Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Tertembak


__ADS_3

Semalaman Farel terus mencari keberadaan Aisyah tapi tak menemukan titik terang. JPS Aisyah juga tidak aktif mungkin handphone Aisyah mati


"Aisyah, kemana lagi aku harus mencarimu, paling tidak tolong beri aku petunjuk tentang keberadaan mu, kamu tahu, aku sangat mencemaskan mu."


Farel pulang kerumah dengan keadaan lesu ditambah penampilan yang acak-acakan menandakan jika Farel sangat tak sempat mengurus dirinya, seharian ia belum makan, memikirkan keadaan Istrinya yang di culik membuatnya tak berselera untuk makan. Ia memasuki kamar milik Istrinya mengingat kenangan akan Aisyah membuatnya menitihkan air mata.


"Siapa yang melakukan ini padamu Aisyah, Apa ini perbuatan salah satu musuh dari Papamu. Bagaiman caraku menemukanmu Aisyah." Farel mengisap rambutnya gusar, ia tak pernah se frustasi ini. Yang bisa Farel lakukan adalah menghubungi Fandi, berharap sudah ada kabar mengenai Istrinya dari sahabatnya itu.


"Bagaimana, apa sudah ada informasi yang kamu temukan." tanya Farel tak sabar menemukan istrinya. Meskipun Aisyah tak mencintainya tapi Farel sangat mencintainya. Apapun akan Farel lakukan untuk Aisyah seorang.


"Sudah pak, kami menemukan mobil dengan plat yang Anda berikan. Mobil itu sepertinya sedang membeli makanan untuk seseorang. Terlihat dari pakaian yang mereka kenalan seperti orang biasa-biasa saja. Tetapi platnya sama, lebih baik Bapak kesini saja dan pastikan sendiri apakah ini benar mobil yang menculik Non Aisyah. Aku share lokasinya, cepatlah bapak kemari, Aku juga sedang mengintainya dari kejauhan."


Mendapat kabar itu hati Farel senang sekali, seakan ia mendapat hidupnya kembali.


𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘬𝘶, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘪𝘮𝘶. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘮𝘶. Farel berbicara dalam hati.


Tak butuh waktu lama Farel datang ke tempat yang di beritahu oleh Fandi.


***


"Dimana Aku, Tolong lepaskan Aku, Aku mau pulang." rengekan Aisyah meminta di bebaskan.


𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶, 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.


Aisyah berharap adanya keajaiban yang datang kepadanya .


"Rupanya kau sudah sadar, Aisyah. Kau jangan sedih, aku tak akan menyakitimu tepi membawamu langsung ke orang tuamu. Haa ... ha ... ha...." tawa yang sangat menyeramkan seseram orangnya.


"Siapa kau, bagaimana kau tahu namaku?" Aisyah mencoba mengetahui motif para preman itu menculiknya.


"Kau tak tahu siapa Aku, aku adalah pamanmu Bram Kusuma saudara Ayahmu. Sekarang Kau tahu siapa Aku." Bram kembali tertawa, "Ha... ha... ha..., kau sunguh lucu keponakan sialanku, aku sangat terhibur melihatmu...."


"Mau paman apa menculik ku?" Aisyah yang sudah muak melihat orang yang menculiknya tertawa bahagia. seakan mereka mendapatkan bongkahan emas saja.

__ADS_1


"Pertanyaan yang bagus keponakanku yang cantik. Tapi kau tak perlu tahu alasannya."


Bram meninggalkan Aisyah dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Di luar ruangan penyekapan Aisyah Bram sangat senang, ia bisa menangkap anak dari musuhya.


𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘞𝘪𝘫𝘢𝘺𝘢, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘪𝘮𝘶, 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. Bram tertawa mengejek.


Farel sampai ke tempat Fandi berada. Mereka menunggu cukup lama hingga orang yang mengemudikan mobil itu keluar dengan membawa sekantong makanan dari warung. Mereka kemudian mengikuti dari belakang sampai pada sebuah gudang tua di belakang pabrik yang sudah lama tak beroperasi.


"Sepertinya ini tempat persembunyian mereka Pak." Fandi ikut menebak tempat apa yang mereka datangi.


"Ya, Kau benar Fandi. Kita masuk gang itu dengan jalan kaki saja agar tak ketahuan."


Mereka berhasil mengikuti sampai ke gudang tempat Aisyah di sekap. Sebelumnya mereka sudah mengubungi polisi. Mereka melumpuhkan penjagaan di depan gerbang dan menyembunyikan kasar mereka. Sehingga bisa masuk ke dalam gudang dengan aman. Saat ada beberapa preman yang berjaga mereka bersembunyi di balik tumpukan kardus.


"Tolong, tolong Aku siapapun tolong Aku." teriakan Aisyah berharap ada yang mau menolongnya.


"Kamu dengar itu Fandi, Itu suara Aisyah. Syukurlah dia baik-baik saja. "Para preman sedang berkumpul untuk makan hanya ada dua penjaga di depan ruangan Aisyah. Mau tidak mau, mereka harus berkelahi untuk bisa masuk ke ruangan Aisyah.


"Lepaskan Istriku, Kau berurusan dengan orang yang salah, Aku tak akan mengampunimu." ucap Farel yang sudah lepas kendali.


"Oh..., rupanya suamimu ini mau menjadi pahlawan kesiangan." ejek Bram yang sebelumnya sudah mengetahui jika Farel adalah suami keponakannya.


