Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Ikatan batin


__ADS_3

Hari ini Mereka habiskan dengan menikmati keindahan taman yang mulai ramai berkunjung, "Kamu senang Aisyah, aku harap senyuman yang menghiasi wajahku cantikmu itu tak pernah luntur, ingatlah aku akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi jadi jangan pernah berpikir kamu sendiri." Farel masih meyakinkan Aisyah, Farel mengutamakan kebahagiaan Aisyah sebab kebahagiaannya sendiri terletak pada Aisyah itu sendiri.


"Apa kamu mau es krim?" Farel bertanya sambil menunjuk penjual es krim keliling. "Boleh, sepertinya enak!"


Siapa yang tidak mau di tawari es krim, apalagi es krim bisa mengubah mood seseorang menjadi lebih biak, ya meskipun mood Aisyah sekarang juga baik-baik saja.


"Ini makanlah, sesuai dengan kesukaanmu!" Farel memang masih mengingat betul apa yang di suka dan tidak di sukai oleh Aisyah, sampai hal terkecil pun Farel mengingatnya. Semua itu Farel ketahui saat masih bekerja menjadi bodyguardnya Aisyah, tentu kesempatan sekecil apapun yang berhubungan dengan Nona nya saat itu tak akan pernah Farel lewatkan.


"Kamu tahu kesukaanku, aku bahkan belum pernah memakan es krim rasa ini di hadapanmu Mas," Aisyah berbicara sambil menikmati es krim yang mulai mencair di tangannya.


Apa yang tidak Farel tahu tentangmu Aisyah, bukankah dia pernah menjadi bodyguard mu?


"Itu hanya hal kecil yang aku tahu, sebenarnya semuanya yang berhubungan denganmu aku tahu." Farel masih bersikap santai, jawaban yang dia berikan memang jawaban apa adanya, Farel tak akan berbohong meskipun itu hal yang memalukan yang pernah ia lakukan, mencari tahu semua informasi mengenai majikannya.


"Really?"


"Ya, tapi tak perlu di bahas, sekarang yang terpenting melihatmu dalam mode bahagia seperti saat ini itu sudah lebih dari cukup, dan satu lagi jangan pernah coba-coba untuk menjauh dariku." Farel masih mandang Aisyah menatap netra milik Aisyah dengan lekat.


"Tidak akan menjauh, lagipula bagaimana aku akan menjauh jika suamiku setampan ini!" canda Aisyah mencairkan suasana.


"Apakah kau senang, sayang?"


"Tentu, aku harap kebahagiaan tak akan meninggalkan kita lagi, meskipun aku tahu setiap rumah tangga memiliki ujiannya, semoga kita bisa melewatinya hanya itu yang aku inginkan."


"Percayalah kita pasti bisa melewati masa sulit dalam rumah tangga kita, aku akan selalu bersamamu, sekarang jangan berpikir yang tidak-tidak aku tak mau kencan kita ini berantakan, tersenyumlah, sungguh senyummu sangat manis." Farel mencium kening Aisyah, seketika wajah Aisyah berubah merah seperti tomat matang.


"Jangan menggodaku mas," Aisyah tak bisa menyembunyikan wajahnya rasanya ia ingin lari dari taman itu bersembunyi di tempat yang tertutup. Meskipun sudah dekat dengan Farel Aisyah masih saja merasa malu ketika Farel mengatakan hal romantis kepadanya.

__ADS_1


Belajar mencintai setelah pernikahan baginya terasa menyenangkan, tak akan ada larangan apapun terlebih sah-sah saja melakukan yang lebih dari sewajarnya ketika berpacaran, betul apa betul?


"Mas aku tinggal ke toilet sebentar ya?"


"Nggak mau di antar?"


"Nggak ah, ini toilet cewek mas, mas tunggu di sini saja aku sebentar kok!" Aisyah meninggalkan Farel sendiri di bnagku taman.


"Hei lepaskan, tolong... tolong..., preman kurang ajar beraninya sama orang tua, lepaskan atau saya teriak biar kamu di keroyok mau kamu?" Maya mencoba menakuti kedua preman itu meskipun saat ini maya sendiri merasa takut jika mereka menggunakan benda tajam kepadanya.


