
"Benar dugaan kamu Farel Aisyah pasti bisa sembuh, yang Aisyah perlukan adalah dukungan dan kasih sayang dari kita semua."
Vita yang tak percaya juga ikut duduk di hadapan Aisyah, menyaksikan sendiri sedikit perubahan pada sahabatnya.
"Ngomong-ngomong kalian mau kerja di mana setelah kalian lulus?" Farel mengalihkan pembicaraan setelah mengajak mereka semua masuk untuk makan siang. Hari ini Farel memang sengaja pulang saat hendak makan siang, ia ingin makan bersama istri tercintanya.
"Aku belum tahu juga sih, rencananya mau ngelamar di beberapa perusahaan, ya semoga saja di terima." Vika menjawab seadanya.
Berbeda dengan Vika, Vita tersenyum mendengar pertanyaan Farel, "Kalau aku ingin membuka toko kue milikku sendiri, lagipula aku dan mamaku kan suka membuat aneka kue dan masakan."
Farel masih menyuapi Aisyah sesekali bercanda dengan mereka, Farel sudah menganggap sahabat Aisyah sebagai teman juga.
"Aisyah memang beruntung memiliki kalian, kalian adalah sahabat yang baik dan pengertian terhadap sesama." Farel mengutarakan kesalahannya pada Vika dan Vita.
"Kita juga beruntung memiliki sahabat seperti Aisyah, Aisyah sangat baik, dia bahkan tak pernah membeda-bedakan teman, tapi ya cuma kita yang paling dekat dengan Aisyah." sambung Vika.
Setelah makan siang Farel akan kembali ke kantor, untuk mengurus beberapa berkas untuk meeting.
"Apa aku boleh meminta bantuan pada kalian, jika kalian mau kalian bisa menemani Aisyah di sini, sebab aku akan pulang terlambat, ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan di kantor. Ya itu semua juga karena aku belum menemukan penganti sekertaris ku yang dulu, kalian tahu sendirilah apa masalahnya." Farel berharap permintaannya di iyakan olek mereka.
"Baiklah, itu tidak masalah buat kita, kita justru senang bisa berkumpul dengan sahabat kita, jadi pergilah dengan tenang kita akan jagain Aisyah dengan biak di sini." Vita meyakinkan Farel jika Aisyah akan aman bersamanya.
Deru mobil kini sudah terdengar menjauh dari halaman rumah, Vika dan Vita merasa sangat senang atas kepergian Farel, meraka ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan Aisyah seperti saat mereka masih kuliah.
"Sekarang hanya ada kita bertiga, kita jalan-jalan yuk ke taman dekat sini, kamu mau?" Vika berusaha berkomunikasi dengan Aisyah.
Dengan mengajaknya terus berbicara, Vika dan Vita berharap Aisyah akan lekas sembuh.
Hampir dua bulan Vika dan Vita selepas wisuda mereka, mereka selalu bermain ke rumah Aisyah hanya untuk menemaninya sampai suaminya pulang bekerja.
"peningkatannya cukup bagus, jika ini terus berlanjut, maka bu Aisyah akan segera sembuh." ucap Dokter psikiater yang menangani Aisyah.
"Benarkah yang Anda katakan, Dok?"
__ADS_1
Farel tak menyangka, binar kebahagiaan terlihat di matanya, hingga sangking bahagianya, Farel menitihkan Air mata.
"Aku yakin kamu pasti sembuh, Aisyah, lihatlah kamu tak sendiri banyak yang menemanimu melewati masa terpurukmu." Farel menunjuk kehadiran sahabatnya di samping Aisyah.
Kini Aisyah lebih banyak merespon ketika di ajak berbicara, bisa di katakan sembuh total.
"Mas Farel harus janji, nggak akan tinggalin aku lagi. Apapun yang terjadi, aku takut sendiri dan aku nggak mau kehilangan lagi."
"Iya, mas akan selalu bersamamu selamanya. Sekarang tersenyumlah, kamu lebih cantik saat tersenyum."
"Ishh... gombal deh..."
"Nggak gombal kok, beneran kamu cantik kalau tersenyum."
Wajah Aisyah kini sudah seperti kepiting rebus
"Kamu sudah lulus kuliah, apa kamu masih mau mewujudkan mimpimu menjadi wanita karir, jika iya aku bisa menyerahkan jabatan yang seharusnya menjadi milik kamu." Farel menatap Aisyah serius, bagaimanapun Papa yang ia pegang sekarang adalah jabatan sementara dan masih ada Aisyah yang akan melanjutkan, terlebih Aisyah memang sangat ingin menjadi wanita karir.
