
Farel melepaskan pelukannya saat menyadari rasa ngilu di pundaknya.
"Aauuhh ... ," ia meringis menahan rasa ngilu, dan melepaskan tangannya dari pinggang Aisyah.
Aisyah sendiri bangun dari pelukan Farel bisa di pastikan jika wajahnya sekarang bersemu merah karena kejadian tadi.
"Maaf, maafkan aku Aisyah, aku tak sadar saat memelukmu kaku jangan marah."
Apalah daya Farel itu terjadi di bawah kesadarannya, namun kejadian itu cukup membuatnya senyum-senyum sendiri.
𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘢𝘢𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘳𝘰𝘮𝘢𝘯𝘵𝘪𝘴, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢! Farel berkata dalam hati.
"Marah, memang kenapa aku harus marah kepadamu. Hanya karena kau memelukku begitu!, Aisyah merasa tindakan Farel tak melewati batas, lagian kenapa kamu harus tidur dengan tengkurap, jika lukamu terbuka lagi bagaimana." Aisyah yang khawatir akan kesehatan Farel mulai mengomel karena tindakan yang ceroboh itu. Farel sendiri sekarang hanya bisa mendengarkan tanpa bisa membantah apapun.
"Aku juga tak tahu Aisyah, mungkin karena aku lelah jadi tak sadar kalau Aku tidur tengkurap." Farel hanya menyimak setiap omongan Aisyah, Ia sekarang lebih seperti seorang anak kecil yang dimarahi oleh Ibunya karena melakukan kesalahan.
"Aisyah apa Kamu sudah makan?, aku tahu Kamu belum sempat makan di kampus, benar bukan. Bersihkanlah dirimu aku tunggu di meja makan." Farel merasa lega akhirnya dia terbebas dari omelan sang istri. Farel memilih turun meninggalkan istrinya yang masih saja menceramahinya ini itu. Melihat Farel sudah pergi Aisyah memilih masuk kekamar mandi dan melakukan aktivitasnya. Dibawah guyuran air shower Aisyah mengingat apa yang terjadi antara Ia dan Farel," Perasaan apa ini, kenapa wajah Farel tak bisa hilang dari pikiranku. Dia selalu membuatku merasakan desiran-desiran hebat di hati ku, saat aku masih bersama dengan Andre aku tak pernah sampai merasakan hal seperti ini. Kemana perginya rasa yang pernah hadir untuk Andre, apa kehadiran Farel mulai menggeser tempat Andre di hatiku dan mengantikannya dengan nama Farel." Aisyah tersenyum, mengingat kejadian itu.
"Apa yang aku lakukan, apa aku benar telah mencintai Farel?, Sudahlah memikirkannya hanya membuatku semakin pusing lebih baik aku menikmati peran ku sebagi istri dan mencoba membuka hati, mungkin itu yang terbaik. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin bisa di ubah seperti sedia kala." Aisyah bermonolog. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya.
***
Andre yang telah keluar dari Caffe Time tersebut memilih untuk mencari tahu mengenai asal-usul Farel, dengan kekuasaan yang Papanya miliki ia bisa dengan mudah mencari tahu mengenai informasi tentang Farel. Pikirannya masih terus menuju pada Aisyah dan Farel hingga ia tak sengaja menabrak seorang wanita cantik.
"Chiieet ...."
"Bughh"
Andre yang terkejut di depan mobilnya ada wanita cantik menekan pedal rem dengan mendadak. Beruntung wanita itu tidak mengalami cidera yang serius hanya beberapa goresan karena terkena krikil kecil yang ada di samping jalan raya.
"Gawat..., gue nabrak seorang cewek." sambil membuka pintu mobil untuk melihat siapa yang baru saja Ia tabrak.
Keadaan di sekitar sedang sepi, sehingga kecelakaan itu tidak menjadi pusat perhatian warga.
