
"Nak Farel tolong tante, Ririn kembali mengamuk, tante sudah menuruti apa kata kamu untuk menyembunyikan obat -obatan tersebut, sepertinya Ririn gelisah karena tidak bisa menemukannya, tante harus bagaimana, ia terus membanting barang yang dia temui, tolong datang kesini ya, tante mohon!" tante siska terlihat sangat kebingungan menghadapi sikap Ririn.
Farel yang mendapat kabar tersebut hanya membuang nafas gusar, ia sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Baik tante, saya akan segera kesana, tolong awasi Ririn dulu." tanpa pikir panjang Farel langsung menuju ke rumah Ririn, pikirannya dipenuhi bagaimana caranya menolong sahabatnya itu.
Tiga puluh menit Farel telah sampai di rumah Ririn, terdengar suara keributan di dalam. Farel langsung saja masuk dan melihat keadaan Ririn. Ririn yang melihat jika Farel telah datang menemuinya berlari menghampiri, memeluknya. Sedangkan tante siska merasa lega, farel telah datang, setidaknya Ririn tak mengamuk lagi, ia terlihat lebih tenang saat bersama Farel.
"Tenanglah, aku disini."
Farel yang melihat Ririn gelisah membantu menetralkan emosinya dengan menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ririn melakukan itu terus menerus sampai dirasa cukup tenang. Memang obat yang di konsumsi Ririn belum sampai fatal sehingga masih bisa di sembuh kan.
"Apakah kamu mau mendengarkan apa yang aku katakan,? apakah kamu mau menuruti apa yang aku minta?" Farel menatap Ririn dengan tatapan intens.
Farel mendudukkan Ririn di kursi dan mulai berbicara saat Ririn sudah lebih tenang.
Ririn menatap Farel dengan lekat, tatapannya menunjukkan penyesalan darinya.
Ririn hanya mengangguk tanpa menjawab, tatapannya pun tak beralih dari orang yang membuatnya sampai memilih jalan yang salah.
"Kamu percaya kepadaku, jika iya, berjanjilah kepadaku untuk sembuh, lihatlah mamamu yang sangat mengkhawatirkan mu. Apa kamu mau melihatnya bersedih terus, tentu tidak bukan, untuk itu aku akan membawamu ke tempat rehabilitasi, di sana kamu bisa sehat kembali, aku mohon demi mamamu." Farel menoleh ke arah tante Siska diikuti Ririn yang juga mamandang mamanya, tante siska berharap Ririn mau menyetujui permintaan Farel. Semua itu untuk kebaikannya sendiri.
Untuk sejenak Ririn terdiam, namun Farel terus saja membujuk untuk menyemangati Sahabatnya agar lekas sembuh.
"Baiklah, akan ku lakukan, tapi, apa kamu akan menemaniku sampai aku sembuh?" Ririn kembali menatap Farel dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
Tak ada pilihan lain, selain mengiyakan ucapan sahabatnya sekarang, itu semua Farel lakukan agar Ririn bisa lekas sembuh dan terbebas dari barang haram itu.
"Baiklah, sekarang kita ke sana, aku harap kamu juga menepati janjimu untuk lekas sembuh, agar kamu bisa berkumpul dengan keluargamu lagi. Tapi ingat Ririn, aku hanya akan menemani sebagai sahabat tak lebih." Farel menjelaskan statusnya ia tak mau Ririn salah faham lagi.
"Baiklah, aku tahu." Ririn hanya pasrah, ia sadar jika masih ada keluarga yang harus Ririn pikirkan bukan hanya Farel.
***
Jam kuliah telah usai, tinggal satu bulan lagi Aisyah telah wisuda.
"Apa lo mau gue antar, kelihatannya lo lagi nggak enak badan, lo sakit ya?" Vika yang memperhatikan wajah Aisyah mulia khawatir.
"Iya lo kayaknya lagi sakit, kita kerumah sakit aja sekarang." Vita ikut bersuara.
"Tidak perlu mungkin ini karena aku bel makan saja, ini sudah siang dan perutku belum terisi makanan, kalian tahu sendiri kan, aku memiliki magh, jika telat makan ya seperti ini, aku istirahat saja nanti juga sudah baikan" Aisyah berpikir itu karena mangnya kambuh.
