
Fandi yang menyetir mobil dengan kecepatan tinggi berusaha membawa Farel serta Bram ke rumah sakit, meski Bram yang menyebabkan semua ini terjadi, Fandi tak akan meninggalkan Bram semudah itu, entah nyawanya selamat atau tidak yang terpenting Fandi tetap membawanya sebagai rasa peri ke manusiaan. Jikalau Bram selamat maka Farel bisa membuat perhitungan untuk tindak kejahatan yang di lakukan kepada Aisyah dan jika Bram tak selamat mungkin itu lebih baik, agar tak ada lagi musuh yang mencelakai keluarganya.
Suara ribut terjadi di Rumah Sakit Pelita, kala korban baku tembak baru saja memasuki rumah sakit. Dengan cekatan para dokter dan suster yang berjaga melakukan pertolongan pertama pada Pasien tersebut.
"Langsung kita bawa saja ke ruang operasi, dan suster tolong urus data dan administrasi pasien." perintah Dokter.
"Mari ikut saya untuk mengurus Administrasinya." seorang suster mengajak Fandi ke resepsionis untuk mengisi data serta menyelesaikan Administrasinya.
Dengan langkah lemas Fandi mengikuti suster tersebut dari belakang.
setelah selesai melakukan serangkaian prosedur untuk operasi, Fandi kini sudah kembali berbagai berjaga di depan ruang operasi.
𝘉𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯. Fandi berucap dalam hati.
Sudah hampir tiga jam Fandi mondar-mandir di depan pintu, sudah seperti setrikaan berjalan.
Ckkleeek....
Dokter dengan pakaian serba hijau keluar dari pintu tag terbuka.
"Dengan keluarga pasien, bisa ikut saya ke ruangan saya ada hal yang ingin saya sampaikan." Fandi berjalan mengikuti Dokter tersebut ke ruangan kerjanya.
"Bagaimana Dok, apa semua baik-baik saja, saya harap tidak ada luka yang serius?"
Menghela nafas sejenak sebelum menyampaikan keadaan Pasien.
"Operasi sudah berhasil di lakukan tapi ada salah satu dari kedua pasien tersebut tak dapat kamu selamatkan kami turut berduka untuk pasien bernama Bram."
Jantung Fandi yang sedari tadi sudah berdetak tak beraturan mendengar setiap perkataan Dokter kini terasa plong.
"Itu artinya yang dapat di selamatkan hanyalah Pak Farel."
"Anda benar, Peluru yang di dapat Pak Farel tidak menembus terlalu dalam hingga tak menyebabkan luka serius. berbeda dengan Pak Bram, lukanya menembus organ dalam hingga menyebabkan pasiennya meninggal dunia."
__ADS_1
"Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, baru setelah itu anda bisa menjenguknya."
"Baik Dok, saya permisi dulu."
Di luar ruangan Dokter, Fandi yang teringat jika Aisyah masih belum di temukan segera menghubungi anak buahnya.
"Apa ada perkembangan mengenai Bu Aisyah?"
"Kami sedang mencarinya, di bawah sini cukup gelap cukup susah untuk menemukan beliau."
Kabar yang di terima Fandi membuatnya khawatir, ia tak mau terjadi apapun pada majikannya itu. Cukup sudah kejadian buruk yang menimpa keluarga yang sudah Fandi anggap sebagai keluarga itu.
"Aku harus bisa menemukan Bu Aisyah, bagaimanapun kejadian buruk ini berasal dari kesalahan yang aku lakukan, jika waktu itu aku tak ceroboh mungkin saat ini Bu Aisyah masih berada di rumah bersama kami." Fandi bermonolog.
Deru mobil kini melaju kencang meninggalkan area rumah sakit, Fandi memilih untuk mencari dan menemukan sendiri Aisyah yang terjatuh ke dasar jurang.
𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢-𝘯𝘢𝘱𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘉𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, batin Fandi berucap.
Tak membutuhkan waktu lama, Fandi telah sampai di tempat yang menjadi saksi baku tembak beberapa jam yang lalu.
Hingga kini pencarian belum menemukan hasil, Fandi yang milih berpencar sendiri sayup-sayup dapat mendengar satu nama meski terdengar sangat lirih.
