Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Pesan sebelum pergi


__ADS_3

Aisyah terlihat berpikir, di tinggal selama tiga hari saja sudah membuatnya rindu apalagi lima hari.


"Baikan, jaga diri mas disana, jaga pola makan, jaga mata dan jaga hati jangan lupa."


"Iya... iya... istri mas yang cantik, jangan cemberut gitu dong nanti cantiknya hilang loh."


"Mas berangkat dulu ya, apa mas antar kamu saja dulu ke kampus."


"Boleh juga, tapi mas nggak akan telat kan, takutnya nanti mas telat kalau antar aku dulu." jelas Aisyah.


"Nggak telat kok, ayo...."


Farel mengantar Aisyah ke kmapus sekalian ia ingin meminta kedua sahabat istrinya untuk menjaganya. Mengingat Andre juga sari kampus dengan mereka.


Farel hanya takut jika Andre memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam kepada kepasanta.Tak lupa Fandi juga di perintahkan untuk selalu mengawasi Aisyah meskipun dari jauh, sebeb Aisyah tak terlalu suka jika di jaga terlalu ketat.


Tak lama Farel telah tiba di kampus, disana sudah ada Vika dan Vita yang menyambut kedatangan sahabatnya itu.


Farel masih tetap melakukan tugasnya sebagai suami, membukakan pintu untuk istri tercinta dengan tangan melindungi bagian kepala takut jika Aisyah terbentur. Meskipun di hadapan sahabatnya Farel tak malu. Merasa di perlakukan spesial wajah Aisyah bersemu merah.


"Uhhh... sosweet, gue juga pingin dong diperlakukan semanis itu." Vika terharu melihat kedekatan Farel dan Aisyah. Ia merasa jika sahabatnya Aisyah kini telah menemukan kebahagiaan sejati.


"Iya nih... apa nggak kasihan sama kita yang masih jomblo. Kita kan jadi kepengen." Vita menyambung ucapan Vika.


Farel dan Aisyah hanya tersenyum, "Jika kalian mau dapat perhatian ya cari pasanganlah." Aisyah mulai menanggapi ucapan Vika dan Vita.


"Kalau saja cari pasangan semudah membalikkan telapak tangan, gue pasti udah rentengin tuh cowok, biar jadi koleksi gitu. Tapi gie pingin yang perhatian penuh kayak suami lo ini, gimana dong." Vika mulai membual.


"Vika, lo kan udah deket sama tu dosen kenapa nggak jadian sama Dosen itu aja, lagian lo cocok kok sama dia." Aisyah sengaja menggoda Vika.

__ADS_1


"Terus gue ama siapa, masak kalian udah punya pasangan gue masih sendirian." Vita merasa kesal, kedua sahabatnya selalu membicarakan urusan cowok saat sedang berkumpul.


Farel yang dari tadi menyimak hanya tersenyum kecil, melihat Aisyah tersenyum saat bersama sahabatnya ada kelegaan sendiri untuknya, setidaknya Aisyah tak akan merasa sedih ditinggal sendiri.


"Apa aku bisa minta bantuan kepada kalian untuk menjaga Aisyah selama beberapa hari ini selama aku pergi?"


Vika dan Vita terkejut, "Memangnya kamu mau kemana?"


"Mas Farel akan pergi untuk urusan bisnis sebentar." Aisyah membela Suaminya saat melihat tatapan kedua sahabatnya yang menatap tajam kearah Farel.


Farel sendiri sudah Faham mengapa kedua sahabatnya itu memberikan respon sedikit ketus.


"Memangnya istri kamu barang pakai dititipin segala. Tapi tenang saja kita berdua akan selalu bersamanya tanpa kamu minta." Vika menjawab sedikit ketus mengingat terakhir kali Farel pergi justru membuat Aisyah menangis.


"Aku tahu kalian juga ikut marah, tapi kita kan sudah baikan, sudah nggak ada penganggu lagi di antara kita, iya nggak Dek." Farel meraih pinggang Aisyah untuk lebih merapat kepadanya, Farel ingin menunjukkan bahwa rumah tangganya baik-baik saja.


