
Tangan terampil Aisyah mulai memberikan obat pada luka Farel. Mungkin karena kecapean sehingga Farel pun tak merasa ada yang mengobati lukanya.
"Gila...pulas sekali ini Bodyguard kalau lagi tidur. Tapi baguslah, ia tidak bangun saat di obati, jika tidak, habislah aku ...." Aisyah merasa malu jika sampai ketahuan. Hampir sepuluh menit Aisyah mengobati luka pada wajah Farel. Selama itu juga, Farel masih tertidur dengan nyenyak. Sambil sesekali ia mengigau menyebut nama Aisyah dalam tidurnya.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢. tanpa sadar Aisyah tersenyum.
Setelah selesai mengobatinya, Aisyah memberinya selimut, udara di luar cukup dingin. Aisyah memang belum menerimanya sebagai suami, tapi Aisyah juga tidak seburuk itu, membiarkan Suaminya terluka apalagi dia sudah menolongnya.
"Lebih baik aku masak dulu, tadi bik sumi tidak memasak untuk malam hari, karena memang kerjanya hanya sampai sore hari saja." Aisyah meninggalkan Farel yang masih terlelap dalam tidur.
"Emm...Ada ikan di kulkas, enaknya di goreng lalu dimakan pakai sambal saja ini." Ikan itu terlihat menggoda di lidah Aisyah, Ia tak sabar untuk segera memasaknya, menjadi makanan kesukaannya dan mengenyangkan perutnya yang keroncongan dari tadi.
Aktifitas di dapur mulai dilakukan Aisyah, Bau Ikan di goreng pun mulia keluar dari area dapur.
Di ruang tamu, Farel yang tertidur tiba-tiba terbangun karena bau Ikan di goreng. Itu membuat perutnya yang keroncongan menjadi sangat lapar. Penasaran siapa yang sedang menggoreng Ikan malam-malam, Farel Pergi ke dapur dengan diam-diam.
"Oh...Rupanya Aisyah yang sedang memasak...baunya wangi sekali. Aku jadi lapar, tapi apakah Aisyah akan membaginya dengan ku. Lebih baik Aku pergi, malu jika terlihat mengintip dia memasak, jika dia ingin membagi makanan itu denganku pasti akan membangunkanku, Kita lihat saja, apakah Aisyah perduli pada Suaminya ini, apa Tidak." Farel kembali ke tempat semula berpura-pura tidur lagi.
Di dapur, Aisyah telah selesai dengan aktivitasnya, tinggal menghabiskan apa yang ia masak.
"Ini sungguh menggoda bukan, ayo kita Makan." Saat suapan pertama hendak masuk ke mulut, Aisyah teringat pada suaminya.
"Apa Farel sudah makan atau belum, kasihan juga jika Ia belum makan. Aku bangunin sajalah untuk makan, apa salahnya, lagian makanan yang aku masak juga lumayan banyak. Tak mungkin aku menghabiskan semua ini sendiri. Kalau kata orang Mubasir." Aisyah bermonolog.
Farel mengintip dari cela matanya Aisyah menuju tempatnya berada. Ia tersenyum dalam hati mendapati Aisyah masih memikirkannya.
"Dia masih tertidur, sayang jika di bangunin. Tapi kasihan juga, jika tidur tanpa makan malam." ucap Aisyah.
Akhirnya Aisyah memutuskan untuk membangunkannya. Mengguncang sedikit bahunya agar terbangun.
"Bangunlah Farel, Aku sudah masak ayo kita makan." ucap Aisyah pelan.
__ADS_1
"Emm ..., ada apa Aisyah." Farel bergaya seakan dia baru terbangun dari tidurnya.
"Ayo, keburu dingin itu makanan."
"Iya-iya aku bangun."
Mereka menuju meja makan dan memulai menghabiskan makanannya.
"Rupanya kau pandai juga memasak." Farel memberi pujian pada Istrinya.
"Itu sudah dari dulu, kau saja yang tak pernah tau. Biasanya Aku memasak saat malam jika papa sedang lapar dan bik sumi nggak masak." kenangan papanya kembali melintas di kepala.
"Sudahlah Aisyah, Tuan Wijaya sudah tenang di sana, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Papamu melihatmu dari sana, Farel menunjuk ke arah jendela yang terbuka. Menampakkan langit yang dipenuhi bintang-bintang. Jika dia tahu, Aku tidak bisa membuatmu bahagia entar Tuan Wijaya datang ke mimpiku gimana, kan serem, papamu kalau lagi marah matanya melotot tajam." Farel berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Ia juga menirukan gaya Tuan Wijaya Kusuma saat marah. Hal itu berhasil membuat Aisyah tersenyum kembali.
