
"Maksud tante apa?" tanya Aisyah yang masih belum mengerti arah pembahasan tante maya.
"Loh, bukannya Alex sudah mengatakan segalanya kepadamu, Aisyah?" tanya balik tante Maya.
Aisyah beralih menatap Alex dengan segudang pertanyaan yang bersarang di kepalanya saat ini.
Alex yang mendapat tatapan meminta penjelasan, sekarang hanya bisa mengaruk kepalanya yang terasa tidak gatal, pasalnya Alex baru saja akan mengungkapkan perasaannya setelah acara makan bersama dengan mommy nya tapi nyatanya Aisyah sudah mendapat pertanyaan terlebih dahulu dari tante Maya terkait perasaan balasan untuk putra kesayangannya.
"Em... Aisyah, A-aku sebenarnya menyukaimu." jelas Alex terbata-bata dengan jantung berdetak kencang.
"Apa...," ucap Aisyah lirih.
"Bagaimana mungkin Alex, aku kira hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan tak lebih dari itu, dan soal perasaan aku bahkan tak pernah membayangkan akan menyukaimu, ya, memang aku sempat mengagumimu sebagai seorang pekerja yang keras dalam usia muda kamu sudah bisa terjun dalam bidang bisnis, tapi perasaan aku tak memiliki sedikit alasan untuk menyukai rekan kerjaku, terlebih kamu sudah aku anggap sebagai teman baik." jelas Aisyah berharap Alex bisa memahami maksudnya.
Alex yang mendengar penjelasan Aisyah hanya bisa membuang nafas berat, "Jadi selama ini cintaku bertepuk sebelah tangan!" ucap Alex disertai kekehan kecil. Dalam hati Alex sendiri merasa hancur, cinta yang di harapkan akan berlabuh pada pernikahan nyatanya harus tumbang sebelum tumbuh lebih subur, "Sudah jangan di bahas lagi, anggaplah tadi hanyalah gurauan semata, aku tak ingin setelah kamu mengetahui semuanya kamu justru menghindari ku, Aisyah." pinta Alex menatap Aisyah serius.
Mommy Maya yang mengetahui cinta putranya di tolak, hanya bisa pasrah, "Baikan, setidaknya kalian bisa menyingkapi kejadian ini dengan baik, tadi tante sempat berharap kamu bakalan menjadi menantu tante, tapi ternyata takdir tidak mengizinkan, mungkin ini yang terbaik untuk kita, tante harap kamu dan Alex tetap bisa bekerja sama dengan baik." Pesan Mommy Maya menatap Aisyah dan Alex bergantian.
"Pasti tante, dan untukmu Alex aku do'akan kamu semoga segera menemukan tambatan hati yang sesungguhnya."
"Soal aku yang tak bisa menerima Alex, bukan karena Alex tidak baik untukku, melainkan karena Aku sudah memiliki suami dan aku bahagia dengan rumah tangga ku, memang salahku dari awal aku tidak berkata jujur mengenai setatus ku, itu semua aku lakukan sebab aku pikir tak baik melibatkan nama suami dalam pekerjaan ku, aku tak ingin semua orang berpendapat baik mengenai butik milikku hanya karena aku istri seorang pengusaha yang terkenal. Aku ingin memulainya dari tangan ku sendiri berusaha dari nol." jelas Aisyah berharap setelah ini tak ada salah paham antara dirinya dan Alex.
"Baiklah, Aisyah, sesuai dengan keinginanmu, aku akan tetap bekerja sama dengan butik milikmu sesuai dengan kontrak kita."
"Mengenai suamimu kapan-kapan perkenalkan lah padaku, aku ingin melihat siapa orang yang sangat beruntung bisa memilikimu dalam hidupnya."
Aisyah tersenyum, "Bukan suamiku yang beruntung mendapatkan aku tetapi akulah yang beruntung memilikinya di dalam hidupku." Aisyah memperlihatkan bahwa dia sangat berterimakasih kepada sang papa karena telah memilihkan jodoh yang terbaik untuk nya.