"Sepertinya akan ku coba, aku akan tetap menjadi wanita karir, tapi tidak dalam perusahaan yang mas pimpin, aku ingin memiliki bisnis kecil yang memang aku jalankan sendiri, apa mas menyetujuinya?" Aisyah berharap apa yang ia utarakan mendapat persetujuan dari sang suami.
Seulas senyum terbit di bibir Farel. "Jika kamu memang menginginkan itu, baiklah aku akan tetap mendukungmu."
"Dukunganmu memang sangat aku butuhkan mas, makasih ya untuk pengertiannya. Terimakasih juga untuk perhatian serta kesabaran yang mas berikan dalam merawatku beberapa bulan ini, aku sungguh sangat beruntung memiliki mas Farel dalam hidupku."
"Sudah jangan di bahas lagi yang lalu biarlah berlalu, bukankah dengan begitu kamu jadi tahu seberapa besar aku mencintaimu?"
"Yang aku inginkan hanyalah kamu tetap tersenyum, kita lewati masalah yang kita punya bersama-sama."
Jika dalam hubungan rumah tangga tidak ada pengertian lalu akan menjadi apa, bukan membaik tapi masalah justru akan semakin parah, jika di antara kedua pasangan tak ada yang mau mengerti. Sebab itu pengertian sangat di butuhkan di dalamnya. Terkadang ego yang hadir saat kita mendapat masalah membutakan mata hati, yang pada akhirnya membuat kita tidak perhatian terhadap pasangan kita.
Farel kini bisa bernafas lega masalah yang di hadapi oleh istrinya sekarang telah usai, Aisyah sudah kembali seperti dulu lagi, mereka pun sudah mengikhlaskan kepergian calon anaknya dengan lapang dada.
Dengan berakhirnya bab Bram, Farel dan Aisyah bisa memulai hidup mereka yang baru tanpa di hantui rasa takut.
__ADS_1
Aisyah bersama dengan Vika kini telah membangun bisnis dalam bidang desainer. Baik Aisyah atau Vika sama-sana memiliki potensi dalam hal itu, ya meskipun pada awalnya hanya mencoba, siapa sangka bisa sesukses sekarang.
"Kita bersulam...!"
Chinggs...
"Kali ini keberhasilan kita patut untuk di rayakan, gue seneng banget, dengan begini kita bisa mandiri ya nggak!"
"Iya gue juga seneng bisa wujutin mimpi gue jadi wanita karir."
"Keberhasilan kita paput untuk di rayakan, bersulam."
Chirrsgg...
Lagi-lagi gelas kaca itu beradu menciptakan suara yang cukup nyaring. Namun kebahagiaan terasa di dalamnya. Sahabat yang selalu membantu dalam setiap masalah, kini telah berkumpul setelah cukup lama berkutat dalam kesibukan masing-masing.
"Hari ini gue juga mau berikan kabar baik pada kalian, coba kalian tebak apa itu!!" Vika membuat kedua sahabatnya mengernyitkan kening. pertanda binggung.
"Memang apa yang kabar bahagia dari lo, langsung saja, jangan buat kita penasaran dong..."
"Iya nih, lo paling demen deh kalau beginian... jangan buat kita menebak-nebak nggak jelas!" gerutu Vita, sebab Vika tak mau langsung to the point.
"Ya, aku maunya kalian yang tebak, gimana dong... " Vika melihat wajah kedua sahabatnya yang sudah lelah menebak membuatnya puas, "Baiklah, gue bakalan tunangan sama Dosen Vino, dan kita sudah sepakat buat tunangan besok lusa. Kalian hadir ya, gue nggak Terima penolakan loh, pokonya harus hadir."
Kedua sahabat Vika terpaku dengan penuturannya. Detik berikutnya Senyum kebahagiaan terpancar dari mereka berdua.
"Selamat ya, kita turut bahagia atas pertunangan lo dan kita pasti hadir kok, kita kan sahabat selamanya... masak iya kita nggak hadir di hari bahagia lo, kan nggak mungkin!"
Dreeertt...
Dreeertt...
Handphone Aisyah berbunyi, menghentikan aktivitasnya bercanda ria dengan sahabatnya.
__ADS_1