
Dengan senyum liciknya, Ririn sudah menyiapkan rencana pada saat ia pergi dengan Farel ke Bandung.
"Rencanaku dan Andre akan berhasil jika Aisyah masih belum mengetahui jika aku dan Farel akan pergi ke Bandung besok. Semoga keberuntungan berpihak kepadaku." do'a Ririn. Ririn ingin membuktikan dialah yang lebih baik dibanding Aisyah.
Hari sudah pagi, Farel sudah bersiap-siap sendiri sengaja ia tidak meminta Aisyah menyiapkan karena tidak mau menganggu Istrinya yang sedang tertidur pulas dengan dengkuran halus yang masih menyertainya.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Cahaya matahari juga sudah menimpa dirinya memberikan kehangatan pada wajahnya. Aisyah mulai mendapatkan kesadarannya, saat membuka mata orang pertama yang ia cari adalah Farel.
Meraba tempat tidur Farel, "Dimana Farel, apa dia sudah bangun. Kenapa tidak membangunkan ku. Pasti sekarang dia sedang berada di bawah, atau di ruang kerjanya. itu kebiasaannya bukan setiap bangun tidur kalau tidak berolahraga di teras ya memeriksa File untuk meeting."
Aisyah memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Hari ini Aisyah ada kelas pagi dan Ia tak bisa terlambat sebab dosen yang akan mengajar adalah dosen Ariani s. pd.
yang terkenal akan kedisiplinan nya.
Setelah selesai ia menyusul Farel turun.
Ia mulai mencari dimana keberadaan Farel.
𝘋𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵. 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳. Aisyah memilih untuk turun.
Farel yang sudah rapi dengan pakaian jas serta dandanan yang menawan sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Istri tercintanya. Sekalian ingin membujuk Aisyah untuk mengizinkannya pergi ke Bandung, semua itu Ia lakukan agar rumah tangganya tidak memiliki celah untuk siapapun masuk dan merusak kebahagiaan mereka.
"Ternyata suamiku yang tampan ini ada disini. Kenapa pagi-pagi begini kamu sudah rapi, tampan pula. Memang mau kemana?" tanya Aisyah, ia merasa Farel akan pergi.
Farel dengan sedikit gugup, mengatakan yang sejujurnya pada Aisyah.
"Aku... aku harus pergi ke Bandung, hanya tiga hari Aisyah, aku janji setelah aku mengurus masalah di sana aku akan segera kembali untukmu." Farel mengatakan dengan penuh harap Aisyah akan mengerti, mengerti jika memang ini murni karena tugas bukan yang lain.
"Lalu kenapa baru cerita sekarang, kan bisa ceritanya saat kita makan malam. pasti aku akan_" Aisyah menggantung ucapannya.
__ADS_1
Melihat sikap Aisyah yang tak marah, Farel menduga Aisyah memberinya izin untuk pergi.
"Memang kamu akan apa, hayo akan apa, katakan jangan sembunyikan apapun dariku." Goda Farel. Farel merasa Aisyah hendak mengatakan sesuatu namun ia tahan.
"Tidak ada, aku akan menyiapkan keperluanmu selama di sana, sehingga kamu bakalan nyaman di sana, awas saja kalau kamu berani macam-macam di sana." gertak Aisyah dengan tatapan mengerikan. Ia tak mau berprasangka buruk kepada Suaminya selama Farel tidak menghianati kepercayaannya Aisyah akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Farel.
Tapi di dalam hati Aisyah juga khawatir dengan Farel, takut jika ia tergoda dengan wanita lain saat tidak ada dirinya di sampingnya. Farel yang mengetahui kecemasan Aisyah berusaha meyakinkannya.
"Kamu tenang saja, aku di sana akan menjaga mata dan juga hatiku. Kamu tahu nggak hatiku ada dimana,? Hatiku ada di sini di dalam hatimu." ucap Farel sambil memegang tangan Aisyah dan meletakkan di jantungnya. Seketika senyuman terbit di wajah Aisyah yang sudah cantik dengan polesan make-up tipis.
"Kamu bisa saja merayunya, tapi aku suka." Aisyah tersenyum.
"Tunggu, kamu pergi sama siapa ke sana, jangan bilang kamu pergi sama sekertaris kamu yang sekaligus temen kamu itu. Kalau kamu pergi sama dia nggak aku bolehin ya." Aisyah khawatir Ririn akan mengambil kesempatan untuk bisa dekat dengan Farel.
"Memang aku akan pergi sama siapa jika bukan sama Ririn, Aisyah, dia sekertaris ku, perannya juga penting dalam meeting kali ini. Kamu tahu Ririn lah yang sudah memenangkan proyek kemarin, dan Klein kita meminta Ririn untuk ikut serta dalam kerjasama kita." jelas Farel. Farel sendiri hanya menganggap Ririn sebagai sahabat baik, dan tak akan pernah berubah.
