Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Meski Jauh tapi tetap Terhubung


__ADS_3

Kini Aisyah berada di kamar, ia ingin segera beristirahat menuju alam mimpi. Rasa tiba-tiba lemas masih ia rasakan, meski Dokter sudah memberikan obat yang bisa mengurangi rasa lelah pada hamil muda tetap saja ia masih merasa lelah. Yang Aisyah butuhkan sekarang adalah istirahat yang cukup, berharap esok keadaannya sudah lebih baik.


"Sekarang bukan hanya diriku yang harus aku jaga rapi juga ada malaikat kecil yang bersemayam dalam rahimku." senyuman tak pernah lepas dari wajah Aisyah.


Menerima takdir ternyata lebih baik daripada harus menolak yang akhirnya akan merugikan diri sendiri.


Tak lama Aisyah sudah tertidur, dengan di temani Foto yang akan segera menjadi seorang ayah.


***


Hari sudah berganti pagi, sinar mentari menerpa wajah tampan yang tersirat kerinduan pada sang istri tercinta.


Farel yang masih berada dalam pembaringan terbangun karena gejolak sama perutnya yang terasa di aduk-aduk. Dengan tergesa-gesa Farel berlari ke arah kamar mandi, seketika ia keluarkan segala isi dalam perutnya. Setelah terkuras habis, Farel merasa sangat lelah dan lemas. Entah mengapa hal itu terjadi pada dirinya, Farel merasa ia hanya masuk angin belaka setelah istirahat yang cukup mungkin Farel akan merasa baikan.


"Sepertinya aku harus menelfon dokter, sudah dari pagi aku terus saja bolak-balik kamar mandi untuk mengeluarkan isi dalam perutku. Setiap kali akun makan pasti selalu aku keluarkan lagi, seolah aku tak makan apapun." Wajah tampan tersebut telah berganti wajah pucat.


"Sebaiknya aku tak memberitahukan keadaanku ini kepada Aisyah, jika Aisyah tahu, pasti akan sangat khawatir, terlebih jarak kami berjauhan." Farel bermonolog


Dokter datang ke penginapan Farel, sengaja ia memanggil dokter karena untuk pergi ke rumah sakit sendiri saja Farel tak punya tenaga.


Ckleeek...


Seorang Dokter masuk dengan pelayan yang mengantarkannya.


"Saya periksa dulu ya pak Farel." Dokter kini telah menjalankan tugasnya, mencari tahu apa yang sedang di derita oleh pasiennya itu.


cukup lama, tapi sangat Dokter tak menemukan penyakit apapun dalam diri Farel, Dokter pun keheranan. Bagaimana bisa pasiennya mengalami gejala mual-mual tapi tak tahu pasti sakit apa.


"Bagaimana Dok, saya sakit apa?" tanya Farel dengan suara lirih.


"Saya juga belum tahu pak Farel, anda sedang sakit apa, karena saya tidak menemukan ad ayang salah pada tubuh anda, begini saja akan saya tuliskan resep semoga resep ini bisa mengurangi dan menyembuhkan rasa muka dan lemas pada diri anda." Dokter terlihat menuliskan berbagai obat untuk Farel.


"Kalau begitu saya permisi, Pak Farel. Semoga lekas sembuh ya..." Dokter keluar dari penginapan Farel dengan keadaan binggung baru kaki ini ia berhadapan dengan pasien seperti itu.

__ADS_1


Farel hanya bisa membuang nafas kasar, kemudian memangil pelayan untuk membelikan resep dari Dokter tersebut, agar ia pun lekas pulih.


𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘱𝘪𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶.


Farel memilih untuk memejamkan matanya, hari ini Farel tal akan pergi ke proyek pembangunan, Farel memilih untuk beristirahat saja.


***


Aisyah sudah bangun, ia memilih untuk memasak masakan kesukaannya, hari ini kuliahnya agak siang. Cukup lama berkutat di dapur masakan yang diinginkan Aisyah pun tersaji dengan cantik di atas piring.


Ya, seperti orang ngidam Aisyah ingin memakan Bakso bakar buatannya sendiri, sebenarnya Aisyah ingin yang memasaknya adalah ayah dari anak yang di kandung, tapi karena Farel tidak bersamanya apa boleh buat Aisyah membuatnya sendiri.


"Yummy, ini rasanya sangat enak, memang benar apa kata mas Farel, jika aku cocok untuk menjadi seorang chef."


Aisyah membuatnya cukup banyak, rak mungkin ia memakan sendiri, alhasil ia berikan kepada bik sumi juga pada para bodyguard yang berada di villa depan.