Perkelahian tak dapat di hindarkan,


Farel berkelahi dengan dua preman di dalam, sedangkan Fandi masih mengurus para preman di luar.


Setelah kedua preman itu lumpuh tinggal Bram sendiri yang harus turun tangan melawan Farel. Saling pukul dan hantam, satu pukulan di arahkan ke Farel tapi meleset. Farel kemudian membalas dengan mengebuk penyerang dengan sikut membuat Bram terbatuk. Tak cukup di situ Farel langsung saja mengunci tangan penyerang yang membawa pistol. Menjepitnya, membuat tangan laki-laki itu kesakitan dan menjatuhkan pistol pada lantai. Sedangkan yang satu mengarahkan pukulan pada dada. Dengan gerakan memutar, Farel berhasil menghindar dan ganti memukul pria itu tepat pada rahang membuat pria itu jatuh meringis kesakitan. Kesempatan itu di manfaatkan Farel untuk membebaskan Aisyah dari ikatan pada kursi. Farel yang khawatir pada Aisyah memeluknya dengan sangat erat. Merasa lega karena istrinya baik-baik saja. Dari arah belakang Bram yang melihat ada kesempatan langsung mengarahkan pistol pada keponakannya Aisyah. Farel yang mengetahuinya dengan sigap membentengi Aisyah dengan dirinya sendiri sehingga peluru itu tepat mengenai bahu Farel.


Fandi yang mendengar tembakan berlari masuk ke dalam untuk mengetahui siapa yang menembakan peluru. Saat mengetahui bahwa temannya yang tertembak, Fandi langsung menembak balik pria itu. tembakan itu sengaja di arahkan pada kaki yang membuat pria itu terjungkal kebawah. Kesempatan itu dimanfaatkan Fandi untuk menangkapnya yang kemudian akan diserahkan pada polisi.


Aisyah berjongkok memapah kepala Farel pada pangkuannya. Rasa sedih dan takut kehilangan seketika menyelimuti Aisyah. Aisyah tak sanggup jika harus kehilangan orang terdekatnya lagi.


"Farel buka matamu, jangan buat aku khawatir cepat buka matamu." Aisyah menagis sambil menepuk-nepuk pipi Farel. Berharap Farel merespon apa yang dilakukannya.

__ADS_1


"A_ aku ba_ik - baik saja Aisyah jangan menangis." ucap Farel terbata menahan sakit pada pundaknya akibat dari tembakan yang di dapat.


Darah yang mengucur banyak membuat Farel hilang kesadaran. Fandi dengan sigap menelfon ambulan.


Tak butuh waktu lama, ambulan datang berbarengan dengan mobil pak polisi. mereka masuk dengan senjata ditangan, "Angkat tangan, jangan ada yang bergerak." Pak polisi memberi perintah.


"Tolong Suami saya pak dia terkena tembak."


"Kita bawa pak Farel ke rumah sakit."


Tiba di Rumah Sakit Nusa Indah, Farel langsung di larikan ke ruang ICU untuk melakukan tindakan operasi.


"Saya akan mengurus para preman itu di kantor polisi, Non Aisyah tunggu di sini, jika ada kabar mengenai Pak Farel hubungi Saya. Saya permisi." Fandi langsung menuju kantor polisi, ia sangat geram dengan ketua preman itu, gara-gara dia sahabatnya sekarang berada di ruang operasi.


"Jangan tinggalkan Aku lagi Farel, hanya kamu yang aku punya. Semua yang aku sayangi sudah pergi meninggalkan aku, apa kamu juga ingin meninggalkanku. Aku mohon jangan Farel, aku akan menerima hubungan kita sebagai suami istri, asalkan Kamu bangun dan tak akan pernah meninggalkan aku sendiri." Aisyah merasa sedih, ketakutan akan kehilangan selalu menghantuinya. Berdiri di depan ruangan operasi berharap operasi yang dijalani Farel berjalan sukses. Satu jam telah berlalu, akhirnya Dokter keluar dari ruangan operasi dan menghampiri Aisyah.


"Operasi yang kita lakukan berhasil, Pak Farel sudah melewati masa kritisnya sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan." Dokter menyampaikan kabar gembira pada Aisyah.


"Apa saya bisa menjenguknya, Dokter." Aisyah ingin sekali melihat kondisi Farel. Melihat kondisi orang yang telah menyelamatkannya yang juga merupakan suaminya.


"Bisa, setelah pasien di pindahkan ya. Saya permisi dulu." Dokter berlalu dari hadapan Aisyah.


para perawat keluar membawa Farel untuk dipindahkan ke ruang perawatan.


Di ruang perawatan, Aisyah yang sudah di perbolehkan masuk duduk di samping Farel, ia mengenggam tangan Farel, berharap Farel merespon pegangan tangannya.


"Bangunlah, Buka matamu jangan pejamkan terlalu lama. Apa kau senang melihatku menangis. Ayolah, buka matamu. Lihatlah aku telah menerimamu sebagai bagian dari hidupku, Suamiku." Terus mengajak bicara berharap setiap ucapan yang ia keluarkan membuat Farel segera membuka matanya.


"Bagaimana keadaan Pak Farel, Non Aisyah?" Fandi yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu. Membuat Aisyah terkejut hinga melepas pegangan tangannya pada Farel.


Aisyah segera menguasai keadaan dan menjawab pertanyaan Fandi dengan tenang.


"Kata dokter Farel sudah melewati masa Kritis hanya tinggal menunggunya siuman untuk memastikan keadaannya baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2