"Nggak aku mau pulang saja, istirahat di rumah."
Kedua sahabatnya hanya bisa mengiyakan, mereka tidak bisa memaksa, jika memang Aisyah tak mau pergi ke dokter ya artinya tak mau.
Vika dan Vita mengantar Aisyah untuk pulang, ya meski Aisyah pergi di antar oleh supir, namun kedua sahabatnya yang khawatir terjadi apa-apa dengan Aisyah ikut mengantar Aisyah.
Sampai di rumah, Aisyah memilih untuk langsung istirahat, berharap saat bangun ia sudah merasa lebih baik.
"Kita temani lo sebentar ya, kita nggak tega tinggalin lo sendiri, apalagi lo kurang sehat." Vika dan Vita duduk di samping Aisyah, mereka mulai bercerita untuk menghibur Aisyah, berharap moodnya sedikit baik.
__ADS_1
"Kalian tau nggak gue udah mulai deket lo sama dosen Vino, dia orangnya enjoy, dan kalian tahu mama gue juga suka sama Dosen Vino. Mama gue dukung gue buat deket sama Dosen Vino, kata mama gue selagi masih jomblo, ayo gaet terus sampai dapat. Gue seneng banget saat tahu mama gue menyetujui perasaan gue, sekarang tinggal deketin Dosen yang terkenal tampan di Fakultas kita. Gimana kalian dukung gue ya..." Vika bercerita dengan antusias.
Vita hanya meng oh ria kan, cerita sahabatnya itu. Apalah daya Vita yang masih belum memiliki pasangan, bukan karena tak cantik, Vita saja yang masih belum memikirkan pacaran, ia lebih memilih memikirkan karir yang akan di bangun setelah masa kuliah selesai.
"Kalau gue setuju aja, selama dia baik nggak masalah, lo yang paling tahu sikap Dosen tersebut kan, jadi tak perlu di ragukan pilihan lo pasti bagus." Aisyah mengeluarkan pendapatnya.
Mereka bercanda dan berbagi cerita di kamar Aisyah, hingga waktu sudah menjelang sore, dan akhirnya mereka harus pulang.
Setelah kedua sahabatnya pergi, Aisyah lebih memilih untuk beristirahat sebentar sebelum Farel pulang.
***
Farel menemani Ririn hingga sore, Farel terus saja mendorong semangat Ririn untuk segera sembuh dan terbebas dari barang haram tersebut. Hingga tak terasa waktu sudah sore dan Farel harus segera pulang.
"Aku pulang dulu ya, ingat pesanku kamu pasti bisa, jadilah seperti Ririn yang dulu aku kenal, aku sahabatmu akan selalu menjadi sahabatmu. jika aku tak sibuk aku akan berkunjung." Farel meninggalkan kamar Ririn, sekarang tinggallah Ririn sendiri di kamar.
Setelah selesai dengan Ririn, Farel harus menyelesaikan pekerjaannya yang ia tinggalkan, sesampainya di kantor Farel masih di sibukkan dengan berkas-berkas yang harus di bubuhi tanda tangannya.
"Aku harus segera menyelesaikan ini secepatnya, Aisyah pasti sudah menungguku di rumah." dengan cekatan Farel menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Setelah selesai ia memilih langsung pulang, Farel berniat untuk menceritakan semuanya kepada Aisyah mengenai Ririn, bagaimanapun Aisyah harus tahu, ia sudah berjanji tak akan menyembunyikan apapun dari Aisyah. Rumah tangga di bangun atas dasar kepercayaan Farel tak mau rumah tangganya hancur, hanya gara-gara tidak saling membuka, tidak adanya kepercayaan yang menjadi pilar rumah itu berdiri.
Tak butuh waktu lama, Farel telah sampai di rumah. Ia langsung menemui Aisyah di kamar.
Ckleek...
Farel membuka pintu, terlihat Istrinya yang masih tertidur. Farel mendekatinya secara perlahan ia tak membangunkan Aisyah, Farel berjalan mendekati Aisyah dan duduk di sampingnya, la membetulkan surai rambut Aisyah yang menutupi muka cantiknya.
__ADS_1
"𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘫𝘪𝘸𝘢. 𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪. 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘵𝘢 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶. Farel berucap dalam hati, ia mencium kening Aisyah yang masih tertidur lelap.