"Jangan seperti itu, sayang. Percayalah tidak ada hubungan apapun antara aku dan Ririn. hanya kamu satu-satunya pemilik hatiku. Izinkan aku pergi ya, hanya tiga hari." Farel masih membujuk Aisyah dengan kelembutan, berharap Aisyah memberinya izin.
Aisyah diam sejenak, ia berpikir jika Ia sampai mengizinkan Farel pergi dengan Ririn yang mengaku teman tapi menyukai bosnya itu bisa-bisa Ia kecolongan nantinya. Tapi jika Ia melarang Farel pergi, itu akan membuat kerugian pada perusahaannya, itu pilihan yang berat untuk Aisyah. Keduanya adalah sesuatu yang penting untuk Aisyah, ia binggung harus memilih mementingkan urusan pribadi atau urusan perusahaan yang akan berlangsung.
"Katakan sayang, apa kamu mengizinkan aku pergi, ini sangat penting, jika tidak aku tidak akan pergi." Farel mulai pasrah dengan jawaban Aisyah, jika istrinya tidak mengizinkan bagaimana lagi, Farel sudah membujuknya dari tadi.
"Oke, kamu boleh pergi. Bagaimanapun aku harus ikut membantu jika ada masalah apapun di perusahaan. Jika pilihannya kamu harus pergi, maka pergilah." Aisyah memaksakan tersenyum, ia tak mau terlalu egois dalam rumah tangga.
"Baiklah, jika kamu mengizinkan aku lega jadinya. Kamu jaga diri dan jangan pulang terlalu malam, Jika kamu butuh sesuatu panggil saja Fandi. Dia yang akan melindungi mu selama aku pergi." Farel mempercayai Fandi akan menjaga Aisyah dengan baik.
"Baik Pak Farel, dengan tangan di atas kepala menandakan hormat Aisyah mengangguk dengan tersenyum. Aku akan baik-baik saja di rumah. Jangan lupa memberi kabar kepadaku setelah sampai." kini Aisyah hanya berharap Farel menepati janjinya.
Mereka sarapan pagi bersama menikmati setiap menit bersama sebelum Farel pergi ke luar kota. Aisyah sebenarnya berat untuk melepas Farel disaat rumah tangganya baru membaik, ia begitu khawatir jika Farel tergoda wanita lain saat jauh dari Aisyah, terutama tergoda oleh Ririn yang memang memiliki perasaan pada Farel.
__ADS_1
Hingga waktu menunjukkan pukul setengah delapan, artinya Aisyah ataupun Farel harus segera pergi.
"Aku akan mengantarmu ke kampus setelah itu akau akan pergi ke bandung."
"Tidak, aku yang akan lebih dulu mengantarmu ke kantor sekalian melihat-lihat keadaan kantor." ucap Aisyah beralasan. Aisyah sebenarnya ingin mengetahui siapa saja yang akan pergi dengan Suaminya. Sekaligus ingin memperingatkan Ririn, jika Ririn ingin bermacam-macam ia memilih lawan yang salah.
"Bukankah hari ini kamu ada kelas dengan dosen yaang katamu sangat disiplin, kalau kamu mau mengantarku nanti kamu terkena hukuman Aisyah dan aku nggak rela kamu dihukum." Farel mencoba membuat Aisyah mengerti.
"Tenanglah aku akan atur soal itu nanti, sekarang yang terpenting aku antar kamu ke kantor." Aisyah tetap memaksa. Lagi-lagi Farel hanya bisa pasrah dengan kemauan istrinya.
"Baiklah nyonya Farel, seperti keinginan mu."
Setelah berdebat, akhirnya mereka pergi ke kantor. Aisyah sangat yakin jika Ririn memiliki niat yang tidak baik mengenai kepergian mereka ke Bandung.
Tak lama mereka tiba di kantor,
"Sekarang berangkatlah ke kampus sebentar lagi kelas mu akan dimulai." Farel memperingatkan Aisyah.
"Sebentar, sepertinya aku harus ke toilet, aku kebelet ini, boleh ya." Pinta Aisyah ini adalah kesempatannya untuk bisa menemui Ririn di ruangannya.
Farel dan Aisyah menuju ruangan Farel, Farel harus menyiapkan beberapa File sebelum pergi ke luar kota, meskipun sudah disiapkan oleh Ririn, tapi Farel harus memastikan kembali Dokumen tersebut tidak kurang satupun.
Aisyah sengaja masuk ke dalam kamar mandi dan berpura-pura melakukan Aktivitasnya di kamar mandi. Setelah keluar Ia tidak melihat Farel di dalam ruangan, sepertinya Farel sedang meminta laporan kepada manager kantor di lantai bawah.
𝘐𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮-𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭. Aisyah berucap dalam hati.
Aisyah pergi keruangan Ririn dengan dima-diam, kebetulan Ririn sedang berada di dalam ruangannya sedang mempersiapkan beberapa file.
Farel sendiri tidak mengetahui persaingan antara istrinya dan sekretarisnya.
__ADS_1