Vika dan Vita hanya tersenyum, jika benar maka mereka juga merasa lega untuk Aisyah.


"Mas hati-hati, jika sudah sampai kabari aku." Aisyah mencium tangan Farel sebagai baktinya pada Suami. Kemudian bergabung dengan kedua sahabatnya.


Setelah itu Farel meninggalkan Kampus Aisyah, kini Farel akan menuju suatu tempat sebelum ia pergi.


𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪. Farel mengsugesti dirinya sendiri.


Tak lama, Farel telah tiba di tempat rehabilitasi untuk pecandu narkoba.


Farel mengajak Ririn untuk duduk di taman.


"Ada yang ingin aku sampaikan, aku harap kamu bisa mengerti setiap perkataan ku." Farel mencoba mengatakan kepergiannya.

__ADS_1


Keadaan Ririn setelah berada di tempat rehabilitasi sudah semakin baik, tentunya juga karena Farel selalu mendampinginya agar lekas sembuh dan bisa pulang untuk berkumpul dengan keluarganya.


Wajah Ririn yang tadinya ceria sekarang berubah murung.


"Kenapa harus pergi, berarti kamu nggak akan datang kesini lagi dong, kamu nggak akan temani aku lagi." mata Ririn mulai berkaca-kaca mendengar perkataan Farel.


"Kamu tidak lemah Ririn, kamu bisa cobalah untuk sembuh bukan demi aku tapi demi keluargamu yang menyayangimu, begitu besar cinta mereka untukmu. Jangan menjadi egois untuk kedua kalinya, sadarlah kita tidak berjodoh aku sudah menjadi suami orang yang artinya aku memiliki tanggung jawabku sendiri." Farel menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia harus menjelaskan perlahan.


"Untukmu aku memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri, jangan pernah sia-siakan kesempatan itu Rin. Bangunlah dari keterpurukanmu, Lupakan cintamu untukku, lihatlah masa depanmu dengan berjalan maju, aku yakin kamu akan menemukan tujuanmu disana, Aku hanya bisa membantu sebisaku tapi yang menentukan adalah dirimu sendiri." Farel menatap Ririn dengan harapan penuh wanita yang di anggap sahabatnya itu mau menuruti ucapannya.


Lagi-lagi air mata Ririn jatuh, ia menatap Farel dalam. Ririn melihat cinta Farel hanya untuk Aisyah bukan untuknya.


Ririn membuang nafas berat, akhirnya Ririn harus pasrah dengan garis yang ditakdirkan untuknya.


𝘚𝘦𝘦𝘱𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘬𝘶, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪. Ririn berucap dalam hati.


"Bisa kan kamu melakukan apa yang aku minta. Pikirkanlah semua ucapanku, aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, semua itu demi masa depanmu sendiri. Aku harus pergi." Farel melangkah pergi meninggalkan Ririn yang masih tengelam dalam lamunannya, memikirkan apa yang terbaik untuknya.


Ririn yang menyadari bahwa Farel telah pergi meninggalkan dirinya sendiri mulai menangis.


"Mungkin kamu benar Farel, aku harus bangkit dari masa laluku, melupakanmu adalah jalan yang harus aku tempuh mungkin akan sangat berat namun aku pasti bisa demi kalian keluargaku." Ririn telah menentukan keputusannya.


Hingga merasa sedikit tenang, ia kembali ke kamar miliknya.


***


Tak lama pesawat Farel telah mendarat di pulau Kalimantan. Farel telah di sambut oleh para pekerja di sana. Meskipun Farel berada jauh dari Aisyah namun Farel selalu memikirkan Aisyah.


kring...

__ADS_1


kring...


"Aisyah, aku hanya ingin mengabarimu jika aku sudah berada di pulau sebelah. Apa kamu tak merindukan aku disini. Aku saja yang baru sampai saja sudah ingin segera pulang menemuimu. menghabiskan waktu hanya bersama." Farel menghubungi Aisyah.


__ADS_2