
Farel Berjalan mengikuti Aisyah dari belakang hingga sampai pada kamar pribadi Aisyah yang sekarang juga akan menjadi kamar Farel. Farel menghentikan langkahnya, memilih bertanya untuk meyakinkan hatinya.
"Apa kamu yakin dengan ini, apa kamu benar sudah mau menerimaku, aku tak mau jika itu hanya karena kasihan sekaligus untuk membalas budi karena telah menyelamatkanmu." beberapa pertanyaan Farel lontarkan Untuk Aisyah. Berharap, apa yang Ia pikirkan itu salah.
Aisyah diam mendengar Farel mengajukan pertanyaan itu. Ia binggung harus memulai dari mana. Pertanyaan yang Farel ajukan memang benar, tapi tak mungkin Aisyah membenarkan itu, Farel akan salah paham kepadanya.
"Sudahlah, kita tak perlu membahas itu." Mereka telah tiba di depan kamar Aisyah. Saat hendak masuk tiba-tiba Farel menghentikan langkahnya.
"Itu hal penting bagiku, jika kamu bisa menjawab maka jawablah, aku akan mendengarkan kejujuranmu. Karena Aku tak ingin memulai hubungan dengan keterpaksaan Aisyah." Farel menatap kedua mata Aisyah mencoba mencari kebenaran akan dirinya.
"Kenapa kamu sangat ingin mengetahuinya, tidak bisakah kita memulai awal yang baru tanpa harus memandang kebelakang. Sekarang masuklah jika Kamu ingin tidur bersamaku." Aisyah berlalu masuk dalam kamar meninggalkan Farel yang masih berdiri di depan pintu.
Dengan menepis segala keraguan, Farel memantapkan hati untuk bisa tidur bersama dengan Istrinya. Dalam hati Farel memang sangat bahagia karena Aisyah sudah bersikap baik padanya. Namun egonya sebagai laki-laki juga tak mau jika dia mendapat haknya sebagai balas budi Istrinya. Farel lebih memilih mengutamakan keinginan Istrinya dengan menepis egonya dan berharap ini memang langkah awal yang di ambil Aisyah sebagai Istri Farel.
"Apapun itu, aku akan menerimanya. Kamu tak akan merasa sendiri setelah kamu menerimaku menjadi Suamimu. Aku berjanji pada diriku sendiri Kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan." Farel melangkahkan kaki masuk ke kamar Istrinya.
"Baiklah, sekarang lebih baik kamu tidur dulu. Aku masih ada pekerjaan mengenai kuliahku yang harus aku selesaikan untuk kelas besok." Aisyah membuka laptop dan mulai mengerjakan tugasnya. Tak terasa sudah hampir tengah malam Aisyah masih berkutat dengan laptopnya.
"huuuaahhh..., aku sudah sangat mengantuk, lebih baik aku tidur, sisanya aku kerjakan besok pagi." Aisyah berjalan menuju tempat tidur. Untuk sejenak pandangan Aisyah menuju pada Farel yang sudah tertidur dengan pulas. Entah mengapa Aisyah sangat menyukai suaminya saat tidur. Memilih berbaring di samping suaminya dan menyusul ke alam mimpi.
Pagi sudah datang dengan sinarnya yang menghangatkan tubuh Farel, menerobos masuk melalui jendela kaca dengan gorden silver tersebut.
Farel membuka mata."Rupanya sudah pagi." memandang Istrinya yang masih tertidur dengan tangan yang melingkar pada perut Farel. Tak mau sampai membangunkan Istrinya yang masih terlelap Farel dengan hati-hati memindahkan tangan Aisyah ke bawah.
__ADS_1
"Kau memang sangat cantik Aisyah, dan aku sangat beruntung karena menjadi suamimu, semoga tak ada yang berniat memisahkan hubungan kita, Aisyah." Farel masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi dengan hati-hati karena tangannya masih belum sembuh betul.
Aisyah terbangun karena sinar matahari yang mengenai wajahnya.
"Sudah pagi, Aisyah melihat ke samping tak ada Farel disana, Farel dimana, tak lama terdengar suara air kran, oh...rupanya sedang mandi, apakah Farel bisa melakukannya sendiri dengan tangan yang masih menggunakan penyangga." Aisyah yang tak mau berpikir memilih bertanya langsung pada Farel apa dia membutuhkan bantuannya.
"Farel...apa kamu mendengarku, apa kamu bisa melakukannya sendiri, jangan terlalu memaksakan jika tidak lukamu akan terbuka lagi." teriak Aisyah dari balik pintu kamar mandi.
"Kamu tenang saja, aku bisa sendiri." meskipun Farel mengatakan jika ia bisa sendiri Aisyah tetap menunggu di depan pintu kamar mandi.
Farel membuka pintu dan mendapati Aisyah masih berada di depan pintu.
