
"Kondisi Pak Farel sudah semakin membaik. Jika ini terus berlanjut, besok sore Pak Farel bisa pulang. Pak Farel bisa mengunakan rawat jalan di rumah. Saya permisi dulu." setelah selesai menjalankan kewajibannya Dokter keluar meninggalkan ruang rawat Farel.
Fandi sampai di kantor polisi,ia bergegas menemui kepala kantor polisi, "Bagaimana bisa, penculik itu bisa melarikan diri, apa penjagaan disini kurang ketat, hingga dengan mudah preman itu melarikan diri, Pak Polisi." Fandi tak bisa menahan amarahnya, kabar itu adalah kabar buruk untuk keluarga Kusuma, bisa-bisa keselamatan Aisyah terancam kembali.
"Maafkan kami Pak Fandi, dia menipu kami dengan berpura-pura sakit Pak Fandi, saat Kami lengah, dia menyerang Kami dan berhasil melarikan diri." jawab kepala Polisi dengan apa adanya.
"Apa tahanan itu sudah ditemukan, saya tak mau tahu temukan dia secepatnya. Dia sangat berbahaya bagi keluarga Kusuma?" Fandi mencoba menenagkan amarahnya.
"Masih belum Pak Fandi, Tapi Kami tetap berusaha mencari tahanan itu." Pak polisi mencoba meyakinkan Fandi jika mereka akan segera menangkapnya kembali.
"Baiklah, Saya harap Pak polisi tidak membuat kesalahan lagi, dan saya akan membantu dengan menyebarkan foto tahanan itu. Kalau ada kabar terbaru beritahu Saya, Saya permisi." Fandi memilih meninggalkan Kantor polisi jika tidak ia akan melampiaskan kemarahannya disana.
"Pak Farel dan Bu Aisyah nggak boleh sampai tahu masalah ini. Apalagi Pak Farel masih belum Sembuh total. Aku juga harus turun tangan sendiri ikut mencari, Siapa tahu tahanan itu belum jauh dari sini."
Tak lupa Fandi mengerahkan para Bodyguard lain untuk mencari tahanan itu.
Saat tiba di rumah, di villa keluarga kusuma.
"Kalian cari tahanan itu sampai dapat, jika kalian mendapat petunjuk beritahu Saya. lebih baik Kita berpencar, itu akan mempermudah pencarian." Fandi memberikan arahan pada para bodyguard yang lain.
Bagaimanapun Fandi harus segera menemukannya jika tidak, maka keluarga kusuma dalam bahaya.
Fandi Mulai mencari dari daerah dekat kantor polisi. Berharap tahanan itu belum kabur terlalu jauh.
***
Di rumah sakit,
"Non Aisyah, Tuan Farel, Saya permisi mau pulang ini sudah larut malam. Anak Bibi pasti sedang menunggu di rumah." bik sumi juga mencemaskan anaknya yang masih berusia dua belas tahun, karena dirumah hanya ada bik sumi dan anaknya sedangkan suami bik sumi sudah meninggal.
"Makasih Bik, sudah datang jenguk Farel. Hati-hati ya Bik pulangnya."
"Iya, Saya permisi." bik sumi meninggalkan ruang rawat Farel.
𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘬 𝘴𝘶𝘮𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭. 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘬 𝘴𝘶𝘮𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘤𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘬 𝘴𝘶𝘮𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. Aisyah berasumsi dalam hati.
Diruangan itu hanya ada Farel dan Aisyah Ini pertama kalinya mereka akan tidur dalam ruangan yang sama.
"Farel, Tidurlah, aku akan tidur di Sofa." Aiayah sudah merasa lelah ia ingin beristirahat namun tak mungkin Aisyah tidur di samping Farel meskipun tempat tidur itu cukup untuk berdua. Aisyah lebih memilih tidur di sofa. Aisyah sudah duduk di sofa hendak membaringkan tubuhnya.
Dari arah tempatnya berbaring Farel yang memperhatikan Aisyah sedari tadi mengerti jika istrinya akan memilih tidur di sofa.
"Kau jangan tidur disana, tidurlah bersamaku, Disampingku. Tempat tidur ini cukup untuk Kita berdua." perkataan Farel berhasil membuat Aisyah salah tingkah, namun melihat Farel yang mengatakannya dengan penuh harapan.
Aisyah terdiam sejenak, berpikir, apa Ia harus meng-iyakan permintaan Suaminya.
