
Setelah meeting selesai dan Farel memenangkan proyek. Ririn dan Farel merayakan dengan makan di restoran yang cukup terkenal. Sebelum akhirnya harus bekerja kembali di kantor, waktu juga sudah menunjukkan jam makan siang.
"Apa Aku bilang, kamu pasti bisa memenangkan proyek. Selamat ya, ini proyek pertamamu semoga berjalan tanpa kendala." Ririn mendoakan kemajuan Farel, tak lupa senyuman yang manis ia perlihatkan pada Farel.
"Makasih Rin, Ini juga karena kamu yang membantuku menyampaikan presentasi dengan baik, kalau tidak, tak mungkin Pak Abraham mau menyetujui proyek ini." ucap Farel tak mau dipuji sendiri.
"Kau terlalu memujiku Farel, nanti aku jadi besar kepala gimana." Ririn mengajak Farel bercanda untuk melepaskan rasa nervous nya tadi. persahabatan mereka cukup kuat, saling percaya dan saling mendukung menjadi kunci dari persahabatan yang mereka jalin.
"Kau memang pantas pendapatan pujian itu juga Ririn."
"Oh ya Farel, Kamu ada waktu senggang nggak, Aku mau minta temani belanja. Aku mau beli Hadiah untuk adikku, Hari ini dia ulang tahun yang ke tujuh tahun. Kamu pasti nggak lupa kan, Dito selalu nanyain kamu tau nggak. Dia pengen main bareng kamu lagi katanya." Ririn mengingatkan Farel mengenai adiknya Dito.
"Oh...yaa...Hampir saja ...Aku lupa, kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya Dito, adik kamu, sorry ya, Aku nggak ingat akhir-akhir ini banyak sekali yang harus aku urus." Farel memberikan penjelasan dan meminta pengertian.
"Kamu tenang saja Farel, lebih baik, kamu fokus sama keluarga barumu, sekarang masalah Dito nanti aku akan jelaskan perlahan. Dia pasti akan mengerti."
"Terimakasih Ririn, kamu memang sahabat yang terbaik, yang aku punya." Farel tersenyum mendengar perkataan Ririn yang membuatnya lega.
Farel jika kamu tahu, Aku ingin menjadi orang yang terpenting dalam hidupmu, bukan hanya sekedar sahabat terbaikmu. Andai saja, waktu itu Kamu tidak diminta menikah dengan Aisyah, mungkin Aku akan mengungkapkan isi hatiku. Apakah kamu akan menerimanya dan mencoba menjalin hubungan dengan ku atau tidak itu keputusanmu. Sekarang Aku tak bisa mengatakan apa-apa padamu, karena kamu sekarang milik orang lain, ada yang berhak lebih dari Aku.
"Kita pergi sekarang, mumpung masih ada waktu sebelum jam makan siang berakhir." ajak Ririn.
"Oke...kita pergi sekarang." Farel menyetujui ajakan Ririn.
Mereka memilih toko mainan yang berada di satu jalur dengan kantor.
"Kamu ikut masuk?" ucap Ririn berharap Farel mau menemani memilih mainan.
__ADS_1
"Baiklah, kalian aku cari kado untuk Dito dari Aku." ucap Farel, ada sebuah ide muncul di kepalanya.
Di dalam toko mainan yang cukup besar, Ririn menuju ke arah mainan cowok dan mulai memilih untuk adiknya tersayang. Sedangkan Farel, terlihat sedang memperhatikan kotak musik yang di dalamnya terdapat sepasang pengantin sedang menari.
𝘒𝘰𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘫𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩.
Farel membawa kotak musik itu untuk di bungkus dengan pita. Tak lupa hadiah mainan mobil dengan remot kontrol juga di bungkus dengan sangat rapi oleh petugas kasir. Ririn juga membeli game player untuk adik kesayangannya. Setelah semuanya selesai mereka ke kantor.
"Terimakasih ya Farel, sudah mau temani Aku belanja." sambil masuk ke ruangan kerja Ririn yang berada di depan ruang kerja Farel."
"It's okey...Itu masalah kecil." masih dengan senyum mengembang.
***
"Kayaknya gue nggak ikut deh, gue pulang dulu aja ya... nggak Papa kan. Soalnya gue harus bantuin nyokap, kalian tau sendirilah nyokap gue punya usaha ketering dan hari ini ada pesanan buat ulang tahun gitu. Jadi gue harus bantuin kasihan lah kalau harus ngurus sendiri." ucap Vita.
