
Setelah puas menyiksa Aisyah Bram pergi meninggalkan Aisyah sendiri yang terkulai lemas dengan keadaan masih terikat.
𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩, 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯... 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪...𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶. Aisyah berucap dalam hati.
Sebelum pergi, Bram meminta anak buahnya untuk berkumpul.
"Kalian semua, jangan ada yang lengah dalam penjagaan wanita di dalam. Jangan sampai dia kabur dari tempat ini. Kalian mengerti, Aku tak akan menerima kegagalan."
"Baik bos... kami akan pastikan wanita itu aman disini."
"Dan satu lagi, jangan ada yang keluar dengan menggunakan mobil yang sebelumnya kalian gunakan untuk menculik Wanita di dalam." Bram tak ingin ada kesalahan sekecil apapun itu.
𝘎𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘫𝘰𝘬𝘰 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘰𝘴 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯. ucap preman bawahan Bram.
"Kenapa kalian diam, kalian mengerti tidak!!" Bram menaikkan suaranya satu oktaf.
"Me-mengerti bos... " preman tertunduk takut, setelah memberi pesan Bram pergi meninggalkan tempat penyekapan Aisyah.
***
pesawat yang di tumpangi Farel telah mendarat, kini Farel telah tiba di jakarta kembali. Bukan perasaan bahagia yang Farel rasakan ketika tiba di jakarta, melainkan perasaan marah bercampur khawatir terhadap Istrinya yang di culik.
Tanpa memunggu lama Farel langsung menemui Fandi sebagai kepala bodyguard. Sebelumnya Farel telah mengatur pertemua dengan Fandi di taman.
Bugghh...
Satu pukulan dilayangkan pada Fandi, Farel melampiaskan kekesalannya pada Fandi, seandainya Fandi tak ceroboh, maka Aisyah masih berada di sisinya. "Apa kamu tak bisa menjaga satu orang saja. a bukanlah disi i banyak bodyguard uang lain. Dimana kalian semua saat kejadian itu terjadi?" Farel masih menunggu pembelaan Dari Fandi mengenai penculikan Aisyah.
"Maafkan Saya Pak, saya pikir Bu Aisyah ingin pergi hanya bersama dengan sahabatnya saja, saya sudah menawarkan untuk menjaganya dari kejauhan, bu Aisyah menolak keras permintaan saya. Jadi saya menuruti keinginan bu Aisyah. Terlebih sekarang Bu Aisyah sedang mengandung."
Wajah Farel yang tadinya masih terlihat marah berubah menjadi terkejut. "Apa yang kamu katakan barusan, Aisyah hamil,? Kenap tak ada yang memberitahuku mengenai hal sepenting ini." Farel kini betambah hancur kala mendengar kabar kehamilan Aisyah.
__ADS_1
"Maafkan kami Pak, Bu Aisyah melarang kami memberitahu, lagipula kata Bu Aisyah ingin memberitahukan sendiri kabar baik itu." Fandi mengatakan yang sejujurnya tanpa ada yang di tutupi atau dikurangi
Farel luruh ke tanah, hatinya sangat hancur seakan berita buruk yang datang kepadanya bukan hanya sekali tapi berkali-kali lipat. Farel menagis menumpahkan segala kesedihannya, kehilangan orang yang dicintai mampu membuat hati yang dulunya melunak kini menjadi sekeras batu.
Hati Farel kini telah dikuasai oleh amarah, siapapun yang melakukan ini pada Istrinya, maka orang itu dapat di pastikan tak akan pernah selamat dari kejaran seorang Farel. Mencari masalah dengan Farel sama saja membangunkan jiwa keras pada diri Farel yang selama ini tak pernah di perlihatkan pada siapapun.
Di rasa cukup menumpahkan kesedihan Farel pergi tanpa berkata apapun pada Fandi yang setia disampingnya.
Fandi hanya bisa menatap punggung Farel yang berlalu menjauh darinya.
***
Andre kini telah pulang kerumah dan mencoba untuk bersikap biasa saja, melakukan penculikan Aisyah cukup menyita waktunya. Belum sempat Andre masuk ke dalam rumah tiba -tiba ad ayang menariknya.
Bughh...