"Farel....," ucap Aisyah lirih, dengan sisa tenaga yang ia miliki. Terdengar beberapa kali hingga suara itu menghilang sempurna di bawah sinar rembulan yang cukup terang.
Fandi terus saja mencari, ia lebih memilih mengikuti arah suara yang ia yakini adalah suara bu Aisyah.
Dan ternyata benar, wajah cantik nan pucat terlihat dari sinar rembulan yang menerpa wajahnya.
"Bu Aisyah...." fandi segera berlari menghampirinya, di tolongnya Aisyah tanpa menunggu lama lagi.
Dengan bantuan tim SAR Aisyah bisa segera mendapat pertolongan pertama, setelah itu Fandi membawanya ke rumah sakit yang sama dengan Farel di rawat.
"Tolong selamatkan dia, berapapun biaya yang di butuhkan, tapi tolong selamatkan nyawanya dan juga bayinya." Fandi memohon pada seorang dokter perempuan yang berjaga, Dokter pada rumah sakit tersebut sudah bergantian berjaga.
__ADS_1
"Kami akan lakukan yang terbaik pak, saya harap Anda bersabar." setelah mengatakan itu pintu ruangan operasi tertutup kembali dengan lampu merah menyala sebagai tanda operasi telah di mulai.
Fandi kini di liputi rasa bersalah pada majikannya, merasa ia telah gagal menjalankan tugas menjadi bodyguard yang di percaya.
Yang Fandi bisa lakukan saat ini hanyalah menunggu kedua majikannya sembuh dan bisa bersatu kembali.
Operasi yang di lakukan pada Aisyah cukup lama, bahkan melebihi waktu operasi yang berjalan pada Farel dan Bram.
Hampir lima jam Fandi masih setia menunggu kabar mengenai kondisi Aisyah.
***
Di suatu taman yang indah dengan bunga-bunga mawar bermekaran, membawa wangi khas mawar yang masuk dalam indra penciuman. Aisyah duduk di sebuah bangku taman bercat putih. Menatap lurus kedepan yang terdapat sekelompok anak kecil yang sedang asik bermain, berlarian kesana kemari dengan tawa riang. Yang menghadirkan senyuman kecil pada wajah cantik Aisyah. Farel datang menghampiri Aisyah, dengan langkah gagah Farel memeluk Aisyah dati belakang.
"Kamu sedang apa di sini, dan anak-anak itu siapa mereka?" tanya Farel binggung.
Aisyah tak menjawab ia justru mengalihkan pembicaraan.
"Duduklah, jangan pikirkan siapa mereka yang perlu kamu tahu, bertahanlah demi aku. Aku hanya ingin minta maaf sama Mas Farel, aku belum bisa jadi yang terbaik, aku mohon setelah ini tolong jaga diri mas Farel baik-baik_"
"Kenapa harus menjaga diri, kan ada kamu yang bakalan urusin semua kebutuhanku." Farel memotong
pembicaraan Aisyah. ia masih belum mengerti apa maksud dari istrinya itu.
Aisyah tersenyum, "Aku tak bisa selalu bersamamu, Mas. Ada kalanya kita akan berpisah dan aku minta sama kamu tetap jadi Mas Farel yang aku cinta, jangan pernah berubah mas!!"
"Aku masih sama seperti yang dulu dan tak akan pernah berubah. Semua cinta hanya untukmu dan aku tak akan pernah berpaling pada yang lain karena di hatiku hanya ada namamu, bukan yang lain."
"Baiklah, aku harus pergi mas," Aisyah berjalan ke arah anak-anak dan mengandeng salah satu anak yang kemudian diikuti oleh yang lain berjalan menembus kabut putih, lalu menghilang begitu saja tanpa jejak.
"Aisyah... Aisyah kamu mau kemana... jangan pergi Aisyah, jangan tinggalkan Aku...." Farel terus saja berteriak tapi Aisyah tetap tak kembali.
Farel pun tersadar setelah berkali-kali berteriak memanggil nama sang istri.
__ADS_1
Deru nafas memburu Farel masih terengah-engah dengan keringat dingin meluncur dari pelipis membasahi muka tampan Farel. Mimpi yang ia alami seakan itu adalah pertemuan terakhir antara Farel dengan Aisyah.
"Aisyah..., kembalilah aku sangat merindukanmu."