
Farel baru saja terbangun dari tidurnya setelah hampir seharian dia tertidur, sangking lelahnya memikirkan keadaan istri dan calon anak yang sudah Farel nanti-nantikan.
"Astaga..!!" Farel yang tidur langsung terlonjak bangun, "Aku harus menemukan Aisyah, bagaimana bisa aku tidur sampai selama ini," pandangan Farel tertuju pada jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
Farel segera bangkit dan membersihkan diri baru setelah itu ia akan mulai mencari Aisyah kembali, meski belum ada petunjuk tapi tak ada salahnya mencari dan terus mencari.
Tak lama Farel telah keluar dengan pakaian rapi ala bos. Ya setelah di pikir Farel juga masih memiliki tanggung jawab mengurus perusahaan yang sudah ditinggalkannya. Meski hanya beberapa hari pekerjaan sudah menunggu di atas meja Farel.
"Tuan mau ke kantor, lalu bagaimana dengan Nyonya tuan?" bik sumi yang sedang menyiapkan makanan langsung bertanya ketika melihat Farel turun menuju meja makan.
"Huff..." hati Farel sesak ketika mengingat Aisyah.
"Saya harus ke kantor, bik. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan! mengenai Aisyah saya masih berusaha mencari tahu siapa yang menculiknya. Do'akan saja supaya Aisyah segera kembali." Farel menjatuhkan bobotnya di kursi meja makan. Setiap makanan yang terhidang meskipun enak tetap terasa hambar bagi Farel.
𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯... Farel berucap dalam hati.
Farel mencoba memaksakan untuk makan meskipun tak berselera sama sekali. Setelah selesai Farel langsung menuju kantor. Meski sudah sore tapi Farel tak mau menumpuk pekerjaan di kantor, hari ini Farel memilih lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang sudah menumpuk. Baru setelah itu Farel akan memilih Fokus pada Aisyah. Setelah makan Farel langsung saj alergi ke kantor.
"Pak Farel mau kemana dengan pakaian formal seperti ini?" tanya Fandi yang memang hendak menemui bosnya itu.
"Farel menghentikan langkah nya ketika Fandi bertanya. "Aku akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku, setelah itu aku bisa fokus pada Aisyah." jawab Farel tanpa memandang Fandi dan sedikit ketus.
Fandi hanya bisa pasrah menerima kemarahan atasannya sekaligus sahabatnya itu.
"Baiklah, saya antar."
"Tak perlu... aku bisa sendiri." Farel berjalan melewati Fandi.
Fandi mengerti bosnya masih membutuhkan waktu untuk memenangkan hatinya.
Farel masih terlihat kesal saat berhadapan dengan sahabatnya itu, ia selalu teringat akan Aisyah.
𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪.
Farel meninggalkan rumah menuju kantor.
__ADS_1
***
Aisyah masih tak sadarkan diri meski haru sudah bertambah gelap, sinar senja sudah mulai datang menerpa wajah putih yang masih setia menutup mata hingga kini.
Para preman itu tak henti-hentinya untuk berusaha menemukan sesuai dengan permintaan bos besarnya.
"Bagaimana ini sudah hampir gelap, tapi tak ada satupun dari kita yang menemukan keberadaan wanita itu."
"Kita cari saja sampai dapat."
"Ita tapi mau cari kemana lagi, hampir seluruh hutan ini kita telusuri tapi tak kira temukan. Wanita itu seperti hilang di telan bumi!"
"Sepertinya arah barat belum kita telusuri mungkin kita akan menemukan dia di sana."
Para preman itu mulai mencari lagi di sebelah barat.
"Dimana wanita itu, jika aku menemukannya akan aku beri dia pelajaran, gara-gara dia kita semua dapat tamparan dari bos!!"
Tak lama salah seorang preman yang mencari menemukan sebuah tangan yang terlihat dari balik semak, preman itu kemudian memeriksa siapa di balik semak tersebut. Dan ternyata benar wanita yang di cari sudah tak sadarkan diri di balik semak-semak itu.
Preman itu kemudian membopong wanita Itu untuk di bawa kembali ke gudang.
