
"Mereka sahabatku, Pak, kata mereka Pak Dosen sudah mengajar dari kemarin cuma kemarin aku nggak masuk jadi nggak tahu kalau ada Dosen baru." ucap Aisyah menjelaskan.
"Oh, pantes waktu saya mengajar di kelasnya Vita dan Vika, saya nggak lihat kamu."
"Biak pak saya masuk kelas dulu, saya hanya mau mengucapkan terimakasih karena telah menolong teman saya sekalian supaya kenal dengan dosen baru kata temen saya Bapak orangnya enjoy." jelas Aisyah.
"Saya memang seperti itu, santai saja. ya sudah saya permisi." Dosen Vino meninggalkan Aisyah.
Vita dan Vika mereka sudah berasa di kelas sedang menunggu Aisyah. Aisyah sendiri berusaha menyembunyikan rasa sakit di area sensitif nya karena ulah Farel semalam, ia mencoba terlihat biasa saja. Masuk ke kelas ia langsung menghampiri temannya yang duduk hanya berdua di dalam kelas. Anak-anak lain masih ada yang belum datang.
"Cie... ada yang lagi bahagia dan ada yang berbeda dari sahabat kita ini iya nggak." Vita menggoda Aisyah, bisa dilihat dari car ajalah Aisyah jika ia sudah memberikan hak Farel suaminya.
"Lihat tuh mukanya sampai kayak kepiting rebus. Lo mau cerita ke kita nggak." tanya Vika yang sudah penasaran akut.
"Ini juga gue mau cerita, gue seneng banget, gue udah berikan semua yang gue miliki hanya untuk Farel."
"Maksudnya apa Aisyah, jangan buat kita bingung deh." Vita berlagak sok nggak tahu, padahal sudah paham betul.
"Maksudnya gue udah berikan hak Farel tadi malam." Aisyah memelankan suaran sedikit takut orang lain mendengarnya.
"Serius lo..., Akhirnya lo jadi istri beneran."
"Emang gue selama ini jadi istri jadi-jadian gitu." Aisyah kesal dengan ucapan sahabatnya
"Jangan marah, maksud gue lo udah jadi istrinya Farel yang sebentar lagi bakal jadi ibu dari anaknya Farel gitu." jelas Vita.
"Kalau soal jadi ibu kayaknya gue belum siap deh, gue masih mau kejar cita-cita gue."
"lo kan sekarang sudah jadi nyonya Farel lalu untuk apa lo jadi wanita karir Aisyah. Hidup lo sudah enak jangan lo buat rumit." Vika bingung dengan jalan pikiran sahabatnya itu, Aisyah membuang nafas kasar.
"Ya, apa salahnya jadi wanita Karir, toh itu emang cita-citaku dari kecil, Farel pasti ngertiin aku kok." Aisyah meyakinkan sahabatnya, pilihannya sudah tepat.
__ADS_1
"Terus lo mau kerja dimana, di kantor bokap lo sendiri gitu. Jadi bosnya Farel atau jadi bawahannya Farel." goda Vita.
"Gue juga belum tahu mau kerja dimana. Sudahlah jangan bahas itu, itu gue urus kalau gue sudah lulus." Aisyah memilih mengalihkan pembicaraan sebelum kedua sahabatnya akan menceramahi nya hingga kuping panas.
Bu Dosen datang, kelas Aisyah dimulai. Pukul sebelas siang kelas selesai. Semua meninggalkan kampus, Aisyah Vita dan Vika mereka sudah janjian akan pergi ke rumah Vita untuk membantunya. Hari ini Mamanya memiliki pesanan katering yang lumayan banyak karena sudah terlanjur menyanggupi maka pesanan itu tidak bisa di batalkan lagi.
"Terimakasih lo lalin mau bantuin Aku, aku nggak tahu mau minta bantuan siapa lagi, hanya kalian teman yang aku punya." Vita bersyukur memiliki sahabat yang sangat pengertian dan baik.
"Lo tenang aja, kita akan bantu sebisa kita." Vika memberikan dukungan, sebagai sahabat memang sudah semestinya saling mendukung.
"Kebetulan gue juga suka masak, sekalian saja belajar bumbu masakan dari nyokap lo Vita. Jadi kita bantu juga sekalian belajar." Aisyah merasa senang ia akan mendapatkan ilmu memasak sekaligus membantu sahabatnya itu.
"Kita mampir ke pasar dulu ya, ini nyokap gue nitip dibelikan beberapa bahan makanan yang lupa dibeli."
"Ayo kita ke pasar, nanti Bu Yeti kelamaan nungguin kita."
Mereka akhirnya pergi ke pasar tradisional karena harga di sana lebih terjangkau.
