
"Yasudah tak apa Rin. lagipula besok kita juga sudah pulang. Jika ingin menghubungi Aisyah aku bisa menggunakan handphonemu dulu, kamu nggak keberatan kan." Farel bertanya, bagaimanapun itu adalah privasi Ririn. Sekarang kita lanjut ke kantor, sepertinya mereka sudah menunggu.
Akhirnya mereka tiba di kantor, Semua jajaran direksi sudah menunggu kedatangan Farel dan juga Ririn.
"Selamat pagi, maaf membuat kalian menunggu." Farel menuju kursi yang disiapkan untuknya, bergabung dalam meeting tersebut.
"Tak masalah Pak Farel kami juga bari datang."
"Pada pertemuan kali ini kita kan membahas mengenai masalah yang beredar dikalangan para konsumen, kita harus bisa menemukan akar dari masalahnya dan bisa menyelesaikan secara menyeluruh. Tujuannya agar perusahaan ini bisa kembali berjaya seperti semula." Farel menjelaskan apa yang akan mereka bahas pada pertemuan singkat ini. Semua sudah Farel jelaskan dengan detail, laporan keuntungan perusahaan bulan ini. Memang sedikit menurun, mungkin itu juga yang menjadi penyebab pendapatan pada perusahaan di bandung ini mengalami penurunan.
Masalahnya berada pada penjualan bahan pokok yang semakin langka, itu membuat para konsumen kesulitan untuk mendapatkannya. Ya, memang selain pengusaha batu bara, Pak Wijaya juga memiliki usaha di bidang pangan yang berpusat di Bandung dan perusahaan Properti yang berpusat di jakarta.
Perusahaan pangan di Bandung seperti supplier buah-buahan dan sayur-sayuran.
Disaat musim penghujan seperti ini sangat tidak mungkin kualitas dari buah-buahan yang dihasilkan akan baik namun justru akan sedikit menurun.
"Untuk mengatasi masalah kali ini kita perlu turun tangan langsung, mengecek kadang dan peralatan apa saja yang dibutuhkan untuk menghasilkan buah yang berkualitas bagus." Farel memberikan pendapatnya.
Saya setuju dengan Usulan Pak Farel." Ririn memberikan dukungan atas usulan Farel.
"Dan untuk para pemegang saham, saya harap kalian bersabar. Saat ini kami sedang mengupayakan yang terbaik untuk bisa membawa perusahaan ini kembali seperti semula. Tentunya dengan dukungan kalian semua, bagaimana kalian mau mendukung kami?" tanya Farel, Ia sangat berharap mereka semua yang menghadiri meeting pagi ini bisa mendukung dan menerima usulan yang Farel berikan.
Farel memperhatikan Ririn yang tampak sedikit khawatir, Ririn khawatir jika mereka akan menarik saham pada perusahaan Farel.
"Tenanglah, Ririn mereka pasti akan mendukung kita. Mereka akan memikirkan dua kali sebelum mengambil keputusan. Dan aku yakin jika mereka tak akan mengambil saham mereka pada perusahaan ini."
__ADS_1
"Bagaimana kamu seyakin itu Pak Farel, tapi ya semoga yang kamu ucapkan itu benar adanya." Ririn dan Farel berbisik, tak ada yang mengetahui aktivitas mereka karena para pemegang saham juga melakukan hal yang sama, yaitu berdiskusi antar pemegang saham.
Tiga puluh menit, Farel dan juga Ririn melakukan meeting dengan perusahaan yang memiliki saham pada perusahaan Farel.
Akhirnya mereka memutuskan untuk memberikan Farel kesempatan kedua, dengan harapan nilai jual saham bisa naik signifikan lagi. sehingga keuntungan yang mereka peroleh pun naik bukan turun.
"Kami akan memberikan kesempatan kedua, kami harap Pak Farel tidak mengecewakan kami." kesepakatan dibuat, setelah selesai mereka meninggalkan kantor Farel.
Farel bisa bernafas dengan lega, setidaknya meeting hari ini membawa kabar baik. "Aku harus memberitahu Aisyah, kabar gembira ini."
Lagi-lagi Farel meminjam handphone Ririn untuk menelfon, Aisyah.
Beberapa kali Farel mencoba menghubungi Aisyah, namun yang dipanggil tidak juga menerima panggilannya. "Dimana kamu, Aisyah. kenapa tidak menerima panggilan ku?" Farel tak sabar ingin memberikan kabar baik itu.
Tidak ingin meminjam terlalu lama Farel memilih mengembalikan handphone milik Ririn.
Farel yang sudah terbiasa bercerita pada Ririn pun menceritakan masalahnya, Farel sendiri tak tahu jika Ririn lah akar dari masalahnya sekarang.
