
"Selamat siang, sepertinya Anda sudah menunggu sedari tadi kedatangan saya?" Alex hanya berbasa-basi.
"Bagaimana mungkin, saya sebagai tuan rumah tak menyambut kedatangan kalian, tentu itu tidak baik apalagi ini pertama kalinya kita bertemu." Farel tak ingin terlalu Formal meskipun itu klien baru, ia cukup jeli membedakan klien yang bisa dijadikan teman atau hanya sebatas klien kerja saja semua itu adalah bakat terpendam Farel. Ya, memiliki insting yang kuat memang sangat di butuhkan dalam keadaan apapun dan Farel adalah orang yang beruntung bisa memilikinya.
"Saya menyukai cara anda Pak Farel." Alex merasa dekat meski baru pertama bertemu, begitu juga dengan Farel entah perasaan apa, tapi Farel merasa seolah ia memiliki hubungan dekat dengan pria yang saat ini akan menjadi rekan kerjanya.
"Kita langsung saja membahas pekerjaan." Farel sendiri yang mempresentasikan kerja sama yang akan mereka buat, mengenai pembagian keuntungan dan juga kesepakatan lainnya dengan sangat jelas.
Alex yang datang dengan Sekertarisnya, merasa takjub dengan cara kerja Farel. "Anda memang seorang pembisnis sukses Pak Farel, saya mengagumi cara kerja anda, semoga dengan kerja sama ini hubungan kita menjadi lebih baik lagi dan tentunya bisa membawa perusahaan kita menjadi lebih baik lagi." ungkap Alex yang menyukai Farel sejak pertama kali bertemu.
"Saya pun yakin jika anda juga tidak kalah hebat dengan saya, apalagi dengan anda yang masih muda sangat memungkinkan untuk anda bisa melewati prestasi yang saya dapatkan." Farel memberikan semangat pada Alex, sesama pembisnis Farel ingin saling memberi dukungan bukan saling menjatuhkan.
"Sebaiknya anda memanggilnya saya dengan nama saja itu terdengar lebih menarik. Bagaimana Pak Alex!" pinta Farel.
Dalam ruang meeting itu hanya ada mereka berempat, sebenarnya Tuan Dirga, papanya Alex juga datang, namun sayang kesehatannya tiba-tiba saja memburuk, dan Alex akhirnya hanya datang dengan Sekertarisnya saja.
"Tentu, Pak Farel!" Alex menuruti permintaan Farel yang sekarang telah menjadi rekan kerjanya.
"Tapi jangan gunakan embel-embel Pak, saya masih belum terlalu tua, umur kita mungkin hanya bertaut beberapa tahun saja, jadi jangan terlalu Formal."
__ADS_1
Alex hanya menanggapinya dengan senyuman, sungguh Alex merasa dekat dengan Farel dan telah menemukan seorang teman dalam sebuah pertemuan bisnis.
"Baiklah Farel, apakah kita bisa menjadi teman yang baik kebetulan saya belum terlalu tahu menahu mengenai kota ini karena memang saya baru saja tiba setelah menempuh pendidikan di luar negri." jelas Alex, ia berharap pertemuan mereka bisa menjadi lebih dekat lebih dari sebuah urusan bisnis.
"Tentu Alex saya akan menjadi teman anda, jujur saya juga menyukaimu, kita bisa menjadi teman sekaligus rekam kerja yang baik untuk kedepannya. Jika kamu membutuhkannya bantuan bisa langsung menghubungiku, aku akan membantumu!" Jelas Farel panjang lebar. Dalam meeting kedua sekertaris yang ikut bergabung tidak banyak berbicara, sebab tuan mereka yang memilih bertanya jawab secara langsung, meeting berjalan selama satu jam, dan menghasilkan kesepakatan yang akan menguntungkan bagi kedua belah pihak.
"Baiklah kita akhiri pertemuan kita sampai di sini, untuk selebihnya jika ada yang belum kamu ketahui kamu bisa menghubungi sekertaris saya ini, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar ya Alex." Farel menyalami kembali sebagai tanda berakhirnya pertemuan mereka.
