Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Entah apa yang akan terjadi


__ADS_3

Fandi yang baru saja hendak ke kamar rawat Farel, ketika mendengar suara teriakan Farel dari luar ruangan langsung saja berlari menghampiri.


"Pak Farel, anda sudah siuman, apa yang terjadi, kenapa anda berteriak, bahkan teriakan pak Farel terdengar hingga keluar."


"Fandi, dimana Aisyah,? katakan padaku dimana Aisyah ku Fandi, dia baik-baik saja kan, jawab Fandi!!"


Farel memberondong Fandi dengan berbagai pertanyaan.


"Em.... itu... bu Aisyah ada di rumah sakit ini juga kok Pak Farel. Bapak jangan terlalu khawatir, bu Aisyah masih di tangani oleh dokter." Fandi memilih jujur, karena dia tahu selepas sadar, Farel pasti akan menanyakan keberadaan Istrinya.


"Lalu bagaimana keadaannya, Aisyah dan bayiku akan selamat kan?" Farel hendak turun untuk menghampiri istrinya, dia Sangat tidak sabar untuk melihat sendiri keadaan Istri serta calon anaknya itu.


"Apa yang Pak Farel lakukan, bapak baru saja siuman, saya akan panggilkan dokter terlebih dahulu!" Fandi tak mungkin meninggalkan Farel sendiri saat Farel memaksa untuk bertemu Aisyah, sebab itu fandi memilih memencet tombol otomatis yang secara langsung memanggil dokter serta perawat untuk datang keruangan Farel.


"Bapak tunggu dulu sampai dokter melakukan tugasnya, lagipula masih belum ada kabar mengenai kondisi bu Aisyah, operasi masih berjalan hingga saat ini." Fandi berharap Farel mau mendengarkan perkataannya.


Dokter datang dengan membawa stetoskop yang menggantung di leher dengan di ikuti perawat yang membawa alat untuk mengetahui tekanan darah serta buku catatan kesehatan milik Farel. Mereka berjalan mendekat ke arah Farel dan melakukan tugasnya sebagai Dokter serta suster.


"Bagaimana keadaan Pasien Dok?"


"Cukup baik, beruntung peluru itu hanya mengenai bahu sebelah kiri dan tidak menembus terlalu dalam. Sehingga tidak ada luka serius yang dialami oleh Pak Farel."


"Syukurlah jika begitu, oh ya dok, apa pasien bisa pergi ke luar ruangan sebentar, di angin sekali menemui istrinya yang kebetulan sedang menjalani operasi di rumah sakit ini juga?"


"Maaf Pak Fandi, bapak masih dalam keadaan lemah, terlebih baru saja menjalani operasi, sebaiknya bapak istirahat terlebih dahulu agar kondisi bapak lebih cepat membaik." Dokter berbicara dengan menatap Farel, berharap pasiennya itu mengerti, sebelum memikirkan orang lain lebih baik pikirkan diri sendiri terlebih dahulu.


Farel hanya bisa membuang nafas kasar, ia ingin sekali menemui Aisyah, tapi tak mendapat izin Dokter, sekarang Farel hanya bisa percaya pada Fandi untuk menjaga Aisyah nya.


"Saya tahu apa yang Pak Farel inginkan, jangan khawatir Bu Aisyah pasti baik-baik saja, mungkin sebentar lagi akan selesai operasinya." Fandi terpaksa harus mengatakan jika kondisi Aisyah baik-baik saja, meskipun Fandi sendiri tak yakin dengan perkataannya.


"Kalau begitu saya permisi lihat keadaan bu Aisyah sebentar, jika ada perkembangan terbaru daya pasti akan memberitahu Pak Farel." Fandi berharap Farel mau mengizinkannya pergi.


"Pergilah," Farel berucap lirih, sebab tadi saat dokter mengetahui niat Farel hendak pergi keluar dari ruangannya, Dokter terpaksa harus memberikan suntikan penenang agar Farel tak lagi memberontak.

__ADS_1


Fandi kini telah berada di depan ruangan operasi yang tadi di sempat di titipkan pada Dito, salah satu bodyguard Farel yang memang ikut ke rumah sakit menemani Fandi.


lampu merah masih menyala, tanda operasi belum selesai, entah apa yang terjadi di dalam sehingga operasi berjalan begitu lama.


lampu merah yang mentala telah padam.


Ckleekk...


Dokter ke luar dari ruangan operasi.


"Dengan keluarga pasien," Fandi dan Dito menghampiri Dokter, "Bagaimana kondisi Bu Aisyah, apa beliau baik-baik saja?" tanya Fandi.