"Baiklah sekarang tidurlah, sudah malam." Aisyah berjalan menghampiri Farel, ia memilih mengikuti kemauan Farel dari pada harus berdebat dengannya. lagipula Aisyah merasa lelah ia ingin segera beristirahat.
Farel bergeser, memberi ruang untuk Istrinya tidur di sampingnya. Aisyah tidur di samping Farel dengan ragu-ragu.
Hingga beberapa saat Aisyah sudah mendengar dengkuran halus dari suaminya. Ia pun memilih memejamkan matanya mengikuti Farel ke alam mimpi. Sinar matahari telah muncul, menembus kaca, menyinari dua Insan yang masih tertidur lelap.
"Uaahh..., Aisyah menggeliat, rupanya sudah pagi." Aisyah mengeliat hal yang pertama ia lihat saat bangun tidur adalah suaminya, yang sekarang menghadap kepadanya hingga jarak yang tersisa hanyalah lima senti.
𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳. terukir sedikit senyum dari sudut bibir Aisyah.
__ADS_1
Aisyah tersadar saat Farel mengubah posisi tidurnya.
"lebih baik Aku bersihkan diri dulu, setelah itu membeli makan."
Tak lama terdengar gricikan Air di dalam kamar mandi.
Farel terbangun, hal pertama yang ia cari adalah Aisyah saat mendapati Aisyah sudah tidak ada di sampingnya, Membuatnya tersenyum, mengingat semalam bisa tidur bersama. Ada ketenangan saat berada dekat dengan Aisyah.
Krek,
Dokter masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin.
"Selamat pagi Pak Farel, Bagaimana kondisi Anda, apa merasa lebih baik?"
"Sudah semakin baik Dok, apa Saya bisa pulang nanti sore,? Farel merasa kondisinya sudah lebih baik, tentu Pak Farel, nanti setelah saya periksa kembali Bapak boleh pulang." Farel mengangguk paham. Farel s nang ia di perbolehkan pulang, jujur ia tak begitu suka berada di rumah sakit.
"Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya periksa." ucap Dokter berpamitan.
Aisyah sudah menyelesaikan aktivitasnya. Keluar dengan keadaan lebih segar. Ia tak mengetahui kalau Dokter sudah memeriksa Farel.
"Kenapa tidak membangunkan ku?"
"Kau masih tertidur dengan pulas, Mengapa harus di bangunkan. Oh ya apa dokter sudah datang?" Aisyah mendekat duduk di samping Farel.
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶𝘦𝘮𝘨 𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘬𝘢𝘮𝘮𝘶. Farel tak henti-hentinya menatap Aisyah, Aisyah yang tak menerima jawaban dari Farel menyadari jika dia sedang melamun, gerakan tangan Aisyah menyadarkan Farel dari lamunannya.
"Iya, sudah datang katanya nanti sore aku sudah boleh pulang."
Seorang perawat datang bertugas membersihkan tubuh pasien. Masuk dengan membawa satu ember air hangat dan handuk kecil.
"Apa itu harus suster?" suster tersenyum mendengar pasien bertanya seperti itu.
"Itu memang bagian dari tugas saya, jika Bapak tak mau dengan saya bisa dibersihkan oleh Istri Bapak." suster menunjuk Aisyah.
Mendengar pilihan dari suster, Farel lebih memilih dibersihkan oleh Istrinya. bukan apa, ia merasa risih jika harus membuka baju di hadapan wanita lain selain istrinya.
"Aisyah, bisakah kamu melakukannya?" Farel menatap Aisyah dengan memelas.
Melihat tatapan Farel yang memelas mau tak mau Aisyah harus melakukannya. "Iya-iya baiklah, aku akan melakukannya." ucap Aisyah dengan sedikit malas. Ia merasa tingkah Farel sedikit berbeda, selalu ingin di perhatikan semenjak Ia sadar, namun Aisyah menepisnya dengan menganggap itu wajar bagi orang yang sakit."
Berbeda dengan Farel, Ia memang sengaja ingin Istrinya yang melakukannya, Merasa ini kesempatan bagus bisa lebih dekat dengan Istrinya.
"Kalau begitu saya tinggal dulu."
keduanya menjawab bersamaan."Iya suster."
"Farel ingin tersenyum, Rencananya berhasil tapi ia menahannya, tak mau Aisyah marah lagi kepadanya."
Dengan telaten Aisyah membantu membersihkan tubuh Farel. Keduanya sama-sama terdiam, hingga pekerjaan itu selesai."
Kedekatan mereka terganggu saat Fandi masuk tanpa mengetuk pintu. Membuat Farel dan Aisyah bersikap seperti biasa.