"Mana ada papa datang ke mimpi kamu. Daripada papa datang ke mimpimu, lebih baik datang ke mimpi aku. Itu baru benar." Aisyah masih tersenyum, Farel telah berhasil mengembalikan sedikit senyuman Aisyah.
Farel yang melihat itu pun ikut tersenyum. Sudah lama Aisyah tak pernah tersenyum semenjak papanya meninggal. Makan malam pun telah usai. Mereka pergi ke kamar masing-masing. Sampai sekarang Farel masih harus tidur di kamar tamu untuk memenuhi keinginan Aisyah. Jika bukan Aisyah sendiri yang mengizinkannya untuk tidur di kamarnya, Farel tak akan memasuki kamar tersebut. Ia akan tetap menunggu Istri kecilnya itu menerimanya sepenuh hati.
Di kamar mereka cepat terlelap menuju alam mimpi masing-masing. Pagi telah datang sinar matahari menembus jendela kaca Aisyah.
Turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dan melakukan aktivitas mandinya, lalu turun ke meja makan untuk sarapan pagi.
"Eh Non Aisyah sudah bangun. Maaf Non, bibi belum masak, soalnya bibi juga baru datang habis mengantar anak bibi ke sekolah, sekalian ada urusan di sekolahnya Non." berharap majikannya tidak memarahinya karena telat datang.
"Oh...tak apa bik. Bibi sudah lama kerja di sini, masak hanya karena telat harus kena marah. Itu hanya masalah kecil bik." sambil duduk di meja makan.
Matanya tertuju pada piring yang di tutup di atas meja makan.
"Ini apa Bik?"
"Kurang tahu Non, kan bibi baru datang. Non Aisyah buka saja lihat apa isinya." Perlahan Aisyah membuka penutupnya.
__ADS_1
"Nasi goreng di tambah telor mata sapi. Ini siapa yang masak? apa jangan-jangan Farel."
"Bibi lihat Farel nggak?" tanya Aisyah.
"Sepertinya tuan sudah berangkat ke kantor Non, dan mungkin itu yang masak tuan sendiri. Sepesial gitu buat Non Aisyah." bik Sumi menggoda Aisyah.
Aisyah yang sudah merasa lapar karena bangun cukup siang, langsung menggeser kursi meja makan dan duduk tenang menyantap makan buatan Suaminya itu.
"Rupanya Dia juga jago masak, Rasanya pas, cocok juga kalau di suruh masak." menikmati suapan demi suapan yang masuk ke mulutnya.
Di kantor, Farel sendiri juga membawa separuh dari nasi goreng yang dia buat tadi pagi untuk di makan saat tiba di kantor. Sengaja, Farel tidak makan di rumah karena ada data yang harus di selesaikan untuk meeting hari ini, sedangkan, laptop yang ia pakai tak di bawa pulang karena cemas dengan Aisyah waktu itu.
Sambil makan Ia memikirkan Istrinya.
"Semoga ia suka dengan masakan yang Aku buat. Ini untuk mengawali hubungan baru kita, Aisyah. Dan Aku berharap kamu akan segera menerimaku sebagai Suamimu."
Ririn masuk ke ruangan Farel.
"Pagi Pak, Pak bambang memajukan meeting hari ini jam dua menjadi jam sebelas Pak. Apa Bapak sudah siap?" ucap Ririn.
Farel terlihat berpikir, ini adalah hari pertamanya memimpin meeting sebagai CEO perusahaan Kusuma Grup dengan perusahaan milik Pak Abraham, untuk mewujudkan proyek besar yang akan segera mereka buat jika Pak Abraham setuju menjadi investor dari perusahaan Kusuma Grup. Rasa gugup itu terlihat di wajah Farel. Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas.
"Baiklah, kita akan meeting jam sebelas siang, beliau meminta meeting di mana?"
"Di Restoran permai Pak."
"Kamu siapkan semuanya, kita ke sana sekarang."
Di perjalanan, Farel berharap tidak melakukan kesalahan apapun pada saat meeting berjalan dan Ia harus membuat Pak Abraham terkesan sehingga proyek itu sukses di setujui.
***
__ADS_1
Aisyah sendiri sedang bersiap-siap untuk pergi kuliah, setelah beberapa hari izin karena papanya meninggal.
"Hari ini kau terlihat cantik Aisyah. Siapapun yang memandang mu akan terkesima dengan kecantikan mu. Dan hari ini Aku akan menemui Andre, Aku harap dia mau memaafkan ku, meskipun Aku dan dia tidak lagi memiliki hubungan. Setidaknya bisa menjadi teman bukan." Aisyah tak sabar untuk menemui teman-teman kuliahnya, karena dengan begitu, ia bisa melupakan sedikit kesedihannya.