Wanita itu tak lain adalah Ririn Andriani sekertaris Farel Prayoga sekaligus sahabatnya Farel. Ia ingin menyebrang tapi karena membawa barang terlalu banyak sehingga tak menyadari jika ada mobil yang mengarah kepadanya dari arah samping.
"Apa kamu baik-baik saja Nona, ayo, saya antar ke rumah sakit, luka Nona harus segera di obati." sebagai seorang pria ia tak mau dianggap pengecut, lari dari tanggung jawab apalagi yang di tabrak sangat cantik.
Ririn sendiri tak memiliki pilihan, ia tak mungkin menolak tawaran baik orang yang telah menabraknya dan mau bertanggung jawab atas itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku ikut denganmu." ia berjalan memasuki mobil Andre dengan bantuan Andre. Tibalah mereka berdua di klinik terdekat.
Ririn segera mendapat pertolongan pertama, untung saja lukanya tidak parah. Jika tidak maka apa jadinya si Andre ia bisa saja masuk penjara.
"Oh ya, namaku Andre, maaf membuatmu terluka." ia memanfaatkan kesempatan ini untuk berkenalan. Yang di depannya sekarang ini adalah wanita cantik, tak mungkin Andre lewatkan, secara dia kan playboy cap kadal.
"Aku Ririn, kamu tak sepenuhnya salah, aku juga salah karena tak memperhatikan jalan dengan betul. hingga tertabrak olehmu, terimakasih karena sudah mau bertanggung jawab atas insiden ini." Ririn yang merasa tak enak karena ia juga bersalah atas apa yang menimpanya.
"Untuk menebus kesalahanku, aku traktir makan bagaimana?"
"lain kali saja, aku sedang sibuk, nggak papakan." Sebenarnya tak emak menolak ajakan orang, tapi bagaimana lagi Ririn tak membuat adiknya menunggu di rumah.
Andre sedikit kecewa karena mendapat penolakan, tapi ia tetap menampilkan senyum untuk memikat mangsa barunya.
"Baiklah, tapi janji ya kapan-kapan mau aku traktir."
"Aku nggak janji, akhir-akhir ini pekerjaanku banyak. Aku balik dulu."
Cewek ini sepertinya boleh juga, Cantik, bisa dijadikan pacar. Gantikan Aisyah yang sok cantik itu.
***
Aisyah turun menuju meja makan, disana sudah ada Farel yang menunggu Aisyah dengan berbagai hidangan yang telah disediakan oleh Bik Sumi.
"Kau benar Aisyah, masakan bik sumi tidak kalah sama restoran bintang lima. Tapi masih lezatan masakan kamu kok. Makanlah kau pasti sudah lapar." Farel telah menyiapkan satu piring khusus tentunya dengan lauk kesukaan Aisyah.
"Lalu apa kamu juga mau makan?"
"Tidak, aku hanya ingin menemanimu makan, cepat makanlah sudah aku hangatkan kok jadi kamu nggak perlu khawatir makanannya sudah dingin."
Lagi-lagi Aisyah terkejut, Suaminya ini ternyata sudah mengetahui kebiasaan Aisyah saat makan.
"Darimana kamu tahu kalau aku suka makanan hangat?"
Farel tersenyum."Tentu aku tahu, apa yang tidak aku tahu tentang istriku ini."
mendengar kata Istriku dari mulut Farel, membuat Aisyah sedikit tersenyum namun ia menyembunyikannya.
"Pasti Papa yang menceritakan semuanya." masih menikmati makanannya dengan lahap.
__ADS_1
Tiba-tiba handphone Farel berdering tertera nama Ririn yang memangil.
"Hallo, Pak Farel sepertinya saya besok tidak bisa meninjau lokasi yang akan di jadikan panti tersebut, Saya sedang mendapat musibah habis kena kecelakaan kecil, maaf Pak, sepertinya Bapak sendiri yang harus turun tangan menanganinya besok."
"Jika kamu tak bisa melakukannya tak apa, aku saja yang akan turun ke lapangan sekaligus sosialisasi dengan warga sekitar."