"Serius lah, biasanya nyokap gue juga belanja di sini. Disini katanya bahannya langsung dari produsennya jadi lebih segar." Vita meyakinkan sahabatnya untuk belanja di pasar tradisional.
"Sudahlah kita harus cepat, Mamanya Vita pasti sudah nungguin belanjaannya." Aisyah melerai perdebatan mereka.
Mereka akhirnya masuk dan membeli belanjaan sesuai arahan yang sebelumnya sudah diberikan oleh mamanya Vita, sedikit banyak Vita tahu tempat-tempat yang menjadi langganan Bu yeti , mamanya Vita.
Sudah setengah jam mereka berputar-putar di dalam pasar, Akhirnya mereka bisa membeli bahan yang diperlukan oleh Bu Yeti.
"Syukurlah kita mendapatkannya, kalau tidak entah bagaimana jadinya pasti mamaku nggak bisa penuhin permintaan pelanggannya. Kalian tahu pelanggan yang satu ini orangnya cerewet sekali, rasanya pengen gue remes-remes tuh mulutnya." Vika yang geram kepada pelanggan mamanya yan selalu memberikan komentar yang cukup pedas.
Mereka akhirnya sampai di rumah Vita. Mereka segera membantu mamanya yang sudah sibuk dari pagi. Hingga pukul dua siang pekerjaan Bu Yeti telah selesai berkat bantuan mereka berdua. Setelah itu Vika dan Aisyah pamit pulang. Mereka menunggu jemputan sendiri-sendiri. Tak lama
yang menjemput Vika datang, tinggal Farel yang belum datang menjemput Aisyah.
__ADS_1
"Dimana Farel, tadi katanya suruh kabari kalau mau pulang, sekarang malah nggak ada kabar, apa dia sedang sibuk." Aisyah bermonolog.
Hampil satu jam Aisyah menunggu tapi Farel belum juga datang menjemputnya. Akhirnya ia memutuskan untuk naik taksi saja. Belum sempat ia menghentikan taksi yang lewat, ada mobil hitam berhenti di depannya, ternyata Andre yang keluar dari dalam mobil.
"Aisyah, sedang apa kamu disini, bukankah ini rumah Vita. Kenapa kamu berdiri di pinggir jalan." tanya Andre yang kebetulan lewat sehabis dari temannya yang kebetulan satu jalur dengan rumah Vita.
"Tidak ada, aku hanya sedang menunggu Farel menjemput ku." ucap Aisyah tenang, sekarang sudah tak ada lagi perasan cinta yang mendalam untuk Andre, rasa itu telah digantikan oleh Farel.
***
Farel sendiri sedang terjebak macet karena di depan ada motor truk yang terguling dan belum bisa dievakuasi sehingga menyebabkan macet total. Ia ingin mengambil jalan pintas namun tidak ada jalan keluar, mobilnya terhimpit oleh mobil lainnya.
"Bagaimana ini aku harus menjemput Aisyah. Aku sudah berjanji kepadanya, jika aku tidak sampai di sana pasti Aisyah akan marah kepadaku. Lebih baik aku menelponnya saja." Farel kebingungan.
Farel meraba sakunya, mencari handphone miliknya. Namun tidak dia temukan. Mencoba mengingat-ingat dimana dia menaruhnya.
"Astaga, apa mungkin Handphone ku ketinggalan di kantor, tadi sempat aku cash di kantor." Farel menepuk jidatnya.
***
Sebelum pulang Ririn harus menaruh File yang penting di ruangan Farel. Ia masuki ruangan Farel dan mengagumi sejenak ruangan itu.
"Kapan aku bisa bekerja dalam ruangan seperti ini. Menjadi Bos, bisa memberikan perintah sesukanya." ucap Ririn berkhayal. Pandangannya tertuju pada benda pipih yang sedang mengisi daya agar tetap menyala.
"Tunggu itu seperti handphone Farel, kenapa di tinggal disini." Ririn memastikan itu handphone milik Farel dengan membukanya kebetulan tidak ada sandinya sehingga mudah bagi Ririn untuk membukanya.
Saat dibuka Ririn yang awalnya senang karena menemukan peluang untuk rencananya justru merasa kesal karena Foto yang Farel jadikan wallpaper adalah foto Dirinya Dengan Aisyah sedang berciuman.
"Ihh ... kenapa harus dia, Farel. Yang kamu jadikan foto wallpaper mu, apalagi fotonya berciuman. Seharusnya Aku yang ada di posisi Aisyah bukan dia." Ririn kesal hingga ingin membanting handphone itu, tapi Ia urungkan.
"Tenang Ririn, gunakan kesempatan ini untuk menciptakan keretakan di antara Aisyah dan Farel." Ririn menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Ririn kemudian menyalin nomor Aisyah dan menyimpannya.