Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Ririn mulai beraksi


__ADS_3

"Sekarang bisakah kamu keluar sebentar, aku ingin berganti baju." pinta Farel.


Ririn melangkah keluar menunggu di luar kamar Farel hingga Farel mengizinkannya masuk. Ririn sangat berharap Farel mengizinkannya masuk ke kamar Farel.


𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘦𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩. Ririn berkata dalam hati.


Farel keluar kamar, itu ia lakukan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan meskipun Ririn adalah sahabat terbaiknya, tapi Farel juga harus menjaga perasaan dan hati Aisyah.


"Katakan ada apa kamu malam-malam ke kamarku?" tanya Farel yang sedikit canggung akibat dari insiden tadi.


"Aku hanya ingin minta tolong, apa kamu bisa membenarkan laptopku, sekarang ada di kamar tadi masih menyala tapi tiba-tiba mati, aku tak tahu harus minta tolong pada siapa, sedangkan besok kita ada meeting dengan para pemegang saham. Semua file yang sudah aku siapkan aku simpan di laptopku ini dan belum sempat aku kirim ke email mu Farel." Ririn menampakkan wajah cemas agar terlihat meyakinkan.


Farel terlihat mengerutkan dahinya ketika mendengar penuturan Ririn.


"Baiklah aku akan membantumu, berikan laptop mu akan aku perbaiki di kamarku. Jika nanti sudah bisa akan akan aku beritahu, sekarang kamu istirahatlah sudah malam." Farel masuk kedalam kamarnya meninggalkan Ririn di luar kamarnya. Saat hendak menutup pintu Ririn menghentikannya.


"Apa aku bisa masuk sebentar, tadi ada kecoa di kamarku dan aku takut pada kecoa. Sebenarnya tadi ada kecoa yang mengarah kepadamu, saat kecoa itu hendak naik ke kakiku aku tidak sengaja menekan tombol pada keyboard yang mengakibatkan laptopku mati tiba-tiba dan sekarang tidak bisa menyala." ungkap Ririn dengan tatapan memelas.


Ia mencoba mencari cara agar diperbolehkan masuk kedalam kamarnya Farel.


Farel tertawa mendengar sahabatnya takut pada kecoa.


"Kenapa kamu tertawa, nggak ada yang lucu juga!" Ririn terlihat kesal.


"Baru tahu aku kalau kamu takut pada kecoa, selama ini yang aku tahu kamu nggak pernah takut pada apapun tapi sekarang, pada kecoa pun takut." Farel masih menertawakan Ririn, baginya sangat lucu sikap sahabatnya ini.


"Aku nggak takut Farel, cuma jijik aja lihatnya. pokonya malam ini aku tidur di kamar kamu ya, kamu tega lihat aku ketakutan gara-gara ada kecoa di kamarku."


Apapun akan Ririn lakukan agar rencananya berhasil.


"Kenapa jadi harus tidur di kamarku, Rin. Kan bisa kecoanya dicari kemudian di buang. Kita bukan suami istri yang bisa tidur satu kamar." Farel memberi pengertian kepada Ririn.

__ADS_1


Ririn memperlihatkan wajah sedihnya, seperti sedang tertekan.


"Kita tidak akan melakukan apapun, Farel, aku tahu batasan ku, aku hanya numpang tidur saja, bukankah aku adalah sahabat terbaikmu, lagipula aku kan tidur di sofa." ucap Ririn memaksa.


Farel terlihat berpikir, Ia ingin membantu tapi juga tidak mau menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri.


"Baiklah, kamu malam ini bisa tidur di kamar ku, selain kita kerjakan file yang diperlukan untuk besok. Lagipula aku juga tidak bisa menolak permintaan sahabatku sendiri yang selalu membantuku dikala susah." Farel tersenyum tipis.


Farel tidak tahu niat asli dari Ririn mendekatinya, Farel hanya menganggap sikap yang di tunjukkan Ririn kepadanya memang murni dari rasa sayang seorang sahabat dekat, tidak lebih. Farel juga tidak mengetahui perselisihan yang terjadi antara Istrinya, Aisyah dan Ririn. Mereka masih menyembunyikan kebenaran itu.


Farel mengajak Ririn masuk, dan ia mulai membetulkan laptop Ririn yang eror.


Ririn sendiri terlihat senang, merasa jika apa yang di rencanakan akan memicu keretakan di dalam hubungan Farel dan Aisyah.


"Farel apa kamu sudah makan, Jika belum sekalian aku pesanan gofood , kamu mau?" tanya Aisyah.


