Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Tumbuhnya Rasa Tidak Percaya


__ADS_3

"Kok kalian jadi puji-puji tubuh kekar suamiku sih, itu haram buat kalian tau, dia hanya halal untukku, kalian lebih baik cari yang lain saja. Masih banyak kok diluar sana yang tampan dan baik hati." Aisyah memperingatkan jika tak ada yang boleh mengagumi selain dirinya sendiri.


Vika dan Vita hanya tertawa kecil, "Santai, Aisyah, kita hanya sebatas mengagumi kok nggak seperti Ririn yang mengagumi plus menginginkannya jadi miliknya. Beda jauhlah kalau dibandingkan dengan kita." Vita membenarkan ucapannya.


"Sekarang kita lebih baik sarapan saja, memikirkan mereka berdua perutku jadi lapar." Aisyah mengalihkan perhatian mereka berdua dari pada pembahasan mengenai Ririn.


"Lo tahu aja kalau sehabis yoga kita selalu lapar."


"Ya taulah, memangnya lo kalau habis melakukan yoga harus dapat energi pengganti. Kalau nggak bisa pingsan disini, nanti gue juga yang disalahin." ucap Aisyah kesal pada kedua sahabatnya.


Mereka menghabiskan makanan dan susu untuk mengembalikan energi mereka.


"Aisyah, sepertinya kita harus pulang dulu deh, lo nggak Pa-pa kan kalau harus kita tinggal, atau lo mau ikut kita aja daripada harus di rumah sendiri." Vika memberi tawaran.


"Nggak perlu, aku berani di rumah sendiri, lagian nanti ada bik sumi art gue kok. Dia sudah gue anggap sebagai keluarga sendiri jadi kalian tenang saja." Aisyah tak mau merepotkan sahabatnya.


"Ya udah, kalau begitu kita balik dulu ya. mungkin nanti sore kita bakalan temenin lo lagi."


"Oke, bye...."


"Bye...."


Selepas kedua sahabatnya pergi, Aisyah gelisah memikirkan Farel, ia ingin sekali menghubungi tapi apalah daya, yang di hubungi tidak juga menjawab panggilannya.


𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘭𝘧𝘰𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶. 𝘗𝘭𝘦𝘢𝘴𝘦 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭. Aisyah berucap dalam hati.


"Non, Aisyah, kenapa pagi-pagi melamun, nggak baik loh." Bik sumi membuyarkan lamunan Aisyah.


"Pasti Non lagi kepikiran sama tuan ya, hayo ngaku. Bibik tahu kok kalau pasangan tinggal berjauhan satu hari itu loh rasanya satu tahun, lama banget jadi nggak sabar buat ketemu." Bik sumi menggoda Majikannya. mereka sudah bukan seperti bawahan dan majikan mereka lebih tepat sebagai teman.


"Bibik apaan sih, Aisyah hanya binggung Farel dari kemarin nggak bisa dihubungi, kan Aisyah jadi khawatir." Aisyah menceritakan masalahnya, berharap ia mendapat solusi dari masalahnya.


"Oh seperti itu, kalau begitu, Non Aisyah susulin saja tuan Ke Bandung, jaraknya kan tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga jam saja." bik sumi memberi saran.


"Aisyah juga berpikir seperti itu, bik. Tapi bagaimana dengan kuliah Aisyah, Aisyah sudah memasuki semester Akhir yang harus aktif masuk." Aisyah ikut bingung, sebenarnya Aisyah ingin sekali pergi ke Bandung menyusul suaminya jika saja tak terhalang kuliah.


"Ya kalau masalahnya begitu, Non hanya bisa menunggu tuan Farel pulang, bukankah besok tuan sudah pulang. Sekarang lebih baik Non Aisyah ambil wudhu terus sholat biar hati tenang." saran dari bik sumi.


"Bibik benar, Aisyah sampai lupa jika masih ada Allah yang akan membantu setiap umatNya." Aisyah beranjak masuk ke kamar untuk melakukan aktivitas mandi sekaligus sholat dhuha.

__ADS_1


***


Farel sudah menyerahkan handphone miliknya kepada konter yang ditemui di pinggir jalan.


Sengaja hari ini Farel berangkat lebih pagi, karena Farel ingin handphone miliknya bisa segera di perbaiki.


"jika kamu lapar, kamu makan dulu, Rin. sepertinya di samping konter ini ada penjual bakso. Setidaknya cukup untuk menganjal perut kita." ajak Farel.


Ririn terlihat berpikir, "Makan bakso, boleh juga, sepertinya bakso itu rasanya enak, kalau dilihat dari pengunjung yang datang sangat ramai peminatnya." Ririn mengiyakan tawaran Farel.


Ririn dan Farel menghampiri tukang bakso dan memesan dua mangkok bakso jumbo. Satu untuk Farel dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


"Makanlah, tadi kamu sendiri kan yang menawari ku Bakso, sekarang habiskan makanannya." Ririn mengajak makan,


sementara handphone milik Farel masih di perbarui.


Farel sama sekali belum memakan bakso miliknya, ia hanya mengaduk-ngaduk bakso tersebut. Pikiran Farel masih tertuju pada Aisyah, Farel masih belum memberikan kabar, istrinya pasti cemas memikirkan keadaannya.


𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘱𝘩𝘰𝘯𝘦 𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬, 𝘰𝘩 𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘪𝘯𝘫𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘯𝘥𝘱𝘩𝘰𝘯𝘦𝘯𝘺𝘢 𝘙𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢.


"Ririn apa boleh aku meminjam handphone mu, 𝘢ku ingin mengabari istriku, dia pasti cemas, terlebih handphoneku sendiri sekarang sedang rusak!" pinta Farel sedikit memelas.


"Pakailah, hubungi Aisyah dengan ini, dia pasti sudah sangat merindukanmu." Ririn memberikan handphone miliknya. setelah itu ia kembali menikmati bakso pesanannya.


Farel sendiri sudah senang meski belum menelfon terlihat senyuman tak pernah meninggalkan wajah tampannya.


kring...


kring...


Handphone Aisyah berdering dengan nama Ririn tertera di layar, Aisyah melihat siapa yang memanggil langsung emosi, seketika bayang-bayang foto mereka bermunculan dalam ingatannya.


Aisyah mengusap tombol hijau dan meluapkan emosi yang ia tahan sejak kemarin.


"Hallo, Ririn, ada apa lo telfon gue lagi, belum puas yang semalam. Sekarang lo boleh tersenyum tapi jangan harap lo bakalan dapetin apa yang lo mau, gie nggak akan biarin itu terjadi." ungkap Aisyah masih belum menyadari jika itu adalah Farel bukan Ririn.


Dahi Farel berkerut mendengar perkataan Aisyah.


"Aisyah, ini aku Farel, kenapa kamu berbicara seperti itu, memang ada apa semalam. Kamu sama Ririn bertengkar? tapi sejak kapan kalian dekat!" tanya Farel bingung.

__ADS_1


"Bukankah kamu lebih tahu apa yang terjadi semalam." ucap Aisyah masih cuek. Farel bertambah binggung dengan ucapan istrinya.


"Memang aku ngapain semalam, aku nggak ngapa-ngapain jangan berpikir yang buruk, Aisyah. Aku disini murni kerja." Farel menjelaskan dengan kelembutan.


"lalu kenapa kamu nggak kasih kabar aku. Nggak angkat VC aku, memang lagi sibuk banget ya, sampai lupa sama istri sendiri. Baru dua hari loh kamu di luar kota." Aisyah mengeluarkan unek-uneknya, berharap Farel mengerti keadaan hatinya.


"Aku memang sibuk Aisyah, ini saja baru bisa telfon kamu. Handphoneku sendiri rusak nggak bisa digunakan sekarang ada di konter, untuk di perbaiki. Makanya aku sekarang telfon menggunakan handphonenya Ririn." jelas Farel berharap istrinya mengerti.


"Apa perkataanmu bisa di percaya?" tanya Aisyah ketus.


"Farel ayo dimakan Baksonya keburu dingin ini." Ririn sedang memanggil Farel dengan suara lembut, dengan niat hati mengobarkan bendera perang.


Perkataan Ririn tersebut justru membuat Aisyah semakin marah, ingin sekali dia melampiaskan kemarahannya pada Farel, tapi Aisyah harus menahannya.


"Kalian sedang apa,? Itu seperti suara Ririn, memang kalian dimana?" Aisyah melemparkan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Aku sedang makan bakso sama Ririn sekalian menunggu handphoneku selesai dibetulkan. Kamu sudah makan belum, sayang?" jawab Farel polos.


"Sudah, aku sudah kenyang mendengarmu makan dengar orang lain." Aisyah menutup panggilan sepihak karena kesal.


"Aisyah ... , hallo Aisyah ...." tak ada jawaban dari Aisyah.


"Ada apa dengan istriku, dia tidak pernah seperti ini. Apa mungkin Aisyah cemburu, tapi apa iya!" Fatel terlihat berpikir. "Yasudahlah besok akan aku kejutkan Aisyah saat aku pulang." Farel sudah menyiapkan kejutan untuk Aisyah.


Setelah puas menelfon Farel menghampiri Ririn, menyerahkan kembali handphone milik Ririn dan menyelesaikan makanannya.


"Sementara kamu disini selesaikan makananya, aku yang akan mengambil handphonemu, siapa tahu sudah selesai."


"Baiklah, mungkin sudah selesai, ini uangnya." Farel menyerahkan beberapa lembar uang merah.


Ririn senang bukan main, ia bisa membuat keretakan pada hubungan Farel dan Aisyah. Sengaja Ririn hanya membuat keretakan, karena dari keretakan itu hubungan mereka akan hancur dengan sendirinya.


"Bang, handphone milik teman saya Farel apa sudah bisa diambil?" tanya Ririn memastikan.


"Sudah, mbak totalnya_"


"handphone itu biarkan disini saja sampai besok, ini tip untukmu tutup mulut, jika Farel bertanya bilang saja handphonenya butuh waktu untuk di perbaiki." Ririn memotong ucapan pemilik konter.


Dengan senang hati, pemilik konter mengambil uang itu. Baginya pekerjaan selesai, ia dapat uang dobel.

__ADS_1


Setelah mengatakannya, Ririn kembali ke warung bakso.


"Farel, kata abangnya handphone kamu baru bisa diambil besok. Ini uang kamu, tadi disuruh bawa dulu." ucap Ririn berbohong.


__ADS_2