Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Berjauhan


__ADS_3

Ucapan syukur diucapkan berkali-kali oleh Aisyah, dari tadi ia sempat menghawatirkan keselamatan suaminya dan dengan telfonnya Farel, Aisyah merasa lega.


"Syukurlah, kamu sudah sampai, apa di sana tempatnya indah," Aisyah ingin mengetahui keindahan pulau kalimantan.


"Mungkin, aku saja baru sampai bagaimana bisa jalan-jalan, lagipula disini aku kan bekerja bukan liburan. Kelak kalau kamu sudah lulus kuliah kita honeymoon bersama, sesuka kamu mau pergi kemana!" Farel tak ingin membuat Aisyah merasa sedih untuk itu Farel mengalihkan pembicaraan.


"Oke, saat aku sudah lulus dengan nilai yang memuaskan kamu harus penuhi semua yang aku inginkan. Tanpa terkecuali." Aisyah ingin memastikan apa yang di katakan Farel itu benar.


"Iya aku janji. Sekarang bersabarlah kita hanya terpisah selama lima hari, itu waktu yang pendek. Jadi semangatlah!!!"


Aisyah tersenyum, setiap perkataan Farel mampu untuk menenangkannya.


"Iya aku semangat, kalau sudah lihat wajah mas Farel pasti aku semangat."


Aisyah menampilkan senyum termanisnya.


Pembicaraan mereka berlanjut, meluapkan rindu yang sempat singgah. Aisyah dan Farel melakukan video call sambil tiduran, hingga tanpa sadar Aisyah dan Farel telah tertidur di kamar masing-masing, tanpa ad ayang matikan pangilan tersebut hingga handphone milik Aisyah kehabisan baterai.


Memang saat seseorang jatuh cinta, mereka biasanya lupa dengan siapapun, dan apapun yang ingin ia lakukan.


Matahari telah bersinar, menampakkan sinar yang hangat yang banyak sekali vitamin yang terkandung, Aisyah yang telah bangun sejak subuh tadi memilih untuk berolahraga di depan teras. Sama dengan apa yang Farel lakukan dan tentunya dengan bantuan Fandi sebagai pelatih, Aisyah ingin tubuhnya tetap sehat dan berbentuk. Olahraga yang ia lakukan kali ini tidak terlalu berkata hanya yoga dan pemanasan kecil. Banyak dari ibu-ibu yang lewat dan menyempatkan melihat Farel, namun yang mereka temui justru Aisyah istri Farel, karena sudah terlanjur lewat maka sekalian ibu-ibu mampir.


"Eh... bu Aisyah sekarang suka berolahraga, saya baru lihat hari ini loh, sebelumnya bukannya pak Farel ya yang selalu berolahraga di teras. Memang kemana suaminya, Bu?" Bu Ika dan Bu Ida mulai keluar kekepoannya.


Aisyah membuang Nafas sejenak, ia paham betul ibu-ibu itu terlalu terobsesi kepada tubuh kelar serta ketampanan suaminya.


"Mas Farel lagi keluar pulau, sedang ada pembangunan pabrik baru di sana, jadi harus hadir sebagai pengganti papa." jawab Aisyah seadanya.


Para ibu-ibu hanya ber-oh-ria mendengar jawaban Aisyah, setelah mengetahui apa ya g ingin di ketahuinya mereka memilih pulang.

__ADS_1


"Dasar ibu-ibu ini, keponya itu lo ngeselin. Kesel aku lihatnya. Apa semua tangga itu seperti itu ya. Menurut kamu gimana Fandi?"


Fandi hanya tersenyum melihat tingkah majikannya.


"Mungkin, namanya juga tetangga bu Aisyah. Sekarang kita lanjut yoganya saja" Fandi mulai mengajarkan yoga yang membuat rileks pikiran.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, Aisyah segera menyudahi yoganya dan memilih bersiap-siap untuk ke kampus, hari ini Aisyah harus menyetorkan Skripsinya untuk di nilai.


"Sudah untuk hari ini, kamu bisa bersiap-siap untuk ikut aku ke kampus, kamu harus menjagaku sesuai dengan perintah Mas Farel, tapi ingat jangan terlalu dekat-dekat aku tak suka."


