
"Sungguh," tanya Sarah tak percaya.
"Untuk apa aku bercanda, sekarang aku harus bisa menemukan keberadaan Aisyah sebelum mereka melakukan sesuatu yang mungkin tak akan pernah aku maafkan."
"Kita belum mengetahui pasti keberadaannya, tapi aku pastikan sebentar lagi istrimu pasti akan kita bebaskan dari sekapan mereka." Sarah memberi semangat untuk Farel.
"Ya, aku percaya padamu. Hanya kamu yang bisa aku andalkan saat ini." Farel menatap sarah, menyiratkan kepercayaan pada setiap perkataan dan tindakan yang akan di lakukan oleh sarah sebagai agen mata-mata.
"Thank you Farel atas kepercayaan mu." obrolan mereka berlanjut seperti seorang teman yang telah lama tak bertemu.
Hingga waktu sudah larut malam, akhirnya Farel memilih untuk pulang. Tanpa disadari Fandi yang merupakan bawahannya mengikuti setiap aktivitas yang dilakukan oleh bosnya itu, dengan maksud tak ingin bosnya mengambil jalan yang salah dalam menyingkapi masalah yang sedang di hadapinya. Meskipun begitu Fandi tak bisa mengawasi dari dekat di hanya bisa mengawasi dari kejauhan.
Farel keluar dari caffe, kemudian melakukan mobilnya untuk pulang.
Fandi yang bersembunyi pun merasa senang, bosnya baik-biak saja, ia pun ikut pulang.
Sampai di rumah Farel menghempaskan tubuhnya di kasur, menatap kembali amplop yang di dapatkannya dari Sarah.
Membukanya dengan perasaan marah, kesal, juga benci pada orang yang ada di foto itu. " Aku pastikan kalian tak akan bisa melihat hari esok, jika Aisyahku dan juga anakku sampai terluka aky tak akan mengampuni kalian!" Farel melempar Foto itu hingga jatuh berserakan di lantai. Farel pun kembali menagis kala mengingat Aisyah dan calon anaknya.
"Tunggu aku sayang, aku akan datang untuk membawamu pergi dari tempat itu, kamu pasti membutuhkan pertolonganku. Tapi aku janji aku akan segera datang." Farel menumpahkan rasa sesak dan menangis pilu di dalam kamar, kamar yang selalu menciptakan rasa rindu akan sosok istrinya.
Hampir semalaman Farel tak bisa tertidur, ia terjaga sepanjang malam, menanti datangnya fajar dan dia akan melakukan apa yang kemarin sempat gagal Farel lakukan.
Tak butuh waktu lama Farel telah tiba di rumah bernuansa abu-abu dengan desain klasik yang terlihat mewah itu, Farel memilih masuk meski satpam telah mencoba menghalanginya namun apalah daya satpam yang berjaga, satpam itu terhuyung ke tanah akibat dari hempasan yang di lakukan Farel. Kekuatan satpam itu tak sebanding dengan kekuatan Farel. Menit berikutnya Farel berjalan menerobos pintu yang tidak terkunci tersebut, mencari seseorang yang bertanggung jawab akan istri dan anaknya. Kali ini tidak datang dengan tangan kosong tapi membawa bukti atas kejahatan yang dilakukannya.
"Andreee....!!"
__ADS_1
"Keluar kau brengsek!! kau ingin bersembunyi dimana lagi, keluar kau...!!" Farel berterima kesetanan di kediaman Darwin, papanya Andre.
Darwin dan sekeluarga yang sedang menikmati sarapan pagi pun terganggu dengan teriakan yang memekakkan telinga.
"Siapa yang bertamu tapi tak memiliki sopan santun, pagi-pagi sudah membuat keributan saja." Darwin berucap kesal.
Semua anggota kelurga meninggalkan meja makan dan memilih untuk melihat keributan apa yang terjadi di ruang tamu.
Sontak Darwin terkejut, melihat Farel yang sedang menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Pak Farel, mau apa lagi anda kemari, belum puas anda membuat anak saya babak belur kemari!" tatapan tajam pun dilayangkan oleh Darwin.
Farel hanya menanggapinya dengan serigai kecil, kamu pikir saya kemari untuk apa, untuk bertamu baik-baik begitu."