"Kau darimana saja Fandi, Baru datang kemari. lupa apa dengan temanmu ini!"
"Bukan seperti itu Pak, Saya hanya kesiangan bangun." ucap Fandi berbohong. Ia belum ingin memberitahu kalau penculiknya berhasil kabur dari penjara.
__ADS_1
"Yasudah, ada kabar baik Farel bisa pulang nanti sore setelah dokter melakukan pemeriksaan ulang."
"Syukurlah, kalau begitu. Saya turut senang." mereka terlibat pembicaraan yang ringan.
***
Di terminal bus,
"Kau telah berurusan dengan orang yang salah Farel prayoga dan kau keponakan yang paling Aku benci." ungkap Bram dengan mata berapi-api. Bram yang gagal memenuhi dendamnya memutuskan akan kembali suatu saat dengan perencanaan yang lebih matang.
"Sekarang, Aku harus mencari persembunyian yang aman, dan merencanakan pembalasan dengan matang, Kali ini tak akan Ku biarkan kau lolos dariku, Aisyah." Bram pergi menaiki sebuah bis untuk menghilangkan jejak, dan akan kembali pada saat yang tepat.
***
Farel sudah tiba di rumah, dan disambut oleh Bik Sumi art mereka.
"Mari masuk Tuan, Nyonya, Bibik sudah masak kesukaan kalian." Bik Sumi mengantarkan mereka ke meja makan.
"Kanapa bibik manggil aku dengan sebutan Nyonya sekarang, padahal aku lebih suka dipanggil Non oleh bibik!" Aisyah menanyakan kepada Bik sumi alasannya apa.
"Tidak apa-apa Nyonya, sekarang kan Nyonya sudah berkeluarga, masak bibik haris panggil Non terus. Nanti sangkanya Nyonya belum bersuami." bik Sumi terkekeh kecil.
Aisyah hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Farel, Aisyah dan Fandi, mereka duduk dan memulai makan. Fandi dan Aisyah sudah menghabiskan hampir separuh dari makanan mereka. Sedangkan Farel, masih setia memandang makanan yang di ambilkan untuknya.
Aisyah mengerti saat Farel hanya diam saja.
"Baiklah, Kemarikan piringmu, aku akan menyuapimu makan."
Suapan demi suapan makanan itu habis, masuk dalam mulut Farel.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian, ini sangat penting." Fandi harus memberikan kabar buruk ini kepada mereka agar lebih berhati-hati kedepannya.
"Ada apa Fandi, Katakan saja kamu punya masalah apa." Farel mengira jika Fandi sedang menghadapi masalah.
"Ini bukan tentang saya, ini mengenai penculik itu. Dia sudah berhasil melarikan diri dari penjara. Sampai saat ini ia masih berkeliaran di luar sana. Saya minta pada Pak Farel dan Bu Aisyah untuk berhati-hati dia pasti akan datang kembali untuk balas dendam."
"Kamu benar Fandi, dia pasti akan kembali." ucap Farel penuh kebencian. Farel tak habis pikir jika benar Bram adalah pamannya Aisyah lalu bagaimana ia tega menghabisi keponakannya sendiri. Fandi yang sudah terlalu lama di rumah utama merasa canggung, ia memilih undur diri.
"Saya permisi dulu." Fandi beranjak pergi meninggalkan kediaman Kusuma."
"Sekarang bagaimana dia ... dia akan kembali untuk membunuhku." ucap Aisyah ketakutan, ia masih trauma dengan apa yang terjadi kemarin.
"Kamu tenang saja, tak akan aku biarkan penculik itu sampai melukaimu, Dia harus melangkahi mayat ku dulu sebelum menyentuhmu." ucap Farel menenangkan Istrinya. membawa dalam dekapannya. Untuk sejenak Aisyah maupun Farel menikmati penyatuan ini.
"Sekarang kamu harus istirahat, agar lekas sembuh." ucap Aisyah penuh penekanan. Farel menuruti perkataan istrinya, saat hendak masuk ke kamar tamu tiba-tiba Aisyah menghentikannya.
"Ada apa Aisyah, kenapa menghalangiku aku ingin masuk!"
"Kau tidak akan tidur di kamar tamu lagi, tidurlah di kamarku, Bersamamu." Aisyah mengatakannya pelan. Menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Mendengar itu dalam hati Farel bersorak gembira namun gengsi untuk memperlihatkannya.
"Baiklah, jika itu keinginanmu."
__ADS_1