Mereka pergi ke toko buku, sesampainya di sana Aisyah melihat ada novel yang sangat bagus yang baru rillis bulan kemarin. Kebetulan Papanya pernah bercerita, kalau Bodyguard kesayangannya itu suka sekali dengan Novel percintaan, berbeda dengan Aisyah yang menyukai Novel horor, tapi dia sendiri sebenarnya takut.
"Wah...ini ada novel keluaran terbaru, pas lagi temanya percintaan sama kayak kesukaan si Farel. Apa gue beli aja buat Farel, sebagai permintaan maaf aku, karena udah terlalu kasar sama Dia. Oke deh Aku ambil." Membawanya ke kasir untuk di bayar.
"Aisyah kira-kira novel apa yang bagus untuk adik gue." Vika binggung harus membeli novel yang bagaimana.
"Biasanya Vika, seumuran Adik lo itu sukanya Novel Romance, lo beliin itu aja. Siapa tahu Dia suka." usul dari Aisyah
Vika mengambil satu Novel Romance untuk adiknya, setelah itu mereka pergi.
"Thanks yaa... udah bantuin gue. Gue pulang dulu." Vika menyalakan mobilnya hendak pulang.
__ADS_1
"Lo nggak mampir aja dulu, temani gue di rumah?" ajak Aisyah.
"Sorry ya Aisyah, ini sudah hampir malam, gue pulang aja ya. Lain Kali gue mampir...." Vika berpamitan, mobil Vika meninggalkan rumah Aisyah.
Saat Aisyah pulang belum ada siapa-siapa, itu memudahkan Aisyah meletakkan hadiah serta sebuah kertas permintaan maaf yang Dia beri untuk Farel suaminya. Jika tidak menjadi pasangan suami istri pada umumnya, setidaknya hubungan mereka bisa di mulia dengan pertemanan. Setelah melakukan pekerjaannya Ia menonton televisi drakor kesukaannya di ruang tamu. Hari pertama Aisyah masuk kuliah setelah izin membuat Dia sangat lelah. Hingga tak terasa sudah tertidur.
Farel baru saja pulang dari kantor dan mendapati Aisyah sedang tertidur di ruang tamu. Farel tak mau membangunkan Aisyah, ia memilih meninggalkannya di ruang tamu menuju kamar tamu untuk membersihkan diri.
"Apa Aisyah sudah bangun atau belum? Kotak musik ini sangat indah, Aku harap Aisyah menyukainya." akan ku berikan padanya tak lupa permintaan Maaf juga dia tuliskan di kertas yang di simpan pada bagian atas hadiah.
"Aisyah bangun, pindah ke tempat tidur kamu jangan di sini, di sini udaranya dingin." sambil mengoyang-goyangkan lengan Aisyah.
𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯.
Karena udara yang semakin dingin, Farel membawa Aisyah dalam gendongannya, untuk di pindahkan ke kamar Aisyah sendiri. Dengan sangat pelan, Farel menurunkan Aisyah dari gendongannya ke tempat tidur. Pandangan yang begitu dekat membuat jantung Farel berdetak lebih kencang. Jika Aisyah bangun mungkin Ia bisa mendengar detak jantung itu. Tak lupa Farel menaruh Hadiah yang dia beli untuk Aisyah di atas meja rias, berharap Aisyah menyukainya. Setelah itu Farel kembali ke kamarnya sendiri.
Di kamar, Farel senyum-senyum sendiri, mengingat hal yang barusan terjadi.
"Ada apa dengan ku, kenapa jantungku terasa lebih cepat saat dekat dengan Aisyah, Farel mengingat Aisyah yang tidak mencintainya. pandangan Farel tertuju pada bungkusan kecil yang terletak di samping tempat tidur miliknya.
"Apa ini, seperti hadiah. Farel membuka hadiah tersebut. Wah... Novel kesukaan ku, tapi siapa yang menaruhnya di sini." Farel menemukan kertas bertuliskan 'sorry' di bagian atasnya tapi tidak tertera nama pengirimnya.
"Apa ini Aisyah yang membelikannya, jika benar akan aku simpan. Ini adalah hadiah pertama yang Istri ku berikan pada ku." Farel tersenyum.
Keesokan harinya, Aisyah terbangun dan terkejut mendapati dirinya sudah berada di kamar sendiri. Yang Dia ingat, semalam Dia ketiduran di ruang tamu.
Akankah cinta mulai tumbuh di hati Aisyah...?
__ADS_1