Aisyah tercengan melihat Farel hanya menggunakan Handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Sedangkan dadanya tanpa sehelai benang pun, refleks Aisyah membalikan badan menahan malu telah melihat sesuatu yang menakjubkan itu. Aisyah memang menyukai pria dengan otot sispek baginya terlihat lebih sexy. Tapi ini pertama kalinya Ia berhadapan langsung dengan tubuh sexy tersebut.
"Ada yang salahkah Aisyah, kenapa kamu membelakangi ku, memilih mengabaikan Aisyah dan mengambil baju di lemari. Farel berusaha menggunakannya sendiri tanpa bantuan Istrinya.
"Kenapa tidak meminta bantuan ku, aku ada di sini untuk membantumu. Aku tahu tugasku sebagai istri jadi jangan menganggap aku tak bisa melakukan apapun." Aisyah sedikit kesal karena Farel tak meminta bantuannya.
"Bukan begitu Aisyah, aku hanya tak ingin merepotkanmu, oh ya, kuliahmu jam berapa?" Farel menuruti setiap perkataan Aisyah yang membantunya memakai baju.
"Sekitaran jam sembilan, nanti Vika dan Vita akan ke sini buat jemput aku."
"Oke...nanti Fandi akan mengawalmu meski dari jauh, kita harus berjaga-jaga Aisyah, aku tak mau kamu kenapa-napa. Apa salahnya membawa pengawal, pengawal itu juga tak akan terlalu dekat denganmu nantinya." Farel tak ingin hal kemarin terulang lagi. Untuk itu ia harus melakukan penjagaan ketat kepada Aisyah. Aisyah menyukainya atau tidak, itu demi keamanannya sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah, aku menyerah berdebat dengan mu. Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau." Aisyah memilih turun setelah selesai membantu Farel, sekarang gilirannya untuk masak, tidak banyak, hanya untuk sarapan pagi dan makan siang, itu baginya tak masalah.
Aisyah sudah ada di dapur, Ia binggung mau masak apa untuk sarapan pagi. Bik Sumi juga belum kembali dari pasar. Di dalam kulkas, Aisyah hanya menemukan dua butir telur dan beberapa buah-buahan, akhirnya pilihannya jatuh pada nasi goreng ala Aisyah.
Farel yang bosan terus berada di kamar memilih pergi ke kantor ada pekerjaan yang harus ia kerjakan, Farel turun menuju meja makan yang kebetulan jaraknya tak jauh dari dapur.
"Katanya mau masak, kok nggak ada apa-apa." ucap Farel dengan sedikit penekanan.
"Ini lagi nungguin bik sumi pulang dari pasar, pastilah bibi sudah membawa banyak belanjaan untuk persediaan makanan dua minggu." berucap sambil melirik ke arah Farel.
"Kamu hendak kemana sudah rapi, bukannya kamu tadi hanya menggunakan kaos dengan celana pendek, kenapa sekarang sudah menggunakan jas, jangan bilang kamu mau ke kantor. Kamu belum sembuh Farel, Kembalilah ke kamar, aku tak akan memberi izin untuk ke kantor." Aisyah berjalan mendekati Farel hendak mengajaknya masuk kedalam kamar lagi dan beristirahat total.
"Tidak bisa seperti itu Aisyah, hari ini ada klien penting yang akan datang, dia meminta keputusan terakhir dari meeting kemarin mengenai projek pembangunan sebuah panti asuhan yang sangat di impikan oleh Papamu, Aisyah, meeting itu di majukan karena sebentar lagi dia mau kembali ke negaranya di Mesir. Namanya Pak Sahir dia yang akan memberikan modal pertama untuk pembangunan tersebut. Untuk itu aku harus datang Aisyah, beliau minta bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan Kusuma Grup. Mengertilah Aisyah ini hal yang penting."
Aisyah terlihat berpikir, jika ini mengenai impian Papanya dan juga ia maka Aisyah harus mengiyakan keputusan Farel.
"Baiklah, aku akan ikut, akan ku pastikan kamu baik-baik saja. Jika kamu menolak artinya kamu tak boleh kesana." memberinya sedikit ancaman agar bisa ikut menemani karena jika tidak diancam Farel akan menolak untuk di temani. Aisyah meminta Farel menunggu sebentar untuk bersiap-siap, tiga puluh menit berlalu Aisyah turun dengan mengunakan dress biru dengan rambut digerai menujukkan kecantikan alami yang dimiliki. Untuk sesaat tatapan mata Farel tidak berpaling dari Istrinya yang terlihat begitu cantik lain pada hari biasanya.
"Ayo kita pergi." menuju ke arah Farel.
Farel tersadar saat mendengar suara Aisyah."Ayo...."memberikan lengan kirinya untuk di gandeng oleh Aisyah.
Dengan senang hati Aisyah mengandeng lengan Farel.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu maumu."
Mereka menuju coffee time sesuai permintaan pak Sahir. Berjalan beriringan menjadi pusat perhatian.