"Saya juga berharap demikian, kalau begitu saya permisi, senang bekerja sama dengan mu Farel." Alex kemudian pergi meninggalkan ruangan meeting tersebut, menyisakan Farel dan juga Fandi yang masih sibuk dengan pembahasan mengenai project yang akan di tangani.
𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘉𝘰𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘬𝘪 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢. Fandi berucap dalam hati.
"Tidak ada Anda hanya memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen kesepakatan saja, selebihnya Pak Farel bebas." Fandi menjelaskan jadwal Farel.
Mendengar apa yang di sampaikan Fandi Farel tersenyum, senyum yang sangat menawan meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
"Baiklah, jika jadwal ku bebas, aku akan pergi ke butik Aisyah dan kamu yang urus pekerjaan di sini."
𝘌𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘰𝘴, 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢, gerutu Fandi dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah Pak Farel."
Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan meeting dengan senyum yang menguasai wajah tampan mereka berdua.
Sesuai permintaan Farel, Fandi yang menghendle pekerjaan jika sewaktu-waktu ada pekerjaan mendadak, sedangkan Farel sekarang sudah mempercepat pekerjaan yang biasa lakukan, tak butuh waktu lama, File menumpuk di atas meja sudah Farel periksa serta di bubuhi tanda tangan Farel.
"Pekerjaan selesai, waktunya menemui bidadari cantikku semoga saja dia tidak sibuk!" Farel bergegas keluar dari kantor.
Aisyah yang berada di butik, mendengar jika Farel akan datang, membuatnya tersenyum malu,
𝘔𝘢𝘴 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬, 𝘫𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢, 𝘵𝘰𝘩 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢, 𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨-𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. Aisyah berasumsi dalam hati. Setelah mendapat pesan tersebut senyuman manis tak pernah hilang dari wajah Aisyah, ia tak sabar ingin segera bertemu dengan suaminya.
Kencan yang manis, menikmati suasana di luar, berduaan? ya, hanya ada mereka berdua, sepertinya berpacaran setelah menikah lebih terasa indah dari pada sebelum menikah.
"Sarah, nanti kamu tolong handle pekerjaan butik, saya mau pergi sebentar." Sarah memang orang kepercayaan Aisyah, rasa hutang budi pada Aisyah membuatnya ingin melayani Aisyah dengan sepenuh hati. Dan dengan menjadi tangan kanan Aisyah, sarah melaporkan setiap kejadian yang dilakukan para karyawan butik jika Aisyah tidak mengawasi secara langsung, Aisyah tidak mau karyawannya memiliki rasa ketidak jujuran, dan bermalas-malasan, jika Aisyah mengetahuinya maka akan langsung Aisyah pecat. Bagi Aisyah karyawannya harus memilih siapa Disiplin yang tinggi.
Tak lama deru mobil Milik Farel terdengar di depan Butik, Aisyah yang memang sudah menunggu langsung menghampiri suaminya dan mengajaknya pergi meninggalkan halaman butik miliknya.
"Terimakasih untuk hadiahnya!" Aisyah menyandarkan kepala pada bahu Farel saat sudah berada di taman.
__ADS_1
Farel mengubah posisinya menghadap ke arah Aisyah dan mengenggam jari tangan Aisyah kuliah menciumnya, "Kenapa harus berterimakasih, apa yang aku lakukan bukanlah hal besar dibanding apa yang kamu lakukan. Perubahan yang kamu buat untuk rumah tangga kita kedepannya sangat berarti bagiku, tak ada yang kau inginkan selain itu semua.Aku sangat bahagia hari ini." ucap Farel masih menatap netral Aisyah, kemudian mencium singkat bibir Aisyah. Meskipun Farel melakukannya di taman, Farel tak merasa malu sebab rasa malu telah di kalahkan oleh kebahagiaan yang di datangkan oleh Aisyah.