
Farel telah sampai di restoran Permai sebelum kliennya datang. Sambil menunggu Pak Abraham datang, Farel mencoba mengontrol rasa gugupnya. Hal itu di ketahui oleh Ririn, sekertaris nya yang sekaligus sahabatnya. Jika di luar kantor, Ririn memangil Farel dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel Pak.
"Kamu kenapa Farel, kamu gugup ya ...." Ririn yang menggoda Farel, tampak tertawa kecil melihat seorang Farel, bodyguard yang ditakuti, gugup menghadapi orang yang tak dikenal.
"Bagaimana Aku tidak gugup Rin, ini proyek pertamaku loo..., Aku nggak boleh mengecewakan Tuan Wijaya Kusuma. Bagaimanapun, aku harus membuat proyek ini disetujui. Farel tampak khawatir, berulang kali ia melirik jam di tangannya.
"Tenang Farel, Aku dengar Pak Abraham itu orangnya enjoy kok..., jadi kamu nggak usah khawatir berlebih, Tenang oke ...." Ririn mencoba menenangkan Farel yang gugup.
Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan bisa membuat Farel sedikit lebih tenang.
"Aku harus membuktikan pada Tuan Wijaya dan Aisyah, bahwa aku bisa diandalkan. Mereka sudah mempercayakan perusahaannya kepadaku, aku tak boleh mengecewakannya." ucap Farel memberikan semangat pada dirinya sendiri.𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘞𝘪𝘫𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘥𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢. Farel mencoba memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas limapuluh artinya sepuluh menit lagi kliennya datang.
***
Aisyah tiba di kampus, ia sangat senang bisa berkumpul dengan kedua sahabatnya dan berjumpa dengan teman se kuliahnya lagi.
"Hai..., Apa kabar kalian, Apa tak ada yang merindukan, Aku?" Aisyah berjalan ke arah kedua sahabatnya yaitu Vika dan Vita. Dengan sedikit berlari Aisyah menghampiri mereka berdua yang sedang asik bergosip. Persahabatan yang dibangun sejak duduk di bangku SMA itu sangat kuat.
"Hai..., Aisyah, lo sudah masuk kuliah, gimana keadaan lo?" Vika memeluk Aisyah untuk melepas rindu pada Aisyah yang izin beberapa hari.
"Kita turut berduka, atas meninggalnya bokap lo. Sorry, kita kemarin nggak bisa datang, Gue ada di semarang, soalnya ada acara keluarga." Vita memberikan alasan kenapa tidak bisa menghadiri pemakaman Pak Wijaya Kusuma.
__ADS_1
"Iya nggak pa-pa kok." Aisyah melepas pelukannya. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat yang sangat sayang dan perduli kepadanya. Pada merekalah Aisyah menceritakan keluh kesahnya dan rahasia yang dimiliki.
"Kita ke kantin yuk, cari makan, sekalian ngobrol di sana, banyak hal yang ingin kita tanyain ke lo." Vika bersuara, ia ingin mengetahui yang sebenarnya langsung dari mulut sahabatnya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin kampus, sambil sesekali bergurau.
Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan Ringan, hanya untuk menemani mereka mengobrol. Banyak hal yang mereka bahas, termasuk gosip pernikahan Aisyah dengan Bodyguard Papanya sendiri.
"Emang lo beneran, nikah sama Bodyguard Papa lo, Aisyah?" Vika yang tak sabar ingin mendengar cerita lengkap dari sahabatnya langsung menanyakan mengenai pernikahannya.
"Ya...gimana lagi, Itu semua karena permintaan Papa gue. Padahal, lo tau sendiri, kalau gue saat itu masih pacaran sama Andre. Tapi Papa gue maunya yang jadi suami gue Farel, Bodyguard Papa sendiri dan gue nggak punya pilihan lain, selain ngikutin apa mau Papa gue." ingatan mengenai papanya sebelum meninggal menari-nari di kepala Aisyah.
"Ya begitulah, sekarang gue sama Farel sudah sah suami istri. Tapi kalian berdua jangan bilang siapa-siapa soal ini, malu aku kalau sampai mereka tahu suamiku seorang Bodyguard. Meskipun ujung-ujungnya mereka juga akan tahu akan setatus ku. Setidaknya untuk sekarang itu masih menjadi rahasia." Aisyah menjelaskan dengan sedikit berbisik, berharap mereka mengerti keadaannya.
