
Farel yang mendengar hal itu membulatkan mata, "Mengapa Ririn mengigau namaku, aku dengan dia tidak memiliki hubungan apapun selai persahabatan. Apa... tidak mungkin itu terjadi, dia tidak pernah mengatakan apapun kepadaku." Farel terlihat berpikir. "Tapi selama ini sikapnya memang sedikit berbeda dari sebelum aku menikah. Apa jangan-jangan...." Farel mengantungkan ucapannya, Ririn mengeliat, mengubah posisinya, hingga Farel bisa melepaskan tangannya dari tindihan Ririn. Setelah itu Farel kembali ke kamarnya. Memilih membersihkan diri kemudian tidur. Farel ingin sekali melupakan kejadian di kamar Ririn juga perasangkanya kepada Ririn, tapi tetap saja itu mengganggunya. "Jika dilihat diperhatikan dari sikapnya, Ririn memang terlihat menaruh perhatian lebih kepadaku, Apa lebih baik aku tanyakan langsung kepadanya, tapi jika dugaanku salah, aku sendiri yang malu. karena mengira dia menyukaiku." Farel terlihat binggung. Farel memilih memejamkan mata, berharap istrinya tercinta hadir dalam mimpi indahnya.
Matahari pagi sudah muncul menempatkan sinar jingga di pagi hari. Menghangatkan serta menyejukkan. Farel yang masih tertidur memilih menarik selimut untuk melanjutkan tidurnya. Hari ini Farel terlambat bangun, badannya serasa remuk ia membutuhkan belaian dan pijatan dari sang Istri.
"Andai kami disini, pasti aku sangat senang bisa bekerja sekaligus berbulan madu denganmu, Aisyah." Farel bermonolog.
Farel berjalan ke arah balkon, melihat pemandangan sekitar, yang terasa masih sangat sejuk dengan embun di pagi hari.
Di kamar Ririn,
Ririn terbangun dan dia terkejut mendapati dirinya susah berada di kamarnya, semalam seingatnya dia masih menunggu Farel selesai menelfon Istrinya, "Apa... Farel yang memindahkan aku ke kamarku. Apa betul dia yang melakukannya." Ririn tampak sumringah memikirkannya. Setelah itu Ririn memilih membersihkan diri dan memesan makanan untuk ia makan bersama dengan Farel, sekaligus Ririn ingin makan berduaan dengan Farel. Tak lama pesanan Ririn datang. Dua buah nasi padang dengan daging rendang yang mengoda membuat Perut Ririn meronta minta diisi. Ririn kemudian membawanya ke kamar Farel. Karena sudah dekat dengan Farel, Ririn masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Farel, aku datang membawa makanan, kita makan yuk...." ajak Ririn.
Farel yang mendengar panggilan dari Ririn, terkejut. "Lebih baik aku tanyakan saja, agar pikiranku juga lebih tenang. jikalau pun dugaanku salah setidaknya aku merasa lega, jujur hati ini sudah menjadi milik Aisyah seorang." Farel berjalan menghampiri Ririn yang sudah duduk di sofa. Ririn tersenyum kepada Farel, senyuman itu penuh dengan tatapan cinta, entah Farel merasakannya atau tidak Ririn tetap memperlihatkannya. "Tumben, pagi-pagi sudah pesan makanan, biasanya kamu makannya agak siangan." tanya Farel merasa heran dengan sikap Ririn.
"Iya ini sepesial untuk kita, sekaligus aku mau berterimakasih untuk yang semalam." Ririn berucap sambil membuka makanan yang akan mereka makan.
__ADS_1
Farel masih terdiam memilih kata-kata yang akan dia sampaikan kepada Ririn.
Ririn pun merasa ada yang aneh dari Farel, tidak biasanya Farel diam, biasanya juga banyak bicaranya, tidak seperti sekarang.
"Hai..." Ririn mengenggam tangan Farel, "kamu kenapa dari tadi aku perhatikan kamu banyak diam. Apa kau sakit." Ririn menyentuh kening Farel. Ririn semakin dibuat binggung dengan sikap Farel yang pendiam.
Sedangkan Farel yang mengamati dengan jelas perlakuan Ririn kepadanya sudah bisa menyimpulkan jika Ririn memang menaruh hati kepadanya. Melihat Farel masih diam, akhirnya Ririn pun ikut diam, mereka menikmati sarapan pagi dengan diam satu sama lain.