"Kebetulan aku juga belum makan, baiklah, sekalian kamu pesan saja,." Farel masih serius memeriksa laptop Ririn.


Di dalam kamar Aisyah masih murung dengan Farel, ia marah karena suaminya tidak juga memberinya kabar. Aisyah sudah mencoba untuk memejamkan matanya namun tidak bisa tidur juga, sedangkan Vita dan Vika sudah lebih dulu tidur.


"Apa aku coba hubungi lagi Farel siapa tahu dia angkat panggilanku, apa salahnya mencoba," gumam Aisyah ia sungguh gelisah memikirkan suaminya yang baru pertama kali jauh darinya.


Aisyah turun dari ranjang dan menyalakan handphone miliknya yang sedang di cash, karena tadi handphone Aisyah sempat mati kehabisan daya.


"Banyak sekali, senyuman terbit di sudut bibir Aisyah. Ternyata Farel tidak seperti apa yang aku duga, Farel baik-baik saja di sana." Aisyah merasa lega Farel juga menghubungi balik Aisyah.


Aisyah melakukan panggilan Video pada Farel, Rasa rindunya sudah menguning ingin bertemu dengan Farel. Padahal mereka baru berpisah tadi pagi.


"Hallo sayang, apa_" Aisyah menggantung ucapannya.


Hal yang ingin Aisyah lihat saat melakukan panggilan Video adalah Farel, tapi justru yang mengangkat panggilan video tersebut adalah Ririn dengan wajah sumringah nya, berbagai pertanyaan ada di kepala Aisyah.

__ADS_1


"Kenapa kamu yang menerima panggilanku, dimana Farel,? berikan telfonnya pada Farel!" Aisyah yang sedikit emosi menekankan setiap perkataannya.


"Tenanglah, Farel sedang keluar, ia sedang mengambil makan malam romantis kami. Kamu tahu aku sedang berada di mana." Ririn memperlihatkan


kamar milik Farel.


"Aku sedang berada di kamar suamimu, menghabiskan malam hanya berdua. Jangan marah, lebih baik kamu tidur sana suamimu disini sudah ada aku yang akan menjaganya." ucap Ririn menakut-nakuti Aisyah, seolah di dalam kamar memang terjadi sesuatu, tapi sekarang benarnya tidak ada.


Ririn bertekad akan mengambil Farel dari Aisyah bukan dengan cara yang kasar namun dengan menggunakan cara yang halus. Tentunya dengan menggunakan kepercayaan Farel kepadanya.


"Aisyah yang sudah tersulut emosi memilih mengakhiri panggilan video tersebut." Tak terasa air mata jatuh tanpa diminta. Aisyah menangis, ia berpikir apa yang dikatakan Ririn benar adanya.


"Kenapa kamu jahat, Farel, tapi aku tidak akan percaya dengan mudah bisa saja apa yang aku lihat tidak seperti apa yang sebenarnya terjadi." ucap Aisyah lirih."


Aisyah kembali ke kamarnya, ia memikirkan cara agar Farel tetap bersamanya, ia tidak ingin ditinggalkan oleh Farel karena hanya Farel yang Aisyah punya.


Di dalam kamar,


Vita terbangun dan mencari Aisyah, saat hendak keluar ia berpapasan dengan Aisyah yang sudah basah dengan air mata di pipinya.


"Kamu kenapa, Aisyah, kamu menangis, sini duduklah dan ceritakan kepadaku." tanya Vita khawatir.


Vika yang mendengar suara terbangun dari tidurnya.


Duduk dan ikut bergabung dengan Vita dan Aisyah.


"Kenapa kalian belum tidur. Aisyah, kenapa kamu menangis. Vita Aisyah kenapa?" tanya Vika ikut khawatir.


"Aku nggak papa kok, kalian tidur lagi saja." Aisyah mencoba meyakinkan mereka berdua bahwa ia baik-baik saja.


"Ya nggak bisa gitu dong, kita kan sahabat kita selau ada kok buat lo Aisyah, lo ceritain aja siapa tahu kita bisa kasih solusi untuk maslah lo. Tadi lo kayak baik-baik aja, sekarang lo tiba-tiba kayak gini, coba ceritain deh ke kita." Vita berucap sambil mengelus punggung Aisyah supaya lebih tenang.

__ADS_1


"Gue tadi mau telfon Farel, gue nyalain video call dan kalian tahu siapa yang angkat Panggilan gue? yang angkat Ririn bukan Farel, dan kalian tahu apa yang dia bicarakan. Dia bilang kalau dia lagi makan malam romantis sama Farel." Aisyah kembali menagis.


__ADS_2