"Jadi lo beneran, sudah menikah sama siapa tadi nama suami lo?"ucap Vita ingin tahu.
"Nama yang cukup bagus, pasti orangnya juga Tampan. Sampai-sampai papa lo mau menjodohkan lo dengan Si Farel ini." Vika membayangkan ketampanan dari suami Aisyah.
"lalu gimana sama Andre pas lo tinggal nikah? kalau gue sih, bersyukur, lo nggak nikah sama si Andre, tapi nikah sama Farel. Kita kan udah pernah kasih tau elo, kalau Andre itu playboy cap badak, tapi lo nya aja yang nggak percaya, alias cinta buta sama Andre. Sekarang takdir sendiri yang memisahkan lo sama Andre." ucap Vita mengingat temannya ini sangat mencintai Andre dengan buta. Sampai peringatan temannya ia abaikan.
"Iya...iya...gue salah. Namanya juga orang lagi jatuh cinta, ya semuanya yang dia lakukan akan kita anggap baik." Aisyah melakukan pembelaan diri. Bagaimanapun Andre pernah mengisi hari-harinya. Meski baru sekarang Ia tahu kebusukan Andre yang memiliki kekasih lain di belakang Aisyah.
"Tapi kenalin dong ke kita suami lo. kitakan pengen tahu wajah suami lo, siapa tahu dia orangnya baik. Kalau dia baik berarti papa lo nggak salah pilih pasangan hidup buat lo." Vika penasaran dengan wajah Farel, suami Aisyah. Yang bisa merebut hati Pak Wilayah itu artinya dia benar-benar baik.
"Terserah kalian saja lah ...." Aisyah membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Aisyah, gue mau minta tolong dong, nanti pulang kuliah kita mampir ke toko buku ya. Gue mau cariin buku buat hadiah ulang tahun adik gue yang ke 18 tahun, dia suka cerita novel soalnya. lo kan juga pecinta novel jadi gue nggak susah pilih novelnya kalau sama lo." ucap Vika bersemangat, karena hari ini adiknya berulangtahun.
"Oke... gue temenin ke toko buku." Aisyah menerima ajakan Vika. Sekalian ia juga ingin lihat-lihat apa ada novel terbaru yang ia sukai.
"Lo emang temen gue yang paling the best deh." Vika memeluk Aisyah dengan penuh semangat.
***
Akhirnya klien yang di tunggu datang juga.
"Selamat siang Pak Farel, sepertinya Bapak lebih dulu tiba di sini." Pak Abraham sekedar berbasa-basi.
"Tidak apa kok pak, saya memang lagi nggak sibuk, jadi bisa datang lebih awal. Pak Abraham mau minum kopi, saya pesanan, kebetulan tadi saya sudah pesan terlebih dahulu sebelum Bapak datang, hanya saja belum datang, mungkin karena ramai pembeli jadi sedikit terlambat." Farel bisa menguasai keadaan hingga rasa gugupnya hilang.
"Boleh, kopinya satu tidak terlalu manis. Biasa, saya memiliki kadar gula sedikit tinggi, jadi harus dikurangi makan yang manis-manis agar hidup tetap sehat." ucap Pak Abraham sedikit bergurau.
𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘗𝘢𝘬 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘦𝘯𝘫𝘰𝘺. Farel merasa sedikit lega.
"Baiklah Pak, mari kita mulai Meeting kita." Farel menjelaskan presentasinya dengan baik di depan pak Abraham tanpa rasa gugup dan tanpa kesalahan sedikitpun.
"Baiklah Pak, presentasi Bapak cukup menarik, saran dan keuntungannya juga juga lumayan, kalau begitu saya menyetujui proyek ini berjalan. Saya akan menjadi investor di perusahaan Pak Farel." Pak Abraham mengulurkan tangan tanda beliau menyetujuinya.
"Terimakasih Pak Abraham." Farel menerima uluran tangan Beliau, berjabat tangan sebagi tanda proyek telah disetujui.
__ADS_1