Selesai makan, Farel mengajak Ririn untuk mengobrol sebentar. berdiri di balkon, Ririn menghampiri dari belakang, "Kamu mau bicara apa Farel,? apa ini mengenai Aisyah?" tebak Ririn. Ririn sangat senang jika Farel curhat kepadanya mengenai masalahnya dengan Aisyah, dengan begitu Ririn bisa tahu sejauh apa kedekatan hubungan mereka.
"Bukan, ini masalah lain. Aku _"Farel menggantung ucapannya.
"Aku ingin tahu, sebenarnya apa perasaanmu kepadaku. Apakah kamu menyukaiku atau itu hanya dugaan ku saja. Jujur itu sangat mengangguk sekarang." Farel beralih menatap Ririn mencoba mencari kebenaran dari ucapan dan matanya. "Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu." tanya Ririn, Sebenarnya ia ingin sekali menjawab iya, tapi di tahan karena Ririn ingin tahu alasan dia menanyakan itu. Apakah karena Aisyah atau pendapatnya sendiri.
"Aisyah tidak ada dalam semua ini, semua itu hanya dugaanku saja. Apa benar yang aku katakan, jawab jujur, Rin. Aku tidak mau di antara kita ada kebohongan. Jadi katakan sejujurnya aku tidak akan marah." Farel hanya ingin mengetahui yang sebenarnya.
Untuk sejenak, Ririn terlihat mengatur nafas, menghembuskannya dengan perlahan. "Ya, aku memang mencintaimu, sejak dari awal kita bertemu aku sudah menyukaimu. Aku tahu hubunganmu dan Aisyah tidaklah berjalan dengan normal, banyak yang terjadi di antara kalian." Ririn menatap Farel sendu.
__ADS_1
Mendengar penuturan Ririn, Farel sangat terkejut, ia tak mengira perhatian yang selama ini di dapat dari Ririn adalah cinta untuknya, sedangkan Farel sendiri tak memiliki perasaan apapun pada Ririn.
"Tapi kamu tahu kan aku sudah beristri dan aku ini atasanmu. Jika boleh aku minta, lupakan perasaanmu kepadaku, hubungan kita akan tetap sebagai sahabat tidak lebih. Mengertilah Aku tidak mungkin menyakiti perasaan Aisyah. Karena aku sangat mencintainya." Jelas Farel, berharap Ririn mengerti posisinya.
Ririn tak menyangka, Farel akan meminta hal yang sangat sulit Ririn lakukan. Melupakan cinta pertama adalah hal yang cukup sulit terlebih jika itu adalah pertama kali seseorang merasakan jatuh cinta.
"Aku nggak bisa, Farel. Aku udah pernah coba dan aku gagal. Rasa ini tetap ada, bahkan semakin besar untukmu." tak terasa bulir bening menetes dari mata Ririn.
"Tetap saja Ririn, rasa itu salah. Aku mohon coba lakukanlah sekali lagi, aku yakin kamu bisa melupakanku." pinta Farel, ia tak ingin persahabatannya hancur hanya karena cinta.
Ririn semakin hancur mendengar permintaan Farel. Melihat itu hati Farel ikut terluka, tapi apalah daya itu semua resiko yang harus Ririn tanggung. Sebelum semuanya semakin tidak terkendali, maka Farel harus bisa menghentikan kegilaan Ririn yang mengharapkan cintanya.
"Menangislah jika kamu ingin menangis, luapkan semua rasa yang menyakitimu. Aku harap setelah kamu tenang kamu bisa berpikir dengan jernih, maafkan aku Ririn, mungkin aku juga salah telah membiarkanmu terlalu dekat denganku, seharusnya aku memberi batasan setelah aku menikah. Pasti semua ini tidak akan terjadi." Farel meninggalkan Ririn yang masih sedikit terisak, ia ingin memberi ruang untuknya berpikir. Aku akan pergi sebentar, setelah ini kita akan kembali ke Jakarta." mengusap punggung Ririn supaya ia lebih tenang. Farel pergi meninggalkannya sendiri.
Ririn hanya terdiam. Bagaimanapun Ririn sebenarnya orang baik sebelum ia di hasut oleh Andre untuk mendapatkan hati Farel kembali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya temanku ya.. 😊😊😊