"Siap, bu Aisyah. Sesuai dengan keinginan anda." Fandi selalu sigap jika itu menyangkut keamanan Aisyah, apalagi Farel telah memperingatkannya mengenai Andre yang mungkin akan membalas setiap penghinaan yang di dapat kemarin.


***


Jauh di sebrang, Farel tiba-tiba merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi ia tak tahu apa itu. Pikirannya selalu tertuju pada Aisyah yang berada jauh darinya.


"Ada apa denganku, kenapa aku merasa gelisah. Aisyah semoga kamu baik-baik saja, lebih baik aku hubungi Aisyah agar hatiku merasa lega." Farel bermonolog.


kring...


kring...


Handphone Aisyah berbunyi, saat mengetahui nama yang tertera di layar depan, Aisyah langsung menggeser tombol hijau untuk mendengar suara suaminya.


"Hallo mas Farel, baru saja aku ingin menelfonmu ternyata kamu lebih dulu menghubungiku. Ada apa, kamu kangen ya sama aku!!!" Aisyah mengatakan dengan kebahagiaan.


𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘭𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯. Farel berucap dalam hati.


"Hallo mas, kenapa tidak menjawab." Aisyah yang binggung kenapa suaminya hanya diam.

__ADS_1


"Tidak Aisyah, mas masih disini, mendengarkan suaramu yang sangat mas rindukan. Hari ini kamu kuliah?" tanya Farel mengalihkan pembicaraan. Farel tak mau mengubah mood istrinya yang terdengar sedang happy.


"Ini juga mau berangkat, mas tenang saja aku berangkat dama Fandi kok, sesuai dengan keinginan mas kan."


"Maafkan mas, bukan mas ingin membatasi mu tapi apalah daya mas yang jauh disini, mas nggak bisa menjagamu langsung." jauh dari istrinya membuatnya bimbang.


"Aku ngerti kok mas, sudah ya aku mau berangkat, nanti aku telat lagi." Aisyah menutup panggilan karena Aisyah sudah hampir telat.


Farel merasa lega setidaknya dengan menelfon Aisyah dan mengetahui jika keadaannya baik-baik itu sedikit membuat kecemasannya berkurang namun tak bisa di pungkiri Farel tetap merasa gelisah.


𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘧𝘰𝘬𝘶𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘍𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘍𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. Farel mencoba untuk berpikir positif.


***


Tak lama Aisyah sudah sampai di kampus, Aisyah masuk ke dalam dengan di temani kedua sahabatnya yang memang sudah menunggunya seperti biasa di depan halaman kampus.


"Sorry gue telat, tadi suami gue telfon, lo tahu sendirilah kalau sudah soal suami ya..." Aisyah menggerakkan alisnya naik turun. Berharap kedua sahabatnya mengerti apa yang di rasakannya.


"Huff... kita yang jamuran Aisyah tungguin lo dari tadi. Tadi lo bilangnya udah jalan... tapi ini hampir satu jam kita tungguin di sini." Vika merasa kesal kepada sahabatnya itu.


"Kan gue udah minta Maaf, masak kalian nggak kasih maaf ke gue." Aisyah menampilkan wajah sok imutnya dengan sedikit memelas.


Mau tak mau jika Aisyah sudah mengeluarkan jurus andalan kepada kedua sahabatnya itu mereka harus memaafkannya juga.


"Iya...iya...kita maafkan, sebel deh kita nggak bisa bales loh. ujung-ujungnya kita luluh juga kan." Vika dan Vita kompak memperlihatkan wajah kesalnya.


"Hehe... sudah jangan ngambek sekarang kita masuk yuk." ajak Aisyah.


Sedangkan Fandi memilih berjaga di depan halaman kampus, Fandi percayakan keamanan Aisyah kepada sahabat dekatnya.

__ADS_1


Di sisi lain kampus Andre yang melihat dan mendengar pembicaraan Aisyah dengan sahabatnya, tersenyum menyerigai. Waktu yang ia tunggu-tunggu untuk membalaskan semua penghinaan yang ia dapatkan telah tiba.


𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯-𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢, 𝘩𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢... Andre tersenyum menyerigai, tujuannya hanya satu membalaskan rasa sakit hatinya.


__ADS_2