"Yasudah Pak saya mau beristirahat mungkin besok saya masih belum bisa masuk kantor. Baik Pak saya hanya mengabarkan itu." Ririn menutup panggilannya. Sebenarnya sayang jika tak masuk kantor, ia tak bisa melihat wajah tampan pujaan hatinya, namun keadaan yang terluka tak mungkin baginya untuk bekerja.
"Besok kamu ada kelas kuliah apa tidak?, jika tidak, mau ikut aku untuk melihat lahan yang akan di jadikan Panti Asuhan, letaknya di tengah perkampungan." Farel sangat berharap Aisyah mau ikut dengannya.
"Kenapa memilih lahan itu, kenapa tidak di tempat ramai saja."
"Perkampungan bukan berarti harus berada di tempat terpencil, itu letaknya masih ramai penduduk, lagi pula jika di perkampungan anak-anak akan lebih tenang dalam belajar. Kamu serahkan saja padaku aku akan memberikan yang terbaik untuk pembangunan panti tersebut."
"Baiklah, besok aku ikut mumpung nggak ada kelas."
𝘠𝘦𝘴, 𝘺𝘦𝘴, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪, Farel berkata dalam hati.
Malam hari Farel masih setia menatap bintang-bintang yang bersinar terang menunjukkan keindahannya, terkadang ada yang membentuk huruf.
"Kamu sedang apa di sini, sudah malam tidurlah!" Aisyah menghampiri Farel.
"Kemarilah, hari ini pemandangannya sangat indah, kata orang jika orang terdekat kita telah tiada maka dia akan menjadi salah satu dari beribu bintang di langit." pandangan Farel tak lepas dari langit.
"Sungguh, apa Papa juga berada di antaranya, lalu bagaimana cara mengenali bintang milik Papa?" Aisyah merasa antusias mendengar apa yang di katakan Farel kepadanya.
"Katanya, bintang yang mengeluarkan cahaya paling terang itu adalah orang terdekat kita yang telah tiada."
"lihat itu ada satu bintang yang bersinar dengan terang." Aisyah dan Farel memandang ke langit, menunjuk satu bintang yang paling terang.
"Semoga Papa bahagia di sana, Aisyah akan selalu mendoakan Papa." tak terasa Aisyah menitihkan air mata mengingat Papanya.
Farel menarik Aisyah untuk menghadapnya."Jangan bersedih, kesedihan tidak cocok untuk istri secantik kamu, tersenyumlah untuk Papamu, tunjukkan kalau kamu bahagia meski Papa tidak bersama kita lagi. Masih ada aku yang akan membuatmu bahagia." Farel membawa Aisyah kedalam dekapannya, memberikan rasa aman dari pelukannya.
Malam ini menjadi malam yang indah, kata-kata yang di ucapkan Farel mampu menyentuh hati Aisyah.
"Jangan pernah tinggalkan aku seperti mereka yang telah pergi untuk selamanya."
"Tidak, tidak akan pernah. Aku akan selalu bersamamu sekarang dan selamanya."
__ADS_1
Angin sudah semakin dingin, mereka memutuskan masuk untuk mengistirahatkan tubuh mereka menuju ke alam mimpi.
Malam ini Farel tidur dengan memeluk Istrinya membawanya pada posisi ternyaman. Tak lama mereka sudah terlelap hingga Suara adzan subuh membangunkan Farel, sebagai Suami Ia ingin membimbing Aisyah menjadi Istri solehah, menjadi imam yang baik untuk Aisyah. Farel membersihkan diri kemudian membangunkan Aisyah yang masih tertidur untuk menjalankan sholat subuh berjamaah. Tak begitu sulit membangunkan Istrinya itu karena Aisyah juga sudah terbiasa bangun subuh meski kadang masih terlewat akibat rasa malas, tapi dengan adanya Farel sepertinya Ia lebih mudah menjalankannya.