"Kenapa ya Rin, Akhir-akhir ini sepertinya Aisyah menghindar dariku, mungkin tanpa sadar aku sudah melakukan kesalahan yang membuat dia menghindariku. Tapi aku nggak tahu apa itu." Farel terlihat binggung memikirkan Aisyah yang dirasa sedikit berubah. Ririn mendekati Farel menyentuh pundaknya untuk memberikan semangat.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, lagipula kita sudah kembali besok. Bersabarlah besok kamu pasti bisa meredakan kemarahan istrimu. Aku yakin Aisyah hanya marah karena kamu tidak memberinya kabar." kata yang diucapkan Ririn, berpura-pura membela Aisyah. Tapi di dalam hatinya Ia berharap saat Farel pulang mereka akan bertengkar hebat.
"Kamu benar, aku hanya perlu bersabar. Thanks ya untuk dukungannya." Farel melemparkan Senyum yang disalah artikan Ririn jika Farel juga menyukainya.
"Oh ya, Farel besok kita akan kembali ke jakarta. Kamu mau tidak menemaniku untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk orang tuaku, katanya mereka ingin dibawakan oleh-oleh. lagipula baru kali ini aku pergi jauh. Aku ingin memenuhi keinginan mamaku." pinta Ririn, membujuknya supaya bisa menghabiskan waktu bersama dengan Farel.
__ADS_1
"Membeli oleh-oleh ya, Farel terlihat berpikir, Sepertinya itu ide bagus. Ayo sekalian aku akan membelikannya untuk Aisyah." Farel tersenyum, ia mendapatkan ide untuk bisa membujuk istrinya, agar tidak marah terlalu lama.
Mendengar perkataan Farel barusan membuat Ririn merasa sakit di hatinya.
"Kenapa bukan Aku yang selalu kau sebut namanya, kenapa bukan aku yang selalu kau banggakan, Kenapa bukan aku yang mendampingimu, menjadi istrimu. Andai waktu bisa diulang, aku akan menyatakan perasaan ku kepadamu dan memintamu menjadikan aku pendampingmu. Terlebih kita sudah sangat dekat." Ririn ingin berteriak menanyakan semua itu kepada Farel.
Ingin Ririn menghabiskan waktu dengan Farel seperti saat ini. Seakan di dunia ini hanya mereka berdua. Dengan berbagai hal Ririn mencoba mengambil Gambar dengan wajah yang dekat pada Farel. Semua itu ia lakukan hanya untuk membuat Aisyah semakin terbakar api cemburu, dan pada akhirnya pertengkaran pada rumah tangga mereka membawanya pada kehancuran.
"Kenapa kamu melamun, Rin. Ayo, kita ke pusat oleh-oleh. Aku akan membelikan Aisyah beberapa oleh-oleh khas Bandung." Farel lebih bersemangat dari pada Ririn. Ia seakan menemukan kembali harapan untuk membuat Aisyah tersenyum.
"Kenapa sekarang jadi kamu yang lebih bersemangat daripada Aku. Pasti ini karena Aisyah ya." goda Ririn, ia tersenyum tapi dengan senyuman palsu.
Yang di goda hanya mengangguk-anggukan kepala. Sudah terlintas di kepalanya bahwa Aisyah akan menyambutnya pulang dan akan sangat senang jika dia menerima hadiah yang diberikan Farel.
Sudah hampir satu jam Farel dan Ririn berkeliling mencari hadiah.
"Sudah, lebih baik kita pulang dan beristirahat." ajak Ririn. Saat sampai di kasir Ririn meminta Farel untuk menunggu di mobil, ia yang akan membayar semua barang yang mereka ambil. Dalam hatinya sudah tersusun rencana untuk menyakiti Aisyah kembali.
"Tunggulah di mobil, aku yang akan membayarnya, lagipula hari ini kita mendapatkan kepercayaan rekan bisnis kita lagi. Jadi tak ada salahnya aku mentraktirmu. Kapan lagi aku bisa mentraktirmu," pinta Ririn, ia ingin sedikit melakukan sesuatu pada hadiah yang akan Farel berikan pada Aisyah.
"Baiklah, kamu boleh mentraktirku, tapi untuk hadiah yang di dalam kotak biarlah aku saja yang membayarnya. Bagaimana." Farel ingin hadiah untuk Aisyah ia sendiri yang membayarnya.
"Baiklah, aku akan segera kembali." Ririn berjalan ke arah kasir untuk membayar semua barang belanjanya. Sedangkan Farel berjalan menuju parkiran sesuai permintaan Ririn.
Sampai di kasir Ririn merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, itu sengaja ia lakukan agar salah satu karyawan kasir melakukan permintaannya.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya temanku ya,😉😉😉😉😚.