Sebuah bogem mentah diarahkan pada Andre dan tepat mengenai sudut bibirnya yang mengakibatkan darah segar mengalir keluar dari bibirnya.
"Apa maksud lo, memang Aisyah kenapa?" Andre terus saja berkilah.
"Jangan kamu pikir aku tak tahu apa yang kamu lakukan pada Aisyah, semua yang menimpa Aisyah adalah perbuatanmu kan... jujur saja atau kau butuh pelajaran lebih untuk mengakui kesalahanmu!!" emosi yang sejak tadi Farel tahan akhirnya meledak juga.
Lama tak mendapat jawaban dari Andre, sedangkan Andre justru memperlihatkan senyum mengejeknya membuat Farel gelap mata dan melayangkan pukulan berulang pada perut Andre yang membuat Andre terbatuk-batuk.
"Masih tak mau mengakui kejahatanmu!!"
"Apa yang mau di akui jika aku memang tak tahu apa yang menimpa istri tercintamu itu." Andre belum mengakui kesalahannya, namun senyum mengejek itu tak lepas dari wajah Andre. Andre seakan ingin memberitahukan bahwa meski Aisyah berada dalam penjagaan ketat, tapi Andre masih bisa membawanya pergi.
"Jangan banyak bicara kamu brengsek!! lebih baik kamu katakan dimana Aisyah berada atau_" Farel mengantungkan ucapannya.
"Atau apa... kau akan membunuhku begitu..." Andre tersenyum licik.
__ADS_1
Bughh...
Bughh...
Pukulan susulan Farel berikan pada Andre yang terkapar di tanah hingga kesadaran Andre sedikit menurun.
Farel tanpa sadar telah mengeroyok Andre tanpa memberi ruang untuk Andre melawan.
Keributan di luar rumah Andre terdengar sampai ke dalam.
Ayah dan ibu Andre keluar untuk memeriksa keributan yang terjadi di luar rumahnya.
Saat membuka pintu betapa terkejutnya Darwin Papanya Andre, melihat putra kesayangannya sedang terkapar di tanah dengan keadaan babak belur.
"Andre... , lepaskan... kenapa kamu memukuli anak saya..." Darwin berbicara sedikit tinggi sambil melerai Farel yang terus memukul tanpa ampun. Memang Darwin tak begitu dekat dengan putra tunggalnya tapi ia sangat menyayanginya dan tak akan tega jika ada bisa lakukan hal buruk pada putranya itu.
"Pak Farel... apa yang sedang anda lakukan disini kenapa memukuli anak saya... coba jelaskan pak!!" Darwin mencoba mencari tahu apa masalah antara rekan kerjanya dan putranya.
"Pak Darwin tanyakan sendiri pada putra kesayangan anda ini apa yang ia lakukan, dan ya jika benar dialah pelakunya maka aku tak akan mungkin mengampuninya ingat itu." Farel berbicara sambil menunjuk Andre yang mungkin sekarang sudah kehilangan kesadarannya.
Setelah selesai melampiaskan amarah, Farel sendiri masih kesal pada Andre, Farel sangat yakin jika Andre ikut terlibat dalam penculikan Aisyah, hatinya mengatakan Andre terlibat. Farel pergi menemui sahabat Aisyah yang bersamanya saat kejadian pada penculikan itu, Farel ingin mengetahui kisah lengkapnya.
Tak lama Farel telah sampai di rumah Vika, ia langsung saja memberikan pesan agar Vika mau turun menemuinya.
"Farel... " Vika keluar rumah dan mengajak Farel untuk duduk di teras depan.
"Langsung saja, aku ingin mengetahui apa yang terjadi malam itu, tolong katakan yang sejujurnya tanpa ada yang terlewat." ucap Farel dingin dengan tatapan datar.
Vika yang merasa Aura dingin keluar dari Farel, hanya mampu bercerita sambil menunduk hingga air mata yang belum lama ini meninggalkan jejak kembali mengukir jejak.
"Maafkan kami Farel, kami hanya ingin membuat Aisyah merasa nyaman dengan kehamilannya, selama beberapa hari Aisyah terlihat lesu, mungkin efek dari kehamilan yang Aisyah alami dan kami sebagai sahabat tak tega melihatnya seperti itu" Vika kembali menangis.
__ADS_1