Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Menghabiskan waktu bersama


__ADS_3

"Memang terdengar aneh mas, lagi pula mana mungkin ibu itu adalah orang Tua mas Farel, bukankah mas pernah mengatakan jika orang tua kandung mas sudah meninggal karena kecelakaan?"


"Mereka bukan orang tua kandungku Aisyah, sebelum meinggal ayah pernah bercerita jika aku di temukan dan di rawat oleh mereka, sebenarnya mereka tidak bisa memiliki keturunan, maka dari itu saat mereka menemukanku, mereka berniat merawatku sebagai anaknya sendiri."


"Aku cukup beruntung, meskipun sampai saat ini aku masih belum menemukan orang tua kandungku yang sebenarnya, setidaknya aku masih memiliki mereka sebagai orang tua angkat ku. Bukankah itu kenyataan yang pahit, yang harus aku Terima dan jalani dengan suka rela!" tandas Farel.


Ada gurat kesedihan yang sangat terlihat di wajah Farel, "Maaf mas, seharusnya aku tidak membahas masa lalu mas, sudah, sekarang mas Farel jangan bersedih, aku tak mau melihat ketampanan suamiku ini berkurang.


"Kamu selalu bisa menghiburku Aisyah, dikala aku sedang ada masalah juga sedang bersedih kamu selalu ada di sampingku aku sangat bersyukur untuk itu. Jangan pernah pergi darimu ya!" Farel menatap Aisyah lekat, netra mereka saling berhadapan, senyuman manis kemudian menghiasi wajah Aisyah.


"Bagaimana aku bisa meninggalkan pria yang sangat aku cintai, sangat menghargaiku, sangat mencintaiku, dan selalu melindungiku dari setiap masalah, kamu adalah pria yang sangat sempurna untukku mas."


"Lalu, apa aku tidak tampan?"


"Ketampanan itu merupakan bonus untukku, andai mas Farel tidak tampan tapi memiliki hati nak malaikat pasti aku akan tetap jatuh cinta kepadamu Mas."


"Bukankah cinta di lihat dari hati bukan dari wajah, jika dari wajah siapapun pasti akan tertipu oleh cinta." jelas Aisyah panjang lebar.


"Baiklah bu guru cantik."


"Ihh... gombal deh!"


"Tapi kamu suka kankan?"


𝘚𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘪 𝘨𝘰𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘪𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢.


"Sudah, apa sekarang kita bisa turun, hari sudah hampir gelap. Aku juga lapar!"


"Baiklah, kita turun, begini-begini meskipun aku marah sama Mas Farel, aku tetap masak makanan kesukaan Mas Farel kok, aku baik kan!" puji Aisyah pada diri sendiri.

__ADS_1


"Iya, istri Mas memang paling cantik dan t o p!"


Senyum manis tak pernah meninggalkan wajah Aisyah saat ini, seakan ulah sekecil apapun dari Farel mampu menghadirkan senyuman manis di wajah Aisyah.


"Bagaimana mas apa rasanya enak, ini adalah menu terbaru dariku, kalau nggak enak mas bilang aja langsung, nanti aku perbaiki apa yang kurang."


Farel mulai mengunyah makanan buatan Aisyah, menikmati rasa sambil mencari tahu apa yang kurang.


"Sepertinya ini kurang...."


"Kurang apa mas?" tanya Aisyah tidak sabar.


"Kurang banyak, hahaha... pasti kamu deg-degan ya, soal memasak kamu tak perlu khawatir Aisyah, makanan apapun yang kamu masak pasti rasanya enak, bukankah aku pernah bilang kalau kamu lebih cocok jadi seorang chef!"


"Benar mas ya, nggak ada yang kurang dari masakan aku kali ini?" Aisyah memastikan perkataan Farel.


"Suer..." dengan gaya dua tangan terangkat membentuk huruf V.


Farel melonggo mendengar perkataan Aisyah yang memintanya menghabiskan makanan yang tersaji di depannya. Bukan apa, tapi perut Farel saat ini sudah terasa penuh, tak ada tempat untuk menampung makanan yang sangat lezat dan menggoda ini. "Sepertinya aku harus menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Farel lirih, ia tak mau melihat senyum Aisyah luntur, karena makanannya tak habis.


