punya patner kerja sama sekarang, oh ya mumpung aku ingat, sekalian aku mau minta izin sama mas, patner kerja aku cowok dia anak dari temen mamanya Vika, aku bolehkan kontrak kerja sama dia?" Aisyah memilih bertanya pada Farel, tak mau ada kesalahpahaman di antara mereka, mengingat dalam kerja sama ini pasti mereka akan banyak bertemu, ya meskipun hanya membahas pekerjaan.


Tapi hati seseorang mana tahu, andai kata seorang laki-laki memiliki perasaan pada lawan jenis itu tidak salah bukan? itulah yang saat ni di rasakan oleh patner kerja Aisyah, sengaja mencari cara untuk bisa dekat dan mengenal lebih jauh siapa Aisyah.


"Sebenarnya aku sudah menerimanya, mas, tapi jika mas tidak mengizinkan aku akan melepas kerja sama ini kok." ucap Aisyah meyakinkan Farel.


Farel melihat perubahan pada wajah Aisyah, ia melihat ketulusan serta kepercayaan yang sangat di jaga oleh istrinya. Farel mengengam tangan Aisyah, "Aku percaya sama kamu, lakukan yang terbaik untuk butikmu Aisyah, aku akan mendukung apapun itu, berjuanglah bawa butikmu menuju ke tingkat lebih tinggi papa juga pasti akan bangga kepadamu, percayalah papa pasti selalu mendoakanmu di atas sana." ucap Farel lembut, setiap katanya dapat memberikan semangat membara pada diri Aisyah.


"Sudah jangan bahas masalah pekerjaan lagi, lebih baik kita makan, makanan ini sangat mengoda, cacing -cacing di perutku sudah meronta meminta makan."


Dengan sigap Aisyah mengambilkan makanan untuk Farel, mereka menikmati makan siang bersama.


"Apa kita tidak panggil Fandi untuk ikut bergabung dengan kita?"


"Tidak biarkan dia menjadi penjaga pintu, agar tak ada yang menganggu kita yang romantis ini, lagi pula jika dia ikut makan yang ada jiwa jomblonya meronta-ronta, kalau dia minta di carikan jodoh gimana."


"Ih mas nggak boleh gitu, sekali-kali kasih Fandi keringanan pekerjaan, agar dia bisa cari pasangan, jadi kita bisa dabel date gitu, kayaknya seru deh." Aisyah mengutarakan pendapatnya.


"Iya deh, nanti mas, kasih Fandi keringanan, biar dia bisa cari pasangan, sesuai dengan keinginan ratuku ini."


🌾🌾🌾

__ADS_1


Di luar ruangan Farel Fandi kini sudah berdiri hampir satu jam lamanya.


"Kalau bukan bos, pasti aku sudah memilih pergi tanpa menjalankan tugas, aku kan juga punya perasaan, masa iya suruh jadi penunggu pintu, si bos ini mah, ada-ada saja perintahnya." omel Fandi.


Dari balik lift keluarlah rekan kerja Farel, di perkirakan usianya tiga tahun di bawah Farel, pemuda itu berjalan mendekati ruangan Farel.


Fandi yang melihat itu segera menghampiri pemuda itu dan menanyakan maksud dan tujuannya.


"Maaf Pak, anda mau ketemu dengan siapa?" tanya Fandi sopan, namun dengan nada sedikit keras, berharap Farel dan Aisyah yang berada di ruangan bisa mendengar suaranya. Namun sepertinya nihil, suara Fandi di anggap angin lalu oleh Farel. hal itu membuat Fandi memutar otak untuk menunda maksud pemuda yang bernama Alex itu.


"Maaf Pak sepertinya anda tidak bisa menemui Pak Farel, beliau sedang ada urusan penting di dalam, dan itu tidak bisa di gangu, saya harap anda mengerti. Mungkin lain kali anda bisa datang lagi ke sini, tapi untuk hari ini sepertinya pak Farel akan sibuk sampai sore nanti." jelas Fandi dengan tegas.


"Seperti itu kah padahal saya sudah menyempatkan untuk datang ke kantor Pak Farel meskipun sibuk." ungkap alex sedikit kecewa, tapi ia juga mengakui kesalahannya, untuk bertemu dengan pimpinan Kusuma Grup memang harus membuat janji terlebih dahulu.


Alex kini tetap ingin menemui Farel, sebab dokumen yang dia bawa harus segera mendapat persetujuan, dokumen yang Alex bawa memang berisi kontrak kerja sama antara perusahaan holding companny dan kusuma Grup yang harus Farel bubuhi tanda tangan agar Alex bisa segera mengurus kelanjutan kerja sama tersebut.


"Sepertinya saya akan tetap menunggu hingga tamu pak Farel pergi dan saya bisa bertemu dengan Pak Farel."


𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘰𝘴 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘰𝘴 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶. Fandi berucap dalam hati.


"Boleh kan saya menunggu, oh ya apakah sudah dari tadi tamu Pak Farel di dalam?"


"Sudah Pak, kalau bapak mau menunggu silahkan, saya juga sedang menunggu dari tadi di sini, tapi Pak Farel tak kunjung keluar." jawab Fandi berbohong.


"Sepertinya tamu pak Farel ini penting ya."


"Iya" jawab Fandi dengan garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴, 𝘣𝘰𝘴 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳-𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘴𝘪𝘩, 𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘢𝘭𝘦𝘴 𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘰𝘴 𝘭𝘢𝘬𝘯𝘢𝘵, 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘮𝘦𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘴𝘢𝘳𝘢, omel Fandi dalam hati.


Alex dan Fandi kini hanya bisa menunggu di luar ruangan Farel tanpa kepastian kapan pintu ruangan Farel akan terbuka.

__ADS_1


__ADS_2