"Saat ini Bu Aisyah sedang dalam kritis, kecil kemungkinan untuk bertahan. Saya turut prihatin dengan keadaan pasien, dan mengenai kandungannya dengan sangat berat hati saya katakan jika kandungan Bu Aisyah tidak dapat kami selamatkan."


Fandi yang mendengar penuturan dokter hanya terdiam membisu, ia tak dapat berkata-kata lagi.


"Anda bisa menjenguk pasien saat sudah di pindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi."


Dokter meninggalkan Fandi yang masih diam mematung.


Bagai di hantam batu besar, Fandi merasakan sesak di dadanya, kabar buruk yang di sampaikan sukses membuatnya semakin merasakan bersalah.


"Ini semua gara-gara aku, andai saja aku tak ceroboh, mungkin nyawa bu Aisyah dan bayinya pasti akan baik-baik saja." Fandi memang sudah menganggap Aisyah sebagai adik, sebab umur Fandi yang memang setara dengan umur Farel.


Dengan langkah gontai, Fandi melangkah mengikuti Aisyah yang akan di pindahkan ke ruang ICU.


Fandi menatap nanar Aisyah yang terbujur lemas dengan ventilator yang terpasang di hidungnya.


𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶. Fandi berkata dalam hati.


Fandi kemudian teringat akan Farel yang sudah cukup lama ia tinggal, Fandi takut jika Farel sampai nekat untuk menemui, Aisyah, istrinya dengan keadaannya yang masih lemah.


Tak lupa Fandi mengabari kedua sahabat Aisyah. Meminta bantuan mereka untuk bergantian menjaga Aisyah, dengan begitu Fandi bisa leluasa menjaga Farel.

__ADS_1


Hanya seorang laki-laki yang bisa mengerti jalan pemikiran sesama lelaki, terlebih Fandi merupakan sahabat juga tempat Farel berbagi cerita apapun itu.


Fandi sudah berada di dalam ruangan Farel, menunggunya hingga siuman sambil memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan berita buruk itu.


Dreettt...


Telfon Fandi berdering, menampilkan nama Vika di layar telfon.


"Kita sudah di depan rumah sakit, kamu kasih tahu saja di mana kamar Aisyah di rawat!" Vika datang bersama dengan Vita. Mereka sepakat untuk merawat Aisyah sebagai permintaan Maaf mereka sebab karena mereka juga Aisyah bisa sampai seperti ini.


"Kalian langsung saja ke ruang ICU di lantai dua."


"Baiklah, kita langsung saja ke sana," Vika menutup telfon kemudian pergi sesuai dengan petunjuk dari Fandi.


Fandi pergi memastikan jika ke dua sahabat majikannya itu memang sudah berada di ruangan Aisyah.


Ckleek..


pintu terbuka menampilkan Aisyah yang masih berbaring lemah, Vika dan Vita berhambur mendekat ke arah Aisyah.


Tanpa bisa di bendung, mereka menumpahkan segala sesak di dadanya, Vika dan Vita menagis ketika melihat sahabatnya tertidur dengan ventilator yang terpasang di hidung serta wajah putih yang terlihat pucat itu.


"Maafkan kami Aisyah, andai saja kita tidak pulang terlalu larut waktu itu mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Kita pasti masih bisa berkumpul dan bercanda tawa seperti biasa. Bangunlah buka matamu kita berdua ada di sini bersamamu, Aisyah."


Ckleekk...


Fandi memasuki ruang ICU, dan benar saja ia mendapati Vika dan Vita telah berada di samping Majikannya.


"Aku bisa minta tolong pada kalian, apa kalian bisa menjaga dan menemani Aisyah untuk beberapa hari, bukankah kalian sudah memasuki liburan?" Fabdi berharap dengan di temani kedua sahabat maka kondisi Aisyah bisa lebih baik.


"Memang Farel kemana, bukankah seharusnya dia yang ada di samping Aisyah?" tanya Vika yang masih belum mengetahui kejadian sebenarnya.


"Pak Farel juga berada di rumah sakit ini, ceritanya panjang nanti aku ceritakan sekarang aku harus pergi dulu, kalian tolong jaga Bu Aisyah dengan baik dan jika terjadi sesuatu tolong hubungi aku!!" Fandi berlalu keluar dari rumah ICU tersebut.

__ADS_1


Banyak pertanyaan di hati Vika dan Vita, apakah yang terjadi sampai keadaan sahabatnya seperti ini?


__ADS_2