"Apa tidak bisa besok saja perginya, ini sudah malam, lagipula tak ada yang bekerja pada malam hari mas!"


"Aku tak akan pergi ke kantor, aku hanya akan mengerjakan di ruang kerjaku, kamu tidak masalah kan Aisyah?" Farel baru teringat jika ia harus menyiapkan berkas-berkas yang harus di tanda tangani oleh Alex, rekan bisnis barunya.


Bicara mengenai Alex, Farel teringat jika ia diberi nomor telepon Alex, dengan tujuan mereka bisa menjadi teman dekat, saling bertukar pendapat dan saran pasti akan sangat menyenangkan memiliki sahabat baru.


Dreerttt....


Dreertt....

__ADS_1


Handphone milik Farel berdering, nama yang tertera adalah Maya.


"Hah... untuk apa Bu Maya menelfon ku malam-malam begini." Farel memilih menerima panggilan dari pada menolak, siapa tahu ada hal penting yang mau di bicarakan.


"Iya bu, ada apa? apa preman itu masih mengganggu ibu lagi?" Farel takut jika Bu maya menelfon maka dia di ganggu kembali oleh para preman itu. Sebelumnya Farel telah berpesan, jika ada yang menganggu maka Maya boleh meminta bantuannya. Maya yang terpesona akan kebaikan anak laki-laki sepantaran dengan putranya yang hilang itu berusaha untuk lebih dekat dengan Farel.


"Tidak, ibu sudah di rumah, lagian mana mungkin preman itu mengejar ibu sampai rumah, kan nggak mungkin, Farel." Maya terlihat begitu akrab dengan Farel meskipun mereka baru kenal.


"Ibu hanya ingin berterimakasih, serta mengundang kamu makan malam, apa bisa?" tanya Maya, ia berharap Farel akan datang ke rumahnya.


"Em... Maaf Bu kalau malam ini sepertinya saya tidak bisa, masih ad ape kerjaan yang harus saya selesaikan, mungkin lain kali saja bagaimana?" Farel menolaknya dengan halus.


"Oh begitu ya, yasudah jika kamu tidak bisa, lain kali juga boleh, tapi nggak boleh kalau nggak datang. Janji ya?"


"Iya Bu, saya akan usahakan datang." Farel tak mau membuat ibu Maya kecewa, melihat sikap beliau yang baik hati rasanya tak tega untuk mengecewakannya.


"Yasudah kalau begitu Ibu hanya ingin mengatakan itu."


Pangilan pun berakhir, Farel tersenyum sendiri kala mengingat senyuman tulus ibu yang tadi siang Farel tolong, seakan mengingatkannya pada sisik ibu angkat yang menyayanginya sewaktu kecil.


Aisyah yang melihat suaminya tersenyum sendiri di ruang kerjanya saat mengantarkan kopi permintaannya merasakan heran.


"Kenapa mas ko k senyum-senyum sendiri, ntar kesambet loh?"


"Tidak ada, bari saja aku di telfon sama ibu-ibu yang tadi siang aku tolongin, dia ngundang kita buat makan malam, tapi ya aku tolak secara halus." Farel menjelaskan dengan lembut, berharap Aisyah tidak salah Faham.


Seperti dugaan Farel salah, Aisyah kini bukanlah Aisyah yang mudah cemburu, ia kini belajar lebih dewasa dengan mengutamakan penjelasan, daripada mempercayai tanpa mengerti apa dan bagaimana masalah yang di hadapi.


"Kamu tidak marah kan?"

__ADS_1


"Untuk apa aku marah mas, bukannya mas sudah menjelaskan semuanya, oh ya kapan-kapan aku juga ingi bertemu dengan beliau dong, ajak aku ya mas saat menemuinya. Siapa tahu kita cocok jadi teman."


"Iya, makasih untuk kopinya, rasanya manis semanis cinta kita."


__ADS_2