__ADS_1
Alex yang mendengar pengakuan dari Aisyah, harus memendam perasaannya dalam-dalam, sungguh mencintai tanpa ada balasan rasanya memang sangat menyakitkan.
𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 𝘪𝘮𝘱𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘬𝘶, 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩.
"Tante sungguh minta maaf ya Aisyah, tante nggak enak sama kamu, kamu ngak marah kan sama tante?" Tante Maya kini berusaha mengatur emosinya, dia tidak bisa memaksakan perasaan seseorang terhadap putranya meskipun dia sendiri telah jatuh hati kepada Aisyah sejak awal bertemu.
"Tak apa tante, itu juga bukan salah Alex sepenuhnya, hanya salah paham saja, namun saya berharap hubungan kita sebagai rekan kerja tetap berjalan semestinya."
"Tante setuju sama kamu, Aisyah."
Mereka bertiga akhirnya mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan acara makan bersama, ketiganya kini tidak terlibat obrolan hanya fokus menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
"Tante, maaf Aisyah tidak bisa berlama-lama, Aisyah pamit pulang dulu tan." pamit Aisyah.
"Apa perlu aku antar? aku juga ingin berbicara sebentar kepadamu."
"Baiklah aku terima ajakanmu."
"Tante, Aisyah pulang dulu ya, sebelumnya Terima kasih atas ajakan makan siangnya. semoga lain waktu kita bisa menjalin kerja sama lagi tan."
"Iya, pasti."
Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil milik Alex, "Aisyah sebelumnya aku minta maaf untuk kejadian barusan, mungkin kamu merasa tak enak setelah ini." Alex memulai obrolan setelah cukup lama mereka terdiam.
"Sudah aku katakan, yang berlalu biarlah berlalu, itu bukan salahmu, Alex. Semuanya terjadi begitu saja, sudahkah aku tak mau membahas itu!" pinta Aisyah tegas.
"Oh ya, besok kita ada meeting, gimana kalau kita meetingnya di caffe dekat butik kamu saja, tenang Vika juga akan ikut bergabung dengan kita kok jadi kita nggak berdua saja, berhubung aku sudah tahu kalau kamu mempunyai suami, pastilah ada hati yang kamu jaga, dan aku menghargai itu."
__ADS_1
"Terimakasih, kamu sudah menjadi teman baik, dan memahami keadaanku, Alex."
"Ya, aku akan menjadi teman mu, dan akan membantumu mewujudkan impianmu itu."
Blam
Pintu mobil tertutup setelah Aisyah keluar, "Sampai bertemu besok, Aisyah." ucap Alex sambil melambaikan tangan.
Aisyah pun memilih masuk kedalam rumah mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah bekerja dalam sekejap saja Aisyah sudah larut dalam mimpi indahnya.
Dreettt
Dreettt
Farel mencoba menghubungi Aisyah, namun sudah beberapa kali panggilan tak ada satupun yang tersambung. Farel kemudian beralih menghubungi Fandi yang memang di tugaskan menjaga Aisyah.
"Hallo, Fandi, apa Aisyah baik-baik saja, Aisyah sudah pulang dari acara miliknya kan?"
"Tenang bos, bu Aisyah baik-baik saja, mungkin hanya lelah, makanya panggilan bos tidak di angkat."
"Baiklah, jika begitu terus awasi Aisyah, aku tak mau kamu lengah menjaganya!"
"Iya bos."
Tut
Fandi yang menerima wejangan dari sahabatnya sendiri, cukup kesal dibuatnya, bagaimana tidak Farel bahkan akan menghubungi setiap dua jam sekali hanya untuk memastikan keamanan Aisyah. Fandi pun wajib melapor apapun yang di lakukan oleh Aisyah di luar.
__ADS_1
"Aku rasa bos sekarang mulai posesif pada istrinya, apa jadinya jika aku menceritakan jika Bu Aisyah baru saja mendapatkan ungkapan perasaan dari rekan kerja nya sendiri?"