"Siapa yang mau nolongin kamu, taman ini masih sepi, lebih baik lo lepasin tas lo ini dengan begitu lo selamat atau lo mau gue gunain kekerasan!" dua preman itu masih mencoba menarik tas milik Maya, mendengar penuturan preman tersebut yang terlihat tak main- main Maya akhirnya melepaskan tas miliknya. Saat preman itu berusaha kabur, Maya mengunakan senjata terakhir untuk melawan mereka,


Bughh....


Lemparan sepatu Hing heelsnya tepat mengenai sasaran, membuat salah satu preman terjatuh dari sepeda motornya.


"Sial... rupanya dia mau cari matia kita!" Preman itu menyentuh keningnya yang berdarah akibat ulah Maya tadi. Dengan cepat Preman yang terluka menghampiri Maya hendak membalas perbuatannya itu.


"Mau lari kemana kamu, perempuan tua, lo harus terima akibat dari ulah lo ini!" teriak preman yang masih mengejar di belakang Maya.


Farel masih duduk dengan santai menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi meskipun sudah menjelang siang, namun suasana taman kali ini sangat mendukung suasana hati Farel. Suara minta tolong terdengar di telinga Farel, meskipun jauh tapi indra pendengaran Farel sangat tajam, dengan sigap Farel dapat mengartikan jika itu mang benar suara seseorang sedang meminta bantuan, tapi Farel masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Seperti suara seseorang minta tolong, sebaiknya aku lihat dulu lagipula Aisyah juga masih belum kembali." tanpa menunggu lama Farel bergegas mencari sumber suara, dari kejauhan terlihat adegan kejar-kejaran seorang preman dengan seorang ibu-ibu. Maya masih berusaha berlari tanpa berpikir jika dia sudah berlari ke arah jalan raya, seketika bunyi klakson mengagetkan maya yang saat itu juga reflek berhenti di tengah jalan raya.


Tin...


Tin...

__ADS_1


Aaahh...


Dengan langkah kaki cepat Farel berusaha menarik Maya dari tengah jalan.


Bughh...


Farel dan Maya terguling di pinggir jalan raya. Keduanya tidak terluka parah hanya beberapa goresan terkena batu kerikil jalan raya.


"Ibu tidak papakan, apa ada yang sakit?" tanya Farel yang khawatir dengan ibu yang di tolongnya barusan.


Maya menatap Farel, seketika hatinya terasa nyeri, ketika netra keduanya bertemu secara langsung, ada pertanyaan didalam hati Maya, " 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢." ucap Maya dalam hati.


"Bu, ibu tidak apa-apa kan, kenapa ibu melamun... dan siapa sebenarnya mereka? mengapa ibu sampai dikejar-kejaran oleh mereka?"


"Apa mereka mau menyakiti Ibu?" tanya Farel beruntun.


"Mereka preman yang mau mencopet saya, saya sempat melakukan perlawanan dan melukai salah satu dari mereka maka dari itu mereka mengejar saya, dimana preman itu, apa mereka masih mengejar saya?" Maya menoleh ke kanan dan kiri mencari orang yang mengejarnya takutnya mereka tak melepaskan Maya.


"Sepertinya merek telah kabur, mungkin mereka mengira ibu tak akan selamat, setelah hampir saja tertabrak truk tadi." jelas Farel, Maya hanya mengangguk tanda mengerti.


"Syukurlah kalau begitu... oh ya terima kasih anak muda kamu telah menolong ibu, kenalkan nama Ibu Maya!" Maya mengulurkan tangan tanda berkenalan.


Sejak pertama melihat Farel Maya sudah merasa ada kedekatan di antara mereka tapi Maya tak tahu hubungan apa itu.


"Farel... sebaiknya kita kerumah sakit luka ibu harus di obati takutnya infeksi."


luka yang mereka alami mang tak serius namun tetap harus di tangani.

__ADS_1


Dilain tempat Aisyah yang telah kembali dari toilet kebingungan mencari keberadaan Farel. Hampir seluruh taman Aisyah kelilingi namun tak kunjung bertemu deng Farel.


"Kemana kamu pergi mas...?"


__ADS_2