"Katakan saja kamu mau apa dari kami." tanya Darwin tak ingin berurusan lama-lama dengan Farel.
Andre mang tak ikut turun dengan mereka, ketika mengetahui yang berterima adalah Farel, andre langsung pergi ke kamar dan memilih untuk menghubungi Bram untuk memberitahukan jika Farel telah datang menemuinya untuk kedua kalinya.
"Mau apa lagi kamu mencari putraku, tak puaskah kamu menghajarnya kemarin hingga tak sadarkan diri, saya bisa menuntut anda ke kantor polisi untuk tindakan kekerasan terhadap anak saya." Darwin berusaha mengancam.
"Hahaha..." Farel tertawa membuat semua orang yang melihatnya binggung.
"Kamu ingin melaporkan ku, silahkan!! Aku juga kan melaporkan putramu atas tuduhan penculikan istriku. Dan aku membawa buktinya." Farel berucap santai tapi tetap dengan tatapan hendak membunuh lawannya saat itu juga. Mungkin jika Yang Di temui Farel pertama kalinya adalah Andre bisa di pastikan pemuda itu sudah tewas di tangan Farel. Namun sepertinya keberuntungan berpihak pada Andre, Farel tak melihat dirinya atau Farel akan gelap mata dan menghabisi Andre saat itu juga.
"Apa maksudmu, putraku tak akan melakukan hal sekeji itu, kamu pasti berbohong." Darwin menyangkal setiap perkataan Farel.
Tak lama polisi datang ke kediaman Darwin, mereka pun tampak terkejut melihat kedatangan polisi ke rumahnya.
__ADS_1
๐๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ-๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ต๐ถ๐ฅ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ฏ๐ฅ๐ณ๐ฆ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฃ๐ข๐ต. Darwin berucap dalam hati.
"Kami membawa surat perintah penangkapan atas saudara Andre, siapa yang bernama saudara Andre?" tanya pak Polisi.
Andre yang menguping pembicaraan tersebut dari lantai atas merasa ketakutan, sebab polisi menyebutkan namanya, yang artinya dia akan masuk penjara.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ณ๐ข, ๐ญ๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ช ๐๐ณ๐ข๐ฆ๐ญ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฃ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ณ๐ข๐ฎ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข. Andre berkata dalam hati.
Dengan pelan dan percaya diri, tak ingin semua rahasianya terungkap, Andre turun dan bergabung dengan mereka Andre pun mencoba bersikap biasa saja seperti tak bersalah.
"Andre, coba kamu katakan pada mereka bahwa yang dikatakan oleh Farel itu salah. Jawab Andre jangan diam saja." Darwin merasa kesal sebab Andre tak berbicara sepatah kata pun.
Dengan menyembunyikan kegugupan nya Andre menjawab, "Aku tak tahu apapun mengenai penculikan tersebut, dan mungkin saja jika apa yang di katakan oleh Farel adalah kebohongan semata."
Farel yang mendengarnya hanya tersenyum geli mendengar pernyataan dari Andre, Farel pun memberikan amplop yang berisi bukti mengenai dirinya pada polisi, untuk memperkuat pernyataan jika Andre memang bersalah.
Pak polisi membuka amplop itu dan memperlihatkannya pada semua orang. Semua orang terkejut kecuali Farel yang justru memperlihatkan senyum liciknya.
"Aku pastikan kamu mendekam di penjara Andre, dan soal Bram tak lama lagi akan ku temukan dimanapun biadap itu berada." Farel mengatakannya dengan terang-terangan.
Pak polisi pun melakukan tugasnya dengan menagkap Andre, kemudian dibawa ke kantor untuk di interogasi.
"Lepaskan saya, saya tak bersalah... yang salah itu Farel bukan saya." Andre terus saja memberontak, membuat pak polisi cukup kewalahan menghadapinya.
Setelah Andre berhasil di ringkus polisi sekarang tinggal Bram yang menjadi target Farel dan membebaskan Aisyah
dari cengkraman nya.
__ADS_1
Bisakah Farel menemukan Aisyah nya kembali dengan selamat... ๐ค๐คbisa nggak temanยฒ ...?