"Kami menemukannya, Bos!" preman itu berlari ke arah bos besarnya dengan nafas memburu.
Senyum serigai bram tampilkan pada Aisyah yang masih pingsan.
"Kembali ikat dia di tempat semula, kali ini pastikan jangan sampai bisa terlepas lagi. Jika tidak maka nyawa kalian yang menjadi taruhannya.Kalian mengerti!!" bentak bram yang membuat bawahannya terlonjak kaget.
"Mengerti bos..." ucap preman singkat, tak ingin membuat bos besarnya marah lagi.
Kini tinggalah Bram dan Aisyah dalam ruangan sedikit gelap itu sebab matahari sudah mulai tengelam dan berganti malam.
Byurrr...
Siraman air mengenai wajah Aisyah yang membuat Aisyah gelagapan.
__ADS_1
Bram menarik rambut Aisyah, membuat Aisyah sedikit meringis menahan sakit di kepala. "Bangun!!, kau sudah mulai melawan ku, kau pikir bisa kabur dari tempat ini semudah itu dan aku tak akan bisa menangkapmu kembali. Kau salah Aisyah, daerah ini adalah daerah kekuasaanku yang bahkan kau sendiri tak akan menemukan jalan keluar selain kembai ke tempat ini, hahhaha...!" Bram lalu menghempaskannya dengan kasar.
Aisyah hanya mampu menangis, merutuki keadaannya, seandainya keadaannya jauh lebih kuat, mungkin sekarang Aisyah sudah terbebas dari sekapan orang itu.
"Sekali lagi aku lihat kamu berani meninggalakan tempat ini, tak akan ada ampun untukmu, mengerti!!" Bram kemudian berlalu pergi dari ruangan itu meninggalkan Aisyah sendiri.
***
Hari sudah berganti malam, Farel yang baru saja menyelesaikan beberapa berkas yang sudah menumpuk dalam ruang kerjanya di kantor memilih untuk meninggalkan ruangan bernuansa putih itu. Berjalan sedikit cepat Farel seperti ingin menemui seseorang. Hingga tiba di parkiran Farel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sekitar dua puluh menit Farel telah tiba di sebuah restoran ala Jepang.
Farel turun dari mobil dan berjalan masuk ke arah seseorang yang memang sudah menunggi kedatangannya.
"Sorry, kamu menunggu ku lama."
"I'm fine, aku juga baru datang."
"Bagaimana apa sudah ada kabar mengenai istriku?"
Wanita itu terlihat menghela nafas sebelum mengatakan informasi yang ia bawa untuk Farel.
"Kamu buka saja, dan lihat sendiri, mungkin kamu sudah mengetahui siap pelaku penculikan Aisyah ketika melihat ini."
Wanita itu bernama Sarah, dia merupakan agen mata-mata yang cukup terkenal, banyak kasus yang bisa ia selesaikan, meskipun itu kasus sulit sekalipun. Sarah merupakan teman lama Farel yang sekarang sudah beralih tugas yang dulunya menjadi agen mata-mata sekarang menjadi wanita karir, dan atas permintaan Farel ia melakukan pekerjaannya kembali.
Farel meraih amplop coklat tersebut dan mulai membuka.
Di dalamnya terdapat foto-foto seseorang sedang berbicara di sebuah caffe.
Tangan Farel mengepal kuat, matanya memancarkan kebencian yang hendak membunuh pada foto yang ia pegang.
"Kamu mengenalnya, aku hanya bisa melakukan ini, untuk lokasi masih aku usahakan, berikan aku waktu, setidaknya sekarang kamu menemukan petunjuk atas keberadaan istrimu Farel." Sarah menatap iba pada teman lamanya itu, bagaimana tidak Farel memang memiliki tugas sendiri di samping tugas menjaga putrinya Wijaya, dengan masuk menjadi agen mata-mata Farel juga ingin menemukan keluarga Aslinya.
"Aku sangat mengenal orang ini, dia mantan kekasih dari istriku, dan juga paman dari istriku."
__ADS_1
Ya, Foto tersebut merupakan Foto Bram dan Andre saat melakukan kesepakatan untuk membalas dendam dengan menculik Aisyah saat Farel tak berada di dekatnya.