"Wah... ini Aromanya sudah menggoda, jadi lapar perut saya, Nyonya!" Bik sumi pun menerimanya dengan sepenuh hati.


"Nanti tolong sekalian antarkan ke villa depan ya bik." Aisyah sudah memisahkan makanan yang akan ia makan. Tak banyak, yang penting keinginannya terpenuhi, nanti jika Farel telah pulang maka Aisyah akan memintanya untuk memasak ulang.


"Ah... biarkan saja nanti juga mas Farel bakalan telfon aku, mungkin sekarang lagi sibuk." Aisyah mengirimkan niatnya untuk melakukan panggilan.


Setelah makan, Aisyah memilih untuk bersiap-siap ke kampus.


Tak butuh waktu lama Aisyah telah sampai di kampus, "Fandi nanti pulangnya kamu nggak usah jemput aku aku kan pergi bersama dengan Vika dan Vita. Kami akan pergi jalan-jalan sebentar, dan ya, tak perlu khawatir aku akan aman bersama mereka." Aisyah ingin sedikit bebas bersama sahabatnya.


"Baiklah Bu, saya tidak akan menjemput, tapi mohon setelah selesai Bu Aisyah segera pulang." Fandi tak mau sampai terjadi apa-apa dengan majikannya itu.


"Tenang saja, saya bisa jaga diri." Aisyah memilih masuk dann memulai aktivitasnya di dalam kampus.


***


Hari sudah berganti siang, keadaan Farel sudah jauh lebih baik setelah meminum resep dari Dokter.

__ADS_1


"Jika begini terus, bagaimana aku akan segera pulang, lalu bagaimana acara penempatan batu pertama pembangunan pabrik yang akan dilakukan besok." Farel terlihat gundah, bagaimana ia bisa hadir, jika kondisinya saja belum sepenuhnya membaik.


"Semoga saja besok sudah lebih baik."


Farel tak tahu jika yang di alami olehnya bukan gejala penyakit yang serius. Melainkan sindrom couvade. Yang mana pasangan dapat merasakan seperti yang dirasakan oleh wanita hamil.


***


"Hari ini kita jadi jalan-jalannya, ayat lain kali saja." Vita memastikan rencana mereka.


"Jadilah, aku sudah punya banyak rencana, ya sekalian mengusir jenuh di rumah. Kalian tahu kan aku hanya sendiri di rumah."


"Oke, kita mau kemana dulu, hari ini kita yang bakalan jagain kamu sebagai bodyguard, kayaknya lucu juga jadi bodyguard sementara." Vika merasa geli dengan ucapannya sendiri.


"Apaan sih, kita itu bukan atasan dan bawahan, melainkan sahabat dekat jadi nggak perlu penjagaan ketat, lagian siapa juga yang mau celakain aku." Aisyah tak mau di kekang, ia ingin bebas melakukan apapun tanpa ada yang mengawasi.


Vika dan Vita kini membawa Aisyah menuju pusat belanja, seperti biasa Aisyah yang hobi belanja akan membeli semua yang ia inginkan. Hari ini mereka habiskan dengan bersenang-senang.


"Thank you ya, kalian udah buat hariku happy, gue beruntung banget punya kalian berdua." pergi bersama membuat mood Aisyah sedikit membaik.


"Sekarang tugas kita hanya anterin lo pulang dengan selamat."


Jalanan cukup sepi sebab mereka pulang sedikit larut, saking senangnya mereka sampai lupa waktu, dalam perjalanan mereka bertiga tak henti-hentinya bercanda.


Sedangkan di belakang tampak seseorang telah mengikuti dari saat mereka berada di pusat belanja. Dengan jarak cukup dekat orang-orang itu mulai mencari celah untuk melakukan aksinya.


Hingga tiba di belokan yang cukup sepi, di tambah sedikit hujan gerimis membuat orang-orang tak mau lalu lalang di jalan. Kendaraan bahkan jarang sekali melintas.


Vika yang mengambil alih kemudi pun tak menyadari jika ada yang mengikuti.


Chiit...


Vika menginjak pedal rem mendadak membuat dua orang yang menjadi penumpang terjungkat ke depan, Aisyah yang berada di depan untung saja tidak kenapa-napa karena memakai sabuk pengaman. Sedangkan Vita kepalanya terbentur kursi yang menyebabkan sedikit memar pada keningnya.

__ADS_1


"Siapa mereka, kenapa menghalangi jalan kita, mana kita perempuan semua, bagaimana ini." Vika merasa takut, orang yang menghadang mobilnya akan mencelakai mereka.


__ADS_2